
Qia Kirana membalas pelukan Ali
Keenan, dia menepuk pundak Ali Keenan dengan tangan kanannya.
“Iya aku tidak akan pergi...,
istirahatlah lagi ini masih dini hari” kata Kirana pada Keenan berusaha
menenangkannya,
Qia Kirana melihat Ali Keenan yang
tertidur lagi, dan dia menjaga di sampingnya.
Saat pagi hari tiba, ternyata Ali
Keenan memegang erat tangan Qia Kirana.
Ali Keenan terbangun dari tidurnya,
dan tidak mengingat kejadian yang terjadi pada dini hari. Ali Keenan melihat
Qia Kirana yang masih tertidur dengan tangan yang menggenggam tanganya.
Tanpa sadar kecantikan Qia Kirana
membuat tangan kiri Ali Keenan bergerak, dia berusaha menyingkirkan beberapa
helai rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu.
Tiba-tiba Qia Kirana terbangun, dan
melihat Ali Keenan. Ali Keenan kaget karena Qia Kirana yang bangun dan langsung
terdiam bisu.
“Selamat pagi!, direktur Li apakah sudah
merasa lebih baik?” tanya Kirana pada Keenan,
“Pa...gi!, aku sudah merasa lebih
baik..” jawab Keenan spontan dengan sedikit bingung dan gugup karena takut
perlakuannya diketahui Kirana.
Ali Keenan beranjak dan menuju kamar
mandi, dia tidak menoleh sedikitpun pada Qia Kirana.
Qia Kirana merasa sikap Ali Keenan
padanya sedikit aneh, seperti sengaja menghindarinya. Qia Kirana kemudian
keluar dari kamar Ali Keenan dan menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan.
Ali Keenan keluar dari kamarnya dan
melihat Qia Kirana yang masih menyiapkan makanan. Ali Keenan tanpa berbicara
apapun membantu Qia Kirana membawa
makanan ke meja makan.
Qia Kirana menyiapkan bekal makan
siang juga untuk Ali Keenan, disamping itu dia menyiapkan air putih hangat
untuk Ali Keenan.
Ali Keenan duduk di samping Qia Kirana,
tatapannya seolah tidak ingin lepas dengan penuh tanda tanya.
“Ini makan supnya juga” kata Kirana
sambil menuangkan sup untuk Keenan,
“Qia!” panggil Keenan pada Kirana,
“Kenapa direktur Li?” kata Kirana
memalingkan wajah ke arah Keenan,
“Kamu sudah tidak marah padaku?” tanya
Keenan pada Kirana,
“Kapan aku marah ?” tanya Kirana
bingung,
“Bukankah kamu menghindariku kemarin?”
kata Keenan menjelaskan,
“A..ku... ti... dak...” kata Kirana
sambil sedikit tersipu karena malu dia menghindari Keenan karena kaget,
“Direktur Li..., masih ada anak-anak
disini..., bisakah?” tanya Kirana yang langsung menyadari jika kedua anaknya
masih di meja makan,
“Baiklah!, nanti biar aku yang akan
mengantarmu bekerja” kata Keenan menawarkan dirinya,
“Tapi, Ben?” tanya Kirana pada Keenan,
__ADS_1
“Ben akan mengantikanku pagi ini untuk
urusan kantor” kata Keenan menjelaskan.
Setelah sarapan Ali Keenan
bersiap-siap untuk pergi mengantar Qia Kirana, saat keluar kamar dia melihat
Qia Kirana yang sudah siap dan menunggunya.
Kemudian Ali Keenan menghampiri Qia
Kirana.
“Ayo berangkat!” ajak Keenan pada
Kirana.
Keduanya pergi ke arah tempat dimana
mobil Ali Keenan diparkirkan.
Sesampainya di samping pintu mobil,
Ali Keenan mempersilahkan Qia Kirana masuk terlebih dahulu.
Qia Kirana terpana melihat kearah Ali
Keenan, tanpa sadar hatinya tergerak dan senyum kecil telihat di bibirnya.
Ali Keenan masuk kedalam mobilnya dan
memasangkan sabuk pengaman untuk Qia Kirana.
Selama diperjalanan tidak ada obrolan
antara keduanya, hanya sesekali saling menatap.
Tidak jauh dari hotel tempat Qia
Kirana bekerja,
“Direktur Li..., bisakah kamu turunkan
aku disini saja?” tanya Kirana tiba-tiba menyuruh Keenan memberhentikan
mobilnya.
Ali Keenan memberhentikan mobilnya dan
mencegah Qia Kirana untuk keluar dari mobilnya.
“Qia..!, kamu belum menjawab
pertanyaanku” kata Keenan sambil menghentikan Kirana.
“Perta...nyaan yang mana direktur Li?”
tanya Kirana yang langsung teringat kembali malam dimana dia menghindari
“Apakah kamu masih marah padaku?”
tanya Keenan karena Kirana menghindarinya beerapa hari kebelakang.
