
Amelie bermonolog sendiri dalam hatinya. Tidak seharusnya ia marah ataupun kesal pada Leon karena menyembunyikan bahwa ia adalah seorang Sebastian dan kakak dari Mikael, mantan kekasihnya ... secara status.
Ia juga tahu bahwa dirinya sendiri juga menyembunyikan identitasnya. Ini memang bukan keinginannya secara pribadi, tapi untuk keselamatannya. Amelie kembali melihat ke arah Mikael, yang matanya saat ini seakan bertanya 'are u okay?'
"Amelie,"
"Iya, Aunty," Amelie dengan ramah dan lembut menjawab sapaan Miranda.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran?"
"5 bulan, Mom," Leon menggantikan Amelie menjawab pertanyaan itu.
"Apa kamu mau menikah dengan Leon?" tanya Miranda tiba tiba, membuat Leon dan Amelie secara bersamaan melihat ke arah Miranda dengan kaget.
"Mom!"
"Apa? Sudah 5 bulan kalian berpacaran, dan Mommy rasa itu sudah cukup lama. Sebaiknya kalian segera menikah dan Mommy akan segera mendapatkan cucu. 1 ... 2 ... 3 ... ya 3 orang cucu. Kalau Mommy punya 2 anak, berarti Mommy akan memiliki 6 orang cucu yang lucu lucu dan menggemaskan."
"Mom!" kembali Leon sedikit berteriak karena ia takut Amelie merasa tidak nyaman.
"Apa sih kamu, Leon! Amelie saja tidak masalah, iya kan sayang," Miranda mencebikkan mulutnya, lalu menoleh dan memegang tangan Amelie.
"Maaf, Aunty. Kurasa itu terlalu cepat. Akan lebih baik jika kami bisa mengenal diri kami masing masing lebih jauh," jawab Amelie.
Dugaan Alvin sepertinya salah. Jika ia memang mengincar harta, maka ia akan langsung menerima permintaan Mommy. Atau ia hanya mencoba tarik ulur supaya terlihat baik? Ada apa denganku, kenapa aku jadi meragukannya? - Leon tiba tiba saja memukul kepalanya pelan.
"Kamu kenapa, Leon?" tanya Miranda.
"Ahhh tidak apa, Mom. Aku hanya merasa kurang enak badan."
"Apa kamu sakit?"
"Ahh tidak, Mom. Aku tidak apa apa. Mommy sudah pesan makanan?" tanya Leon mengalihkan.
__ADS_1
"Belum, Mommy menunggu kalian. Mommy sangat senang sekali melihat kalian berdua," ucap Miranda menoleh ke arah Amelie sambil tersenyum.
Mereka makan bersama sambil berbincang bincang. Miranda menanyakan mengenai keluarga Amelie, dan sebisa mungkin Amelie tidak menyebut nama belakangnya. Bukan apa apa, tapi Daddynya, Axelle sudah berpesan bahwa ia tidak bisa seenaknya menggunakan nama Williams karena saat ini ia berada jauh. Axelle tak ingin Amelie terluka hanya karena menyandang nama Williams.
"Sebaiknya kalian segera menikah. Tak baik berlama lama pacaran seperti ini. Lagipula, Aunty sangat menyukaimu dan Aunty melihat kalian berdua sangat cocok," Miranda tersenyum.
"Leon! Bergeraklah cepat atau pria lain akan mendahuluimu," lanjut Miranda.
"Mom!" ntah sudah berapa kali Leon memanggil Mommynya itu agar tidak terlalu memaksa. Ia tak ingin Amelie merasa tak nyaman.
Mereka pun berpisah, Miranda kembali menuju apartemen milik Leon. Sementara ia mengantarkan Amelie pulang. Di perjalanan, Amelie hanya diam dan memandang ke luar jendela. Seharusnya ia sadar bahwa ada yang berbeda hari ini. Leon menjemputnya dengan menggunakan mobil yang bisa dikatakan mewah.
"Mel ...," panggil Leon.
"Hmm."
"Apa kamu marah?"
"Karena aku telah membohongimu. Aku tidak mengatakan siapa aku," ucap Leon.
"Itu adalah hakmu. Kamu pasti memiliki alasan untuk menutupinya dan kurasa aku tak perlu marah akan hal itu."
"Benar kamu tidak marah?"
"Ya," seketika perasaan Leon menjadi lega.
"Maafkan Mommy yang sudah berbicara seperti tadi. Tenang saja, aku tidak akan membicarakan mengenai pernikahan saat ini denganmu. Kita akan saling mengenal lebih dulu."
