Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
EXTRA PART (2)


__ADS_3

Sudah seminggu ini, Alvin selalu datang ke kediaman Asher. Ia selalu membawakan bunga untuk Diva di pagi hari. Di dalam setiap buket bunganya selalu diselipkan kartu ucapan yang berisi pesan 'Maafkan Aku'.


Alvin sepertinya belum merasa dimaafkan oleh Diva jika wanita itu belum menerimanya kembali. Pagi ini, Diva bangun lebih pagi, ia ingin melihat kedatangan Alvin.


"Kamu menunggunya?"


"Kakk!" Diva yang kaget karena David tiba tiba sudah berada di belakangnya pun terlonjak.


"Tidak, aku tidak menunggu Alvin," jawab Diva.


"Kakak tidak mengatakan kamu menunggu Alvin. Lalu mengapa kamu menyebut namanya?"


Diva menggerutu kesal, kemudian bergerak menjauh sambil menghentakkan kakinya.


"Hei, kenapa kamu marah? Apa itu berarti apa yang kakak katakan benar?" David ingin tertawa melihat tingkah adiknya yang begitu menggemaskan.


"Kakak sengaja menggodaku, kan? Menyebalkan!"


"Apa kamu masih mencintainya?" David setengah berlutut sambil memegang kedua tangan Diva.


"Tidak, Kak. Aku tidak mencintainya," jawab Diva sambil menunduk.


David mengangkat dagu Diva dengan jari telunjuknya, hingga mata Diva melihat ke arah David, "Katakan dengan menatap kakak bahwa kamu sama sekali tidak mencintainya."


Diva akhirnya memeluk David, "Apa kakak sedang mengujiku, hmm? Aku mencintainya, aku sungguh sungguh mencintainya. Apa kakak sudah puas?"


David merenggangkan pelukan Diva, kemudian menangkup wajah adik kecilnya itu, "Jika kamu mencintainya, kakak akan mengijinkanmu kembali padanya. Kakak hanya menginginkan kebahagiaanmu, tapi .... jika sekali lagi dia menyakitimu, maka kakak sendiri yang akan menghajarnya dan membawamu pergi hingga ia tak bisa lagi menemuimu. Mengerti?"


"Aku tahu kakak melakukan semua ini karena kakak menyayangiku. Aku juga menyayangi kakak. Apa kakak tidak ingin memberikanku seorang kakak ipar?"

__ADS_1


"Ishh, jangan mengalihkan pembicaraan. Kita sedang berbicara tentangmu, bukan tentang kakak," David mengelak.


"Aku sudah dewasa, Kak. Kakak seharusnya lebih memikirkan diri kakak. Aku bisa menjaga diriku sendiri," pinta Diva.


"Sekali lagi, jangan pikirkan tentang kakak. Kakak baik baik saja. Melihat kebahagiaanmu adalah impian kakak," David mengusap kepala Diva.


"Kakak pergi ke kantor dulu. Pergi temui dia jika memang kamu mencintainya, kakak tak akan melarangmu," cupp ... David mengecup pucuk kepala Diva kemudian berlalu keluar dari kamar tidur adiknya itu.


Kak, betapa beruntungnya wanita yang akan menjadi istrimu kelak. Kamu selalu memikirkan kebahagiaan orang lain, bahkan akan menurunkan egomu demi diriku. Maafkan aku yang selalu saja merepotkanmu. Aku berdoa kamu akan segera mendapatkan jodoh yang terbaik, yang akan selalu mencintaimu. - Diva


*****


"Kapan kamu akan mengunjungiku, Vid?" tanya Leon.


"Apa kamu begitu merindukanku?" ucap David sambil tertawa.


"Aku akan ke sana sekitar 2 minggu lagi. Ada pekerjaan baru yang mengharuskanku berada di sana. Kurasa aku akan mampir ke rumahmu, mengingat betapa rindunya dirimu padaku."


"Hei! Aku tidak merindukanmu," ungkap Leon kesal.


"Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku saja yang rindu pada Amelie istrimu."


"Berani sekali kamu mengatakan itu," gerutu Leon sambil menampakkan tangannya yang mengepal ke layar ponselnya. Saat ini ia sedang melakukan panggilan video dengan David Asher, sahabatnya yang kini sudah menetap di Italy.


David terkekeh, "Bagaimana kabar baby Xavier? Apa dia mewarisi wajahku?" David kembali menggoda Leon.


"Tidak, tidak ada yang mirip denganmu. Bisa gila aku jika melihat wajahmu setiap hari," ungkap Leon kesal, sementara David terus tertawa.


"Len, apa kamu tahu apartemen yang bisa kusewa dan lokasinya dekat pusat kota?" tanya David.

__ADS_1


"Kamu bisa menggunakan apartemen milikku, Vid. Tidak ada yang menggunakannya. Nanti aku akan meminta seseorang membersihkannya dan kamu bisa memakainya selama yang kamu perlukan."


"Baiklah kalau begitu, Len. Maaf merepotkanmu."


"No Problem. Tapi aku akan menunggumu di rumah jika kamu sudah sampai di sini. Kita akan makan malam bersama," ucap leon.


"Aku mengerti. Aku juga ingin menemui baby Xavier. Bukankah aku ini akan menjadi mertuanya nanti. Jadi dia harus mengenalku sejak kecil," ucap David, membuat Leon kembali kesal karena David kembali bercanda dan menggodanya lagi.


*****


Baby Xavier yang saat ini berusia 2 bulan, sedang bermain bersama Amelie di atas tempat tidur. Amelie sangat suka berbicara dan bercerita apa saja padanya.


"Kamu belum tidur?" tanya Leon.


"Belum, Xavi belum mengantuk sepertinya. Lihat saja ... matanya masih begitu besar, sepertinya aku akan lelah jika harus menidurkannya sekarang."


"Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini Xavi tidur di sini bersama kita?" wajah Amelie berubah senang. Biasanya Xavier akan tidur di kamarnya sendiri, tapi malam ini mereka akan tidur bertiga.


"Sepertinya ada yang aneh. Mengapa tiba tiba ingin tidur bertiga?" tanya Amelie tersenyum curiga.


"Aku sedang kesal dengan David. Masa dia bilang kalau dia merindukanmu dan akan membuat Xavier menjadi menantunya. Aku tidak mau kalian dekat dekat dengannya, jadi mulai sekarang aku harus mendekatkan diri dengan Xavi," ujar Leon.


"Xavi ... sepertinya Daddy sedang cemburu dengan sahabatnya sendiri," Amelie terkekeh.


"Hei hei, istriku sayang, jangan menggodaku. Atau aku akan menerkammu dan langsung membuatkan adik untuk Xavi," ancam Leon, membuat Amelie langsung berbarind di samping Xavier dan menyelimuti dirinya dan Xavier.


"Kita tidur sekarang saja, Xavi sayang. Sebelum Daddy berbuat nekat," ujar Amelie dan membuat Leon tertawa geli.


Mereka akhirnya tidur bersama, melewati malam malam dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2