Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
HAMIL?


__ADS_3

"Sudah kukatakan lepaskan aku!" teriak Daniela. Wanita itu benar benar kesal karena Mikael terus saja mengikutinya sejak kemarin. Tiba tiba Daniela menghentikan langkahnya, membuat Mikael menabrak tubuhnya sehingga ia agak sedikit terdorong ke depan dan hampir terjatuh. Namun, dengan cepat tangan Mikael melingkar di pinggang Daniela.


Tubuh mereka begitu dekat, bahkan menempel dan hanya dipisahkan oleh pakaian yang melekat di tubuh mereka. Jantung Daniela berdegup dengan kencang. Ia berusaha melepaskan diri, ia tak mau Mikael sampai mendengar suara debaran jantungnya.


Namun, Mikael tak kunjung melepaskannya, hingga akhirnya Daniela berusaha berdiri dengan stabil, kemudian salah satu kakinya menekuk dan dengan lututnya ia menendang aset milik Mikael. Hal itu membuatnya melepaskan Daniela dan langsung memegang miliknya yang terasa nyut nyut. (ya ampun Mik, Cherry ga bisa bayangin loh sakitnya ky apaan. Pengen bantuin sih, tapi mesti diapain asetnya supaya ga sakit lagi.)


Dengan cepat Daniela langsung berjalan memasuki lift, menuju ruangannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Daniela sementara waktu menggantikan Daddynya. Meskipun ia belum banyak mengerti, tapi asisten Daddynya sangat membantu dirinya.


Pada awalnya, Daniela ingin melepaskan semua itu dan pergi ke luar negeri untuk memulai hidup yang baru. Namun, ia tak ingin kenangan Daddy dan Mommynya hilang. Ia juga akan terus berusaha mempertahankan perusahaan Mahaprana yang telah dimulai dari nol oleh Daddynya itu.


Daniela menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kebesarannya. Ia menopang kepalanya dengan siku di tangan kursi. Kepalanya terasa sakit karena Mikael. Ia benar benar bingung karena pria itu terus mengikutinya dan menempel terus padanya, padahal ia sudah melepaskannya.


Baru saja ia mengambil salah satu berkas, perutnya seakan diaduk aduk. Ia langsung berlari ke kamar mandi yang memang tersedia di ruangannya. Ia belum makan pagi ini, mungkin ia masuk angin, pikirnya. Ia berjalan perlahan kembali menuju mejanya, tapi perutnya kembali seperti diaduk, ia pun kembali ke kamar mandi dan hanya memuntahkan air.


Daniela berjalan menuju sofa. Ia merebahkan tubuhnya dan berbaring. Wajahnya sudah pucat dan kepalanya terasa sakit.


Mikael yang tadi mengikuti Daniela langsung membuka pintu ruangan Daniela tanpa mengetuknya. Ia tak melihat Daniela di kursinya. Ia mengarahkan pandangannya dan melihat Daniela yang sedang merebahkan diri di sofa dengan wajah yang sedikit pucat. Mikael pun berjalan mendekat.


"Hei, kamu kenapa? wajahmu pucat sekali," tanya Mikael dengan raut wajah khawatir. Namun, Daniela tak ingin menggubris Mikael. Ia hanya memejamkan matanya dan membelakangi Mikael.


Tanpa berpikir, Mikael langsung meraih bahu dan kaki Daniela. Ia menggendongnya dan bermaksud membawanya ke dokter.


"Lepas, lepaskan aku. Dasar ikan kaleng!" teriak Daniela memberontak.


"Diam! Kamu harus ke dokter. Wajahmu pucat. Kita bisa bertengkar lagi setelah ini. Sekarang turuti kata kataku dulu," ucap Mikael tegas. Daniela yang baru kali ini melihat tatapan mata Mikael yang seperti tak ingin dibantah pun akhirnya diam. Tubuhnya juga terasa lemas sekali. Daniela menyembunyikan wajahnya di dada Mikael karena malu dilihat para pegawainya.

__ADS_1


Daniela memghirup harum maskulin yang menyeruak dari tubuh Mikael, tiba tiba saja ia merasa nyaman dan tenang. Sementara Mikael harus menahan sesuatu di bawah sana yang sepertinya mulai tegang karena tubuhnya berdekatan dengan Daniela.


*****


"Mel!"


"Kak Bara," sapa Amelie, "Kakak ingin menjemput Aldo? Dia baru akan keluar setengah jam lagi."


"Hmm, kamu ... sedang sibuk?" tanya Bara.


"Tidak terlalu. Aku mau melihat ke sana dulu," tunjuk Amelie ke arah proyek pembangunan gedung fasilitas baru.


"Wow, apa mereka akan memperbesar sekolah ini?"


"Tidak salah aku menyekolahkan Aldo di sini," senyum Bara, "Oya, apa kamu mau makan siang bersama? Aldo selalu memintaku mengajakmu, tapi aku sedang sibuk hingga belum sempat."


"Maaf, mungkin lain kali. Hari ini aku sudah ada janji," jawab Amelie.


"Sayang sekali. Baiklah, aku akan mengundangmu lagi lain kali. Jangan ditolak lagi nanti."


"Baiklah. Aku akan memberitahu Aldo nanti," tiba tiba saja Amelie merasakan sakit di bagian bawah perutnya. Ia langsung berpegangan pada dinding dan memegangi perut bagian bawahnya.


"Kamu tidak apa apa, Mel?" tanya Bara saat melihat Amelie meringis.


"Tidak, tidak apa. Mungkin tadi aku salah makan, perutku sedikit sakit," jawab Amelie, "Aku permisi dulu ya."

__ADS_1


Amelie berjalan meninggalkan Bara. Ia segera menuju ke ruang guru, meraih tas nya dan mengambil botol obat miliknya. Ia mengeluarkan sebuah pil dari sana, kemudian menenggaknya. Beberapa hari ini rasanya perut bagian bawahnya terasa sakit, padahal ia sudah rutin meminum obat yang diberikan oleh dokter di Italy. Amelie duduk diam, menetralkan pikirannya.


Mungkin aku terlalu banyak beraktivitas belakangan ini, sehingga membuat perutku jadi sakit. Sebaiknya aku istirahat saja beberapa hari. Aku akan meminta izin pada Mam Rebecca. - batin Amelie.


*****


"Apa anda suaminya?" tanya Dokter Harun.


"B-bukan Dok, saya rekan kerjanya."


"Ouu. Kalau begitu bisakah anda membantu saya untuk menghubungi suaminya?"


"Memangnya ada apa ya Dok? Apakah sesuatu yang penting?" Mikael penuh rasa ingin tahu.


"Rekan anda sedang hamil. Kami sudah memeriksanya. Ia sangat memerlukan istirahat karena sepertinya ia sangat kelelahan," jawab Dokter Harun.


Deg ....


"H-hamil?"


"Ya. Saya akan memberikan beberapa vitamin dan penguat. Untuk sementara juga ia harus bedrest agar tidak mempengaruhi kehamilannya," Dokter Harun menuliskan resep di atas selembar kertas dan memberikannya kepada Mikael.


"Baik, Dok," Mikael masih belum percaya apa yang telah ia dengar di dalam ruang dokter tadi.


Hamil? Daniela sedang mengandung anakku. Itu anakku. Aku harus segera menikahinya. Aku tak ingin anakku tidak memiliki Daddy. - Mikael.

__ADS_1


__ADS_2