
"Halo, sayang," sapa Leon pada Amelie. Ya, sejak pernyataan Leon pada Amelie dan pada akhirnya Amelie menerimanya, Leon langsung mengubah panggilannya pada wanita itu.
"Halo," Amelie pun tersenyum.
Leon selalu berada di sana saat jam makan malam. Ia selalu datang ke minimarket sambil membawakan makanan untuk Amelie.
"Kamu tidak perlu membawakan makanan untukku."
"Aku suka melakukannya," Leon terus menatap ke arah Amelie, dan hal itu selalu saja membuat jantung Amelie berdetak dengan cepat.
"Jangan menatapku seperti itu, aku harus bekerja," Amelie merasa malu.
Mereka akhirnya makan malam bersama, duduk bersebelahan di sebuah meja tinggi dekat jendela. Mereka melakukan itu sambil bercanda dan berbincang."
*****
Leon kini duduk sendiri menatap ke jendela di dalam coffee shop miliknya. Hubungannya dengan Amelie sudah berjalan hampir 3 bulan, dan ia merasa sangat bahagia.
Tiba tiba ponselnya berbunyi,
"Halo, sayang," sapa Leon, membuat Alvin yang berada di hadapannya mendengus kesal. Saat ini Alvin bekerja sebagai asisten pribadi Leon, hanya saja bukan perusahaan besar, melainkan hanya sebuah coffee shop yang berada di pusat kota. Meskipun tidak terlalu besar, tapi dari hari ke hari, pelanggan mereka semakin banyak. Bahkan Leon berencana untuk memperbesar coffee shop tersebut dengan membuat lantai atap bangunan tersebut menjadi rooftop untuk menikmati pemandangan kota.
"Aku sedang di jalan, mau menemuimu. Hari ini minimarket tutup karena jalan depannya sedang diperbaiki. Apakah boleh?" tanya Amelie.
"T-tentu saja," ucap Leon sedikit gugup, "Aku menunggumu."
"Ada apa? Kenapa wajahmu tiba tiba seperti itu?"
"Vin, apron mana apron?"
"Apa maksudmu?"
"Amelie mau ke sini. Aku mengatakan kalau aku hanya bekerja sebagai pelayan di sini," ucap Leon.
"Kamu gila, Len! Untuk apa kamu mengatakan seperti itu? atau jangan jangan kamu percaya semua kata kataku bahwa ia hanya seorang wanita yang mengincar hartamu. Oleh karena itu kamu ingin mengujinya."
"Tidak! Tentu saja bukan seperti itu. Aku percaya padanya, Vin. Amelie bukan wanita seperti itu."
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?"
"Aku hanya tidak ingin dia merasa jauh dariku. Kamu harus bertemu dengannya, Vin. Kamu pasti akan setuju dengan pendapatku tentangnya."
Tak lama berselang, Amelie sudah sampai di sana. Dengan menggunakan apron berwarna coklat dengan kemeja warna hitam, Amelie disambut oleh salah seorang pelayan yang mempersilakannya untuk duduk.
__ADS_1
"Pesan apa?"
"Vanilla Latte, dingin. Oya, apa aku bisa meminjam rekan kerjamu?" bisik Amelie.
"Bisa kamu panggilkan Leon?" Pelayan itu mengangguk. Untung saja jumlah pegawai di sana tidak terlalu banyak, jadi Leon dan Alvin bisa melakukan briefing sebentar tadi.
Dengan menggunakan seragam seperti yang lain, Leon pun menghampiri Amelie. Leon sangat senang melihat wajah Amelie. Ini adalah kali pertama Amelie menginjakkan kaki di coffee shop miliknya.
"Apa tidak apa apa kamu duduk bersamaku? Apa ini masih jam kerjamu?" tanya Amelie.
"Tidak apa. Atasanku orang yang baik," jawab Leon, "Aku akan selesai jam 5, apa kamu mau menungguku? Kita bisa pergi ke Taman Kota setelahnya." Amelie tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu, kembalilah bekerja. Aku akan minum kopi ini sambil menunggumu. Bukankah biasanya kamu yang memperhatikanku, sekarang giliranku," Leon merasa salah tingkah. Ia tak terbiasa melayani pembeli apalagi mengantarkan pesanan. Ia melakukan semuanya dengan kaku, membuat Amelie kadang kadang tertawa.
Sementara itu dari kejauhan, Alvin memperhatikan bagaimana gerak gerik Amelie dan juga Leon, "Mereka benar benar aneh."
"Siapa yang aneh?" Alvin menolehkan kepalanya, dan di sampingnya sudah berdiri seorang David yang menyebalkan.
