
Setelah menemani Daniela, Amelie pun kembali ke rumahnya. Ia langsung membersihkan diri, kemudian menemui Mommynya di dapur.
"Mom," sapa Amelie.
"Kamu sudah pulang, sayang? Mommy tidak mendengar langkah kakimu," Amelie tersenyum sambil menyandarkan dagunya di atas bahu Vanessa.
"Ada apa, sayang?" tanya Vanessa.
"Tidak ada apa apa, Mom. Aku hanya ingin memelukmu," Vanessa memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Amelie, kemudian ia memeluk tubuh putrinya dengan lembut dan sayang.
"Ahh, aku suka harum Mommy," Amelie semakin mendekapkan dirinya ke tubuh Vanessa, seperti mencari cari kenyamanan.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan Mommy, sayang?"
*****
Leon duduk di sofa di dalam apartemennya. Setelah ia melihat Amelie di pemakaman, ia mengantarkan Mommynya dan Mikael pulang. Ia sendiri kembali ke apartemen.
Pikirannya masih terbayang bayang wajah Amelie, bahkan ia sama sekali tak bisa melupakan atau menghentikan pikirannya yang telah dipenuhi oleh wanita itu.
'Apa kamu sedang ada masalah dengan Amelie, Leon?'
Pertanyaan yang diberikan Mommynya di dalam mobil, kembali terngiang. Mikael pun bingung dan menjadi penasaran karena pertanyaan tersebut. Namun, ia sama sekali tak bertanya, hanya wajahnya yang menampakkan rasa curiga pada Leon.
Miranda tidak pergi bersama dengan Larry, karena kebetulan Larry sedang berada di luar negeri karena ada pertemuan dengan klien nya yang akan bekerja sama dengan proyek terbaru dan tak mungkin ia membatalkan.
Ponsel Leon berbunyi, tertera nama Daddynya di sana.
"Iya, Dad," jawab Leon.
'Cepatlah kembali ke perusahaan. Daddy lelah! Daddy tidak akan memcampuri urusanmu lagi. Besok datanglah ke kantor, karena akan diadakan tender besar oleh Williams Group.'
"Baiklah, Dad," Leon tak banyak berbicara. Mendengar kalau Williams Group akan mengadakan tender, membuat hati Leon memanas. Ia ingat betul bagaimana Amelie menggandeng putra dari keluarga Williams, dari foto yang diambil oleh Mikael.
*****
Mikael berada dalam ruangannya. Kepalanya saat ini sudah mau pecah dengan banyaknya tumpukan berkas berkas. Ia masih tahap belajar, tapi pekerjaannya sepertinya bukan untuk orang yang tengah belajar.
Pintu ruangan terbuka, "Kak!" senyum sumringah langsung muncul di wajah Mikael melihat kedatangan kakaknya.
"Apa kakak ke sini untuk membebaskanku dari penjara berkas ini?" tanya Mikael penuh harap.
"Tidak. Daddy hanya memintaku kembali untuk membantu, bukan mengambil alih yang seharusnya pekerjaanmu," ucap Leon sedikit terkekeh karena melihat wajah Mikael yang benar benar tersiksa.
__ADS_1
"Kak!! tolong aku. Katakan pada Mommy dan Daddy untuk tidak menyiksaku lagi. Aku benar benar tidak bisa dikurung seperti ini."
"Aku akan membantumu belajar dan aku yakin kamu akan cepat belajar, Mik," ucap Leon.
Mikael menggelengkan kepalanya. Namun, kemudian ia teringat sesuatu.
"Kak."
"Hmm ..."
"Apa sebenarnya hubungan kakak dengan Amelie. Kenapa Mommy bisa mengenalinya?"
Leon mulai duduk di sofa sambil membuka beberapa berkas. Ia tak duduk di meja kerja karena saat ini itu adalah milik Mikael.
Tanpa mengangkat wajahnya, "Amelie adalah kekasihku."
Mikael membulatkan matanya dan mulutnya sedikit terbuka, "Apa Kak? Coba katakan sekali lagi."
"Amelie adalah kekasihku," Leon meletakkan berkasnya di atas meja dan menatap tajam ke mata Mikael.
"Sejak kapan? Kenapa kakak tidak pernah mengatakannya padaku?"
Leon hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Mikael. Saat ini ia harus fokus dengan pekerjaan yang diberikan oleh Daddynya, sambil perlahan ia merebut kembali hati Amelie.
"Oya Mik, apa kamu tidak berniat mencari asisten pribadi atau sekretaris lagi?" tanya Leon.
"Itu terserap padanya, Mik. Aku tak pernah memaksa Alvin. Ia adalah sahabatku. Lalu, bagaimana dengan Daniela."
