
Ali Keenan menggendong Ailaa di
tangannya sampai di depan ruang rawat inap untuk pasien jantung. Tiba-tiba
Ailaa bangun dan tersadar berada di pangkuan seseorang, dia tahu itu bukan
ibunya.
Ailaa loncat dari pangkuan Ali Keenan
yang seketika mengagetkan Ali Keenan.
“Kenapa Ailaa?” tanya Keenan pada
Ailaa yang masih setengah sadar dari tidurnya.
Ailaa memandang Ali Keenan yang
bertanya padanya, dia menyangka jika bukan Ali Keenan yang menggendongnya
karena bagaimanapun dia selalu berhati-hati.
“Ohhh..., paman?!” kata Ailaa kaget
karena takut keahliannya diketahui oleh Keenan,
Dalam hati Keenan “Jadi Ailaa memiliki
kemampuan bela diri yang hebat..., dia bisa loncat dari tanganku dengan cepat
dan dalam keadaan setengah sadar” sambil mengerakkan jari-jari tangannya.
“Pasti kaget, ya?, sampai-sampai
terjatuh dari tangan paman..., sini paman lihat ada yang sakit tidak?” tanya
Keenan sambil pura-pura tidak mengetahui hal yang tadi terjadi,
Dalam hati Ailaa “Kemampuanku tidak
ketahuan, kah?” sambil mendekat ke arah Keenan,
“Ayo paman kita susul ibu!” kata Ailaa
mengalihkan penasarannya dengan wajah datar mengandeng tangan Keenan.
Di dalam ruang rawat VIP milik Umbara,
Ali Keenan disambut hangat oleh Soni Umbara dan Raisa. Soni Umbara dan Raisa
berterimakasih kepada Ali Keenan karena telah membantu pengobatan dan mengurus
semua administrasi hingga bisa di rawat di ruang VIP.
Setelah keluar dari ruangan Umbara,
dan menuju tempat parkir.
“Direktur Li terimakasih karena telah
mengurus semua kebutuhan ayahku!” kata Kirana sambil berjalan dan menggandeng
Ailaa,
“Diantara kita tidak perlu ada kata
terimakasih Qia, lagi pula aku dengan suka rela melakukannya” kata Keenan
berthenti melangkah dan menengok ke belakang melihat Kirana.
Qia Kirana menatap Ali Keenan seolah
menyanjungnya dengan tatapan mata.
Aileen menarik-narik tangan Ali Keenan
yang masih tidak melanjutkan langkahnya.
“Ohhh..., bagaimana jika malam ini
kita makan di luar? Aileen dan Ailaa suka es krim, kan? Paman tahu tempat makan
es krim yang enak” kata Keenan menjagak Kirana dan kedua anak kembar itu untuk
makan malam di luar,
“Suka paman! Ailaa suka sekali es
krim...!” kata Ailaa melepaskan genggaman tangan ibunya lalu berlari dan tanpa
disadari memegang tangan Keenan,
Ailaa yang menyadari isyarat mata dari
kakaknya langsung melepaskan tangan Ali Keenan.
Qia Kirana tidak bisa menolak ajakan
Ali Keenan, malah dalam hatinya ada sedikit rasa bahagia yang sederhana tapi
bisa membuat dia tersenyum lebar, seolah mendapatkan suatu hal berharga yang
mengejutkan.
Ali Keenan mengajak Qia Kirana, Aileen
dan Ailaa datang ke restoran Art.
Sesampainya di dalam restoran Art, Qia
__ADS_1
Kirana di persilahkan duduk oleh Ali Keenan, bahkan Aileen dan Ailaa digendong
untuk bisa duduk di kursi oleh Ali Keenan.
Ali keenan memanggil pelayan restoran
dan memesan makanan dalam jumlah yang cukup banyak.
“Direktur Li!, apakah makanan yang
anda pesan tidak terlalu banyak?” kata Kirana memotong pemesanan Keenan dengan
pelayan restoran,
“Tidak.., malah aku merasa aku ingin
memesan lagi, agar kalian bisa menyicipi setiap makanan yang ada disini!” kata
Keenan sambil memberikan isyarat meminta daftar pesanan yang telah di pesannya
kepada pelayan restoran.
Setelah makan Ali Keenan memanggil
pelayan untuk datang lagi.
“Direktur Li, semua makanan yang tadi
anda pesan saja belum habis.., anda masih akan pesan apalagi?” tanya Kirana
dengan nada yang sedikit enggan,
Ali Keenan tersenyum dan tidak
menjawab Qia Kirana.
“Tolong saya pesan 4 porsi es krim, 2
porsi es krim sedang dan 2 lagi porsi besar!” kata Keenan memesan es krim,
Tidak perlu waktu lama es krim yang di
pesan oleh Ali Keenan datang. Pelayan restotan menyajikan es krim besar untuk
Aileen dan Ailaa, sedangkan porsi sedang untuk Ali Keenan dan Qia Kirana.
Aileen dan Ailaa sangat senang dengan
porsi es krim yang dipesan oleh Ali Keenan.
