Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
PEMAKAMAN


__ADS_3

"Aku tidak mau, Mik," ucap Amelie.


"Apa kamu tidak mau menolong kakakku?" Amelie menghela nafasnya. Bukan ia tidak mau menolong, tapi ia tahu betul siapa kakak dari Mikael. Ia tak ingin berhubungan lagi dengan Leon. Ia tak ingin memberikan harapan kosong pada pria itu.


Mikael tak ingin berbohong pada Amelie tentang siapa yang ingin bertemu dengannya, lagipula ini hanya kakaknya, bukan orang lain yang tidak ia kenal betul.


Amelie diam, duduk berhadapan dengan Mikael, "Aku pulang dulu, Mik. Sekeras apapun kamu memaksaku, tak akan merubah keputusanku."


"Tapi bukankah kamu selalu menolong, Mel?"


"Itu dulu, Mik. Aku tidak akan melakukannya lagi. Maaf, aku harus pergi," Amelie langsung meraih tas nya dan keluar. Ia menghela nafasnya karena sudah membuang waktu istirahatnya hanya untuk hal tak berguna seperti ini lagi.


Mikael hanya duduk diam sambil menyeruput kopi miliknya. Ia mengambil ponsel, "Kak, ia tidak mau." Mikael pun memasukkan ponsel itu kembali ke dalam sakunya.


*****


"Mom," panggil Daniela.


"Iya, sayang," jawab Emily sambil membereskan pakaiannya ke dalam koper.


"Mom mau kemana?" tanya Daniela.


"Mommy dan Daddy akan berjalan jalan, liburan," jawabnya.


"Mom tidak mengajakku?" gerutu Daniela kesal.


"Ihhh, Mommy kan mau berduaan dengan Daddy, second honeymoon gitu," canda Emily.


"Mom!! Aku mau bicara."


"Bicara saja, Mommy mendengarkan," Emily terus merapikan isi kopernya.


"Aku mau membatalkan perjodohanku dengan keluarga Sebastian," Emily langsung melayangkan pandangannya ke arah Daniela.


"Apa maksudmu, Ela?"


"Aku tidak mau dijodohkan dengan pria itu, Mom. Aku tidak mencintainya dan aku sama sekali tidak cocok dengannya."


"Tidak, Ela! Sekembalinya Mommy dari liburan, acara pertunanganmu akan segera diselenggarakan. Keluarga Sebastian sudah menyiapkan semuanya, dan tidak mungkin dibatalkan."


"Mom! Aku tidak mau! Kalau Mommy dan Daddy terus memaksaku, lebih baik aku pergi saja dari sini," ancam Daniela.


"Terserah padamu. Kamu mau pergi kemanapun tak akan berpengaruh, karena pada hari pertunanganmu nanti, kamu akan tetap berada di sana karena kami pasti akan menemukanmu," ucap Emily.

__ADS_1


"Mom! Kenapa Mommy tidak mengerti aku?"


"Mommy juga tidak pernah meminta apapun darimu, Ela. Mommy dan Daddy hanya menginginkan kebahagiaanmu. Mommy yakin keluarga Sebastian adalah keluarga yang baik dan Mikael cocok denganmu. Atau kamu mau dengan kakaknya, Leon? yang pasti kamu akan menikah dengan salah satu dari keluarga Sebastian. Mereka adalah teman Mommy, sahabat Mommy."


"Lalu kalau sahabat kenapa? Apa harus aku mengorbankan diriku dalam pernikahan yang tidak kuinginkan hanya demi Mommy dan Daddy?" Daniela mulai menitikkan air mata, kemudian keluar dari kamar tidur orang tuanya.


Ia melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman keluarga Mahaprana dengan perasaan yang kacau.


*****


"Sayang, ini proposal yang kamu mau. Daddy sudah menandatanganinya. Proyek itu akan segera kita laksanakan, tinggal melakukan tender untuk mencari kontraktor yang cocok," ucap Axelle sambil menyerahkan sebuah map pada Amelie.


"Setelah tender selesai, pembangunan akan dimulai. Kamu hanya perlu menunggu saja," lanjut Axelle.


"Hmm, tapi apa bisa kalau pekerjaan baru dilakukan kalau anak anak sudah selesai belajar, Dad? Aku takut kalau proyek itu akan menimbulkan suara bising saat jam pelajaran."


"Daddy akan membicarakannya nanti dengan pihak kontraktor terpilih. Oya, kamu mau kan membantu Daddy untuk mengawasi proyek pembangunan tersebut nantinya?" tanya Axelle.


"Tentu saja, Dad. Aku sudah sangat berterima kasih daddy mau mengabulkan permintaanku. Aku akan membantu Daddy mengawasi pekerjaan itu, sehingga Daddy tidak perlu terlalu sibuk," jawab Amelie.


