
"Ia bersama keluarganya telah pergi dari negara ini. Setelah kami menyelidiki lebih jaug, ternyata perusahaan keluarganya sedang bermasalah, sehingga ia berusaha untuk menikah dengan keluarga Sebastian untuk mendapatkan suntikan dana."
"Wanita itu benar benar ular," geram Axelle.
"Bukan Tuan, keluarganya ... tidak, tepatnya ayahnya lah yang mengatur semua itu dan berada di belakangnya."
"Apa mereka juga yang merencanakan semua hal yang terjadi pada putriku?" salah seorang pengawal Axelle mengangguk.
"Sialannn!!! berani sekali ia mengganggu putriku. Sekarang biarkan mereka pergi, tapi jangan lepaskan pengawasan kalian dari gerak gerik mereka. Laporkan padaku jika ada sesuatu yang mencurigakan," perintah Axelle.
"Baik, Tuan," pengawal itu sedikit membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan.
*****
Leon dan Amelie turun ke restoran yang terletak di lantai 2 hotel. Mereka melewatkan sarapan mereka pagi ini karena hal mendesak yang perlu dipertanggungjawabkan. Restoran ini langsung menghadap ke sebuah taman besar yang ada di sekeliling hotel. Dengan bagian atap yang terbuka, membuat suasana restoran serasa berada di area yang jauh dari perkotaan.
"Aku baru tahu kalau ada restoran seperti ini di hotel Williams," ucap Leon.
Amelie tersenyum, "Ini adalah ide Azka. Ia sangat suka berada di tempat terbuka. Mungkin saat ini ia sedang berada di balkon kamarnya yang sengaja di desain luas dan terbuka."
"Tapi sungguh, idenya hebat. Apa dia akan kembali ke Inggris?"
__ADS_1
"Hmm," Amelie mengangguk, "Aku tidak tahu apa yang membuatnya ingin kuliah di luar. Padahal dulu ia sangat menginginkan selalu berada di samping Mommy dan Daddy."
"Apa kamu tidak bertanya padanya?" Amelie menggeleng, kemudian menarik nafasnya pelan.
"Awalnya aku ingin bertanya, tapi kuurungkan karena kulihat ia sudah dewasa. Ia tahu apa yang ia mau dan menjadi pilihannya. Jadi akan lebih baik jika kita justru memberikan support padanya. Bukan begitu?" ucap Amelie.
Leon memeluk Amelie dari samping, "Aku kagum pada keluargamu. Kalian saling support satu sama lain dan selalu ada untuk satu sama lain. Aku juga ingin membuat keluarga seperti itu denganmu," Leon mengecup kening Amelie, membuat Amelie kembali tersenyum.
"Tapi kamu juga memiliki keluarga yang luar biasa, sayang," Mata Leon bersinar saat mendengar kata sayang dari bibir Amelie.
"Kamu memanggilku apa barusan?"
"Apa kamu tidak akan bosan denganku?"
"Tentu saja tidak. Aku malah lebih takut kamu yang akan bosan denganku," ungkap Leon.
"Aku pernah merasakan cinta seorang pria, tapi baru sebentar ia sudah menyakitiku. Sejak itu aku benar benar menutup hatiku. Aku memang memiliki banyak kekasih, tapi itu semua hanya semata mata karena rumor yang dibuat oleh temanku. Aku tahu ia ingin aku membuka hatiku, karena itulah ia berbuat semua itu."
"Amelie sang Penjaga Jodoh. Ia berharap dari semua pria yang menjadi kekasihku, maka aku akan membuka hatiku untuk salah satu dari mereka," lanjut Amelie.
"Lupakanlah. Aku tak akan mengungkit masa lalumu, karena sekarang yang ada hanya masa kini dan masa depan. Kamu adalah pasanganku, teman hidupku. Tak akan kubiarkan siapapun mengganggunya. Aku adalah jodohnya, akulah penjaganya," Leon mencium bibir Amelie dengan latar belakang hamparan taman yang begitu luas.
__ADS_1
Aktivitas Leon berhenti karena bunyi ponsel yang berada di dalam sakunya.
"Iya, Vin. Ada apa?"
"Coffee shop mu terbakar Len semalam. Untung saja tak ada korban jiwa. Namun, kerusakannya sangat parah dan kerugian kita sangat besar," terang Alvin. Alvin memang tidak jadi kembali ke Indonesia. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan merebut kembali hati Diva, meskipun harus berhadapan dengan sahabatnya, David.
"Apa pihak kepolisian sudah menyelidikinya, Vin?" wajah Leon terlihat gusar dan suaranya sedikit bergetar.
"Mereka sedang melakukannya. Aku akan menghubungimu lagi .... dan maafkan aku karena tidak hadir di pernikahanmu. Sampaikan salamku pada Amelie dan aku minta maaf atas semua prasangka burukku padanya," ucap Alvin.
"Aku mengerti. Aku akan menyampaikan padanya. Aku akan segera kembali ke sana untuk melihat kondisi di sana," ucap Leon. Mereka akhirnya memutuskan sambungan ponselnya.
"Ada masalah apa?" tanya Amelie.
"Coffee shop ku terbakar. Aku harus berangkat ke Italy segera. Apa kamu mau ikut denganku?"
"Tentu saja. Aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi. Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?"
"Mikael pasti bisa mengatasinya. Ia harus belajar lebih bertanggung jawab, karena ia sudah berkeluarga," Mereka segera kembali ke kamar dan merapikan barang barang karena mereka akan berangkat ke Italy dalam waktu dekat.
*****
__ADS_1