
Pagi ini, Amelie terbangun dengan rasa mual yang hebat. Ia beberapa kali bolak balik ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan isi perutnya.
hoekkk .... hoekkk ....
Tubuhnya benar benar terasa lemas, kepalanya juga terasa sakit.
"Ada apa denganku? Sepertinya semalam aku tidak terlambat makan," gumam Amelie.
Ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia melihat apakah sudah ada pesan singkat dari dokternya di Italy. Ia harus segera ke dokter, tapi ia juga tak ingin sembarangan.
Ponselnya tiba tiba berbunyi,
"Halo," jawabnya dengan suara pelan.
'Ada apa, sayang?' suara Leon terdengar begitu khawatir.
"Tidak ada apa apa. Ada apa pagi pagi meneleponku?"
'Aku merindukanmu.'
Amelie tersenyum meskipun Leon tak bisa melihatnya, "Semalam kita baru saja bertemu."
'Apa hari ini mau makan siang denganku?'
Amelie merasa lemas sekali, sepertinya ia tak akan sanggup keluar rumah saat ini, "Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Aku ingin istirahat."
'Apa kamu sakit?'
"Ahh tidak tidak ... aku hanya kelelahan karena kemarin acara memakan waktu seharian. Jadi aku ingin istirahat saja hari ini," Amelie berusaha mengelak.
'Baiklah kalau begitu, aku tak akan mengganggumu. Istirahatlah. I love you.'
Leon memutus sambungan ponselnya, membiarkan Amelie beristirahat. Sementara Amelie terus melihat ke arah ponselnya, berharap pesan singkat dari dokternya di Italy segera masuk.
*****
"Mengapa kamu membawaku kemari?" tanya Daniela. Saat ini mereka berada di depan kediaman keluarga Sebastian.
"Tentu saja untuk membawamu tinggal di sini," ucap Mikael dengan santai.
__ADS_1
"Tidak! Cepat putar balik. Aku mau pulang ke rumahku."
"Ini rumahmu sekarang. Kita akan segera menikah," Daniela langsung menatap tajam ke arah Mikael karena tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan pria yang ada di sampingnya.
"Aku tidak mau menikah denganmu, cepat antar aku pulang!"
"Kamu harus bertanggung jawab karena kamu telah mengambil keperjakaanku. Kamu harus menikahiku," ucap Mikael.
"Hei! apa apaan itu. Tidak ada yang seperti itu," teriak Daniela. Ia merasa jengah dengan ucapan Mikael.
Mikael turun kemudian berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Daniela, "turunlah ... atau kamu ingin aku menggendongmu?"
Daniela segera turun karena ia tak mau ikan kaleng itu menggendongnya, membuat Mikael tersenyum dengan tingkah Daniela.
"Mom, aku pulang!" Mikael berteriak seperti memberitakan kedatangannya.
"Ela!!!" teriak Miranda. Ia langsung menyambut putri sahabatnya itu.
"Apa kabarmu sayang? Kenapa tidak pernah datang kemari?"
"Maaf, aunty. Belakangan ini aku sibuk karena harus mengambil alih perusahaan Daddy," jawab Daniela, tanpa berbohong. Belakangan ini ia memang sangat sibuk dengan padatnya jadwal di kantor.
"Baiklah, aunty memaklumi. Tapi hari ini, kamu harus menerima undangan makan malam dari aunty, okay?"
Miranda segera meminta pelayan untuk menambahkan beberapa lauk lagi karena kedatangan Daniela. Setelah makan malam selesai, Mikael meminta semua anggota keluarga untuk duduk di sofa ruang tengah. Daniela sudah menarik nafas panjang, ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Mikael.
"Dad, Mom ... aku ingin secepatnya menikahi Daniela," ucap Mikael dengan gamblangnya. Daniela menatap ke arah Mikael karena ini baru pertama kalinya pria itu menyebut namanya dengan benar.
"Menikah?" tanya Miranda seakan tak percaya.
"Iya, Mom. Aku ingin secepatnya menikah, karena saat ini Daniela sedang mengandung anakku."
Pletakkk!!!
"Aduhhh Mom, sakit!!" teriak Mikael tiba tiba.
