Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
PERNIKAHAN


__ADS_3

Secara diam diam, Mikael akhirnya menikahi Daniela. Daniela tak ingin pernikahan yang mewah. Selain karena keadaan dirinya yang tengah hamil yang mungkin akan mengundang perbincangan hangat tentang dirinya, ia juga merasa ia tak memiliki orang tua lagi untuk berbagi kebahagiaan itu.


Larry dan Miranda pada awalnya menginginkan pernikahan yang mewah untuk mereka, karena Daniela adalah putri dari sahabat mereka.


* Flashback on *


"Dad, Mom, aku sudah sepakat dengan Ela. Kami ingin pernikahan yang sederhana. Cukup dengan pernikahan yang sah secara hukum dan agama, lalu kita adakan makan malam keluarga," ucap Mikael.


"Tapi, Mik. Mommy ingin memberikan yang terbaik untukmu dan juga Daniela," ucap Miranda.


"Aku yang memintanya, Aunty. Aku tidak ingin orang orang membicarakan kehamilanku. Daddy dan Mommy juga pasti tidak akan suka jika itu terjadi padaku," Daniela memegang tangan Miranda.


Miranda mengusap rambut Daniela, "Baiklah, sayang. Aunty akan menurutinya jika itu memang keinginanmu."


* Flashback off *


Kini mereka tinggal menyiapkan kembali pesta pernikahan Leon yang akan diadakan 1 minggu lagi. Meskipun tertunda, tapi mereka bahagia kedua putra mereka kini sudah akan berumah tangga.


"Tanganmu dingin sekali, Mel. Ada apa?" tanya Leon.


"Apa kali ini tidak akan ada hambatan lagi?"


"Tentu saja tidak."


"Aku berpikir sepertinya aku tidak layak untukmu. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku takut acara kali ini akan gagal lagi ... karena sepertinya aku memang hanya seorang penjaga jodoh orang."


"Aku sendiri yang akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kamu hanya perlu menjaga kesehatanmu," Leon menggenggam tangan Amelie. Ia sudah mendengar semua cerita kehidupan Amelie dari Abigail, Handy, dan Mikael. Ia tak akan membiarkan siapapun memanfaatkan rumor seperti itu lagi pada Amelie. Lagipula rumor itu sudah terbukti tidak benar karena bahkan Mikael sudah menikah lebih dulu.


*****


Hari pernikahan tiba. Axelle memberikan pengawalan yang lebih dari biasanya dan Vanessa juga sudah memastikan Amelie memakan makanan yang sehat, minum vitamin yang diberikan oleh Dokter Hendra. Tak pernah sekalipun Vanessa melupakannya.


Ia teringat saat dulu Axelle masih dalam tahap pengobatan dan juga terapi. Ia yang memastikan Axelle meminum semua obat dan vitaminnya.Kini, ia harus melakukannya juga untuk Amelie.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali, sayang," Vanessa mengelus rambut Amelie sambil melihat ke arah cermin. Amelie tersenyum dan itu salah satu kebahagiaan bagi Vanessa.


Sebuah gaun putih dikenakan oleh Amelie, menampilkan tubuhnya yang ramping. Sedangkan Leon pun menggunakan jas berwarna cokelat.



Saling mengucapkan janji pernikahan menjadi momen yang paling ditunggu oleh keduanya. Setelah semuanya selesai, Leon dan Amelie bisa bernafas dengan lega. Mereka kini sudah menjadi suami istri yang sah di mata agama dan hukum.


"Bagaimana gerak gerik wanita itu?" bisik Axelle pada salah satu anak buahnya.


"Setelah kami meninggalkannya, ia tidak terlihat lagi di manapun. Ia pasti sudah mengurungkan semua niatnya karena apa yang telah terjadi dengan dirinya," jawab seorang anak buah Axelle.


"Tuan, wanita itu telah kembali ke keluarganya," seorang anak buah yang lain masuk ke dalam ruangan acara dan membisikkan kepada Axelle.


"Baiklah, kalian bisa menikmati hari ini dengan lebih santai. Tapi tetap lakukan pengawasan," Kedua anak buah Axelle yang merupakan anggota Black Alpha pun mengganggukkan kepalanya, kemudian pergi.


