Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
MEMBENCI AMELIE


__ADS_3

"Kurang ajar!" teriak Axelle sambil membanting sebuah kertas yang berada di tangannya. Sudah lama sekali rasanya ia tak pernah marah seperti ini. Namun, ia akan marah besar jika ada yang menyakiti anak anaknya.


"Sebaiknya anda tenang dulu, Tuan," sang asisten mencoba menenangkan Axelle. Kalau saja Blue masih menjadi asistennya, mungkin Blue akan langsung mengambil tindakan tanpa memberi tahu pada Axelle, secara Amelie adalah keponakannya.


Namun, Blue sekarang sudah tinggal di New Zealand bersama dengan istri dan anak mereka. Ia juga dipercaya oleh Axelle untuk memegang salah satu anak perusahaan mereka di negara tersebut.


"Segera cabut lisensi dokter yang mereka miliki. Dokter di Italy, juga dokter yang berada di sini. Kamu mengerti? dan .... bawa wanita bernama Lydia itu segera ke markas Black Alpha. Aku sendiri yang akan menanganinya," ucap Axelle.


*****


Daniela sedang duduk di sebuah kursi panjang yang berada di taman belakang rumahnya. Ia menghirup dalam dalam udara di sana, sambil mengelus perutnya perlahan, "Apa kamu merindukan Daddy, sayang? Ya, kamu pasti merindukannya karena Mommy tak mungkin seperti itu. Perasaan yang Mommy rasakan saat ini adalah perasaanmu, bukan begitu?" Daniela tersenyum.


"Apa kamu merindukanku?" sebuah suara terdengar dari belakang Daniela.


"Ishh, siapa yang akan merindukan pria sepertimu," Daniela melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lalu, mengapa kamu mengirimkan pesan singkat kepadaku berkali kali?"


"Enak saja, aku tidak melakukannya. Dasar ikan kaleng, sebaiknya kamu pulang ke dalam kalengmu saja. Jangan menggangguku," ucap Daniela ketus.


"Lihatlah, hampir 30 pesan kamu kirimkan kepadaku," Mikael memperlihatkan ponselnya yang berisi chat dari Daniela. Setiap pesannya hanya terdiri dari beberapa huruf yang tidak memiliki arti sama sekali.


"Bagaimana mungkin aku mengirimkan pesan seperti itu. Aku saja tidak mengerti. Itu pasti anakmu yang mengirimkannya, bukan aku!" Daniela kembali melipat kedua tangannya di dada setelah sebelumnya memegang ponsel Mikael.


"Akhirnya kamu mengakui bahwa itu adalah anakku. Sebaiknya kita segera menikah. Aku sudah tidak sabar ....," Daniela melihat ke arah Mikael yang tiba tiba saja memonyongkan bibirnya.


Daniela langsung berdiri dan mendorong Mikael dari hadapannya, namun Mikael justru memegang pergelangan tangan Daniela, membuat Daniela ikut terjatuh bersama Mikael.


"Dapat!" dengan cekatan Mikael memegang Daniela hingga ia terjatuh tidak sampai terkena bagian perut. Mikael menatap Daniela yang kini ikut berbaring di sampingnya di atas rumput.


"Lepas, aku mau berdiri," ucap Daniela.


"Apa kamu akan terus bersikap seperti ini padaku? Aku minta maaf jika pertemuan pertama kita meninggalkan kesan yang buruk padamu. Aku memang tidak suka dijodohkan, karena hal itu akan membuatku terikat."


"Aku melepaskanmu, Mik. Pergilah, aku tidak akan menuntut apapun darimu."


Cuppp ...

__ADS_1


"Kamu bisa melepaskanku, tapi aku yang tidak akan melepaskanmu."


Cuppp ...


"Aku tak ingin kehilanganmu dan anak kita."


Cuppp ...


"Dan kamu harus bertanggung jawab karena telah membuatku mencintaimu."


Daniela langsung menatap ke dalam manik mata Mikael untuk mencari kebohongan di sana, tapi ia tak mendapatkannya. Untuk pertama kalinya ia melihat ketulusan di sana.


"Pulanglah. Aku ingin sendiri," pinta Daniela.


"Apa kamu mengusirku?"


"Tidak. Aku hanya memintamu untuk pulang."


"Ahhh padahal awalnya aku berencana menginap di sini," Mikael berkata manja, dan membuat Daniela terkekeh.


