
“Apa?!! Apa kamu tidak salah berbicara Rafka?” kata Qia Kirana kaget tapi berusaha tetap tenang,
“Tidak .., aku sangat sadar dan sudah mempertimbangkannya sangat lama “ kata Rafka Gavin dengan wajah serius,
Qia Kirana kaget dengan jawaban Rafka Gavin dan terdiam seketika.
“Tidak perlu kamu menjawabnya sekarang!, aku tahu kamu butuh waktu untuk memikirkannya...,” kata Rafka Gavin mencoba memecah keheningan Qia Kirana,
“Baiklah..,” kata Qia Kirana ,
“Aku bahagia..., kamu mau mempertimbangkannya” kata Rafka Gavin sambil melirik ke arah Qia Kirana.
Sesampainya di depan rumah Danisha Azkia, Aileen dan Ailaa masih tertidur. Dengan segera Rafka Gavin menawarkan bantuan untuk menggendong Aileen dan Ailaa, digendongnya Aileen lalu setelah itu Ailaa.
Saat Qia Kirana yang melihat hal itu, dia berpikir bahwa Rafka Gavin tidak buruk jika menjadi ayah dari anak-anaknya.
Setelah itu Rafka Gavin pamit untuk langsung pulang kepada Qia Kirana.
“Sampai jumpa lusa..,” kata Rafka Gavin sebelum pergi,
“Lusa? Memangnya ada apa dengan lusa?” tanya Qia Kirana penasaran,
“Karena aku memutuskan untuk mengejarmu..., jadi lihat saja nanti lusa” kata Rafka Gavin sambil naik ke mobil,
“Hati-hati dijalan dan terimakasih atas tumpangannya” kata Qia Kirana,
“Iya sama-sama, selamat malam!” kata Rafka Gavin menatap Qia Kirana hangat,
“Selamat malam!” kata Qia Kirana.
~ 2 hari kemudian ~
Di hotel Horison, Qia Kirana bekerja seperti biasanya. Saat Qia Kirana bertemu dengan Syifa, Syifa memberitahukan bahwa Ali Keenan mencarinya.
“Apakah direktur Li menghubungimu, Qia Kirana?” tanya Syifa,
“Tidak...,” jawab Qia Kirana,
“Bagaimana kamu bisa memiliki hubungan dengan direktur Li?” tanya Syifa,
“...Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, sudahlah jangan dibahas lagi..” kata Qia Kirana mengingatkan,
Syifa mengerti dengan ekspresi Qia Kirana yang bingung, bahwa Ali Keenanlah yang memiliki sisi tertarik pada Qia Kirana bukan sebaliknya.
Setelah Qia Kirana selesai bekerja dia keluar dari hotel, Rafka Gavin sudah menunggunya didepan hotel dan secara tidak sengaja Ben melihat hal itu.
Ben dengan segera kembali ke kantor, dia ragu apakah harus menyampaikan hal tersebut pada Ali Keenan atau tidak.
Tok...tok...tok...
Ben mengetuk pintu dengan pelan, dan hatinya masih ragu untuk memberitahu Ali Keenan.
__ADS_1
“Di...rek...tur...Li..” Ben memanggil Ali Keenan dengan terbata-bata,
“Ada masalah apa?” tanya Ali Keenan pada Ben,
“Itu... ini.... bagaimana saya harus menyampaikannya ya...” kata Ben bingung,
“Cepat katakan!” perintah Ali Keenan,
“Direktur Li.., saya hari ini pergi ke hotel tempat nona Qia Kirana bekerja.., dan... melihat dia....” kata Ben dengan kalimat menggantung,
“Qia Kirana, dia sudah pulang?” tanya Ali Keenan senang,
“Tapi...” kata Ben,
“Ayo antar aku bertemu Qia Kirana!!” kata Ali Keenan dengan segera memotong perkataan Ben sambil bergegas pergi.
Dalam hati Ben “Bagaimanapun pada akhirnya direktur Li akan tahu.., bahkan aku tidak bisa menyembunyikannya”.
Sesampainya Ali Keenan didekat rumah Danisha Azkia, dia melihat ada mobil terparkir dibawah. Tidak lama setelah itu Ali Keenan melihat Qia Kirana bersama dengan Rafka Gavin, dan melihat kedekatan yang berbeda diantara mereka.
“Kamu pasti mengetahui hal ini?!” kata Ali Keenan dengan nada menekan,
“Itu... mohon maafkan aku direktur Li..., bukan aku bermaksud menyembunyikannya..” kata Ben berusaha menjelaskan,
“Baiklah... tidak apa-apa, lain kali jangan diulangi lagi...!,” kata Ali Keenan tegas,
“Cari tahu hubungan antara laki-laki itu dan Qia Kirana secepatnya.., dan laporkan segera!” perintah Ali Keenan,
Dengan segera Ali Keenan pergi, dan disaat yang sama Rafka Gavin pamit pulang pada Qia Kirana.