"Terima kasih, sayang," Axelle mengusap kepala Amelie.


*****


"Bi, Bi Lala," panggil Daniela.


"Iya, Non. Ada apa?"


"Rumah sepi sekali. Mana Mommy dan Daddy?"


"Tuan dan Nyonya sedang pergi berlibur, Non," jawab Bi Lala.


"Baiklah, Bi. Terima kasih," ucap Daniela. Daniela benar benar lupa kalau Mommy dan Daddynya akan pergi berlibur. Akhirnya ia naik ke lantai atas, tempat kamar tidurnya berada.


Setelah membersihkan diri, ia turun ke pantry, membuka kulkas untuk mencari minuman dingin. Ia menuangkan segelas lemon tea, kemudian membawanya ke arah ruang duduk.


Ia menyalakan televisi dan mencari cari acara yang menarik, namun tak ia temukan. Ia pun mematikannya dan lanjut memainkan ponselnya.


tring ning ning ... tring ning ning (anggap aja suara ponsel)


"Halo."


'Apa ini dengan Miss Daniela Mahaprana?'

__ADS_1


"Ya benar, saya sendiri," Daniela mengambil lemon tea miliknya yang ia letakkan di atas meja, kemudian meminumnya perlahan.


'Kami dari kedutaan Indonesia yang berada di Paris, Perancis, ingin mengabarkan bahwa kedua orang tua anda, Danu dan Emily Mahaprana mengalami kecelakaan dan telah meninggal dunia. Kami akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk segera menyelesaikan prosedur dan mengirimkan jenazahnya kembali ke Indonesia.'


Pranggg!!!


Daniela seperti ditusuk ribuan jarum, mendengar kabar tersebut. Bi Lala yang mendengar suara benda pecah, langsung mendekati Daniela.


"Non ...," panggil Bi Lala.


Daniela hanya diam mematung, dengan ponsel masih berada tak jauh dari telinganya.


"Non ...," panggil Bi Lala sekali lagi.


Daniela tanpa menghiraukan Bi Lala, beranjak pergi menuju kamar tidurnya. Ia menutup dan menguncinya. Sementara itu Bi Lala langsung membersihkan bekas pecahan gelas yang berserakan di lantai.


*****


Suasana pemakaman begitu sendu, hanya terlihat orang orang berpakaian hitam. Daniela berdiri di depan makam kedua orang tuanya. Ia mengenakan dress berwarna hitam dengan tali lebar di pinggangnya.


Daniela juga mengenakan sebuah kacamata hitam. Ia menggunakannya untuk menutupi matanya yang sembab. Sejak berita itu ia dapatkan, rasanya ia belum berhenti menangis.


Yang paling ia rasakan saat ini adalah penyesalan. Pertemuan terakhirnya dengan Mommynya diisi dengan perdebatan, bahkan ia tidak mengantarkan keberangkatan mereka. Daniela terus terdiam, sesekali ia menyeka air matanya.


Amelie menenangkan Daniela. Ia terua berada di sampingnya. Sementara dari kejauhan, Mikael dan Leon memperhatikan mereka berdua. Saat ini perasaan Mikael berkecamuk. Ia tahu Daniela sudah mengatakan pada orang tuanya untuk membatalkan pertunangan itu, karena Daniela mengabarinya. Namun, ia juga berpikir bagaimana keadaan Daniela saat ini yang sendirian.


Dengan kacamata hitamnya, Leon terus memperhatikan Amelie dari kejauhan. Ia terus memandangi tanpa menoleh ke arah lain.


"Amelie."


"Aunty," Amelie tidak mengira bahwa ia akan bertemu dengan Mommy Leon di pemakaman. Sejak kemarin ia menemani Daniela dan tidak terlalu memperhatikan sekeliling.


"Kamu mengenal Keluarga Mahaprana?" tanya Miranda.


"Hmm, Daniela adalah sahabat saya Aunty," jawab Amelie.


Miranda memeluk Daniela, mengungkapkan ucapan duka cita, sekaligus berpamitan, "Sayang, Aunty akan selalu ada untukmu, hmm ... Kamu harus tetap kuat dan sabar ya, sayang."


Setelah memeluk dan berpamitan dengan Daniela, Miranda juga memeluk Amelie, "Leon ada di sana. Sedaru tadi Aunty lihat ia terus memperhatikanmu. Apa kalian sedang ada masalah?"


Amelie langsung menengadahkan kepalanya, mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Miranda.


*Leon?

__ADS_1


Ya, aku di sini, sayang. Menunggumu*. - Leon membuka kacamata hitamnya dan melihat tajam ke arah Amelie.


__ADS_2