
Qia Kirana masih terdiam bahkan setelah sampai di motel, kemudian Ali Keenan menyadari hal itu merasa tidak enak hati.
“Maafkan aku karena telah lancang menciummu!” kata Keenan dengan wajah lurus kedepan dan tidak melihat Kirana,
“Baiklah direktur Li, aku anggap tidak terjadi apapun diantara kita” kata Kirana pada Keenan dengan suara yang pelan tapi masih terdengar,
Dalam hati Keenan “Kenapa hatiku sakit saat kamu mengatakan itu?, aku berharap meski kamu tidak menganggapnya tapi di dalam hati mengingatnya” langsung berubah dengan ekspresi sedih.
Qia Kirana turun dari mobil pajero itu, disusul dengan Ali Keenan yang turun.
“Tunggu Qia!” kata Keenan memanggil Kirana,
“Ada lagi direktur Li?” tanya Kirana pada Keenan yang mencoba mencegahnya masuk ke motel,
“Biarkan aku mencarikan tempat tinggal untukmu, oke?” kata Keenan menawarkan pada Kirana,
“Tidak perlu direktur Li, aku bisa mencarinya sendiri nanti..., maaf sudah merepotkan!” kata Kirana dengan sungkan menolak tawaran Keenan,
“Jika kamu menolaknya, maka tinggalah bersamaku!!, akhir minggu ini aku akan menjemputmu” kata Keenan pada Kirana dengan nada yang seperti memberi dua pilihan yang salah satunya harus terpenuhi,
“Baiklah.! Terserah direktur Li jika ingin mencarikan tempat tinggal untukku.., tapi aku akan membayarnya sendiri!” kata Kirana sambil berjalan masuk ke motel,
Ali Keenan mengikuti Qia Kirana masuk ke motel.
“Kenapa direktur Li masih mengikuti saya?” kata Kirana membalikkan badannya dan bertanya,
“Aku hanya ingin memanggil Ben untuk mengantarku pulang.., dia ada bersama anak-anak” kata Keenan sambil menunjuk ke arah kamar Kirana.
Sesampainya di depan kamar, Ali Keenan masuk terlebih dahulu dan melihat Ben yang tertidur di lantai. Ali Keenan kemudian melihat Aileen yang sedang mengotak-atik laptopnya, dengan segera Ali Keenan mencegah Qia Kirana masuk ke kamar.
“Qia jangan masuk dulu!” kata Keenan mencoba melindungi Aileen agar Kirana tidak mengetahuinya,
Aileen yang menyadari hal itu langsung memasukkan laptopnya ke dalam tas, dan dengan cepat Ali Keenan memberikan isyarat tangan menunjuk ke arah Ben pada Aileen dan Ailaa.
Ailaa mengerti apa yang dimaksudkan Ali Keenan, dan kemudian dengan cepat mengambil spidol di tasnya kemudian mencorat-coret wajah Ben.
“Ada apa direktur Li?, Apa anda akan melarang saya masuk dan melihat anak-anak saya sendiri?” tanya Kirana pada Keenan yang menghadangnya dengan tatapan bingung.
Kemudian Ali Keenan berpura-pura tidak bisa menahan lagi Qia Kirana untuk masuk. Qia Kirana kaget karena wajah Ben yang penuh dengan coretan karena perbuatan kedua anaknya.
“Ini... ini...” kata Kirana menujuk ke arah Ben yang sedang tertidur di lantai,
Ali Keenan mengetahui bahwa selain Aileen, Ailaa juga memiliki suatu kemampuan bahkan Ben bisa dibuat tidur olehnya.
__ADS_1
“Mungkin dia terlalu lelah...” kata Keenan dengan senyum terpaksa,
Ali Keenan berusaha membangunkan Ben yang tertidur, setelah Ben bangun dia memerintahkannya untuk mencuci muka dan mengantarnya pulang.
Selama perjalanan Ali Keenan bingung bagaimana bisa Ben tertidur dalam keadaan seperti itu.
“Ben! Apa kamu ingat bagaimana kamu bisa tertidur?” tanya Keenan pada Ben,
“Saya ingat.., Saya merasa pusing..., lalu setelah itu saya tidak ingat apapun lagi” kata Ben berusaha mengingat dan menjelaskannya pada Keenan,
“Saya minta maaf direktur Li..!!, karena tidak menjalankan tugas dengan baik” kata Ben merasa menyesal karena kelalaiannya,
“Lain kali jangan diulangi!” kata Keenan dengan berusaha menutupi bahwa itu adalah ulah Ailaa.
Keesokan harinya, Rafka Gavin datang ke hotel dengan bermaksud menemui Qia Kirana. Qia Kirana Baru selesai membereskan pekerjaan terakhirnya hari itu, dan Syifa memberitahunya bahwa ada seorang laki-laki yang mencarinya.
