
"Terima kasih, Leon. Semoga kamu bahagia," ucap Amelie sebelum akhirnya Leon meletakkan makanan yang ia beli ke atas nakas dan keluar dari ruangan itu.
"Sudah kukatakan, aku akan membuat kamu melepaskannya dan ia pun melepaskanmu," Lydia tertawa sambil melambaikan tangan dengan bahagia, meninggalkan Amelie sendiri.
Malam itu, dilewati Amelie sendirian, sebelum akhirnya Abigail datang menemaninya.
"Mel!" teriak Abigail saat ia memasuki ruangan rawat.
"Bagaimana? apa kata dokter?" tanpa menjawab, Amelie langsung memeluk Abigail. Hanya Abigail tempatnya mencurahkan semua isi hatinya. Ia selalu menceritakan semuanya pada Abigail dan ia percaya Abigail tak akan menceritakannya pada keluarganya, terutama kedua orang tuanya.
Amelie menceritakan apa yang terjadi padanya, tapi ia tak mengatakan apapun tentang Lydia dan juga Leon. Amelie tak ingin membawa Lydia dan Leon dalam kehidupannya lagi, jadi biarlah ia menutup rapat hal itu.
"Tenanglah, Mel. Ada aku. Kamu punya aku. Dokter bisa mengatakan apapun, tapi mujizat bisa terjadi kapanpun, di mana pun dan kepada siapapun, asal kamu selalu percaya."
"Kamu akan selalu menjadi sahabatku, saudaraku. Anakku akan menjadi anakmu juga. Jika ia memanggilku Mama, maka ia akan memanggilmu Mami," lanjut Abigail.
"Bi ...," Amelie tidak hanyut dalam kesedihannya ketika Leon mengatakan putus dengannya. Namun, ia merasa kehilangan seseorang yang selalu ada bersamanya.
*****
Pagi ini, Leon datang ke coffee shop dengan wajah yang sudah ditekuk maksimal. Tak ada yang berani menyapanya, bahkan sejak ia memasuki coffee shop.
Ia duduk di dalam ruangannya dan memusatkan semua perhatiannya pada pekerjaannya. Alvin saat ini sedang pergi ke perusahaan Sebastian yang berada di negara tersebut. Larry memintanya untuk membantu Bryan karena akan ada tender besar.
"Ada apa dengan wajahmu itu, Len?" tanya David yang kini tengah duduk di sofa, berhadapan dengan meja kerja Leon.
"Diamlah. Kalau tidak bisa, kamu bisa keluar."
Akhirnya David pun menutup mulutnya, namun ia tetap memperhatikan Leon. Ia menghela nafasnya panjang, "Baiklah, aku pergi saja. Pesanku, sebaiknya kamu mendinginkan kepalamu itu sebelum mengambil keputusan apapun. Aku tidak tahu apa permasalahanmu, tapi tenangkan dirimu sejenak dan tarik nafasmu. Aku pergi dulu ... Bye!"
Leon meletakkan pulpen yang sedang ia pegang, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Ia menarik nafasnya dalam, kembali memutar memorinya saat bersama dengan Amelie. Hampir 6 bulan kebersamaannya dan dengan mudahnya ia mengambil keputusan.
"Apa aku salah? Aku belum mendengarkan penjelasannya. Ia justru menanyakan pendapatku mengenai semua itu dan ia tak membantah ataupun mendebat semuanya," gumam Leon, kemudian mengacak rambutnya.
__ADS_1
*****
1 minggu berlalu ....
Leon terus menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ia berpikir bahwa itu adalah cara yang paling tepat untuk mendinginkan kepalanya, sebelum ia bertemu kembali dengan Amelie dan membicarakan semuanya secara baik baik.
Hari ini, ia akan menemui Amelie di manapun ia berada. Di rumah sakit, di Taman Kanak kanak, ataupun di minimarket. Ia harus menemuinya!
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Ia segera keluar dari ruangannya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia masuk ke dalam tempat Amelie di rawat, tapi sudah di tempati oleh pasien lain.
"Pasien dengan nama Amelie Kirania?" tanyanya pada bagian administrasi.
"Ooo, Miss Amelie sudah keluar sejak 3 hari yang lalu," jawab bagian administrasi.
Sudah keluar? siapa yang menjemputnya? apa bersama Lydia? atau Harlan? - Leon masih saja menganggap foto foto itu adalah kebenaran. Tapi ia akan memaafkan Amelie jika semua itu benar. Ia akan mengajak Amelie untuk memulai semuanya dari awal. Apa ia termasuk bodoh karena masih menginginkan Amelie, meskipun Amelie sudah berselingkuh di belakangnya? Anggaplah seperti itu.
