Anak Genius: Jade Sign Of Love

Anak Genius: Jade Sign Of Love
Qia Kirana Mengkhawatirkan Ali Keenan


__ADS_3

“Maaf aku haus!” kata Keenan sambil mengelap bibirnya,


“Direktur Li.., bagaimana kamu bisa disini?” kata Kirana bertanya pada Keenan dengan wajah bingung,


“Qia.., Aileen dan Ailaa menunggu di mobil” kata Keenan dengan suara yang tidak kencang.


Qia Kirana langsung berhenti makan dan langsung berlari ke tempat parkir. Ali Keenan menyusul Qia Kirana, sedangkan Fadlan mengecek keanehan yang terjadi dengan minuman yang diminum Ali Keenan.


“Kamu!” kata dokter Fadlan menunjuk Rafka yang menyadari adanya obat dalam minuman.


Rafka Gavin keluar dari restoran dan berlari ke arah rumah sakit, Fadlan tidak sempat mengejarnya karena mengkhawatirkan Ali Keenan dan Qia Kirana.


Sesampainya Qia Kirana di tempat parkir, dia melihat Ali Keenan berkeringat di wajahnya.


“Direktur Li apakah kamu baik-baik saja?” kata Kirana menanyakan keadaan Keenan,


“Aku...” kata Keenan yang tidak sempat melanjutkan perkataannya sudah pingkan disamping mobilnya yang diparkirkan,


“Direktur Li?!!, kamu kenapa?” kata Kirana panik dengan keadaan Keenan yang pingsan di depannya dengan menggoyang-goyangkan badan Keenan.


Kemudian tidak beberapa lama Ardi Fadlan datang dan melihat Ali Keenan berada dalam pangkuan Qia Kirana.


“Dokter.., Direktur Li tiba-tiba pingsan..., bisakah anda memeriksanya?” kata Kirana dengan wajah khawatir,


“Nona Kirana..., ayo kita bawa dia pulang terlebih dahulu!, jadi aku bisa memeriksanya” kata Fadlan untuk menenangkan Kirana.


Qia Kirana mencoba membantu Ardi Fadlan memapah Ali Keenan kedalam mobil, di dalam mobil Aileen dan Ailaa memperhatikan.


“Kak apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ailaa pada Aileen,


“Sepertinya ada masalah, tapi kita lihat dulu Laa” kata Aileen pada adiknya.


Fadlan menyuruh Qia Kirana membuka pintu depan mobil, kemudian Fadlan mendudukkan Ali Keenan di dalam mobil. Fadlan kemudian kebingungan dan mencari nomor Ben di ponselnya.


“Nona Kirana mencari nomor siapa?”tanya Rafka pada Kirana dengan penasaran,


“Ini asisten direktur Li” kata Kirana dengan wajah yang panik dan tak karuan, hingga ponselnya hampir terjatuh,


“Ehhh..., lebih baik aku saja yang menyetir, kamu tunjukan saja jalannya, oke?” kata Fadlan menangkap ponsel Kirana yang hampir terjatuh,


“Baiklah...” jawaban singkat yang keluar dari mulut Kirana.

__ADS_1


Qia Kirana kemudian masuk ke dalam mobil, dia duduk dibelakang bersama kedua anaknya. Qia Kirana tak berbicara apapapun hanya terus melihat pundak Ali Keenan yang duduk di samping Fadlan.


Sesampainya di depan apartemen, Fadlan membantu Ali Keenan sedangkan Qia Kirana menuntun Aileen dan Ailaa. Ternyata Ben masih berada di lobby apartemen, mengetahui Ali Keenan tak sadarkan diri Ben langsung membantu Fadlan memapah Ali Keenan ke apartemen.


Saat sampai di depan pintu apartemen milik Ali Keenan, Qia Kirana membukakan pintu dengan kunci yang dibawanya. Fadlan yang mengetahui hal itu, menyadari hubungan antara Ali Keenan dan Qia Kirana yang tidak biasa.


Dalam hati Fadlan “Sudah tidak ada kesempatan untukku sepertinya.., tapi tak apa lagi pula aku juga mengagumi laki-laki ini karena berani mempertaruhkan nyawa hanya untuk Kirana” sambil menunjukan eksperesi lega di wajahnya.


“Tuan kesini..!” kata Ben memberitahukan arah kamar Keenan pada Fadlan,


“Ohhh..., iya” kata Fadlan membantu memapah Keenan kedam kamar.


Ben dan Fadlan menidurkan Ali Keenan di atas kasur.


“Kamu bisa keluar aku akan memeriksanya!” kata Fadlan meminta Ben untuk keluar.


Ben keluar tanpa sepatah katapun, melihat Qia Kirana yang duduk di sofa ruang tengah. Saat Qia Kirana tahu Ben keluar dari kamar Ali Keenan, dia beranjak dan menatap Ben serius.