"Aku akan menemuinya nanti untuk membicarakan semuanya, tentang pekerjaan dan juga perjodohan kami. Aku tak ingin mengganggunya dulu saat ini. Ia masih berada dalam suasana duka," ucap Mikael.
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya sekarang kita selesaikan semua ini. Kita akan menangani proyek besar dari Williams Group. Mereka akan mengadakan tender dan kita harus memenangkannya. Kamu mengerti, Mik?"
"Hmmm ...," jawab Mikael ogah ogahan.
*****
Leon dan Mikael begitu sibuk mempersiapkan proposal untuk tender bersama Williams Group. Mereka kini sudah berada di dalam sebuah ruang meeting di perusahaan Williams.
Tampak berdiri di depan, CEO Williams Group yakni Axelle Williams bersama putranya Azka Abraham Williams.
Setiap kali melihat Azka, bayangan Leon kembali ke dalam foto Mikael. Ia ingin secepatnya menyelesaikan tender ini agar ia bisa kembali mengejar Amelie. Ia tak mau Amelie dimiliki oleh pria lain.
Proyek pembangunan Fasilitas Sekolah yang terdiri dari 2 gedung besar dan juga sebuah rumah kaca yang akan menjadi tempat berkebun, menjadi proyek besar bagi para perusahaan kontraktor. Hal itu dikarenakan mereka akan langsung bekerja sama dengan Williams Group.
__ADS_1
Wajah Sumringah tercetak di wajah Mikael dan Leon saat Sebastian Group berhasil memenangkan tender tersebut. Mereka memang tidak mematok harga tinggi karena kesempatan untuk bekerja sama dengan Williams Group merupakan hal yang mereka inginkan sejak lama.
"Selamat atas dimulainya kerjasama kita," ucap Axelle saat menyalami Leon dan Mikael. Mereka juga bersalaman dengan Azka. Jabatan tangan cukup kencang diberikan oleh Leon pada Azka, seakan meluapkan kekesalannya karena berani berada dekat dengan Amelie.
"Kita akan langsung bertemu di lokasi sekitar 2 hari lagi. Nanti asisten kami akan segera menghubungi anda," ucap Azka saat merasakan genggaman tangan Leon yang begitu erat.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar," Mikael dan Leon pun meninggalkan Williams Group untuk menemui Larry sebastian.
*****
Dung ... dung ... dung ...
Suara dentuman musik begitu memekakkan telinga, tapi seakan tidak terdengar oleh telinga seorang wanita. Ia terus berada di meja depan bartender dan memesan minuman berkali kali hingga wajahnya kini sudah berada di atas meja dengan tangan kiri sebagai bantalannya.
"Berikan aku 1 gelas lagi," pinta wanita itu sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong.
"Anda sudah mabuk, Nona," ucap sang bartender.
"Kata siapa aku mabuk, hah? Cepat berikan aku 1 gelas lagi."
Seorang pria mendekati dan mulai merayu wanita itu.
"Siapa namamu, cantik?"
"Aku? Aku Daniela," jawabnya sambil tertawa.
"Apa kamu mau pulang bersamaku?" tanya pria itu.
"Kenapa bukan kamu yang pulang bersamaku saja?" pria itu seakan mendapatkan angin segar karena ajakan Daniela.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Mari kubantu," pria itu memapah Daniela yang sudah mabuk dan mengambil kunci di dalam tas Daniela sesuai perkataan Daniela. Mereka pergi ke kediaman Mahaprana setelah Daniela yang mabuk menyebutkan alamatnya.
Saat mereka sampai, seorang security membukakan pintu. Pria itu membukakan pintu bagi Daniela dan membantunya masuk ke dalam rumah. Melihat rumah Daniela yang begitu besar, membuat pria itu membulatkan matanya seakan mendapatkan jackpot.
"Di mana kamarmu?" Daniela menunjuk ke lantai atas.
Saat mereka sampai di kamar, ia merebahkan Daniela di atas tempat tidur, kemudian mengambil gelas yang berada di atas meja dan mengisinya dengan air minum.
"Minumlah dulu, setelah itu kita akan memulai semuanya," ucap sang pria.
Tak berselang lama, rasa panas mulai menjalar di tubuh Daniela.
"Panas, ahhh ... panas sekali," racauan Daniela membuat pria itu mulai tersenyum. Daniela mulai membuka satu persatu pakaiannya, hingga menyisakan bagian dalam. Pria itu terus memperhatikan Daniela yang terus bergoyang erotis di atas tempat tidur.
__ADS_1
Brakkk!!!
Bughh ... bughh ... bughh ...