Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 21 Berlawanan Arah


__ADS_3

Setelah menutup pintu, Melody bersandar membelakanginya. Menggigit jempolnya sendiri, merasa ada yang salah dengan dirinya. Saran dan masukan yang dia katakan barusan adalah wajar dan tidak menyimpang sedikitpun.


"Ck, padahal jelas-jelas dia berkata, aku ada sisi anaknya sebagai pengasuh, kenapa otak ku berpikiran ke arah lain," gumamnya.


"Kenapa aku merasa menyesal?"


Notifikasi pesan membuyarkan lamunannya, kemunculan nama Tristan di ponsel genggam nya mengingatkan pada perselingkuhan yang dilakukan seorang istri dari pria yang mengantarnya pulang.


Nyaris tengah malam, Tristan mengabarkan dirinya sudah berada di warung mang Joko. Tanpa Melody tanya, ia tahu apa yang akan dibicarakan laki-laki itu. Melody pun menyimpan rasa ingin tahunya sejak kejadian di supermarket itu. Ia menaruh tas asal dan kembali keluar.


Tristan yang baru keluar dari mobilnya, mendapati mobil berwarna putih muncul dari gang. Sementara tanpa Tristan sendiri ketahui, sepasang mata Jamie dari dalam mobil berpusat padanya, dan ia pun melaju kencang.


Tak lama kemudian Melody menampakkan dirinya, saat itu juga Tristan memesankan dua seduh kopi sachet pada mang Joko. Kali ini mereka tak minum di bangku dalam tenda warung, melainkan duduk di trotoar. Jarang saja kendaraan yang berlalu lalang di jalan itu.


Pembicaraan dimulai dari kejadian yang memicu rahasia perselingkuhan ini terbuka, percaya tidak percaya ternyata Melody selama ini mendengarkan curhat tentang seorang wanita yang sudah bersuami.


Di setiap curhatan Tristan, tak pernah sekalipun ia menyebut nama. Melody tak kaget jika wanita beristri itu adalah orang lain, bukan orang terdekatnya. Biarpun begitu Melody ingin menghargai keputusannya dan bukan urusannya pula.


"Kami putus nyambung, kadang aku lelah sekedar jadi simpanan, dan terkadang dia risih dengan sifat ku yang cemburuan. Tapi aku dan dia sama-sama menikmatinya, seperti sebuah tantangan."


"Gak waras!" geram Melody.


"Kamu akan tahu setelah mencobanya," goda lelaki itu.


Seumur-umur berhubungan dengan Glenn, sekalipun tak pernah ada orang ketiga di antara mereka. Bahkan Sasha hanyalah sebuah kecelakaan, ibunya yang gencar memanfaatkan situasi tersebut. Agar menjauhkan anaknya dari Melody.


"Aku tidak pernah mencintai pria lain selain Glenn. Apalagi selingkuh di belakangnya," tutur Melody.

__ADS_1


Tristan mencerna sejenak, Melody ternyata seorang gadis yang bergantung pada pundak pria yang dia jadikan sebagai kekasihnya. Ia menyusun kata berhati-hati.


"Kamu bukan miliknya lagi, dia bukan milikmu lagi. Lepaskan jeratan yang kau buat itu." Jari telunjuk Tristan menoyor jidat wanita yang lebih tua empat tahun di atasnya.


Bingung Melody, kemana pembicaraan ini mengarah. Ia tak pernah merantai dirinya sendiri. Harusnya mereka membahas tentang perselingkuhan.


Melody mencubit kulit lengan Tristan. "Apa kamu mau menghancurkan rumah tangga mereka?"


Angguk Tristan, "andaikan bisa."


Cubitan yang lumayan keras itu tak berasa apa-apa di lengan berototnya, jari-jari Melody masih menempel entah sampai berapa lama.


"Tapi?" kepo Melody.


"Wanita itu masih mencintainya," singkatnya.


Melody terlalu banyak tahu, bahkan hal-hal yang tak Jamie ketahui. Pada akhirnya, ia terseret masuk ke dalam masalah mereka. Dia bisa mundur agar tak terlibat terlalu jauh, ia pun tak terikat kontrak resmi, bisa berhenti kapan pun.


