Anak Genius: Jade Sign Of Love

Anak Genius: Jade Sign Of Love
Bertemu dengan Danisha


__ADS_3

Ali Keenan berada di atas Qia Kirana, dan keduanya saling bertatapan satu sama lain. Ali Keenan di sadarkan oleh ponsel milik Qia Kirana yang berdering, dan kemudian beranjak dari sana.


Qia Kirana terduduk dan melihat ponselnya, ternyata telpon dari Danisha Azkia.


“Halo!” kata Kirana,


“Halo, Kirana!, Apa kita bisa bertemu?” tanya Danisha pada Kirana,


“Bisa..., aku sedang berada di mall sekarang, nanti aku ke rumahmu setelah ini” kata Kirana yang bermaksud datang ke rumah Danisha,


“Tidak perlu!, aku akan kesana.., kamu tunggulah disitu, ya!” kata Danisha meminta Kirana untuk menunggu di mall dan mengakhiri telpon.


Ali Keenan penasaran dari siapa Qia Kirana menerima telpon.


Dalam hati Keenan “Apakah itu Rafka? Atau Haris?” dengan wajah dinginnya,


“Telpon dari siapa?” tanya Keenan dengan wajah yang sedikit tegang,


“Ini temanku.., waktu itu direktur Li pernah bertemu dengannya satu kali” kata Kirana menjawab pertanyaan Keenan,


Ali Keenan hanya terdiam dan tidak menjawab lagi, dia merasa lebih tenang jika itu adalah Danisha. Qia Kirana pergi ke foodcourt dan Ali Keenan terus mengikutinya.


Danisha Azkia melihat ke arah Qia Kirana, dia menyadari keberadaan Ali Keenan yang tepat berada dibelakang sahabatnya itu.


Danisha dan Qia Kirana duduk berhadapan, Ali Keenan memesankan minuman untuk mereka berdua dan memberi waktu untuk berbicara.


“Bagaimana kabarmu, Kirana?” kata Danisha dengan khawatir,


“Aku sudah tidak apa-apa...” kata Kirana pada Danisha,


“Baguslah..., bagaimana dengan hubunganmu dan Rafka?” tanya Danisha merasa lega tapi tetap ingin mengetahui hubungan kedua sahabatnya,


“Dia..., dia...” kata Kirana terbata-bata,


“Lebih baik kamu tidak perlu mengungkitnya..., jika tidak ingin mengungkitnya!” kata Keenan sambil membawa minuman untuk Kirana dan Danisha.


Danisha mengetahui Ali Keenan sangat menjaga perasaan Qia Kirana dengan baik. Tapi Danisha merasa aneh dengan ekspresi wajah Qia Kirana yang berubah hanya karena membahas hubungannya bersama Rafka Gavin.


Danisha juga seperti mendapat kode dari Ali Keenan untuk tidak membahas Rafka Gavin dihadapan Qia Kirana.


“Jadi... kamu dan diretur Li sudah membeli apa?” tanya Danisha mengalihkan pembicaraan,


“Aku membeli kebutuhan sehari-hari...” jelas Kirana yang tersadar dari kegugupannya,


“Kamu..., dan... direktur Li...” kata Danisha menunjuk ke arah Kirana dan Keenan,


“Kirana sementara tinggal di apartemenku... bersama anak-anaknya sampai mendapatkan tempat tinggal” kata Keenan berusaha membantu Kirana menjelaskan pada Danisha,

__ADS_1


Dalam hati Kirana “Apa dia.... dia berusaha membantuku menjelaskan pada Danisha?” melihat ke arah Keenan.


Setelah Qia Kirana berbaikan dengan Danisha, Ali Keenan membawa Qia Kirana pulang bersamanya ke apartemen. Qia Kirana membereskan semua barang miliknya dan milik kedua anaknya.


Ali Keenan yang melihat apartemennya kini ramai dan seperti memiliki kehangatan tersendiri. Ali Keenan memasak makan malam dan merapihkan meja makan.


Qia Kirana yang sedang membereskan bajunya mendapatkan sebuah telpon dari Raisa.


Kring... Kring... Kring...


“Halo..., ibu ada apa menelpon?” tanya Kirana pada ibunya,


“Kirana..., bisakah... kamu datang ke rumah sakit Dustira sekarang?” tanya Raisa pada Kirana sambil menangis,


“Ibu tenanglah..., ada apa sebenarnya?” tanya Kirana dengan hati yang merasa firasat tidak mengenakkan,


“Ayahmu..., dia masuk rumah sakit..., siang tadi dia pingsan dan terjatuh dari kasurnya...” kata Raisa mencoba menjelaskan dan mencoba menyusun kata dengan benar,


“Baik..., ibu tenangkan dulu diri ibu!, aku akan pergi kesana sekarang...” kata Kirana sambil bergegas menutup telpon dan memesan mobil online,


Dalam hati Kirana “Lebih baik jika aku tidak memberi tahu direktur Li..., aku sudah banyak merepotkannya...” sambil bersiap untuk pergi.


Aileen melihat ibunya pergi begitu saja tanpa disadari oleh Ali Keenan. Aileen melihat Ali Keenan yang masih sibuk memasak di dapur.


