Anak Genius: Jade Sign Of Love

Anak Genius: Jade Sign Of Love
Kaget Karena Ciuman Ali Keenan


__ADS_3

Qia Kirana kaget dengan pengakuan Ali Keenan, dia tidak percaya jika laki-laki yang menghabiskan malam bersamanya 6 tahun lalu adalah Ali Keenan.


Qia Kirana berpikir lagi, jadi Aileen dan Ali Keenan mirip adalah bukan suatu kebetulan, itu karena Ali Keenan adalah ayah dari anak-anaknya.


Ali Keenan menatap kedua mata Qia Kirana yang masih tenggelam dalam lamunannya, jantungnya bedegup tidak karuan.


Dalam hati Keenan “Setiap aku melihatnya, setiap aku mendengar suaranya, aku melupakan semua yang ada di sekitarku..., semenjak kapan aku begitu tergila-gila padanya sampai beberapa kali hilang kendali?”


“Qia! Aku akan menceritakan kejadian 6 tahun lalu, jadi duduklah!” ajak Keenan pada Kirana untuk kembali duduk diatas mobil,


Qia Kirana berusaha naik ke atas mobil Pajero tapi kesulitan, Ali Keenan yang melihatnya menggendong Qia Kirana dan mendudukkannya di atas mobil.


“Bisakah kamu berkata jika tidak bisa naik..?, aku dengan senang hati menggendongmu” kata Keenan tersenyum melihat Kirana yang tersipu malu karena ucapannya dan kemudian menyusul duduk di atas mobil.


“Awalnya aku ke hotel untuk membicarakan kerjasama karena baru saja membuka perusahaan di Bandung” kata Keenan memulai ceritanya,


“Saat kerjasama telah disepakati, aku merasa sedikit mabuk dan kembali ke kamar 216, tidak beberapa seseorang mengetuk pintu kamar dan ternyata seorang wanita” kata Keenan menjelaskan situasinya saat itu,


“Aku kaget saat wanita itu tiba-tiba menciumku, lalu aku berpikir kenapa dengan wanita ini?, dan kamu pasti tahu yang terjadi pada akhirnya.., ketika bangun di pagi hari aku hanya menemukan sepucuk surat dari wanita itu” jelas Keenan dengan menoleh dan menatap dalam pada Kirana,


“Aku mengenalimu saat kita bertemu lagi setelah 6 tahun berlalu...” kata Keenan mengakhiri cerita itu,


Dalam hati Kirana “Bukankah aku pergi ke kamar 219 hari itu, dan aku tidak ingat laki-laki yang bersamaku malam itu..., aku masih tidak percaya jika laki-laki itu adalah dia” menatap Keenan dengan keragu-raguannya.


Disaat yang sama di motel, Aileen dan Ailaa merasa kalau ibunya sudah pergi terlalu lama. Aileen dan Ailaa menatap Ben yang mengawasi gerak gerik mereka berdua.


“Kak..! Bisakah kamu mencari lokasi ibu sekaran dimana?” tanya Ailaa berbisik pada kakaknya karena khawatir,


“Tapi aku butuh bantuanmu, untuk mengalihkan perhatiannya” kata Aileen membalas bisikan Ailaa serta memberikan kode untuk mengalihkan perhatian Ben.


Aileen tidak ingin Ben tahu tentang keahliannya, meskipun Ali Keenan sudah mengetahui hal itu.


“Baik kak! Serahkan padaku!” kata Ailaa berbisik lagi dan menunjukan wajah percaya dirinya,


“Apa yang tuan Aileen dan nona Ailaa bisikkan?” tanya Ben pada Aileen dan Ailaa,

__ADS_1


“Tidak ada paman!, hanya membicarakan suatu permainan untuk dimainkan” kata Ailaa pada Ben dengan nada kekanakan,


“Baiklah..., apakah saya bisa ikut?” tanya Ben menawarkan dirinya,


“Pasti boleh ya kan kak!” kata Ailaa memberikan isyarat pada Aileen untuk bersiap ikuti sandiwaranya,


“Hmmm..., boleh!, boleh!” kata Aileen menjawab,


“Cara mainnya adalah kakaku akan menuliskan kata di kertas, aku akan menuliskan kata di punggung paman, dan paman akan menang kalau bisa menebaknya dengan betul” kata Ailaa menjelaskan aturan permainan yang dibuatnya,


“Ayo! Bisa kita mulai sekarang?!” kata Ben dengan percaya diri,


Kemudian Aileen menuliskan kata ‘Bahasa bahaya’, Aila mulai menuliskannya dengan sedikit cepat.


