
Sesampainya Qia Kirana dan Ali Keenan di apartemennya, Ali Keenan hendak menidurkan Aileen di kamar Ailaa.
“Direktur Li!, biar Aileen tidur di kamar saya saja!” kata Kirana sambil berusaha mengambil Aileen dari tangan Keenan,
“Biar aku saja yang menggendongnya!” kata Keenan menolak memberikan Aileen dari pangkuannya.
Ali Keenan masuk ke kamar Kirana kemudian membaringkan dan menyelimuti Aileen di atas kasur.
“Qia!, jika kamu membutuhkan sesuatu hubungi aku!” kata Keenan sambil mengusap kepala Aileen dan sesekali menengok ke arah Kirana,
“Baik direktur Li!, apa anda tidak pergi ke perusahaan?” tanya Kirana pada Keenan,
“Aku akan berangkat sebentar lagi!, kamu pasti akan pergi ke apotek untuk membeli obat yang belum ada kan? Biar Ben saja!” kata Keenan menawarkan Ben membeli obat untuk Kirana,
“Tidak perlu!, aku bisa membelinya sendiri...” kata Kirana dengan enggan,
“Bagaimana jika Ben yang mengantarmu, ya?” kata Keenan meminta Kirana agar ditemani Ben karena khawatir,
“Baiklah!” kata Kirana dengan terpaksa menyetujui Keenan.
Ali Keenan pergi ke perusahaan tanpa Ben, dan Kirana pergi dengan Ben untuk membeli obat di apotek Serumpun Bambu di jalan Gatot Subroto Cimahi.
Saat tiba di apotek, Qia Kirana tidak sengaja berjumpa dengan Ardi Fadlan yang sedang mengunjungi temannya yang bekerja di klinik Serumpun Bambu.
“Nona Kirana, kan?” tanya Fadlan menyapa Kirana dengan ramah,
Qia Kirana berusaha mengingat wajah laki-laki di hadapannya. Ardi Fadlan berbeda dari penampilannya karena dia memakai setelan kaos putih dan celana jeans biru, sedangkan sebelumnya menggunakan setelan jas dokter dan celana resmi.
“Dokter Ardi?!” kata Kirana menebak setelah mengenali Fadlan,
“Nona Kirana mau mebeli obat untuk Aileen?” kata Fadlan bertanya pada Kirana dengan serius,
“Iya dokter...” kata Kirana berkata dengan sopan,
“Coba aku lihat resepnya!” kata Fadlan meminta resep pada Kirana,
“Ini!, untuk apa dok?” tanya Kirana kepada Fadlan,
“Aku akan membantumu mengambil obat..., Lihatlah! Dengan antrian seperti ini sampai kapan kamu akan menunggu..” kata Fadlan mengambil kertas resep dari tangan Kirana.
Ardi Fadlan memasuki bagian pengambilan obat, dan langsung membungkuskan obat-obat tersebut dan memberikannya ke bagian kasir.
“Berikan ini padanya!” kata Fadlan pada petugas kasir dengan menunjuk pada Kirana,
“Iya dok!, tapi siapa nama pelanggannya?” kata petugas kasir pada Fadlan dengan bingung,
“Ohhh iya..., maafkan aku!” kata Fadlan menuliskan nama Kirana di atas resep obat,
“Nona Kirana!” kata petugas kasir memanggil Kirana,
__ADS_1
“Iya?” kata Kirana menghampiri kasir,
“Ini obatnya nona!, semuanya jadi 248rb nona!” kata petugas kasir pada Kirana,
“Ohhh iya..., ini terimakasih!” kata Kirana pada petugas kasir,
“Sama-sama.., semoga hari anda menyenangkan!” kata petugas kasir pada Kirana,
Ardi Fadlan keluar dan tersenyum kepada Qia Kirana.
“Terimakasih dokter!” kata Kirana sambil membungkukkan badannya,
“Sama-sama.., bisakah makan malam bersamaku sebagai ucapan terimakasih?” tanya Fadlan dengan akrab pada Kirana,
“Maaf dok!, hari ini aku masih harus menjaga Aileen..” kata Kirana sambil membungkukkan dan hendak pergi keluar dari apotek,
“Bagaimana jika lain kali?” tanya Fadlan menyusul Kirana yang hendak berjalan keluar,
“Baiklah dok.., jika lain kali aku bisa...” kata Kirana sambil masuk ke dalam mobil,
Ardi Fadlan tersenyum dan melambaikan tangan pada Qia Kirana. Ben melihat Ardi Fadlan dengan tatapan yang tidak biasa dari kaca spion samping.
~ 2 hari kemudian ~
Ali Keenan melihat Qia Kirana masih mengkhawatirkan dan masih menjaga Aileen. Ali Keenan menyuruh Qia Kirana untuk beristirahat dimakarnya, dan dia akan menggantikan Qia Kirana untuk menjaga Aileen.
Dalam chat Ardi Fadlan untuk Qia Kirana,
‘Nona Kirana, ini aku dokter Ardi yang waktu itu memeriksa Aileen.., bagaimana kabar Aileen apakah sudah lebih baik sekarang? Jika tidak keberatan bawa Aileen ke rumah sakit untuk cek up! Sekalian kita berbincang makan siang...’