"Kamu pasti tak ingin berhenti karena anak itu," tebak Tristan.


Melody lepas cubitannya, ia mengangguk jujur, perasaannya terlanjur dalam pada anak itu. Tak mungkin jika meninggalkan Daniel tanpa menunggu sang ibu pulang, apalagi dia baru saja mengatakan tak akan pergi dengan mudah meskipun marah atau kecewa.


"Kamu punya wajah yang rupawan dan masa depan luar biasa cerah. Banyak wanita yang akan mencintaimu dengan tulus hati." Melody meluruskan tubuhnya menghadap laki-laki itu.


Dengan tatapan mata yang serius, "dia bahkan tak menaruh rasa, kamu tak lebih dari gigolo gratis yang tampan baginya."


Meski dipanggil gigolo, ketulusan Melody tersampaikan padanya, benar-benar lembut membujuk. Bukan menghakimi mati-matian, ia kira akan mendapat perlakuan buruk karena perbuatan yang dibenci semua wanita itu, Tristan justru masih diperlakukan baik oleh wanita satu ini.

__ADS_1


"Terima kasih. Kamu perhatian banget, jangan-jangan kamu suka padaku," goda laki-laki itu dengan senyuman khasnya yang manis.


Tanggapan Melody datar, walaupun Tristan memang tipenya tapi ada pria lain diluar sana yang sedang menggaet hatinya saat ini. Pria yang sudah menjadi milik orang lain, kepunyaan keluarga kecilnya di rumah.


Karena panjang percakapan mereka, Tristan tak tega melihat Melody yang kedinginan menarik-narik lengan bajunya sampai jari. Memakai kardigan rajut tebal pun dinginnya udara masih menusuk, Tristan bangkit membuka pintu mobilnya. Ia menyusupkan setengah badannya ke dalam, mencari-cari sesuatu untuk menyelimuti temannya.


Tristan keluar membawa sepotong kain yang terlihat gelap dan tebal. Dilihat lebih dekat lagi, ternyata itu adalah sebuah jas berwarna merah yang tidak setebal itu. Disodorkan benda itu pada Melody.


"Telat banget, udah mau pulang nih!" protesnya.


Melody mendapati sebuah logo. "Apa ini? Pfft ... jas almet?" seringai Melody seraya memakai jas itu.


"Bawa pulang aja, Mel. Gak butuh." Tristan merapatkan ujung dengan ujung jaket yang menempel ditubuhnya.


Semena-mena sekali ucapannya, meremehkan jas impian para pemuda yang susah payah ingin mendapatkannya. Wajar saja dia tak mengerti, seumur hidupnya tak mengenal susah, bahkan bulan pun bisa dia kunjungi.


Inti permasalahan telah selesai dibahas, Melody gagal membujuk laki-laki yang sudah menganggapnya sebagai teman itu. Dia jatuh cinta terlalu dalam pada Emily, meski dia telah berkeluarga. Melody pamit undur diri, Tristan sama ngantuk nya.


Sekali lagi Melody menumpang pada mobil mewah lain hanya sekedar masuk ke dalam komplek, ia turun di depan rumahnya.


"Aku tidak akan ikut dalam permainan mu. Kecuali, anak asuhku menangis atau kondisinya memburuk akibat perbuatan mu," kecam Melody masih bernada santai sebelum menutup pintu mobil.


Sementara Tristan hanya membalas dengan senyuman. Tak peduli seberapa sulit bagi sebuah mobil untuk memutar arah kembali, pria macam mereka tak pernah membiarkan seorang wanita berjalan sendirian.


Sembari mengendalikan stir mobil, Tristan bergumam, "maaf saja, aku baru memikirkan rencana yang bagus untuk kita berdua, biarkan saja keluarga mereka hancur. Apa perbuatan ku ini salah, Melody?"


Melody masuk ke dalam rumah, ekspresi wajah riangnya lenyap. Sorot matanya dingin, mau tak mau kepalanya harus bekerja untuk memikirkan keluarga kecil si anak genius yang dia asuh.

__ADS_1


Jangan harap kau bisa menggunakan ku untuk menghancurkan keluarga Little Guy.


__ADS_2