“Bahasa bisa?” tebak Ben,


“Salah paman! Akan aku ulangi” kata Aileen yang mulai menulis dan menekan titik lemah di punggung Ben,


Kemudian Ailaa mengihung mundur dengan bahasa bibir dari hitungan tiga, dua, satu dan Ben jatuh tertidur.


“Kak! Tidak mungkin kan ibu bersiap untuk naik pesawat dan meninggalkan kita?” tanya Ailaa pada kakaknya serius,


“Aku akan bertanya padanya...” kata Aileen pada adiknya.


Di bandara Husein Ali Keenan mendapatkan sebuah pesan dengan pengirimnya adalah nomornya sendiri. Ali Keenan sudah mengetahui bahwa yang mengirimnya pasti adalah Aileen.


‘Kamu.., membawa ibuku kemana?, jangan kira aku tidak mengetahuinya..., bawa pualng ibuku sekarang juga!’.


Ali Keenan tertawa dengan pesan yang dikirimkan Aileen padanya, dalam hati Keenan “Anak ini begitu posesif terhadap ibunya!, apakah nanti dia juga akan terus begini?” masih terkekeh karena membayangkan sikap Aileen,


‘Baik tuan muda!’ kata Keenan membalas pesan Aileen dengan bahasa serius dan formal.


Di motel,


“Siapa yang dia sebut tuan muda?!, Heh” kata Aileen dengan menyeringai.

__ADS_1


Di lapangan terbang Husein, Ali Keenan mengajak Qia Kirana untuk pulang bersamanya karena hari sudah sangat malam.


Selama perjalanan pulang Qia Kirana memalingkan wajahnya dan melihat ke arah luar mobil.


Ali Keenan mengetahui jika Qia Kirana menghindarinya, di perempatan jalan lampu lalu lintas menunjukan lampu merah dan dia memberhentikan mobilnya.


“Qia!” panggil Keenan pada Kirana,


“Apa direktur Li?” jawab Kirana yang masih memalingkan wajahnya,


“Sampai kapan kamu akan menghindariku terus?” tanya Keenan pada Kirana dengan nada serius sambil melepas sabuk pengamannya,


“Aku tidak menghindarimu!” kata Kirana sambil melihat ke arah Keenan,


“Jika kamu tidak menghindariku, lihatlah aku!” kata Keenan dengan arah pandang pada Kirana,


Qia Kirana menatap kedua mata Ali Keenan yang penuh dengan bayangan wajahnya, dengan sorot lampu jalan di sekeliling mereka.


Ali Keenan kemudian memegang wajah Qia Kirana dengan tangan kirinya, kemudian kesadarannya yang terasa seperti terhipnotis oleh wanita di hadapannya. Ali Keenan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Qia Kirana, seketika itu Qia Kirana kaget dan membelalakan matanya.


Dalam hati Keenan “Meskipun dia kaget.., tapi kenapa dia tidak menolak?” tersadar dengan perlakuannya pada Qia kirana,


Seketika lampu merah menunjukan warna kuning dan menyinari wajah Ali Keenan dan Qia Kirana. Ali Keenan menyadari lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau, kemudian dia mengenakan sabuk pengamannya lagi dan lanjut mengemudi.


Qia Kirana kaget sekaligus bingung dan malu, semua perasaan bercampur menjadi satu.


Dalam hati Kirana “Mengapa dia melakukan hal itu? Tadi itu..., ciuman..?” sambil memalingkan wajahnya dan menyentuh bibir dengan tangannya.


Ali Keenan melihat bayangan Qia Kirana yang terpantul dari kaca mobil yang tersipu malu dan wajah yang bingung.


Dalam hati Keenan “Apa yang kamu lakukan Keenan.., kamu baru saja mendekatinya kembali, apa kamu ingin dia lari darimu lagi?” sambil terus serius mengendarai.


Ali Keenan merasa jika dia terus melihat Qia Kirana dia akan terus kehilangan kendali dirinya sendiri.


Qia Kirana terus mengingat ciuman bersama Ali Keenan, dan ingatannya terbang ke hari 6 tahun yang lalu. Qia Kirana ingat telah mencium paksa seorang laki-laki yang membukakan pintu kamar yang di ketuknya.

__ADS_1


...~ Bersambung... ~...


__ADS_2