Kemudian Aileen dalam hatinya berkata “Bagaimana jika dia tahu.., kalau dia memiliki saingan baru untuk mengejar ibu ya?” sambil tersenyum.
Aileen memberikan ponsel ibunya pada Ali Keenan dan berkata,
“Lihatlah! Saingan baru datang!” sambil menggoyang-goyangkan ponsel dengan pelan,
“Siapa?” kata Keenan sambil mengambil ponsel Kirana dari tangan Aileen,
“Itu dokter anak yang bertugas di rumah sakit Mitra Kasih..., bisa pinjam ponsel!” kata Aileen ingin meminjam ponsel Keenan.
Dengan kecepatan jarinya, Aileen mencari informasi mengenai dokter Ardi Fadlan, setelah menemukan informasi dia membaca informasi itu dengan cepat.
“Ini dia orangnya..!, dokter muda lulusan Jerman.., meski tidak tampan tapi karismatik dan yang terpenting belum menikah!” kata Aileen menyebutkan informasi yang di bacanya dengan nada memanas-manasi Keenan,
“Tidak mungkin.., dia menyukai Qia Kirana, kan?” tanya Keenan pada Aileen dengan menunjukan foto wajah Fadlan yang ada di ponselnya,
“Hmm..., dia menyukai ibuku..., ohhh lebih tepatnya sangat tertarik!” kata Aileen sambil meminta Keenan memberi dia buah yang berada di atas meja.
Dengan cepat Ali Keenan membalas chat itu ‘Maaf ini dengan Ali Keenan.., aku memutuskan untuk tidak membawa Aileen ke rumah sakit Mirta Kasih, jika aku membawanya cek up aku akan mengganti dokter spesialisnya..’ sambil terlihat cemburu.
__ADS_1
Di rumah sakit Mitra Kasih, ponsel Ardi Fadlan mendapatkan balasan. Kemudian Ardi Fadlan membacanya, dan tersenyum lalu tidak membalasnya.
Di apartemen, Aileen menggelengkan kepalanya saat melihat jawaban yang di kirimkan oleh Ali Keenan pada Ardi Fadlan.
“Dasar laki-laki kaku!” kata Aileen dengan suara pelan,
“Apa?” kata Keenan yang sedang memotong buah untuk Aileen,
“Tidak ada, ini terimakasih!” kata Aileen berterimakasih karena Keenan memotongkan buah untuknya,
“Makanlah yang banyak!” kata Keenan memberikan buah dan mengelus kepala Aileen.
Aileen tersipu karena sikap Ali Keenan padanya.
Malam harinya Ali Keenan berniat membeli makan malam untuk Qia Kirana dan kedua anaknya. Karena itu, Qia Kirana menjaga Aileen menggantikan Ali Keenan lagi.
Sesampainya di rumah dia menyiapkan makan malam untuk Aileen, Qia Kirana dan Ailaa. Ali Keenan membawa makan malam Aileen ke kamar, dan dilihatnya Qia Kirana yang tertidur di kursi menjaga Aileen.
“Ibumu.., dia tidur dari tadi?” tanya Keenan pada Aileen dengan suara pelan,
“Hmmm..., belum lama” jawab Aileen yang terbangun dan duduk di kasur,
“ Ini makanlah!” kata Keenan memberikan Aileen bubur nasi.
Kemudian Ali Keenan yang melihat Qia Kirana seperti kelelahan sampai tertidur di atas kursi, dia mengambil kursi lagi dan duduk di sebelah Qia Kirana.
Dengan lembut Ali Keenan menyentuh kepala Qia Kirana dan menyandarkan pada bahunya.
Aileen makan dan sesekali melihat kearah Ali Keenan dan ibunya, dia merasa jika ibunya memang cocok untuk bersama dengan Ali Keenan. Setelah Aileen selesai makan bubur yang diberikan Ali Keenan,
“Berikan ponselmu!” kata Aileen dengan suara pelan pada Keenan,
“Ini..!” kata Keenan sambil mengambil ponselnya dan memberikannya pada Aileen,
Dalam hati Keenan “Apa yang ingin dia lakukan?” sambil menatap bingung.
Aileen yang menyadari Ali Keenan bertanya-tanya, dia mengisyaratkan bahwa akan mengambil foto ibunya dan Ali Keenan.
Saat Aileen mengambil foto, ternyata flash kamera pada ponsel Ali Keenan belum dimatikan. Ali Keenan dengan refleks menutupi wajah Qia Kirana dengan tangan kirinya dari flash kamera ponselnya.
“Astaga tuan zaman apa ini...!, kamu masih saja menggunakan flash kamera” kata Aileen menyindir Keenan dengan suara yang tidak pelan,
“Uuussstttt!” kata Keenan memperingatkan Aileen untuk berbicara lebih pelan,
Qia Kirana menggerakkan kepalanya di bahu Ali Keenan.
“Tolong jangan bangun! tolong jangan bangun!” kata Keenan dengan suara yang sangat kecil dan ekspresi tegang.
...~ Bersambung... ~...
__ADS_1