
Sesuai janjinya, Jamie membawakan tiga kotak tupperware berisi nasi dan lauk pauknya sesaat sebelum Melody pulang. Ketiga kotak itu sudah di genggaman Melody, tapi ia tak segera pulang.
"Maaf, tadi Melody membentak istri kakak."
Kepalanya tertunduk, kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Melody. Kelima jarinya lemas, hingga ditopang dengan tangan satunya agar makan malamnya tak tumpah.
"Jangan dipikirkan." Jamie mengusap lembut puncak kepala wanita didepannya.
Lagi-lagi kalimat itu. Kerap kali Melody merasa dirinya diperlakukan seperti anak kecil oleh pria dengan rentang usia enam tahun itu. Melody mengangguk pamit setelahnya.
Matahari perlahan menghilang dari pandangan Melody, wanita yang selalu berwajah lesu tiap kali bertemu petang. Riasannya bahkan sudah luntur sejak setengah hari, jika sudah luntur dia tak memperbaikinya.
Dirinya percaya bahwa tanpa riasan sekalipun, wajahnya kalem dan enak dilihat. Tak salah. Bahkan pandangan orang lain pun akan mengatakan hal yang sama jika mereka mempunyai nyali.
Dari seberang trotoar jalan raya tempatnya menunggu ojek yang menjemputnya, berdiri seorang laki-laki dengan perawakan yang dia kenal. Tinggi, namun sedikit bungkuk hingga sejajar jika disandingkan dengan Melody.
Ia sedikit memicingkan mata, wajah itu sesuai dugaannya memang laki-laki bernama Alan yang tinggal bersebelahan dengan majikannya. Hanya saja, mengapa tatapan laki-laki itu berbeda. Melody tunduk dan mendapati belahan dadanya sedikit terekspos, ia segera membenahi dengan benar kemeja bergarisnya.
"Menjijikkan," umpat wanita itu.
Tak lama kemudian pengendara motor berhenti didepannya, menyodorkan helm berwarna hijau pada Melody. Saat mengaitkan tali helm, barulah ia menyadari.
Pengemudi ojek on line itu adalah pemuda yang dulu sering mengambil orderan Melody. Juga meminjamkan jas hujan yang sampai sekarang belum dikembalikan.
"Kamu kemana aja, Man?"
Tanya Melody pada seorang pemuda yang akhirnya dia sadari namanya setelah sekian lama. Dalam beberapa pekan, pemuda bernama lengkap Irman Tirtonadi ini menghilang dan baru muncul di bawah senja sekarang.
Irman hanya membalas dengan senyuman, setelah Melody memakai helmnya dan sudah berada posisi nyamannya di atas jok, ia melajukan motornya dengan kecepatan normal.
"Tunggu di sini, ya!" ujar Melody, mengangkat satu jari telunjuknya.
Kakinya berlari sesegera mungkin, lampu-lampu diluar rumahnya dan rumah tetangga lain sudah menyala mengganti peran sang surya. Baru ditinggal beberapa detik, Irman sudah menampar pipinya sendiri. Ia lihat telapak tangannya, terkapar serangga kecil penghisap darah di sana.
Seorang gadis tiba-tiba menghampirinya, Irman tak fokus dan tak tahu darimana datangnya gadis yang membawa kresek hitam ini, yang kemudian kresek itu disodorkan padanya. Irman membuka bungkusan itu.
__ADS_1
Jas hujan.
Kedua anak muda ini tak berucap sepatah katapun, hanya saling menatap lalu mengangguk satu sama lain. Lalu Irman kembali menyalakan starter motornya.
"Makasih," terucap dari bibir Felicia, "jas hujannya, kata kak Melody."
Sekali lagi pemuda itu mengangguk tulus, kemudian melaju pergi. Tanpa menyadari jas hujan yang dia pinjamkan berbeda karena sudah diganti dengan yang baru.
Hari-hari berlalu.
Perseteruan dua saudara tiri serumah antara Melody dan Felicia memburuk, miskomunikasi terjadi karena Felicia menutup dirinya. Karena lelah, Melody berniat menggunakan kesempatan di hari liburnya.
...****************...
Di sisi lain, bocah yang sudah bergaya tengah menangis di pojokan kamar. Emily ingkar janji akan menemani dirinya berbelanja kebutuhan alat tulis, bersama Natasya dan ayahnya.
Sayang kebohongan semata, Emily tak berniat menemaninya sama sekali. Yang terpenting hari ini adalah ia harus menghentikan niat ayahnya mewariskan perusahaan, pada anak lelakinya yang merupakan adik kandung Emily.
Tepat di hari esok, pesta peresmian akan dilangsungkan dan perusahaan milik ayahnya akan turun pada adik Emily.
Meski sudah ada Natasya di sisinya, Daniel masih menangisi janjinya yang lebur jadi angin lalu. Padahal Jamie santai-santai saja, pakaiannya pun masih menempel, tak seperti Daniel yang sudah menanggalkan kemeja ciliknya bersamaan dengan amarah.
