
"Ahhh ....," sebuah des ahan lolos begitu saja dari bibir Daniela ketika Mikael mulai menyesap dan menciumi leher jenjangnya.
Mikael yang mendengarnya tersenyum. Ia pun kembali melakukannya hampir ke seluruh tubuh Daniela setelah melucutinya satu persatu. Kemudian ia membuka sendiri pakaiannya hingga keduanya kini menjadi polos, tanpa sehelai benang pun.
Daniela menutup wajahnya, ia malu. Wajahnya dipastikan memerah karena keadaannya saat ini dan bagaimana dia menikmati permainan Mikael. Saat pertama kali melakukannya, ia dalam keadaan setengah sadar.
Setelah melakukan pemanasan, Mikael akhirnya melakukan penyatuan, dan kali ini dia lah yang memimpin permainan, bukan Daniela. Suara er angan dan des ahan terdengar memenuhi ruangan, membuat hasrat dan gairah mereka semakin meningkat. Hingga akhirnya Mikael kembali menumpahkan cairan miliknya ke dalam rahim Daniela.
"I love you," ucap Mikael sambil mengecup kening Daniela.
Sementara itu di sebuah kamar VVIP di hotel terbesar milik keluarga Williams. Amelie dan Leon sedang berpelukan di atas tempat tidur king size. Amelie menggunakan lengan Leon sebagai bantalan.
"Kamu tahu, sayang. Aku bahagia sekali karena sekarang dirimu adalah milikku, hanya milikku. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa dirimu lah yang akan menjadi pasangan hidupku, teman hidup yang akan menua bersamaku."
"Memang kapan pertama kali kamu melihatku," Amelie mendongakkan kepala melihat ke wajah Leon.
"Sejak di toko buku," Amelie menautkan alisnya, "Hmm, mungkin kamu tidak ingat, tapi di sanalah aku pertama kali melihatmu. Mungkin kamu akan ingat ketika dirimu bertemu dengan Handy di sebuah cafe."
"Handy? cafe? Bukankah itu sudah lama sekali," tanya Amelie.
__ADS_1
"Ketika saat ini kamu sudah ada di pelukanku, waktu seperti itu tidak akan terasa lama lagi," Leon mengecup kening Amelie, kemudian turun ke kedua mata, hidung, dan mulai mencium bibir Amelie dengan lembut.
Leon mulai mencium leher Amelie dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan di sana. Suara des ahan lolos dari bibir pink Amelie, membuat Leon tersenyum dan memberikan lebih banyak lagi ciuman di tubuh Amelie.
Turun ke bawah, Leon perlahan menurunkan tali baju tidur Amelie. Ia melihat dua aset kembar yang membuat sesuatu di bawah menegang, membesar dan memanjang. Ciuman diberikan di sana, serta tanda tanda kepemilikan. Tubuh Amelie menggelinjang dan melenting seakan menginginkan lebih dari ini.
Leon menarik penutup terakhir dari tubuh Amelie, begitu juga dengan dirinya. Amelie sempat membuka matanya dan melihat sesuatu telah menantang di hadapannya, membuat ia kembali memejamkan mata karena kini kepalanya mulai berpikir.
"Leon, sepertinya itu tak akan muat di tempatku," ucap Amelie penuh keraguan.
"Bagaimana kamu tahu tak akan muat? Aku bahkan belum mencobanya," Leon tersenyum melihat kepolosan Amelie.
Leon kembali memberikan rang sangan di tubuh Amelie berupa sentuhan sentuhan, yang membuat Amelie akhirnya, "Lakukan sekarang."
"Sa-sakit ... sudah kukatakan tak akan mu-muat," Amelie menahan kedua tangannya di atas sprei dengan mencengkeramnya sambil meneteskan air mata.
"Kamu harus rileks, sayang. Awalnya memang akan terasa sakit, tapi setelahnya tidak. Aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak menginginkannya," Leon kembali ******* bibir Amelie agar Amelie merasa lebih rileks. Perlahan Leon kembali mencoba. Memang agak sulit karena ini yang pertama untuk Amelie. Setelah berjuang, akhirnya Leon berhasil menembus pertahanan lawan. Rudal berhasil masuk ke dalam benteng.
"Ahhhh ....," teriak Amelie. Leon mendiamkan miliknya di dalam sana untuk sementara waktu hingga tubuh Amelie bisa menerima dengan baik. Setelahnya ia mulai menggoyangkan pinggulnya dan memberikan hentakan hentakan lembut.
__ADS_1
Keduanya larut dalam pertarungan hingga bermandikan peluh, meskipun arena pertarungan telah diberi pendingin hingga suhu rendah. Hal itu masih belum bisa menetralkan panasnya suasana di dalam arena.
Mereka berteriak bersama saat terakhir Leon mulai menembakkan rudal rudal kecil miliknya ke dalam rahim Amelie.
"I love you, Amelie Kirania Williams."
"I love you too," Leon pun membaringkan tubuhnya di samping Amelie, kemudian menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut. Ia memeluk Amelie dari belakang.
"Tidurlah," sebuah kecupan di pucuk kepala Amelie akhirnya mengantarkan mereka ke alam mimpi.
*****
Matahari mengerjap menembus kaca besar yang menjadu latar belakang tempat tidur yang mereka tempati saat ini. Keduanya masih berada di dalam selimut, seperti enggan untuk membuka mata.
Amelie menggeliat, hawa dingin terasa menyentuh tubuhnya. Ia perlahan membuka mata, melihat di sampingnya tidur seorang pria yang sejak kemarin sudah menjadi suaminya. Amelie tersenyum, perlahan ia menyentuh dada bidang suaminya yang masih polos.
Leon yang sejak tadi sudah terbangun akhirnya menangkap pergelangan tangan Amelie, "Apa kamu tahu kalau kamu sudah membangunkan sesuatu di bawah sana?"
Amelie tanpa sadar merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya dan ia tahu apa itu, membuat wajahnya memerah.
__ADS_1
"Kamu harus bertanggung jawab, sayang," ujar Leon sambil kembali memberikan ciuman di wajah Amelie. Leon menahan tengkuk Amelie agar ia bisa memperdalam ciuman mereka, hingga akhirnya kejadian semalam kembali terulang di pagi ini.
*****