Dalam hati Kirana “Ali Keenan.., untuk apa terlalu sering mencariku di tempat kerja” sambil berjalan ke arah ruang ganti karyawan.
Qia Kirana menganti bajunya dan berjalan ke lobby hotel menyangka Ali Keenan yang mencarinya. Saat Qia Kirana tahu yang mencarinya adalah Rafka Gavin, dia terburu-buru untuk keluar dari hotel.
Rafka Gavin melihat Qia Kirana yang akan keluar dari hotel dan berlari mengejar.
“Kirana tunggu!!” kata Rafka sambil mencengkram tangan Kirana dengan sangat erat,
“Maafkan aku! Maaf karena kejadian yang terakhir kali!” kata Rafka berusaha meminta maaf pada Kirana,
“Aku telah memaafkanmu Rafka..” kata Kirana dan berusaha melepaskan genggaman tangan Rafka,
“Jadi kenapa kamu pindah dari rumah Danisha.., dan juga kenapa kamu tidak bisa aku hubungi?” kata Rafka sambil menarik tangan Kirana,
“Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.., dan juga aku telah memutuskan hubungan kita!” kata Kirana pada Rafka,
“Dengarkan penjelasanku dulu! Iya, memang semua adalah kesalahanku karena tidak bisa melindungimu dengan baik..., dan apakah aku setuju kamu memutuskan hubungan begitu saja denganku?!!” kata Rafka sambil menarik Kirana untuk masuk ke dalam mobil,
“Rafka!!!, kamu akan membawaku kemana?!” tanya Kirana sedikit takut,
Dalam hati Kirana “Dia bukan Rafka yang aku kenal, dia akan membawaku kemana”.
Ben yang sedang bersama dengan Ali Keenan untuk menjemput Qia Kirana melihat hal itu.
“Direktur Li!, Aku melihat nona Kirana di bawa tuan Rafka ke dalam mobilnya dengan paksa!” kata Ben berusaha memberitahu Keenan yang sedang memeriksa ponselnya,
“Apa?!! Dia berani?!!” kata Keenan dengan wajah yang langsung melihat ke depan dan Ekspresi marah.
__ADS_1
Kemudian Rafka masuk ke mobil dan mengendarai mobilnya keluar dari hotel.
Ali Keenan meminta Ben untuk turun dari mobil, dengan segera Ali Keenan mengambil alih kemudi dan menyusul Rafka Gavin.
Rafka Gavin mengendarai mobilnya dengan lumayan cepat.
“Rafka! Ada apa denganmu hari ini?” kata Kirana pada Rafka,
Rafka Gavin terdiam dan terus mengemudikan mobilnya, Qia Kirana baru melihat sikapnya yang seperti ini.
Ali Keenan yang sedang menyusul Rafka Gavin menghubungi Ben.
Kring...kring... kring...
“Iya direktur Li?” kata Ben,
“Aku titip anak-anak lagi padamu.., tolong jaga mereka baik-baik!” kata Keenan sambil langsung mematikan telpon.
Di mobil Rafka Gavin,
“Rafka!! Kamu akan membawaku kemana?!!” tanya Kirana yang melihat sekeliling jalan,
“Aku akan membawamu lari...,” kata Rafka dengan wajah yang serius,
“Berhenti!!, Rafka aku bilang berhenti!!” kata Kirana pada Rafka,
Rafka Gavin seketika memberhentikan mobilnya, dan membuka sabuk pengamannya. Rafka mendekatkan dirinya pada Qia Kirana, dan melihat Qia Kirana yang sudah tidak mengenakan cincin darinya lagi.
Rafka Gavin kehilangan kendalinya dan berusaha mencium paksa Qia Kirana.
“Apa yang mau kamu lakukan, Rafka?!!!” kata Kirana menampar Rafka refleks,
Ali Keenan menyusul mobil Rafka Gavin, dan melihat mobil itu telah berhenti. Ali Keenan kemudian memarkirkan mobilnya di depan mobil Rafka Gavin dan bergegas turun.
Ali Keenan melihat Rafka Gavin yang berusaha mencium Qia Kirana dengan paksa dan di tampar oleh Qia Kirana. Ali Keenan marah dan memukul bumper depan mobil Rafka Gavin dengan kedua tangannya.
Rafka Gavin yang menyadari hal itu kaget dan turun dari mobilnya.
Kemudian Ali Keenan menonjok wajah Rafka Gavin dengan kencang. Rafka Gavin tersungkur dan melihat ke arah Ali Keenan.
“Ini karena kamu telah memaksa membawa pergi Qia!!” kata Keenan dengan wajah marahnya dan nada yang tinggi.
...~ Bersambung... ~...
__ADS_1