Daniela berada sangat dekat dengan Mikael. Ia bisa mencium harum maskulin milik Mikael. Ia pernah mencium bau yang sama saat mereka melewati malam yang panjang bersama. Tiba tiba saja wajah Daniela memerah. Ia segera menyembunyikan wajahnya di dada Mikael.


Mikael merebahkannya di atas tempat tidur, kemudian mengungkungnya, "Apa aku benar benar tidak boleh menginap di sini? Aku berjanji tak akan melakukan apa apa. Aku hanya ingin menemanimu."


Ntah setan dari mana, Daniela menganggukkan kepalanya tanpa sadar. Hal itu membuat Mikael tersenyum serasa mendapatkan hadiah.


Ia segera keluar dari kamar tidur dan menuju mobilnya. Ia memgambil tas kecil tempat ia meletakkan pakaian tidurnya dan pakaian kerja untuk esok hari.


"Kamu sudah menyiapkannya?"


"Tentu saja," Mikael tersenyum kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Daniela turun ke bawah untuk meminta pelayan menyiapkan makan malam untuknya dan juga untuk Mikael.


Selesai makan malam, mereka masuk bersama ke dalam kamar tidur milik Daniela. Mikael duduk bersandar, kemudian menepuk tempat di sebelahnya, agar Daniela menghampirinya.


"Kemarilah," ucap Mikael.


Daniela duduk di sisi yang satunya, tanpa mendekat ke Mikael. Ia merasa canggung saat ini.

__ADS_1


"Kemarilah," sekali lagi Mikael menepuk tempat kosong yang persis di sebelahnya. Daniela pun akhirnya mendekat. Dengan cepat Mikael meraih tubuh Daniela, sehingga kini mereka dalam posisi berpelukan.


"Mik," ucap Daniela.


"Biarkan seperti ini. Aku ingin mengatasi kecanggungan kita."


Tak berselang lama, keduanya berbaring dengan posisi berhadapan, "Aku benar benar tak percaya kalau saat ini aku akan mencintaimu seperti ini. Aku tak suka melihatmu sedih, aku tak suka kamu bersama pria lain, dan aku tak ingin membiarkanmu sendirian."


Mikael mengecup pucuk kepala Daniela, kemudian mengeratkan pelukannya, "Aku akan memelukmu semalaman. Malam ini, besok, dan seterusnya. Bukalah hatimu dan izinkan aku untuk memberikanmu sebuah keluarga."


Air mata mengalir dari sudut mata Daniela. Ia kembali teringat akan Daddy dan Mommynya. Mulai terdengar suara isak tangis yang pelan, "Jangan menangis, sekarang aku ada di sini. Aku akan menjagamu, menggantikan Daddy dan Mommymu."


Daniela mengeratkan pelukannya, hingga akhirnya ia terlelap bersama dengan Mikael.


*****


"Lakukan lagi!" Axelle meminta seorang pengawal wanita menampar wajah Lydia.


Plakkk ....


Begitu nyaring terdengar tamparan itu di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sebuah lampu. Lydia diikat tangan dan kakinya ke sebuah kursi.


"Lepaskan aku, aku mohon. Ini bukan salahku," elal Lydia.


"Dia masih belum mau mengakuinya juga. Benar benar keras kepala," gumam Axelle, "Lakukan lagi!"


Plakkk ...


Sudut bibir Lydia kini sudah mengeluarkan darah dan pipinya mengalami lebam sehingga berwarna kebiruan. Sakit, itulah yang ia rasakan saat ini. Ia tak menyangka bahwa Amelie adalah putri dari seorang Axelle Williams yang adalah pemimpin Black Alpha. Orang tua Lydia pernah bercerita sedikit mengenai Black Alpha dan menurut mereka sangat menyeramkan. Oleh karena itulah mereka tak pernah mau berurusan dengan keluarga Williams, baik secara pribadi maupun dalam bisnis.


"Sekarang katakan, mengapa kamu melakukan itu kepada putriku?"


"A-aku ....," Lydia ingin berbicara, namun seperti tertahan di tenggorokannya.


"Beri dia air," ucap Axelle. Pengawal wanita itu memberikan segelas air, kemudian menumpahkannya di wajah Lydia.


"Ahhh sialannn kalian semua!!" teriak Lydia, "Aku membencinya! Aku benar benar membenci Amelie sialan itu!"

__ADS_1


__ADS_2