Anak Genius: Jade Sign Of Love

Anak Genius: Jade Sign Of Love
Kesepakatan Aileen dan Ali Keenan


__ADS_3

Sesampainya Qia Kirana di Waroeng Steak yang beralamat di Cimahi Tengah, dokter Fadlan mempersilahkan Qia Kirana dengan membukakan pintu mobilnya.


“Ayo kita masuk!” ajak dokter Fadlan pada Kirana dan Aileen,


“Paman dokter..!, paman dokter!” panggil Aileen dengan menarik-narik celana dokter Fadlan,


“Ada apa Aileen?” kata dokter Fadlan sambil berjongkok,


“Apa disini ada es krim? Aku ingin makan es krim dan aku juga ingin membawa pulang es krimnya untuk adikku” kata Aileen dengan nada kekanak-kanakan pada dokter Fadlan,


“Hmmm... kita lihat ke dalam yuk.., kalau tidak ada nanti paman dokter belikan es krim enak di luar” kata dokter Fadlan pada Aileen dengan tersenyum ramah,


“Maaf sekali dokter atas sikap Aileen..!” kata Kirana menyesal,


“Tidak perlu meminta maaf! Aku senang dekat dengan anak kecil nona Kirana, ” kata dokter Fadlan pada Kirana,


Dalam hati Aileen “Bilang saja mau merayu ibuku, dengan cara mendekatiku!” dengan wajah datarnya.


Dokter Fadlan memesan 3 menu penuh untuknya, Qia Kirana dan Aileen.


Kata Aileen dalam hati “Jika itu dia (Keenan) pasti akan memesan banyak makanan untukku” sambil sedikit cemberut,


“Kenapa tidak makan, Aileen?” tanya dokter Fadlan pada Aileen dengan ramah,


Tiba-tiba Ali Keenan datang.


“Aileen tidak suka makanan seperti ini.., dan juga tidak ada es krim untuknya...” kata Keenan sambil duduk di samping dokter Fadlan,


“Direktur Li?! Kenapa anda bisa ada disini?” kata Kirana bertanya karena kaget dengan kedatangan Keenan yang tiba-tiba,


“Aku mau menjemputmu dari rumah sakit.., tapi tidak ada jadi aku menyusul...” kata Keenan menjawab Kirana dengan berusaha menutupi bahwa Aileen yang memberikan lokasinya,


“Dokter pasti tidak keberatan jika aku bergabung, kan?” tanya Keenan pada dokter Fadlan dengan tatapan tajam namun kata-katanya masih sopan,


“Tidak.., tidak masalah direktur Li!” kata dokter Fadlan dengan enggan pada Keenan.


Ali Keenan melihat Aileen yang masih tidak menyentuh makanannya sama sekali.


Ali Keenan memberi kode dengan bahasa tatapan pada Aileen untuk membujuk Qia Kirana agar pulang bersama.


‘Aileen ajak ibumu pulang, ya?’ kata Keenan dalam bahasa tatapannya,


‘Kamu akan memberiku apa?’ kata Aileen dalam bahasa tatapannya,

__ADS_1


‘Tenang aku akan membawamu makan es krim 3x di tempat biasa’ kata Keenan dalam bahasa tatapannya, dengan memberi angka tiga di jarinya lewat belakang badan dokter Fadlan,


‘Baiklah serahkan padaku!’ kata Aileen dalam bahasa tatapannya, dengan menggukkan kepalanya.


Qia Kirana belum menyelesaikan makan siangnya, Aileen menarik-narik baju ibunya.


“Ibu.., aku ingin pulang!, kasihan Aileen pasti belum makan siang sekarang...” kata Aileen membujuk Kirana yang sedang berhenti makan,


“Iya, ayo kita pulang!” kata Kirana yang juga mengkhawatirkan Ailaa di apartemen,


“Tapi... ini?” kata Kirana bingung dan merasa tidak enak pada dokter Fadlan,


“Tidak apa-apa nona Kirana..., biar aku antar!” kata dokter Fadlan pada Kirana dengan penuh semangat,


“Dokter Fadlan tidak perlu merepotkan anda.., lagi pula Qia tinggal bersama saya!” kata Keenan menghalangi dokter Fadlan dengan nada bicara yang mulai menekan,


“Nona Kirana tinggal bersama anda?!” kata dokter Fadlan sedikit kaget dengan apa yang di ucapkan Keenan,


“Iya dokter...” kata Kirana sambil mengendong Aileen dan bersiap untuk pulang,


“Sini biar aku saja Qia!” kata Keenan dengan menggendong Aileen dari tangan Kirana,


Qia Kirana pergi bersama Ali Keenan dan Aileen yang berada di pangkuannya. Ali Keenan membukakan pintu mobil belakang dan mendudukkan Aileen di dalam mobil, kemudian Qia Kirana menyusul masuk ke dalam mobil.