Leon pun segera pergi menuju Taman Kanak kanak tempat Amelie bekerja. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, hampir jam 2. Itu artinya sebentar lagi kelas akan usai. Ia menunggu di dalam mobil, dan matanya terus memperhatikan saat para siswa mulai keluar. Ia segera turun dari mobilnya dan menghampiri salah seorang guru yang akan kembali masuk ke dalam setelah menemani para anak anak sebelum para orang tua menjemput putra putri mereka.
"Permisi, Miss," sapa Leon.
"Hmm, saya ingin bertemu dengan Miss Amelie."
"Oo, Miss Amelie sudah tidak mengajar. Tadi pagi ia sudah memberikan surat pengunduran dirinya."
"Mengundurkan diri?"
"Ya, ia mengatakan keadaannya saat ini tak memungkinkan untuk mengajar. Tadi ia ke sini juga menggunakan tongkat penyangga, katanya baru saja mendapatkan musibah," jelas guru tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih."
Leon segera kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke arah minimarket.
Bodoh kamu, Leon! Seharusnya kamu menemaninya di saat seperti ini. Tapi kamu justru malah meninggalkannya. Bodoh! bodoh! - Leon memukul setirnya beberapa kali.
__ADS_1
Ia menghentikan mobilnya di depan minimarket, "Selamat datang!" sapa Lilian dan Harlan seperti biasanya. Terlihat kaca minimarket sudah diperbaiki dan mereka sudah kembali beraktivitas, seperti tak ada yang terjadi.
"Hi Leon!" sapa Harlan. Leon melihat Harlan dengan tatapan yang sulit diartikan. Leon menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menghilangkan pikiran buruknya. Ia kembali teringat akan foto foto itu saat melihat Harlan.
"Bagaimana kabar Amelie? Aku belum sempat menjenguknya karena sibuk sekalu di minimarket sejak kejadian itu," terang Harlan.
"Jadi ... Amelie belum kemari?" tanya Leon.
"Belum, dan Amelie tidak akan kembali kemari," jawab Lilian.
"Maksudnya?"
"Ia mengundurkan diri, karena itulah kami sedang mencari staf baru untuk menggantikannya. Apa kamu punya kenalan?" tanya Harlan.
"Ahh, nanti akan aku beritahukan pada teman temanku, siapa tahu ada yang berminat," jawab Leon sekenanya.
"Oya, katakan pada Amelie, kami merindukannya. Sering seringlah berkunjung kemari meskipun ia tidak lagi bekerja di sini, kami akan selalu menjadi keluarganya," ucap Harlan dan disetujui oleh Lilian dengan anggukan.
"Hmmm ... bolehkah aku berbicara berdua denganmu?" tanya Leon pada Harlan. Harlan mengangguk dan mengajak Leon ke depan minimarket.
"Ada apa?" tanya Harlan sambil mengelurkan sebatang rokok dari kotaknya dan mulai menghisapnya.
"Apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Amelie?" seketika Harlan tertawa, kemudian menoleh ke arah Leon.
"Apa kamu meragukan Amelie?" tanya Harlan to the point.
"Apa aku tidak boleh meragukannya ketika ia selalu bersamamu?"
Harlan mengepulkan asap ke atas, "Amelie sudah seperti adik bagiku. Ia mirip sekali seperti adikku yang sudah meninggal. Cara bicaranya, tingkah lakunya, keceriaannya, semua hal mengingatkanku pada adikku."
"Apa hanya itu? Apa kamu tidak memiliki perasaan lebih padanya?"
Harlan tertawa, "Aku berharap ia memiliki perasaan padaku, tapi setiap saat yang ia bicarakan hanyalah dirimu. Aku tak ingin menghancurkan hubunganku, hanya karena aku menyatakan perasaanku padanya. Jika ia tak mencintaiku, setidaknya ia menyayangiku sebagai seorang kakak."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan ini?" Leon memberikan sebuah foto kepada Harlan, tiba tiba saja Harlan langsung tertawa terbahak bahak. Leon yang melihatnya langsung merasa keheranan.
"Aku ingat ini. Ini adalah saat Amelie sedang dikejar kejar oleh pria yang tergila gila padanya. Ia ketakutan dan memintaku berpura pura menjadi kekasihnya. Bahkan di bawah meja kasir ini sebenarnya ada Lilian yang sedang bersembunyi dan menertawakan kami, karena akting kami yang sangat buruk. Tapi untung saja pria itu segera pergi. Apa kamu meragukannya karena foto ini? Kalau begitu, sebaiknya kamu tidak mendekatinya lagi ... karena pria sepertimu tidak pantas untuk seorang Amelie," Harlan menepuk bahu Leon, dan masuk kembali ke dalam minimarket.