Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
KAMU JANGAN BODOH!


__ADS_3

Leon kini secara terang terangan memberikan kemudahan bagi Amelie. Ia selalu mengantar jemput Amelie dengan menggunakan mobil, tidak dengan naik bus lagi seperti dulu. Amelie pun tidak menolak, ia membiarkan Leon melakukan apapun yang menyenangkan bagi pria itu.


Weekend, Amelie kembali diajak oleh Leon mengelilingi kota. Malam hari, mereka mampir di sebuah cafe untuk makan malam. Kali ini, Leon mengajak Amelie ke sebuah cafe yang terlihat mewah. Amelie pun hanya ikut saja.


Mereka duduk berhadapan dan membuka buku menu. Leon memperhatikan Amelie, namun Amelie terlihat santai membuka buku menu dan melihatnya. Ia menyebut salah satu makanan dan minuman di sana, kemudian menutup buku menu dan memberikannya kepada pelayan yang berdiri menunggu.


Leon mengernyitkan dahinya, Apa ia sudah terbiasa makan di tempat seperti ini? Siapa yang mengajaknya?


"Aku ke toilet sebentar ya," ucap Amelie. Sementara Leon masih melihat buku menu. Akhirnya menjatuhkan pilihannya sama dengan makanan yang dipesan oleh Amelie.


"Len!" Leon menoleh ke asal suara setelah menyerahkan buku menu kepada pelayan.


"Vin, kamu di sini juga?" tanya Leon.


"Ya."


"Kamu sendiri?"


"Tidak, aku bersama seorang wanita di sana. Apa kamu sendiri? mau bergabung?" ucap Alvin sambil menunjuk ke salah satu wanita yang terlihat cantik dan elegan.


"Wah ... gesit juga kamu. Aku tak menyangka. Aku tidak sendiri, aku bersama Amelie."


"Amelie pasti senang kan saat mengetahui bahwa kamu seorang Sebastian? Ia tidak marah karena kamu membohonginya? Apa dia juga yang memintamu untuk makan di cafe mahal seperti ini? Wanita seperti itu 100% pasti mengincar hartamu. Seperti mendapatkan durian runtuh saat mengetahui siapa kamu sebenarnya," ucap Alvin.


"Mana ada wanita yang berpacaran 10 kali dalam waktu hanya beberapa tahun, Len. Kamu harus sadar. Keluarganya saja tidak jelas. Aku sudah memberi semua informasi padamu, apa kamu tidak membacanya?" lanjut Alvin.


"Kecilkan suaramu, Vin!" gerutu Leon. Ia tak ingin ada yang sampai mendengar apa yang dikatakan Alvin. Namun sayangnya, Amelie mendengar semua itu, hanya saja ia sedikit bersembunyi di balik tiang.


"Sebaiknya kamu pergi dan ingat, aku tak ingin kamu mengatakan hal itu lagi. Aku tak akan menganggapmu sahabatku lagi jika kamu terus menerus menuduh seperti itu," ucap Leon pelan di telinga Alvin.


"Ingatlah, Len. Aku ini sahabatmu, aku bisa melihat dari kacamata yang lain. Aku hanya menasehatimu. Jangan karena kamu dibutakan oleh cinta, kamu menjadi korban selanjutnya setelah Mikael," Alvin menepuk bahu Leon, kemudian meninggalkannya dan pergi menuju meja tempat ia akan makan bersama wanitanya.


Leon pun kembali duduk dan mengarahkan pandangannya ke toilet, belum nampak Amelie di sana. Ia menghela nafasnya pelan, beruntung Amelie belum keluar dari toilet.


"Maaf, aku lama," ucap Amelie saat kembali ke meja.


"Tidak apa, pesanan kita juga belum datang," Leon tiba tiba menjadi sedikit canggung. Ia jadi terus memperhatikan Amelie.


"Apa ada sesuatu yang salah denganku?" tanya Amelie.

__ADS_1


"Ya, kamu terlalu cantik," goda Leon, membuat pipi Amelie memerah.


Mereka makan sambil bercanda seperti biasa, Amelie pun tak ingin memasukkan dalam hati semua perkataan sahabat Leon tadi. Sementara Leon merasa lega karena Amelie bersikap biasa, yang artinya ia tak mendengar pembicaraannya dengan Alvin.


*****


"Kamu akan menikah, Bi?" tanya Amelie saat mereka melakukan video call.


"Ya, kenapa wajahmu terlihat lebih bahagia dari pada aku?"


"Tentu saja aku sangat bahagia, Bi. Itu artinya kamu sudah Sold Out," ucap Amelie tertawa.


"Ishhh, kamu ini."


"Kapan rencananya, Bi?"


"Sekitar 6 bulan lagi. Apa kamu akan pulang?" tanya Abigail.