“Aku akan pindah ke daerah didekat sini...” kata Rafka Gavin memberitahu Qia Kirana,
“Kenapa tiba-tiba...?” tanya Qia Kirana,
“Karena aku sudah memutuskan untuk mengejarmu Kirana, aku akan berada disisimu dan anak-anak...” jawab Rafka Gavin dengan wajah hangat,
“Ummm.. apakah ini tidak berlebihan?” tanya Qia Kirana,
“Kamu tidak perlu menghawatirkan hal itu..” jawab Rafka Gavin.
Setelah itu Rafka Gavin pergi dan bersiap-siap untuk pindah ketempat barunya.
Keesokan harinya Rafka Gavin sudah membeli rumah sederhana untuk ditempatinya, dan langsung pindah ke tempat itu yang berada tidak jauh dari rumah Danisha Azkia.
Kemudian Danisha Azkia yang tahu kepindahan Rafka Gavin, lansung menelpon.
Kring...kring...kring...
“Rafka Gavin!!!, kenapa kamu tidak bilang akan pindah ke dekat rumahku?” tanya Danisha Azkia berteriak,
“Bisakah kamu hilangkan kebiasaan berteriak-berteriak seperti itu?” minta Rafka Gavin pada Danisha Azkia,
__ADS_1
“Baiklah..., baiklah.., akan aku coba, jadi...?” kata Danisha Azkia dengan nada curiga,
“Apa...???” tanya Rafka Gavin santai,
“Aiya.., kamu pindah kesini bukankah karena Qia Kirana, kan?” tanya Danisha Azkia,
“Aku sudah menyatakan perasaanku.., dan juga aku sudah memutuskan ingin dia menikah denganku” jawab Rafka Gavin dengan tegas,
“Apa???!!” kata Danisha Azkia kaget,
“Sejak kapan?” tambah Danisha Azkia,
“Saat aku mengantarnya pulang dari kota Cimahi” jelas Rafka Gavin,
“Tapi.., Kirana tidak menceritakannya” kata Danisha Azkia,
“Kamu tahu Kirana sangat tertutup jika kita tidak bertanya terlebih dahulu, jadi beri dia sedikit waktu, mungkin dia masih memikirkannya” Rafka Gavin mengungkapkan pemikirannya dan menjelaskan posisi Qia Kirana pada Danisha Azkia,
“Baik.., baiklah.., aku tahu kamu yang paling mengerti Kirana, aku tahu itu...” jawab Danisha Azkia,
“Jadi kamu butuh bantuan atau tidak perlu untuk pindahan?” tanya Danisha Azkia,
“Tidak perlu..,”kata Rafka Gavin,
“Tapi aku lebih tahu apa yang perlu aku lakukan?!, aku akan membawa Kirana kesana.., kita makan-makan untuk merayakannya, bagaimana?” kata Danisha Azkia menawarkan,
“Bisakah?” tanya Rafka Gavin,
“Pasti!!, serahkan padaku!!” kata Danisha Azkia sambil mengakhiri telpon.
Hari itu Danisha Azkia langsung cuti dari kerjanya. Sore sepulang bekerja Qia Kirana dan anak-anak diajak Danisha Azkia ke rumah Rafka Gavin. Sesampainya di rumah Rafka Gavin, Rafka Gavin menyambut Qia Kirana dan anak-anaknya.
“Hai Aileen..! hai Ailaa!” kata Rafka Gavin sambil mengendong Ailaa,
“Baiklah.., kalian mau makan apa?” tanya Danisha Azkia,
“Bagaimana kalau hot pot?” tanya Rafka Gavin,
“Terserah..., tapi anak-anak?” jawab Qia Kirana,
“Tenang aku akan memesan makanan untuk mereka, dan juga siang ini aku membeli es krim..., apakah Ailaa suka?” jelas Rafka Gavin disambung dengan bertanya pada Ailaa yang ada digendongannya,
“Suka..!!” kata Ailaa sambil memeluk Rafka Gavin,
“Baiklah sudah diputuskan!” kata Danisha Azkia.
Qia Kirana, Danisha Azkia dan Rafka Gavin merayakan kepindahan, sedangkan anak-anak makan dim sum dan es krim. Setelah itu, Rafka Gavin memberekan semuanya kemudian Qia Kirana membantunya, dan mereka mulai memabahas masalah pernyataan Rafka Gavin karena Qia Kirana masih membutuhkan waktu untuk memikirkannya.
Aileen yang mendengar hal itu sangat tidak menyukai Rafka Gavin menjadi calon ayahnya. Aileen masih harus memastikan kecurigaannya, tentang apakah Ali Keenan ayahnya ataukah bukan.
...~ Bersambung... ~...
__ADS_1