
“Ada apa, Qia?” tanya Keenan sambil membelai lembut kepala Kirana,
“Ayahku..., dia sakit dan sekarang masih di rawat di ruang ICU” kata Kirana sambil masih menangis di pelukan Keenan,
“Tuan Umbara?, tenang aku ada disini...!!, kamu bisa mengandalkanku...” kata Keenan mendekap Kirana lebih erat.
Kemudian Ali Keenan menghubungi Ben untuk menjaga Soni Umbara, dengan segera Ben datang ke rumah sakit Dustira. Sesampainya Ben di rumah sakit Dustira, dia menemui Ali Keenan sebelum ke ruang ICU.
“Sepertinya aku perlu merekrut satu orang asisten lagi, Ben!” kata Keenan sambil menggendong Kirana ditangannya.
“Baik direktur Li!” kata Ben dengan arah pandang tidak fokus pada Keenan tetapi melihat Kirana,
“Apa yang sedang kamu lihat?!” kata Keenan mengingatkan Ben dengan nada tinggi,
“Tidak ada direktur Li!” kata Ben langsung memalingkan mukanya,
“Aku minta kamu menjaga tuan Umbara dengan baik!, jika ada apa-apa hubungi aku!” kata Keenan sambil membawa pergi Kirana.
Ben berjalan ke ruang ICU sedangkan Ali Keenan berjalan ke tempat parkir rumah sakit.
Ali Keenan dengan hati-hati membaringkan Qia Kirana di tempat duduk depan dan memasangkan sabuk pengaman. Kemudian Ali Keenan masuk ke dalam mobil dan bersiap menjalankan mobil.
Dalam hati Keenan “Aku tidak mungkin membawa dia dalam keadaan seperti ini ke apartemen.., apalagi dengan adanya anak-anak” sambil menjalankan mobilnya.
Ali Keenan mengendarai mobil ke hotel Simply Valore, dia membawa Qia Kirana turun setibanya di hotel. Ali Keenan masih membawa Qia Kirana dalam pangkuannya dan memesan kamar hotel.
Pelayan hotel tampak familiar dengan wajah Ali Keenan dan memotretnya yang sedang menggendong seorang wanita ke hotel.
“Nona!, tolong hapus foto yang anda ambil selagi saya masih bicara baik-baik!” kata Keenan dengan sopan.
Tanpa menjawab pelayan itu menghapus foto Ali Keenan dan memperlihatkannya, tanpa membalas Ali Keenan berjalan menuju lift.
Sebelum sampai di kamar, Qia Kirana setengah sadar meronta saat berada di pangkuan Ali Keenan.
“Aku bisa jalan sendiri direktur Li...” kata Kirana yang masih setengah sadar karena mabuknya,
“Baiklah.., aku akan menurunkanmu!” kata Keenan sambil menurunkan Kirana dari pangkuannya,
Dengan tubuh yang sempoyongan Qia Kirana berusaha berdiri tegak, tapi badan sampingnya malah menabrak tembok.
“Sini aku papah sampai ke kamar!” kata Keenan sambil memegang tangan Kirana dan memapahnya ke dalam kamar.
__ADS_1
Setibanya di dalam kamar, Qia Kirana memaksa Ali Keenan untuk terduduk di kasur hotel. Qia Kirana mulai menangis lagi dan menceritakan semua keluh kesahnya pada Ali Keenan.
“Tenang ada aku disini..! Ada aku disini!” kata Keenan dengan menggenggam tangan Kirana,
“Tangan ini sakit!” kata Kirana sambil bersikap manja pada Keenan menunjukkan tangannya yang menabrak tembok,
“Sakit? Ini?” kata Keenan memegang tangan Kirana lalu mengecupnya lembut,
“Sudah.., sekarang tidurlah!” kata Keenan menyuruh tidur pada Kirana.
Qia Kirana menuruti Ali Keenan dan bersiap untuk tidur, dia membuka mantelnya dan hampir melepaskan bajunya.
“Apa yang kamu lakukan?!” tanya Keenan kaget sambil berusaha memakaikan lagi baju Kirana,
“Aku akan tidur! Jadi ingin mengganti pakaian...” kata Kirana pada Keenan,
“Pakai saja! Jika panas aku akan mencari remot AC..., tunggu sebentar!” kata Keenan bergegas mencari remot AC.
Ketika Ali Keenan sudah menyalakan AC, dilihatnya Qia Kirana sudah tertidur pulas dengan pakaian yang setengah terbuka. Ali Keenan berusaha menahan dirinya, kemudian menyelimuti dan berusaha membetulkan posisi tidur Qia Kirana.
Ali Keenan tidur di sofa dan merasa ada sesuatu hal yang belum dia urus dan dia lupakan sampai dia tertidur.
Keesokan harinya, Qia Kirana terbangun dan melihat ke sekeliling kamar hotel.
Qia Kirana berjalan ke kamar mandi dan menemukan Ali Keenan yang tertidur di atas sofa.