"Hmmm, bagaimana ya? Apa kamu akan menanggung ongkos dan akomodasi?"


"Amel!!! Kamu itu ya. Tapi, tenang saja. Masalah ongkos dan akomodasi untukmu, aku sudah memiliki sponsor."


"Tentu saja. Kamu kan akan menjadi bridesmaid ku."


"Siapa sponsornya?" tanya Amelie ingin tahu.


"Keluargamu," Amelie mencibik sementara Abigail tertawa terbahak bahak karena bisa mengerjai sahabatnya.


"Tapi, janji padaku ya, Mel. Kamu akan menjadi bridesmaid ku."


"Baiklah, Abigailku sayang. Aku akan menepati janjiku. Kamu sahabatku dan aku tak akan melewatkan momen penting milik sahabatku," ucap Amelie.


"Terima kasih, Mel. Aku juga harus memastikan Mia kembali. Aku hanya takut ia beralasan lagi karena menyelesaikan tugas akhirnya."


"Tenang saja, ia pasti akan pulang. Ia juga pasti tak akan melewatkan momen bahagia milik kakak tersayangnya, bukan begitu?"


"Aku harap begitu, Mel. Saat ini aku akan lebih banyak waktu bersama dengan Handy. Papi akan memintanya menjadi wakil direktur, aku harap ia mau menerimanya," terang Abigail.


"Ia pasti akan menerimanya. Katakan padanya bahwa kamu membutuhkannya. Apalagi kalau nanti kamu hamil, bukankah kamu tidak boleh bekerja terlalu lelah? ia harus membantumu, Bi. Kalau tidak, aku akan menjewer telinganya dan aku akan menggantikan dirinya tidur bersamamu," Amelie tertawa membayangkannya, sementara wajah Abigail memerah mendengar kata hamil yang diucapkan oleh Amelie.

__ADS_1


"Mel, Handy menelepon. Aku tutup dulu ya. Kapan kapan kita sambung lagi. Selamat beristirahat ... muah muah," mereka saling melambaikan tangan, kemudian memutuskan sambungan video call tersebut.


Aku senang kamu bahagia, Bi. Aku berharap seterusnya kamu akan bahagia. Doakan aku juga supaya benar benar menemukan seseorang yang tulus mencintai dan menyayangiku. - Amelie.


*****


"Apa kamu tidak bisa melakukannya, Mel?"


"Maaf, Lyd. Tapi bukan seperti itu caranya."


"Aku memintanya secara khusus padamu. Aku juga memberanikan diri, menurunkan harga diriku untuk bertemu denganmu dan memintanya."


"Sejak dulu memang kamu selalu serakah!" lanjut Lydia tiba tiba berucap kasar.


"Apa maksudmu, Lyd?"


"Bukankah kamu sudah merasakan bagaimana berpacaran dengan banyak lelaki? Apa kamu belum merasa puas juga?" ucap Lydia.


"Tapi kamu tahu kan Lyd, kalau semua itu ..."


"Aku tahu, tapi apakah itu benar atau tidak, siapa yang tahu," Lydia mengendikkan bahunya.


"Kamu sudah mengambil Mikael dariku, dan sekarang kamu juga mau mengambil kakaknya. Apa kamu belum puas juga?" ucap Lydia.


"J-jadi kamu tahu kalau Leon adalah kakak Mikael?"


"Tentu saja aku tahu! Kamu juga pasti tahu, karena itylah kamu mendekatinya."


"Lyd!"


"Kamu pasti menyesal Mikael dulu mengatakan putus padamu, padahal kamu benar benar ingin berhubungan dengannya dan menjadi bagian sari keluarga Sebastian. Cihh ... karena tidak mendapat adiknya, kini kamu berusaha menggaet kakaknya," ucap Lydia.


"Aku tidak menyangka mulutmu begitu tajam, Lyd. Aku selalu menganggap kamu adalah sahabatku. Tapi ternyata ..."


"Cihhh!!! Siapa yang mau berteman dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya. Kamu harusnya berbangga hati karena bisa kuliah di sana karena jalur prestasi. Bahkan bisa memiliki sahabat dari kalangan pengusaha. Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu?"


Amelie mulai mengepalkan tangannya. Ia tak suka kalau kedua orang tuanya mulai dibawa bawa dalam suatu pembicaraan. Lagipula, wanita di hadapannya saat ini tidak tahu apa apa.


"Kamu lihat saja, Mel. Aku pastikan kamu akan melepaskan Leon, dan Leon akan segera memutuskan hubungannya denganmu, karena kamu akan melihat aku mati.... (kamu yang akan aku lenyapkan!)" Lydia pun langsung keluar dari minimarket dengan cepat.

__ADS_1


Amelie mencerna perkataan Lydia, "Lyd! kamu jangan bodoh!"


__ADS_2