
“Apakah ini alasannya kamu menikahi laki-laki ini?” tanya Evan Rahardian menunjuk pada Rafka Gavin,
Ben datang karena permintaan dari Ali Keenan untuk memberikan hadiah pada Qia Kirana, tapi pesta pertunangan itu mulai memanas. Ben merasa mengenal wajah anak laki-laki yang bersama Qia Kirana, dan kemudian dia menelpon Ali Keenan.
“Bukan ayah.., bukan begitu..,” jawab Qia Kirana menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca,
“Ibu..,” kata Aileen dan Ailaa dengan wajah yang takut,
~ Disisi lain Ali Keenan mengangkat telpon dari Ben. ~
“Ada apa? Apa Qia tidak menyukai hadiah dariku?” tanya Ali Keenan pada Ben,
“Bukan Direktur Li!, aku belum sempat memberikan hadiahnya” jawab Ben pada Ali Keenan,
~ Di pesta pertunangan ~
“Tuan Rahardian! Mohon anda tarik kembali ucapan anda.., anak kembar ini bukan cucu kami, ” kata orang tua Rafka Gavin,
“Rafka menikahi putri anda karena ingin memberikan status baik untuk kedua anaknya juga” tambah ibu dari Rafka Gavin tidak terima anaknya dituduh sebagai laki-laki yang bertanggung jawab setelah perempuannya memiliki anak.
“Ibu ... cukup!!, anak ini adalah anakku” jawab Rafka Gavin menahan tangan ibunya,
“Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi Rafka!” kata ibu Rafka Gavin padanya,
“Jawab dengan jujur Kirana!, anak ini ... anak siapa?” tanya Evan Rahardian dengan menggenggam pundak Qia Kirana dengan kedua tangannya.
Ben yang sedang menelpon Ali Keenan.
“Ada apa disana, Ben? Kenapa sangat berisik seperti ada yang bertengkar?” tanya Ali Keenan penasaran dan jadi khawatir pada Qia Kirana,
“Direktur Li, bolehkah saya matikan dulu telponnya?, semua kejadian akan saya rekam dan saya perlihatkan pada anda” kata Ben yang melihat pertengkaran itu mulai memanas,
“Iya boleh” kata Ali Keenan sambil mematikan telponnya dan bergegas pergi ke kediaman Rahardian.
~ Di pesta pertunangan ~
Ben merekam semua yang terjadi, termasuk kehadiran Aileen dan Ailaa.
Qia Kirana terdiam karena perkataan ayahnya, dia memikirkan lagi dirinya yang selalu tersudutkan. Meskipun Aileen dan Ailaa memiliki kemampuan istimewa, mereka mulai berkaca-kaca seperti anak pada umumnya dengan situasi itu.
__ADS_1
Tiba-tiba...
“Kak bukankah kamu pernah menghilang di hotel 6 tahun lalu? Jangan bilang bahwa kedua anak ini adalah anak dari pria yang tidur bersamamu dulu” kata Lisa sambil mendekati Evan Rahardian dan Qia Kirana,
“Apa itu benar Kirana?! Apa yang dikatakan Lisa benar?!” tanya Evan Rahardian memastikan dengan suara yang cukup tinggi,
“Cukup..!!!, iya aku mengakuinya, anak ini memang bukan anak Rafka.., tapi mereka anakku, aku yang mengandung mereka, aku yang membesarkannya, kalian masih bertanya siapa ayahnya?” kata Qia Kirana menghentikan pertanyaan-pertanyaan orang di sekitarnya,
“Kirana...” kata Rafka Gavin memegang tangan mencoba meredam amarah Qia Kirana,
“Cukup Rafka!, maafkan aku!, aku kira semuanya tidak akan berakhir seperti ini..., maaf aku tidak bisa menikah denganmu!” kata Qia Kirana sambil membawa kedua anaknya pergi sambil menangis, Aileen dan Ailaapun juga ikut menangis.
Rafka Gavin berusaha mengejar Qia Kirana, tetapi hal itu dicegah oleh kedua orang tuanya. Kemudian Danisha Azkia yang mengejar Qia Kirana menggantikan atas permintaan Rafka Gavin.
Dalam hati Rafka Gavin “Kirana aku harap kamu baik-baik saja, aku juga berharap hubungan kita baik-baik saja” melangkah pergi dari kediaman Rahardian bersama kedua orang tuanya menuju ke mobil.
Setelah keluar dari kediaman Rahardian Qia Kirana pergi dengan sebuah taksi menuju rumah Danisha. Di perjalanan dia memikirkan untuk pergi jauh dari kota Bandung, kemudian dia mengusap air matanya dan menghibur kedua anaknya. Sesampainya di rumah Danisha, Qia Kirana mengemasi semua barangnya dan barang kedua anaknya.