“Aku sudah bilang aku tidak marah pada
anda..” jawab Kirana sambil tersipu, tapi dia sudah bertekad tidak akan
menghindar lagi.
Ali Keenan kaget dengan respon yang
diberikan Qia Kirana padanya, dia meraih tangan kanan wanita disampingnya dan
berusaha meyakinkan.
“Qia..., maaf jika pernyataanku
mengagetkanmu dan membuatmu mengindariku. A...ku..., aku hanya ingin berkata
jujur, tidak menyembunyikan apapun dan bertanggung jawab atas apa yang aku
lakukan padamu” kata Keenan meyakinkan Kirana dan menatap wanita itu dengan
lembut.
“Terimakasih karena sudah mau
mengatakannya padaku direktur Li.., aku hanya tidak percaya saja ternyata orang
itu adalah anda...” kata Kirana merasa jika dia berangan-angan orang yang
bersamanya malam itu adalah Keenan.
Ali Keenan membulatkan matanya dan
meraih tengkuk Qia Kirana kemudian mengecup kening putih wanita disampingnya
dengan lembut.
“Apakah ini masih tidak meyakinkan atau
membuatmu tidak percaya Qia?” kata Keenan meyakinkan Kirana bahwa ini bukanlah
mimpi.
Qia Kirana kaget dengan perlakuan Ali
Keenan dengan sontak mengangguk dan kemudian menggelengkan kepalanya.
“Jadi kamu masih tidak percaya? Apa
__ADS_1
aku harus membuktikan dengan cara lain..” kata Keenan sambil menyeringai
menggoda Kirana.
Tiba-tiba Kirana membuka pintu mobil
sambil berkata “ direktur Li, maaf aku terlambat...” dan berlari kecil sambil
tersipu malu.
Ali Keenan kaget dan masih tidak
percaya dengan perlakuannya sendiri pada Qia Kirana yang begitu agresif. Dia
bertanya-tanya ada apa dengan dirinya, dia merasa seperti bukan dirinya
sendiri. Tapi satu hal yang pasti Qia Kirana kini tidak menghindarinya lagi.
Ali Keenan memarkirkan mobilnya dan
menuju ke kantor untuk pergi bekerja.
Disaat yang sama di ruang ganti
karyawan hotel Qia Kirana menggunakan baju dengan sangat lambat, dalam
pikirannya terus terbesit kejadian tadi dan beberapa hari yang lalu.
“Doooor..” kata Syifa mengagetkan
Kirana dari belakang.
“Ada apa denganmu Kirana? Kamu melamun
seolah nyawamu tidak disini...., hmmmm.... pasti terjadi sesuatu anatara kamu
dan direktur Li, kan?” goda Syifa pada temannya itu.
“Ti....dak ada apapun” kata Kirana
sambil menutup loker ganti miliknya.
“Jadi...? bagaimana kamu dengan direktur
Li?” apakah kalian akan menikah besok?” kata Syifa terus menggoda Kirana.
“Apa..?!, apa yang kamu katakan?” kata
Kirana kaget sampai membalikkan tubuhnya dan berusaha menutup mulut temannya
itu dengan tangannya.
“hem... hem... hem... hem... (yang artinya
aku hanya bercanda)” kata Syifa yang masih mulutnya ditutupi oleh tangan
Kirana.
“Perhatikan ucapanmu fa..., aku tidak
ingin orang-orang bergosip tentangku dan direktur Li” kata Kirana mengingatkan
Syifa temannya.
“Kenapa?” tanya Syifa heran.
“Aku tidak ingin gosip ini
mempengaruhinya dan pekerjaannya” kata Kirana menjawab Syifa sambil mereka
berdua melewati lorong-lorong hotel.
“Ohhhh... kamu begitu pengertian
terhadap dia..., heeeheee..” kata Syifa sambir tertawa kecil melihat respon
temannya Kirana.
“Baiklah sudah aku akan bekerja
sekarang, jadi lebih baik kamu juga bekerja jika tidak ingin diberhentikan!”
kata Kirana berusaha mengalihkan pembicaraan dan mencoba memperingatkan Syifa
temannya.
“Okelah..., nanti kita akan
meneruskannya di jam makan siang, hehhe...” kata Syifa sambil berjalan dan
mengisyaratkan kepada Kirana bahwa Kirana harus menceritakan yang terjadi pada
temannya.
Qia Kirana yang mendengar itu langsung
kembali teringat kecupan lembut dikeningnya yang diberikan Ali Keenan pagi ini.
Hai para pembaca setia Jade Sign of
Love ^_^
Maaf karena sudah hiatus begitu lama,
ini semua karena ada sesuatu yang tidak aku bisa ceritakan.
Tapi aku sudah kembali sekarang,
semoga ceritanya bisa terus berlanjut ya
Terus kasih Like, Komen, dan
__ADS_1
Hadiah/Tips untuk terus mendukung Author ya ^_^
~ Bersambung... ~