
Leon dan Amelie meletakkan barang barang mereka sementara di rumah oramg tua Leon. Sambil menunggu proses interior rumah mereka selesai, mereka akan tinggal di sana.
"Kamu akan pergi lagi?" tanya Miranda.
"Leon harus ke Italy, Mom. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan," ucapnya.
"Kamu juga ikut, sayang?" tanya Miranda pada Amelie.
"Tentu saja Amelie akan ikut bersamaku. Dia istriku, Mom."
"Ishhh ... Mommy juga tahu dia istrimu. Tapi apa tidak bisa kamu meminjamkan istrimu sebentar saja pada Mommy, selama kamu ke Italy?"
"Tidak! tidak ada pinjam meminjam. Lebih baik Mommy pinjam Daniela saja dari Mikael."
"Ahhh, anak itu. Bahkan aku susah sekali untuk bertemu Ela. Ia seperti mengurung Ela terus di dalam kamar," ungkap Miranda kesal.
"Kalau begitu, Mommy bersama Daddy saja. Kasihan Daddy sendirian di perusahaan. Aku harus pergi sore ini."
"Ahhh!!! Daddy kalian akan meminta lebih dari Mommy kalau Mommy ke kantor. Yang ada nanti ia malah mengganggu Mommy, bukannya bekerja," Miranda mencebik kesal.
"Nanti sepulang aku dari Italy, aku akan meminjamkan Amelie pada Mommy ... tapi 1 jam saja ya," goda Leon.
"Dasar pelit!!"
Amelie yang melihat pertengkaran ibu dan anak itu hanya terkekeh. Inilah yang berbeda antara keluarganya dengan keluarga Leon. Keluarga Leon sebenarmya saling dekat satu sama lain, tapi cara penyampaian kasih sayang mereka berbeda.
*****
__ADS_1
Sesampainya Leon dan Amelie di Italy, mereka sudah ditunggu oleh Alvin.
"Selamat atas pernikahanmu," Alvin memeluk Leon dan memberikan beberapa tepukan di punggung sahabatnya itu. Ia juga memberikan selamat pada Amelie.
"Bagaimana keadaan coffee shop?" tanya Leon saat mereka sudah berada di dalam mobil. Alvin yang menyetir, sementara Leon duduk di sebelahnya. Amelie duduk di belakang seorang diri. Amelie tahu saat ini Leon perlu waktu untuk bicara dengan sahabatnya itu.
"Seharusnya aku meneleponmu sebelumnya. Masalah kita telah selesai," ucap Alvin sambil tersenyum.
"Selesai? selesai bagaimana maksudmu?"
"Mereka telah menangkap pelakunya."
"Siapa?" tanya Leon ingin tahu.
"Lydia," ucapan Alvin membuat Amelie dan Leon terkejut.
Leon menggelengkan kepalanya, "Lalu ... bagaimana mereka bisa menangkapnya, bukankah semua CCTV rusak akibat kebakaran itu?"
"Mereka lupa kalau ada CCTV di toko seberang jalan yang posisinya tersembunyi, namun bisa dengan jelas merekam aksi mereka," terang Alvin.
"Itu bagus. Aku ingin mereka mendapatkan hukuman yang pantas dan bisa membuat mereka jera," ucap Leon.
"Lalu .... bagaimana denganmu sendiri, Vin?" lanjut Leon.
"Aku? kenapa?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Diva? Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa kamu akan kembali ke Indonesia jika kamu gagal meyakinkannya ... dan bukankah Lydia sudah menggagalkan rencanamu itu dengan niat busuknya."
__ADS_1
"Hmm ... aku memang belum bisa memperbaiki hubunganku dengan Diva. Aku tahu itu 100% kesalahanku bukan kesalahan Diva ataupun Lydia. Akulah yang tergoda dan nafsu lah yang menyelimutiku saat itu. Tapi aku berterima kasih pada Diva karena datang di saat yang tepat sehingga aku tidak sempat melakukannya. Kalau tidak, aku akan merasa jijik saat ini karena pernah berhubungan dengan seorang wanita ular," ucap Alvin.
"Aku tidak akan menyerah, Len. Aku akan terus mencoba kembali melunakkan hati Diva dan ... sepertinya aku harus bertemu dengan David untuk memohon padanya. Aku tidak peduli dengan harga diriku lagi. Aku mencintai adiknya, maka aku harus berjuang untuk itu," lanjut Alvin.
"Aku senang sekarang kamu sudah bucin," tawa Leon. Sementara di kursi belakang Amelie tersenyum mendengar cerita Alvin.
"Aku tidak bucin seperti dirimu, enak saja! Jangan samakan aku. Aku hanya benar benar mencintainya. Itu berbeda."
"Ya ... ya ... ya, terserah padamu. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu. Jika kamu membutuhkan bantuanku untuk bervicara dengan David, aku akan membantu," Leon menepuk bahu Alvin yang sedang menyetir.
"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri. Oya, kalau kasus itu sudah selesai, lalu apa yang akan kamu lakukan di sini?"
"Tentu saja kita harus merenovasi ulang coffee shop itu. Bukankah banyak staf kita yang bergantung hidup di sana? Selama proses renovasi, tetap bayarkanlah gaji mereka. Aku tak ingin mereka kehilangan sumber pendapatan mereka," ucap Leon.
"Tenanglah. Aku tahu seperti apa dirimu. Aku sudah melakukan briefing pada mereka semua dan meminta mereka menunggu selesainya renovasi. Mereka senang dan ingin segera kembali bekerja. Bukankah staf yang loyal akan sulit dicari ... apalagi bos yang pengertian," goda Alvin pada Leon.
"Kalau begitu, kamu harus mengawasi seluruh proses renovasi itu, Vin."
"Lalu ... apa yang kamu lakukan?"
"Tentu saja aku akan honeymoon bersama dengan istriku, bukan begitu sayang?" Leon menoleh ke belakang dan tersenyum, membuat pipi Amelie memerah mendengarnya.
"Ishhh kalian tidak perhatian sekalian pada jomblo sepertiku ini," gerutu Alvin.
"Makanya, kamu harus gerak cepat. Kalau tidak Diva akan diambil pria lain."
"Tidak, tidak akan. Aku tahu David seorang pemilih. Setelah kejadian itu, aku rasa David akan semakin pemilih lagi untuk pasangan Diva. Pilihannya nanti hanya akan ada satu, dan itu adalah aku," Alvin tersenyum penuh percaya diri.
__ADS_1
*****