"Kamu yang aneh! Kenapa tiba tiba berdiri di sini?"
"Loh, apa salahku? Memangnya tidak boleh aku berkunjung?"
"Tidak! Mengganggu saja!"
"Cepat pergi sana, aku harus bekerja."
"Lalu tadi apa yang kamu lihat?" ujar David penasaran.
"Orang bucin," jawab Alvin singkat.
David kembali mengarahkan pandangannya seperti apa yang Alvin lakukan. Di sana ia melihat Leon sedang berbicara dengan seorang wanita, "Apakah wanita itu ... Amelie?"
"Hmmm..."
"Cantik," ucap David tanpa sadar, membuat Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
*****
"Siapa laki laki itu? kenapa kamu memperhatikannya terus menerus?" tanya Diva.
"Ia terlihat tampan kan," jawab Lydia.
"Aku bertanya siapa dia, bukan tampan atau tidak."
__ADS_1
Lydia bertanya kepada salah seorang pelayan, dan ia segera tersenyum mendengar jawaban yang ia dapatkan.
"Ternyata mataku memang tidak salah. Ia adalah pemilik coffee shop ini," ucap Lydia.
Aku tak akan membiarkan Amelie mendapatkan laki laki seperti itu, dia akan menjadi milikku. Sudah cukup dulu Mikael menjadi kekasihnya, meskipun hanya sementara ... tapi tetap saja bagiku itu adalah suatu kekalahan. Aku tak akan kalah lagi, karena aku adalah Lydia, yang dikenal sebagai seorang bunga kampus. - Lydia.
"Aku ke toilet sebentar," ucap Diva.
Brakkk ....
Di dekat toilet, Diva tak sengaja menabrak seseorang, "Maaf, maaf, saya tidak sengaja."
"Ya, saya juga minta maaf," mata mereka bertemu dan langsung membuat debaran di dalam hati.
"Kenalkan namaku Alvin."
"Diva. Maaf saya mau ke toilet. Permisi," ucap Diva dan langsung masuk ke dalam toilet.
"Nah, seperti ini yang cantik, bukan seperti Amelie," gumam Alvin.
"Apa yang kamu katakan, hah?!" tiba tiba saja Leon sudah berdiri di samping Alvin. Ia mendengar apa yang Alvin ucapkan tadi.
"T-tidak, tidak ada. Aku tak mengatakan apa apa. Aku sebaiknya kembali ke ruanganku saja dan berhadapan dengan kertas kertas," Alvin pun langsung pergi menuju ke ruangannya, padahal sebenarnya ia ingin kembali berbicara dengan Diva, dan meminta nomor ponselnya.
Leon pun mengikuti Alvin, kemudian melepas jas yang ia gunakan. Ia menggulung kemejanya hingga siku.
"Apa kamu tidak lelah, Len? Hampir setiap hari kamu mengunjunginya. Apa tidak bosan?" tanya Alvin.
"Tak pernah ada kata lelah dan bosan dalam cinta. Ketika kita mencintai seseorang dengan tulus, rasa lelah kita akan hilang saat bertemu dengannya dan akan banya cerita yang ingin kita bicarakan, hingga tak akan ada rasa bosan."
"Kamu itu benar benar bucin! Kukatakan padamu, mencintai seseorang itu jangan sampai seperti itu. Kalau ia juga mencintaimu, tidak masalah ... tapi kalau ia mencintaimu hanya karena tujuan tertentu, bukankah kamu yang akan tersakiti."
"Vin, apa sebenarnya maksud dari perkataanmu? Kulihat sejak awal sepertinya kamu tidak menyukai Amelie."
"Ya, jujur aku tidak menyukainya. Meskipun kamu mengatakan bahwa dia adalah wanita yang baik, sederhana, dan bla bla bla ... tapi bagiku ia tetaplah seorang playgirl. Mana ada berpacaran sampai 10 kali, dan hanya bertahan sebentar sebentar. Bahkan adikmu adalah salah satu korbannya," gerutu Alvin.
"Ingat Vin! Jangan kamu mengatakan apapun tentang Amelie pada Mikael."
"Iya, iya, aku mengerti. Tapi jangan menyesal jika apa yang kukatakan padamu semuanya benar."
Leon pun menghela nafas dan pergi meninggalkan coffee shop. Sepasang mata memperhatikan kepergian Leon dan tersenyum.
Aku akan membuat kamu menjadi milikku, dan aku pastikan tak akan bersusah payah. Amelie sendiri yang akan melepaskanmu. - Lydia.
__ADS_1