*****


Acara resepsi pernikahan Leon dan Amelie berlangsung dengan lancar. Para tamu undangan memenuhi ruangan. Tak lupa mereka mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan juga keluarga.


"Terima kasih, Kak. Aku juga berharap Kak Bara akan selalu bahagia."


Leon memegang pinggang Amelie dan mengeratkan ke arahnya. Hal itu membuat Amelie melihat ke arah Leon, begitu juga dengan Bara yang amat menyadarinya.


"Aku tidak akan mengambilnya darimu. Tenang saja. Tapi berjanjilah akan menjaga, menyayangi, dan selalu mencintainya," ucap Bara.


"Tentu saja aku akan melakukannya. Aku tidak akan memberi celah pada siapapun," ucap Leon sambil menatap tajam ke arah Bara.


"Sudahlah. Aku sudah menjadi istrimu."


"Justru karena kamu sudah menjadi istriku maka aku harus lebih menjagamu, karena masih banyak mata di luar sana yang akan melihatmu dengan wajah penuh keinginan," Amelie hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Leon yang sepertinya akan bersifat over protektif padanya.Bara akhirnya turun dari panggung dan menikmati acara resepsi itu.


"Mom, di mana Azka?" tanta Amelie yang sedari tadi tidak melihat keberadaan adiknya itu.

__ADS_1


"Mommy juga belum melihatnya lagi. Tadi ia sempat izin keluar. Katanya ada yang harus ia selesaikan. Tapi Mommy tidak tahu mengapa lama sekali."


Amelie menganggukkan kepala, kemudian sedikit meringis, "Kamu kenapa?" tanya Leon khawatir.


"Kakiku sakit, mungkin karena terlalu lama berdiri."


"Kalau begitu duduklah."


"Tidak, tidak enak pada para tamu," ucap Amelie.


"Pikirkanlah dirimu dulu. Atau kamu mau aku membawamu langsung ke kamar untuk beristirahat?" seketika wajah Amelie berubah menjadi merah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm?" bisik Leon, membuat wajah Amelie semakin memerah. Tanpa sadar ia mengipas wajahnya dengan tangannya, membuat Leon tertawa kecil.


Amelie menoleh ke arah Leon yang sedang tertawa, "Kamu mengerjaiku? Apa kamu ingin tidur di luar malam ini?"


"Ehhh ....," Leon langsung menggoyangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, giliran Amelie yang tertawa.


*****


"Mik!" Daniela berteriak ketika Mikael merengkuh pinggangnya dari arah belakang.


"Bolehkah aku menyentuhmu sekarang? aku akan menjadikan ini malam pertama untukku dan untukmu juga. Sejak kita menikah, aku sama sekali belum melakukannya. Masa kakakku menikmati malam pertamanya sementara aku yang menikah lebih dulu belum merasakan."


"T-tapi ....," Mikael memasang wajah memelas.


"Apa kamu akan menolakku lagi?"


"B-bukan maksudku seperti itu. Tapi bukankah dokter meminta kita untuk tidak melakukannya dulu karena ...." ucapan Daniela terputus ketika Mikael menyentuhkan bibirnya dengan bibir Daniela.


Ia memberikan ******* dan menyesap dengan lembut. Memaksa Daniela membuka mulutnya agar Mikael bisa dengan leluasa memainkan lidahnya di sana.


"Aku akan melakukannya dengan lembut. Kamu hanya perlu menerimanya kali ini, karena kali ini adalah giliranku. Kamu sudah pernah mengambil sesuatu yang seharusnya kulakukan," wajah Daniela memerah mengingat malam di mana ia secara panas dan beringas melakukan penyatuan dengan Mikael.

__ADS_1


Ketika ia membayangkannya, tiba tiba saja ia merasakan suatu gelenyar aneh di tubuhnya dan ada sesuatu yang berkedut di inti tubuhnya, hanya karena mengingatnya.


Mikael kembali ******* bibir Daniela dengan lembut. Semakin lama ******* menjadi hasrat yang memanas. Tubuh mereka seakan meminta lebih. Mikael memberikan kecupan kecupan di wajah Daniela, kemudian turun ke leher, membuat Daniela sedikit menggelinjang karena rasa aneh di tubuhnya.


__ADS_2