"Apa yang telah kamu lakukan pada Ela, Mik?" Miranda menatap Mikael dengan tajam.
"A-aku tidak melakukan apa apa, Mom."
__ADS_1
"Bagaimana tidak? Kalau kamu tidak melakukan apa apa bagaimana mungkin Ela bisa hamil," Miranda mengeram kesal. Ia tidak menyangka putranya bisa melakukan hal sejauh ini.
"Inilah kenapa Mommy ingin secepatnya menikahkan kamu, karena Mommy tidak ingin kamu berbuat semakin jauh .... ya ampun, Mik ... Kamu sudah menghamili seorang gadis," Miranda menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Baiklah, Daddy akan segera meminta sekretaris Daddy untuk menyiapkan semuanya. Ela ... apa kamu baik baik saja?" tanya Larry yang melihat perubahan mimik wajah Daniela.
"A-aku tidak ingin menikah dengannya, Uncle, Aunty. Aku juga sudah mengatakan pada Mommy bahwa aku membatalkan perjodohanku dengan Mikael," ucap Daniela.
"Tidak sayang, tidak bisa seperti itu. Anak ini perlu kedua orang tuanya, ia memerlukan sebuah keluarga. Tempat di mana ia bisa bertumbuh dan merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya," ucap Miranda sambil memegang kedua tangan Daniela.
"T-tapi Aunty, aku tidak bisa. Aku tidak mencintainya. Aku tahu ini semua kesalahanku. Anak ini ada karena kesalahanku, aku yang saat itu memaksa Mikael melakukannya. Karena itu, biarkan aku sendiri saja yang bertanggung jawab."
"Bagaimana kamu yang memaksa? Kalau pria nya tidak pasrah, maka hal ini juga tidak terjadi. Itu tandanya ada keinginan besar dari pihak laki laki untuk melakukan hal yang sama," Miranda melirik ke arah Mikael yang hanya bisa tersenyum.
"Uncle Larry akan menyiapkan semuanya, sayang. Kamu tenang saja ya. Biarkan Mikael bertanggung jawab atas dirimu dan juga anak ini. Ingatlah bahwa ia tidak bersalah. Tuhan telah mempercayakan pada kalian berdua seorang anak, itu adalah sebuah tanda bahwa jalan hidup kalian adalah sama. Lakukanlah yang terbaik untuk anak ini. Aunty akan selalu menyayangimu," Miranda mengusap bahu Daniela, membuat Daniela menangis karena kembali teringat akan sosok Mommynya.
*****
Tringgg ....
Amelie langsung mengambil ponsel miliknya yang terletak di atas nakas. Ia memperhatikan dengan seksama dengan apa yang sedang di bacanya.
"Aku harus segera ke sana," gumam Amelie. Ia segera berganti pakaian, kemudian meraih tas kecilnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kediaman Williams.
Amelie kini tengah berada di depan sebuah klinik. Ia membaca papan nama yang terpampang di depan klinik tersebut.
"Benar, ini tempatnya. Nama kliniknya benar, dan alamatnya juga sama. Tapi ... mengapa perasaanku tidak enak. Tempat ini juga terkesan kurang meyakinkan," ucap Amelie sambil melihat ponselnya, lalu kembali melihat papan nama yang terpasang.
"Tidak ada salahnya aku masuk dulu. Aku akan menilainya setelah bertemu dengan dokter yang direkomendasikan," Amelie pun berjalan masuk.
"Saya ingin bertemu dengan Dokter Ara," ucap Amelie kepada bagian administrasi yang merangkap bagian resepsionis.
"Apa sudah pernah berobat?"
"Belum, saya baru pertama kali kemari," jawab Amelie.
Bagian administrasi memasukkan data Amelie ke dalam komputer setelah meminta Amelie mengisi sebuah form kecil yang berisi data diri.
"Ini nomor antriannya, silakan menunggu di sebelah sana."
__ADS_1
"Terima kasih," Amelie berjalan menghampiri sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Ada beberapa irang juga yang sedang mengantri. Amelie mengambil ponselnya dan berselancar di akun media sosialnya sampai waktunya ia dipanggil.
"Nona Amelie," Amelie pun bangkit dan memasuki ruang praktek Dokter Ara.