“Ibuku sudah pergi...!” kata Aileen memberitahu Keenan yang terlalu fokus memasak di dapur,


“Ohhh..., Kemana?” tanya Keenan datar yang awalnya tidak menyadari,


“Astaga!, ini sudah mau malam..., dia mau kemana...” kata Keenan sambil bergegas merapikan dapur,


“Paman biar aku saja..., pergilah!!” kata Ailaa menawarkan dirinya untuk merapikan dapur dan menyajikan makanan yang sudah dimasak Keenan,


Ali Keenan bergegas lari ke pintu, saat dia keluar dari apartemen tiba-tiba dia kembali.


“Ohhh iya..., kalian jangan pergi kemanapun, ya!, baik-baiklah menjaga rumah sampai aku membawa ibu kalian pulang!” kata Keenan berbicara dengan cepat dan kemudian pergi lagi,


“Kak!, aku tidak tahu jika kamu merestui ibu dan paman yang mirip denganmu itu...” kata Ailaa berbicara pada kakaknya sambil masih menyiapkan makanan,


“Tidak... aku tidak...!” kata Aileen dengan wajah yang sedikit malu karena Ailaa mengetahuinya,


“Tenang kak!, aku juga menyukai paman itu..., aku lihat dia bisa diandalkan untuk menjaga ibu...” kata Ailaa sambil tersenyum pada Aileen.


Sesampainya Qia Kirana di rumah sakit, dia langsung menanyakan gedung untuk rawat inap penyakit jantung. Qia Kirana pergi ke arah yang ditunjukan oleh perawat, tapi sesampainya disana dia tidak menemukan ibunya.


Kring... Kring... Kring...


“Halo bu!, aku sudah di ruang rawat inap” kata Kirana sambil melihat ke area sekeliling,

__ADS_1


“Kirana!, ayahmu... dia sekarang sedang di ICU!” kata Raisa memberitahu Kirana bahwa Soni Umbara dalam keadaan kritis,


“Aku akan kesana sekarang!” kata Kirana dengan nada lemas dan kaget.


Qia Kirana lari ke arah ruang ICU, dilihat ibunya sedang berada di depan ruangan.


“Ibu! Aku disini!, bagaimana ayah?” kata Kirana menyapa ibunya,


“Ayahmu masih di dalam!” kata Raisa sambil memeluk Kirana,


“Tenanglah bu! Aku akan menjaga ayah.., ibu istirahatlah!” kata Kirana mencoba menguatkan Raisa padahal dirinya juga terguncang.


Setelah beberapa lama, dokter keluar dan memberitahukan bahwa Soni Umbara masih harus dirawat di rumah sakit, untuk melihat perkembangannya setelah mengalami kritis.


Raisa terguncang dan terduduk lemas mendengar hal itu, dan Kirana mencoba memapah ibunya untuk duduk di kursi.


“Jika terus seperti ini..., dari mana ibu mendapatkan uang untuk pengobatan ayahmu, Kirana?” tanya Raisa sambil menangis,


“Tenanglah, bu! Ada aku, aku akna memikirkan cara membayar pengobatan ayah...” kata Kirana memeluk ibunya.


Setelah ibunya beristirahat, karena soni umbara masih dibawah pengawasan dokter dan perawat jadi Qia Kirana berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.


Dalam hati Kirana “Ayah yang mencintaiku setulus hatinya..., meski bukan orang tua kandungku tapi dia membesarkanku dengan kasih sayang yang sangat besar...” sambil berjalan keluar rumah sakit tanpa disadari.


Qia Kirana yang merasa banyak yang terjadi pada dirinya belakangan ini pergi ke mini market dan membeli beberapa minuman beralkohol rendah. Qia Kirana meminumnya dan merasa sedikit mabuk, dan kemudian ponselnya berdering.


Kring... Kring... Kring...


“Halo! Qia kamu sekarang ada dimana?” tanya Keenan lewat telpon,


“Aku... aku sekarang ada di rumah sakit Dustira” kata Kirana setengah sadar,


“Tunggu dan jangan kemana-mana!” kata Keenan memerintahkan Kirana untuk tidak pergi kemanapun.


Sesampainya Ali Keenan di rumah sakit, dia menelpon Qia Kirana tapi tidak bisa tersambung. Ali Keenan khawatir dengan keadaan Qia Kirana.


“Kenapa dia pergi ke rumah sakit? Apa dia sakit?” tanya Keenan pada dirinya sendiri sambil terus berlari mencari Kirana,


“Ketemu!” kata Keenan melihat Kirana yang terduduk di kursi taman karena sedikit mabuk.


Ali Keenan kemudian berjongkok dan melihat Qia Kirana yang tertidur di kursi. Ali Keenan merasa aneh dan mencium bau sekitar Qia Kirana, kemudian mengetahui jika Qia Kirana mabuk hanya karena alkohol rendah.


“Kenapa denganmu hari ini? Kamu tahu akan mabuk meminum beberapa tapi kamu tetap saja meminumnya...” kata Keenan membisikan pada Kirana sambil melihat Kirana,


Tiaba-tiba Qia Kirana terbangun dari tidurnya dan melihat Ali Keenan dihadapannya. Kemudian Qia Kirana yang masih sedikit mabuk langsung memeluk Ali Keenan.


“Direktur Li!!” kata Kirana sambil menangis,

__ADS_1


Ali Keenan terkejut dengan pelukan dan tangisan Qia Kirana padanya.


...~ Bersambung... ~...


__ADS_2