"Terima kasih," Setelah mereka sampai, Amelie langsung turun dari mobil milik Leon. Ia pamit dan langsung masuk ke dalan gedung apartemen.
*****
Mata Amelie membulat saat melihat kondisi apartemennya. Barang barang berantakan dan berserakan. Sofa juga dalam kondisi terbalik. Ia berlari ke arah kamar tidurnya, kondisi yang sama dengan ruangan depan terlihat. Padahal, pintu depan sama sekali tak rusak, ada apa ini?
__ADS_1
Sprei tempat tidurnya berantakan dan ada coretan besar berbentuk huruf 'X' yang ditulis dengan noda darah. Ia bergerak menuju lemari pakaiannya, semua baju sudah berantakan dan dalam kondisi rusak dan sobek. Ia berjalan mendekati nakas di samping tempat tidurnya, lemari kecilnya terbuka dan ia mendapatkan uangnya hilang. Tak masalah dengan uangnya, tapi surat surat dan paspor miliknya juga dirusak.
"Ini gila, benar benar gila! Siapa yang melakukan ini?" gumam Amelie.
Ia terduduk di samping tempat tidurnya, masih memegang kotak tempat di mana ia menyimpan surat suratnya. Ia berusaha berpikir untuk mencari tahu siapa yang mungkin melakukannya, tapi sama sekalu tak ia dapatkan.
"Aku tak merasa melakukan hal buruk dan rasanya aku tidak memiliki musuh. Tapi ..., tidak! tidak! tidak mungkin! Ia sama sekali tidak mengetahui di mana tempat tinggalku. Lagipula, untuk apa dia melakukan ini?" ucap Amelie bermonolog sendiri.
Amelie tak ingin terus diam. Ia segera bangkit, kemudian membereskan semua kekacauan yang terjadi. Ia mengangkat barang barang yang pecah dan juga pakaian pakaian yang rusak, memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam besar.
Hari sudah beranjak sore dan ia belum selesai membereskan. Ia mengganti sprei tempat tidurnya, menyapu dan mengepel lantai. Ia juga membersihkan dapur dan kamar mandi yang benar benar kotor dan berantakan. Tumpahan minyak dan telor telor yang sengaja dipecahkan.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, ia duduk di atas sofa yang rusak karena bagian atasnya sudah disayat dengan pisau hingga beberapa busanya muncul keluar. Peluh membasahi keningnya, ia benar benar lelah, sampai akhirnya ia terlelap di atas sofa.
Keesokan paginya, matahari bersinar. Matanya mengerjap karena sinar matahari dengan mudahnya masuk karena tirai pintu dan jendela yang menghadap balkon sama sekali tidak ia tutup semalam. Namun, Amelie merasa sangat malas untuk membuka matanya. Ia kembali menutup mata dan meringkuk di atas sofa.
Ponselnya berbunyi terus, bahkan sejak kemarin. Amelie akhirnya terbangun karena bunyi ponsel sudah seperti alarm yang mengingatkannya bahwa ada aktivitas yang harus ia kerjakan. Berjalan mendekati ponsel, ia melihat ada 20 panggilan dan beberapa pesan dari Leon, Abigail, dan dari orang tuanya.
Ia meletakkan kembali ponselnya tanpa sedikitpun membuka pesan. Ia membersihkan diri, kemudian mengenakan pakaian yang masih layak pakai. Ia membuka ponselnya dan memesan beberapa pakaian untuk ia kenakan besok saat bekerja.
Sambil menunggu delivery makanan, ia menelepon Mommynya. Amelie akan kembali ceria saat berbicara dengan Vanessa. Ia tidak hanya menganggap Vanessa sebagai Mommynya, tapi juga sahabatnya.
"Amel merindukan Mommy," ucapnya.
"Kembalilah, sayang. Mommy juga merindukanmu. Mommy ingin ke sana, tapi Daddy menghalangi Mommy."
"Sebaiknya Mommy menemani Daddy saja, Amel tidak apa apa. Amel memiliki banyak teman, Mom. Apalagi anak murid Amel, mereka sangat lucu dan menggemaskan!" ucap Amelie ceria.
"Kamu juga sangat menggemaskan, sayang. Kalau begitu nanti Mommy akan meminta Azka saja yang ke sana ya, untuk melihat keadaanmu."
"Okay, Mom. I Love you ... muah," kecup Amelie dari jauh.
Amelie kembali meletakkan ponselnya karena suara bel di pintu apartemennya, makanannya sudah datang.
__ADS_1