Dengan lantang Daniel menjawab, "Tidak!"
"Ya sudah, ayah dan Melody saja yang belikan, kalian tunggu di rumah, ya?" ujar Jamie.
Ikan pancingannya tertangkap dengan mudah begitu ia menyebutkan nama Melody. Daniel mengabaikan kemeja cilik kotak-kotak nya di lantai, menyisakan kaos bergambar kartun di tubuhnya. Tentu dengan jeans yang masih membungkus kaki.
Jika Daniel nyaman dengan itu, ayahnya tidak akan terlalu banyak mengatur. Bertiga mereka segera berangkat menuju parkiran. Tanpa mencari tahu terlebih dahulu, apa wanita itu sedang di rumah atau tidak.
Melody masih belum mendapati adiknya keluar dari kamar, jika dia diganggu saat tidur atau belajar maka suasana hatinya akan menjadi buruk. Pada akhirnya Melody tidak ingin membuang waktu dan secepatnya berdiri di depan pintu kamar adiknya, Felicia. Baru saja ia mengangkat tangannya untuk mengetuk.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu dari pintu utama.
__ADS_1
Tubuhnya membeku sejenak, tak lama setelah itu pintu kamar Felicia terbuka. Melody memalingkan wajahnya, menggerakkan tangannya ke bawah dan membuka pintu utama. Felicia melangkah cepat menuju jendela kamar, mencari tahu siapa orang yang mengetuk pintu rumahnya.
"Nanny!!!" teriak salah seorang anak kecil, dengan khas suara cempreng anak perempuan.
Felicia kembali menutup pintu kamarnya, "anak perempuan dan anak laki-laki? Kakak mengasuh dua anak?" gumamnya penasaran.
Tanpa mengecek lebih dulu, pintu dibukakan dengan mengabaikan penampilannya yang kini berpakaian minim. Kaos crop top yang mengekspos sebagian perut dan celana hotpants, tentunya sangat tidak sopan dilihat orang lain apalagi pria yang berdiri di depannya ini majikannya dan dua anak kecil.
Ngomong-ngomong soal majikan, ada apa seorang pria berumahtangga mendatangi rumah perempuan lajang? Pertanyaan pertama di benak Melody.
Pria itu berdehem, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Maaf mengganggu waktu kamu," basa-basi nya.
Melody mempersilahkan masuk dan duduk pada kedua anak kecil kesayangannya dan satu pria dewasa di sana. Jamie lanjut menjelaskan mengenai belanja-belanja keluarganya yang gagal karena absennya Emily. Tanpa sedikitpun paksaan, Jamie mengharap kehadiran Melody karena hanya dia seorang yang bisa meredakan kesedihan putranya.
Pun tampak di wajah Daniel yang penuh harap dan tak siap dikecewakan lagi, Melody tidak punya alasan untuk tidak memenuhi harapan itu.
Mengobrol dengan Felicia masih bisa dilakukan besok.
Gagal menunggu dengan tenang, Daniel mengelilingi seisi rumah yang tak lebih besar dari kamarnya itu. Bertemulah ia dengan si gembul kesayangan pengasuhnya, Rudy.
"Apa kamu Rudy, si gendut? Melody sering menceritakan tentang Rudy yang pro memakan apapun sebanyak apapun," seru Daniel.
"Lalu kamu Daniel si anak genius," balas Rudy dengan wajah datarnya.
Si bulat itu mendekati Jamie, mengamati sekitar pria itu. Tak terlihat satupun yang dicari Rudy, Melody datang dengan rok payung selutut berwarna hitam dan atasan polos bertangan panjang. Rambut panjangnya diikat tinggi sama seperti gaya rambut sehari-harinya saat bekerja, jika tidak Daniel akan memasukkan rambutnya ke dalam rongga hidung.
Datang-datang Melody sudah melihat pemandangan adiknya yang tak malu mencari makanan, ia tarik leher baju Rudy dan memperingatinya.
"Tidak ada ada apapun," ucap Melody lalu beralih pada Jamie, "dia mencari makanan."
"Ikut saja, kita cari makanan diluar," ujar Jamie tak tanggung-tanggung.
Sudah ada dua anak kecil, menambah satu lagi tidak ada salahnya. Kalau anak orang lain Jamie tidak akan peduli, Rudy lumayan dekat dengannya sejak makan bersama kemarin.
Rudy jelas kegirangan mendengarnya, ia tak ragu mengiyakan ajakan Jamie. Sedang Melody hanya menghela bernapas panjang, lalu meminta maaf karena telah merepotkan.
__ADS_1
Melody sudah ijin padanya namun tak direspon. Lalu ia mencoba mengirim pesan, terbaca namun tak ada balasan. Mereka pergi meninggalkan Felicia sendiri di rumah, Melody merasa sedikit bersalah dan masih menyimpan rasa penasaran.
Apa yang merasuki anak itu?