
"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu, hah?!" Mikael mencengkeram kedua pipi Lydia dengan sebelah tangannya.
Lydia merasakan sakit yang luar biasa, "Mik, lepaskan aku."
"Aku akan melepaskanmu jika kamu berjanji akan pergi dari sini dan tidak menampakkan diri lagi di hadapan keluargaku. Aku tahu apa maksud kedatanganmu dan jangan membuatku membongkar semua kebusukanmu," ujar Mikael ketus.
"Apa maksudmu? Saat ini aku memang sedang hamil dan kakakmu adalah Daddy dari bayi yang tengah aku kandung," Lydia balik melawan Mikael.
"Cihhh!!! jangan membuatku tertawa. Aku tahu siapa dirimu, Lydia si bunga kampus. Bunga kampus yang bisa berpindah dari satu ranjang ke ranjang yang lain hanya demi uang. Apa kamu kira aku tidak tahu? Aku sudah mengetahuinya sejak dulu, karena itulah aku tidak ingin berada di dekatmu. Hanya saja Amelie dan Abigail menganggapmu sebagai sahabat mereka."
"K-kamu!!" Lydia mengarahkan telunjuknya ke wajah Mikael.
"Apa?! Sekarang lebih baik kamu pergi. Jangan buat aku yang harus turun tangan, karena akan lebih menyakitkan. Jika memang itu adalah anak Kak Leon, maka kita akan melakukan tes DNA saat anak itu lahir, dengan menggunakan dokter kepercayaan keluargaku. Jika hasilnya bukan, maka kamu harus siap berada di dalam penjara untuk waktu yang lama," Mikael terkekeh.
"Sialannn!!! kamu mengancamku, hah?!"
"Aku tidak mengancammu, tapi melakukan sesuatu yang benar. Sekarang, cepatlah pergi!"
Lydia akhirnya pergi dengan kesal dan geram. Rencananya hari ini untuk menjadi Nyonya Sebastian gagal, tapi ia tetap berhasil menggagalkan rencana pernikahan Amelie.
*****
"Apa yang saya pikirkan ternyata benar," ucap Dokter Hendra.
"Bagaimana?"
"Seperti keterangan anda bahwa Nona Amelie mengalami kecelakaan, kemudian dari catatan dokter mengatakan bahwa rahimnya mengalami luka yang cukup parah. Ia divonis tak akan bisa memiliki anak. Namun, setelah kami melakukan pemeriksaan, tak ada yang seperti itu. Nona Amelie dalam keadaan sehat, rahimnya pun masih bagus."
"Lalu, mengapa dia bisa sakit seperti sekarang?" tanya Vanessa yang kini duduk di sebelah Axelle.
"Ia dengan rutin meminum pil pencegah kehamilan atau yang kita kenal dengan pil KB. Setelah aku bicara secara personal dengannya, Nona Amelie mengatakan bahwa obat tersebut disarankan oleh dokter yang merawatnya di Italy," Dokter Hendra menjelaskan perlahan.
Axelle mengepalkan tangannya. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Ada yang berniat mencelakakan putrinya. Ia pun langsung menghubungi asistennya untuk mencari tahu informasi lebih detail mengenai kecelakaan Amelie saat berada di Italy, juga dokter yang merawatnya.
"Apa Amelie akan baik baik saja, sayang?" tanya Vanessa pada Axelle.
__ADS_1
"Putri kita akan baik baik saja, karena aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya," ujar Axelle.
*****
"Aku merepotkan ya?" tanya Amelie.
"Tidak, jangan berkata seperti itu. Hal seperti ini juga bukan kemauanmu kan? Tapi, kamu percaya kan kalau apa yang dikatakan Lydia adalah kebohongan?"
"Ya, aku tahu seperti apa Lydia. Aku tidak tahu mengapa ia begitu membenciku," Amelie menghela nafasnya pelan.
"Ia ingin menjadi keluarga Sebastian, Nyonya Sebastian tepatnya."
Pintu ruangan terbuka, "Leon," sapa Vanessa.
"Iya Aunty. Uncle," balas Leon.
"Daddy dan Mommy baru saja dari dokter. Kamu sudah bisa pulang sore ini ... dan ingat untuk menghentikan obat yang kamu minum, itu tidak baik."
"Aku mengerti, Dad. Lalu, obat apa sebenarnya itu, Dad?" tanya Amelie.
"T-tapi itu diresepkan oleh dokter, Dad."
"Hmm, karena itulah Daddy akan mencari tahu. Daddy akan pergi ke kantor dulu. Leon, Uncle minta tolong untuk mengantar Aunty dan Amelie pulang ya nanti. Uncle harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu," Axelle mengecup kening Vanessa sebelum keluar dari ruang perawatan.
*****
"Bagaimana keadaanmu, Mel?" tanya Abigail.
"Aku sudah tidak apa apa, perutku juga sudah tidak sakit sama sekali."
"Aku sudah mendengar semuanya dari Aunty. Ini benar benar gila, Mel. Mengapa dokter melakukan semua ini, bukankah itu menyalahi aturan profesi mereka?"
"Aku sendiri juga tidak mengerti. Aku merasa tak memiliki musuh, kecuali ...."
"LYDIA!" ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Tapi ... mana mungkin Lydia berani melakukan hal seperti itu?" tanya Amelie.
"Aku rasa ia mampu melakukannya, Mel. Buktinya ia bisa menjelek jelekkanmu di depan Leon kan."
"Tapi itu kan hanya perkataan saja, Bi. Kalau sampai melakukan seperti itu, bukankah itu sudah masuk kriminal?"
Abigail menghela nafasnya kasar, "Kamu terlalu menganggap orang lain baik, mel. Karena itulah jadi sulit untuk berprasangka. Bukankah Uncle akan mencari tahu semuanya?"
"Ya, Daddy akan mencari tahu. Aku berharap tebakan kita salah. Ini hanya murni kesalahan penulisan obat saja."
"Ckkk ....," Abigail berdecak kesal.
"Lalu, kapan keponakanku ada di sini?" tanya Amelie mengalihkan pembicaraan.
Abigail tersenyum, "sudah ...,"
"Sudah? Benarkah? Ahhhh," Amelie berteriak tersenyum bahagia untuk sahabatnya itu.
"Sudah berapa minggu?"
"4 minggu," jawab Abigail.
"Aku yakin Handy akan semakin overprotektif padamu."
"Benar, bahkan aku selalu digendong setiap kali ingin berjalan. Bukankah itu mengesalkan?" Amelie malah tertawa mendengar tingkah Handy yang berlebihan.
"Tapi kamu memang harus banyak istirahat, Bi. Masih trimester pertama, kamu harus menjaganya dengan baik. Jangan terlalu lelah," ucap Amelie.
"Sepertinya kamu mulai beralih profesi menjadi seorang dokter," ucap Abigail sambil tertawa.
"Aku banyak mempelajari tentang kehamilan sejak dokter memvonisku tidak bisa punya anak. Meskipun aku tidak bisa punya, tapi aku punya ilmu untuk bisa kupraktekkan pada ponakanku."
"Kamu benar benar hebat, Mel. Tapi sekarang kamu tak perlu bersedih lagi. Semua yang dikatakan oleh dokter itu tidak benar. Kamu sehat kamu bisa memiliki anak sendiri," ucap Abigail menenangkan Amelie.
"Ya, aku senang sekali. Aku seperti mendapatkan mujizat, Bi."
__ADS_1
Abigail pun memeluk Amelie, setelah itu mereka melanjutkan perbincangan mereka dan makan bersama, sebelum Handy kembali menjemput Abigail untuk pulang.