Sesampainya Danisha Azkia dia berlari menuju rumahnya, dan melihat Qia Kirana yang sedang mengemasi barang-barangnya.
“Kirana!, kamu mau kemana?!” tanya Danisha Azkia kaget,
“Aku akan pergi Danisha, terimakasih selama ini karena sudah merepotkanmu” kata Qia Kirana yang sudah selesai mengemasi semua barangnya,
“Maaf Danisha, biarkan aku sendiri dulu untuk saat ini!” kata Qia Kirana sambil pergi dari sana bersama Aileen dan Ailaa.
Disaat yang sama Ben berusaha menelpon Ali Keenan terus menerus. Tiba-tiba Ali Keenan datang ke kediaman Rahardian yang membatalkan acara pertunangan malam itu.
“Ada apa sebenarnya?!, dimana Qia?” tanya Ali Keenan pada Ben dengan nada khawatir,
“Direktur Li” kata Evan Rahardian menyambut kedatangan Ali Keenan yang mengejutkannya lagi,
“Maaf tapi pertunangan Kirana dibatalkan...” kata Evan Rahardian dengan nada kecewa,
Ali Keenan tidak menanggapi Evan Rahardian sedikitpun, dia melihat Lisa Rahardian dengan tatapan dingin dan marah kemudian pergi bersama Ben.
Saat di mobil, Ali Keenan meminta video yang di rekam oleh Ben. Kemudian Ali Keenan melihat video itu dengan seksama dan ketika Ben menyoroti Aileen dan Ailaa, dia kaget dan memberhentikan video itu. Ali Keenan berusaha mengenali sosok anak kecil laki-laki yang dibawa Qia Kirana, dan memperbesar gambar pada video tersebut.
“Ben! Berhenti!” perintah Ali Keenan spontan,
__ADS_1
“Kenapa direktur Li?!” tanya Ben kaget,
“Siapa anak kecil ini?” tanya Ali Keenan menunjuk pada Aileen,
“Dia... anak dari nona Qia Kirana direktur Li” jawab Ben sambil membalikkan badannya ke arah Ali Keenan,
“Apa kamu bilang?!” kata Ali Keenan kaget karena perkataan Ben,
“Anak laki-laki itu anak dari nona Qia Kirana, sebenarnya nona Qia Kirana memiliki dua anak kembar direktur Li” kata Ben menjelaskan pada Ali Keenan,
“Ini... anak perempuan ini adalah kembaran dari anak laki-laki ini” tambah Ben menunjuk Ailaa dan Aileen pada video.
Ali Keenan masih berusaha mencerna semua perkataan yang di lontarkan Ben, kemudian Ben menyadarkannya.
"Direktur Li?" kata Ben berusaha menyadarkan Ali Keenan,
“Kita harus bergegas ke rumah Qia, Ben!” perintah Ali Keenan pada Ben dengan wajah yang sangat khawatir,
Dalam hati Ali Keenan “Qia apakah Aileen dan anak perempuan ini adalah anakku? Kamu harus menjelaskannya” dengan senang, khawatir, kaget tertulis di wajahnya.
“Jika..., jika benar mereka anak kita Qia, maka aku akan memperjuangkanmu apapun yang terjadi” kata Ali Keenan dengan suara pelan,
Dalam hati Ben “Aku baru melihat ekspresi direktur Li yang seperti ini” sambil melihat kaca spion di dalam mobil.
Di kediaman Rahardian, Evan Rahardian masih terlihat kecewa dan penuh pemikiran dengan kejadian yang terjadi hari ini. Riska Sintia menyuruh Lisa Rahardian utuk memberikan segelas teh kepada ayahnya.
“Ayah ini tehnya!” kata Lisa Rahardian sambil menyimpan segelas teh di meja,
“Terimakasih, nanti akan ayah minum...” kata Evan Rahardian sambil menepuk tangan Lisa,
“Baiklah, jika begitu aku pergi dulu ayah” kata Lisa Rahardian yang melihat ayahnya seperti banyak pikiran dan pergi dari ruang kerja itu.
Disaat yang sama Ali Keenan sampai di rumah Danisha.
Tok...tok...tok...
“Sebentar!” kata Danisha Azkia sambil berhenti beres-beres dan berlari ke arah pintu,
Danisha Azkia membuka pintu dan kaget ternyata yang datang adalah Ali Keenan.
__ADS_1
“Apa Qia ada disini?” tanya Ali Keenan dengan wajah khawatir,
...~ Bersambung... ~...