“Direktur Li? Kenapa aku bisa bersama dengannya? Bukankah aku di rumah sakit?” tanya Kirana dengan nada pelan pada dirinya sendiri,
Ali Keenan yang menyadari Qia Kirana yang sudah bangun dengan mata yang masih terpejam berkata “Kamu sudah bangun? bagaimana keadaanmu? Masih merasa sakit?” bermaksud menanyakan dua hal yang berbeda antara mabuknya dan tangannya yang sakit.
“Direktur Li.., Apa kita sudah melakukan sesuatu?” kata Kirana berpikir bahwa dirinya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya pada Keenan,
“Hmmm..., Aku bertanya tanganmu..., itu apa masih sakit? Dan bagaimana keadaanmu itu.., apa masih mabuk?” kata Keenan menengadahkan kepalanya melihat Kirana.
Qia Kirana berjalan cepat ke arah kamar mandi dan menguncinya, Ali Keenan bingung dengan sikap Qia Kirana.
“Apa aku salah bertanya?” kata Keenan membuka matanya dengan bingung.
Ali Keenan mengingat hal yang dia lupakan adalah anak-anak di apartemen yang dia tinggalkan. Segera Ali Keenan merapihkan pakaiannya dan menunggu Qia Kirana keluar dari kamar mandi.
“Kita harus segera pulang!” kata Keenan khawatir,
__ADS_1
“Kenapa? Aku masih harus menjaga ayahku!” kata Kirana bertanya-tanya pada Keenan,
“Ada Ben di rumah sakit menjaga ayahmu, tapi aku melupakan anak-anak karena semalam...” kata Keenan dan bergegas menarik tangan Kirana,
“Maafkan aku direktur Li!!” kata Kirana merasa bersalah pada Keenan dan juga kedua anaknya,
Ali Keenan berhenti dan membalikkan badannya, kemudian tiba-tiba mengecup kening Qia Kirana.
“Sudahlah..! Ini semua salahku karena tidak bisa mengantisipasi jika terjadi hal seperti ini!” kata Keenan mencoba menenangkan Kirana.
Ali Keenan dan Qia Kirana bergegas pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Ali Keenan dan Qia Kirana melihat Aileen dan Ailaa yang tertidur di ruang tamu menunggu kepulangan mereka.
Ali Keenan dengan hati-hati menggendong Ailaa ke kamarnya dan kemudian menyelimutinya. Kemudian saat Ali Keenan mengendong Aileen untuk pindah ke kamar, dia merasa Aileen demam.
Qia Kirana melihat ekspresi Ali Keenan yang tidak biasa, kemudian dia mengecek Aileen yang ternyata demam. Qia Kirana mengukur suhu badan Aileen sudah 39 derajat Celcius.
Dengan segera Ali Keenan membawa Aileen dan Qia Kirana ke rumah sakit Mitra Kasih. Selama perjalanan Ali Keenan melihat Qia Kirana yang memeluk Aileen di kursi belakang mobilnya.
“Maafkan aku Qia! Aku tidak bisa menjaga anak-anak dengan baik!” kata Keenan sambil melihat ke spion dalam mobil,
“Bukan salah direktur Li.., ini juga salahku tidak seharusnya aku menyusahkanmu!” kata Kirana yang tertunduk tidak melihat ke arah Keenan.
Sesampainya di rumah sakit Mitra Kasih, Ali Keenan langsung mengendong Aileen di tanggannya dan berlari ke dalam rumah sakit. Setelah Aileen ditangani oleh dokter spesialis anak ternyata Aileen hanya demam karena flu, yang membuat Ali Keenan dan Qia Kirana lega.
“Ibu Kirana!” kata dokter Fadlan memanggil Kirana untuk masuk,
“Iya dok!” kata Kirana masuk ke ruangan dokter Fadlan,
“Saya sarankan jika Aileen di rawat di rumah sakit saja selama beberapa hari! Bisa saya berbicara dengan ayahnya juga?” kata dokter Fadlan mencari sosok Keenan yang membawa Aileen ke rumah sakit,
“Dia bukan suami saya dok..!, apa tidak cukup jika saya sebagai walinya?” kata Kirana bertanya pada Fadlan,
“Ohhh..., cukup bu.., baik jadi bagaimana?” tanya Fadlan dengan memberikan dokumen rawat inap,
“Bisakah saya merawatnya di rumah?” tanya Kirana dengan ragu,
“Tentu bisa..!, karena perawatan anak-anak berbeda dengan orang dewasa.., saya akan lebih mendetailkan langkah-langkah pemberian obat dan asupan makannya dan lainnya” kata Fadlan menjelaskan banyak hal pada Kirana.
Setelah semuanya beres, Ali Keenan membawa Aileen pulang dengan Qia Kirana.
Dokter Ardi Fadlan keluar dari ruangannya dan melihat ke arah Ali Keenan dan Qia Kirana.
__ADS_1
...~ Bersambung... ~...