“Aku akan mengajak kalian ke rumah sakit Dustira hari ini, bagaimana?” tanya Keenan pada Kirana dan Aileen,


Qia Kirana menatap Ali Keenan dengan serius.


“Aku dengar tuan Umbara sudah siuman dan di pindahkan ke ruang rawat inap hari kemarin, lagi pula kamu kemarin sibuk menjaga Aileen, kita pulang dan bawa Ailaa juga menjenguk kakeknya” kata Keenan panjang lebar menjelaskan pada Kirana,


“Terserah direktur Li saja!” kata Kirana dengan sedikit bahagia mendengar kabar dari ayahnya yang sudah siuman.


Ali Keenan mulai mengendarai mobilnya ke arah apartemen. Sesampainya di apartemen Ali Keenan membuka pintu dan melihat Ailaa yang berlari ke arah Qia Kirana.


“Kenapa ibu dan kakak lama sekali pergi ke dokternya, aku menunggu kalian sampai lapar sekali!” kata Ailaa memeluk kaki ibunya sambil menengadahkan kepalanya,


“Maafkan ibu sayang, ibu sampai melupakanmu...!” kata Kirana sambil berjongkok dan mengelus kepala Ailaa,


“Ailaa bagaimana jika paman yang memasakkan makanan untuk makan siang?” kata Keenan sambil menurunkan Aileen dan berjalan ke arah Ailaa,


“Paman mau masak apa?” tanya Aileen pada Keenan dengan polosnya,


“Ailaa suka makan omlet?” kata Keenan menawarkan pada Ailaa sambil berjongkok,

__ADS_1


“Aku mau mencobanya! Aku mau mencobanya!” kata Ailaa dengan senangnya,


“Siap tuan putri!” kata Keenan sambil mengusap hidung Ailaa dengan jari telunjuknya.


Qia Kirana terpesona dengan sikap Ali Keenan yang begitu lembut pada anak-anak. Qia Kirana terus menatap pundak Ali Keenan yang sedang memasak omlet untuk Ailaa.


Setelah memasak Ali Keenan menyajikannya dalam piring, kemudian membawanya ke meja makan.


“Silahkan tuan putri makanannya...!” kata Keenan sambil menyiapkan sendok dan memanggil Ailaa,


“Terimakasih paman...!” kata Ailaa berlari ke meja makan dari sofa.


Ailaa makan dengan lahap dan Qia Kirana yang melihatnya tersenyum bahagia.


Dalam hati Ailaa “Aku tidak tahu jika telur bisa di masak dengan seenak ini” sambil terus makan.


“Makan pelan-pelan! Lagi pula aku tidak akan merebutnya..” kata Aileen sambil sedikit meledek Ailaa yang terlihat kelaparan.


Ailaa cemberut karena perkataan kakaknya.


“Kita akan pergi ke rumah sakit Dustira setelah ini untuk menjenguk kakek, ya?” kata Kirana sambil mengelus kepala Ailaa yang baru saja selesai makan,


“Iya bu!” kata Ailaa menjawab ibunya.


Ali Keenan mengganti bajunya dengan baju kemeja dan celana jeans biasa agar terlihat lebih santai. Setelah itu Ali Keenan kembali menggendong Aileen, dan Qia Kirana menuntun Ailaa.


“Lagi pula aku bukan lumpuh tuan!, kamu bisa menurunkanku!” kata Aileen berbisik pada Keenan yang sedang berjalan menuju tempat parkir,


“Duduklah diam.., jika tidak ingin ibumu khawatir, oke?” kata Keenan mengisyaratkan bahwa Kirana bisa saja khawatir pada Aileen,


“Oke tuan..., oke!” kata Aileen mengiyakan dengan gaya orang dewasa.


Dalam hati Keenan “Rasanya aku ingin tertawa karena sikapnya yang sok dewasa di umurnya yang masih kecil” sambil berusaha tetap bermuka datar.


Ali Keenan membukakan pintu mobil untuk Aileen dan Ailaa, kemudian membukakan pintu mobil untuk Qia Kirana.


Selama perjalanan karena Ailaa baru saja makan, terlihat jika dia mengantuk, terus menguap di kursi belakang dan kemudian tertidur.


Sesampainya di rumah sakit, Ali Keenan berganti jadi menggendong Ailaa karena tidak ingin membangunkannya. Qia Kirana melihat sisi hangat dan perhatian Ali Keenan pada Ailaa membuatnya tanpa sadar tersenyum.


“Ada apa Qia?” tanya Keenan yang menyadarkan Kirana,


“Ti...dak ada!” kata Kirana dengan tersipu malu langsung membawa Aileen masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


...~ Bersambung... ~...


__ADS_2