Saat suapan pertama Ailaa seperti
pernah memakan rasa dari es krim itu, dengan wajah serius dia terus memakan es
krimnya. Ailaa mengingat bahwa kakaknya dulu pernah memberikannya es krim
Dalam hati Ailaa “Apa kakak sudah lama
kenal dengan paman Keenan?, jadi waktu itu kakak keluar untuk menemui paman
Keenan?” sambil memandang kakaknya dan Keenan.
Aileen yang merasa terus dilihat oleh
Ailaa, dia melihat ke arah Ailaa. Aileen menggunakan gerakan kepalanya seolah
bertanya pada Ailaa ‘Apa?’.
Ailaa yang mengerti hal itu,
menggelengkan kepalanya dan terus makan es krimnya.
Disaat yang sama Ali Keenan
memperhatikan Qia Kirana yang juga suka es krim yang di pesannya.
Dalam hati Kirana “Kenapa bisa ada es
krim selembut dan seenak ini?” sambil terus memakan es krimnya.
Ali Keenan yang dari tadi hanya
menyicipi sedikit es krim miliknya, menggeserkan mangkuk es krim ke arah Qia
Kirana.
“Ini masih ada” kata Keenan sambil
tersenyum menawarkan Kirana untuk memakan es krimnya,
“Ini...., Bukankah ini milik anda
direktur Li...” kata Kirana enggan memakan es krim milik Keenan,
“Habiskanlah..!, aku akan ke kasir
untuk membayar tagihannya” kata Keenan sambil berdiri kemudian berjalan ke arah
kasir,
Qia Kirana yang merasa akan sayang
jika es krimnya di buang, ajdi dia memakan es krim milik Ali Keenan.
Ali Keenan memperhatikan Qia Kirana
dari kejauhan dan tersenyum melihat hal itu.
“Ciuman tidak langsung...” kata Keenan
__ADS_1
dengan suara pelan berbicara pada dirinya sendiri.
“Tuan Keenan ini notanya, terimakasih
dan semoga hari anda menyenangkan!” kata petugas kasir yang menyadarkan Keenan.
Setelah itu, Qia Kirana, Aileen dan
Ailaa pulang ke apartemen milik Ali Keenan.
Aileen dan Ailaa masuk ke dalam
kamarnya.
“Selamat malam” kata Keenan pada
Kirana yang akan masuk ke dalam kamarnya.
“Selamat malam direktur Li, sekali
lagi aku ucapkan terimakasih untuk hari ini!” kata Kirana pada Keenan dengan
tersenyum.
Ali Keenan menatap Qia Kirana hingga
masuk ke dalam kamarnya, dia masih saja terpesona oleh senyum cantik dari
wanita yang membuatnya jatuh hati itu.
~ Keesokan harinya ~
Ben mengantar Qia Kirana pergi bekerja,
sedangkan Ali Keenan pergi ke kantor sendiri. Setelah Ben mengantar Qia Kirana
hingga ke hotel, dia pergi ke kantor menyusul Ali Keenan.
Saat sedang bekerja Syifa mendekati
Qia Kirana dengan mata yang menyipit.
“Siapa yang tadi pagi mengantarmu
pergi bekerja?” tanya Syifa pada Kirana,
“Itu..., untuk apa menanyakan hal ini?”
kata Kirana berusaha mengalihakan agar dirinya tidak ketahuan bahwa itu
berhubungan dengan Keenan,
“Tidak ada!!” kata Syifa melihat
Kirana tidak ingin memberitahukannya,
“Ohhh Kirana kemarin ada seorang tamu
yang mencarimu, apa kamu sudah tahu?” tanya Syifa pada Kirana,
“Siapa?” tanya Kirana penasaran.
Syifa mengisyaratkan ketidak tahuannya
karena dia tidak mengenal tamu itu.
Qia Kirana bersiap untuk pergi makan
siang bersama Syifa, tiba-tiba tidak disengaja bertemu dengan Lisa Rahardian.
“Hai kak Kirana!” kata Lisa pada
Kirana,
“Nah ini Kirana tamu yang mencarimu
kemarin!” kata Syifa membisikan kata-kata pada Kirana,
“Hai Lisa!” kata Kirana dan berusaha
pergi meninggalkan Lisa,
“Tunggu kak...!, ada yang ingin aku
bicarakan!” kata Lisa mencegah Kirana untuk pergi,
“Kalau begitu aku duluan Kirana!,
silahkan kalian mengobrol!” kata Syifa sambil melangkah meninggalkan keduanya.
Qia Kirana dan Lisa Rahardian menuju
lobby hotel, tiba-tiba terlihat Haris Permana yang sedang mencari keberadaan
Lisa.
Haris Permana menghampiri Lisa dan Qia
Kirana.
“Kak! Aku berencana menikah dengan
Haris!” kata Lisa memberitahukan Kirana sambil menggandeng tangan Haris dengan
erat.
Jangan lupa like, komen dan tipsnya untuk terus mendukung author ya ^_^
~ Bersambung... ~
__ADS_1