“Bagaimana keadaan direktur Li?” kata Kirana bertanya pada Ben,


“Tuan yang didalam sedang memeriksanya..., nona Kirana sebenarnya siapa dia?” kata Ben menjelaskan dan bertanya pada Kirana,


“Ohhh.., tidak ada nona saya hanya bertanya” kata Ben dengan sopan.


Disaat yang sama Fadlan memeriksa Ali Keenan, dan keluar dari kamar Ali Keenan.


“Tuan Keenan tidak apa-apa..., hanya mungkin kelelahan” kata Fadlan berusaha menyembunyikan obat bius yang menyerang Keenan,


“Ohhh iya terimakasih dokter!” kata Kirana yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,


“Baiklah jika tidak ada lagi.., nona Kirana aku ulang dulu” kata Fadlan pamit pada Kirana karena hari sudah sangat malam sekali,


“Biar saya antar dokter!” kata Ben mempersilahkan Fadlan menuju pintu.


Qia Kirana bergegas ke kamar dan melihat keadaan Ali Keenan. Qia Kirana terduduk di samping tempat tidur Ali Keenan dan menatap dalam-dalam wajah pria dihadapannya.


Disaat yang sama Ben berjalan dengan Fadlan, tiba-tiba Fadlan berhenti dan membalikkan badannya menghadap Ben.


“Kamu asisten tuan Keenan, kan?, bisakah aku meminta sesuatu?” kata Fadlan pada Ben dengan wajah seriusnya,


“Silahkan dokter!” jawab Ben dengan sigap,

__ADS_1


“Tuan Keenan... dia sebenarnya terkena obat bius yang lumayan cukup kuat, tapi sepertinya karena dia memiliki kemampuan khusus menahan racun dan efek samping obat jadi bisa mengejar Kirana hingga tempat parkir, jika itu aku...” kata Fadlan menjelaskan rincian pada Ben,


“Aku minta tolong jangan beritahu Kirana masalah ini, aku merasa tuan Keenan juga ingin merahasiakan ini, dan juga yang melakukannya adalah laki-laki teman kecil Kirana, namanya...?” kata Fadlan menjelaskan sambil mengingat nama Rafka,


“Rafka Gavin maksud dokter?” tanya Ben pada Fadlan,


“Iya dia..., lebih baik aku sarankan untuk mencari tahu dia, agar tidak menyebabkan masalah kedepannya untuk tuan Keenan dan nona Kirana” kata Fadlan menyarankan pada Ben dan menepuk pundak Ben,


“Baik dokter, terimakasih!” kata Ben berterimakasih dengan sopan,


“Ini nomorku.., jika ada apa-apa bisa hubungi aku ya!” kata Fadlan memberikan kartu namanya pada Ben dan berpamitan pulang.


Ben kembali ke apartemen Ali Keenan dan melihat Qia Kirana yang menemani. Ben kemudian mengecek kamar anak-anak, dan melihat mereka sudah tertidur pulas.


Dini hari Ali Keenan bermimpi jika Rafka membawa pergi Qia Kirana setelah dirinya pingsan disamping mobil. Ali Keenan melihat Rafka juga membawa kedua anaknya pergi dengan mobil, dan Rafka berkata “kamu tidak akan menemukkannya lagi kali ini!” sambil tersenyum licik.


“Tidak..., jangan bawa dia pergi!!!!” kata Keenan yang bangun dari tidurnya.


Qia Kirana terbangun dan melihat Ali Keenan yang terduduk diatas kasur. Qia Kirana mendekati Ali Keenan yang terlihat kebingungan, dan setelah menyadari keberadaan Qia Kirana langsung memeluknya dengan erat.


“Direktur Li?” kata Kirana bertanya pada Keenan karena kaget dengan pelukannya,


“Direk...” kata Kirana yang berencana menyadarkan Keenan, tapi terpotong karena kecupan dari Keenan yang tiba-tiba.


Ali Keenan mengecup bibir Qia Kirana dengan lembut, yang membuat wanita itu kaget. Kemudian Ali Keenan melepaskan kecupan lembutnya dan menatap Qia Kirana lalu memeluknya lagi.


“Tolong jangan pergi!, jangan pergi ke tempat dimana aku tidak bisa mengawasimu lagi” kata Keenan sambil meneskan air mata dan terus memeluk erat Kirana.


Hai para pembaca setia Jade Sign of Love ^_^


Gimana nih ceritanya? Masih penasarankan? Terus baca karyaku ya!


Ada pertanyaan buat kalian nih...


Jalan cerita cinta kayak gimana yang membuat kalian berdebar? Apakah pertemuan yang tiba-tuba? Apakah cinta manis yang timbul karena permusuhan? atau Apakah kalian berharap bisa mewujudkan jalan cerita cinta dengan idol kalian?


Jangan lupa di jawab ya ^_^


Terus kasih Like, Komen, dan Hadiah/Tips untuk terus mendukung Author ya ^_^


...~ Bersambung... ~...

__ADS_1


__ADS_2