
Jamie membuka pintu kamar putranya, Daniel dan Melody menoleh kemudian. Ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, lalu meminta bicara pada Melody. Mereka mendudukkan tubuh di atas kasur Daniel, sementara Daniel tetap di tempatnya di dekat jendela.
"Saya perlu membicarakan tentang pernikahan dengan Emily, bukan sesuatu yang enak didengar seorang anak, bisakah kamu menemaninya bermain diluar sebentar?" pinta Jamie, memelankan suaranya.
"Oke, Kakak boleh panggil Melody kapanpun kalau sudah selesai, Melody janji tidak akan membawanya ke tempat yang jauh," ujar si pengasuh sembari mengacungkan jempolnya.
Segera Melody memakai kembali kardigan yang dia lepas, Daniel menolak bermain diluar dikala ia masih belum selesai membaca buku barunya. Melody mendekatkan wajahnya pada anak berumur genap tujuh tahun itu.
"Serius kamu mau mendengarkan pertengkaran mereka?" bisik nya.
"Kenapa tidak?" tantang Daniel, masih terpaku pada bukunya.
Melody memutar bola matanya malas, "kamu hanya bisa menyimak tanpa bisa berbuat apapun. Daripada berdiam diri di dalam ruangan yang pengap ini, kenapa tidak pergi melakukan hal lain dan pulang mendengar hasilnya?"
Pernyataan Melody, terasa ada benarnya, Daniel menyerah dan menurut disuruh bermain diluar. Tetapi dengan syarat ia tetap ingin membawa bukunya, Melody menyiapkan tas yang ada di dalam lemari. Ia bingung memilih, begitu banyak tas karakter yang bagus tapi mencolok.
"Pakai tas Melody saja, yang itu terlalu kekanak-kanakan," protes Daniel, mencoba memasukan semua buku ke dalam tas Melody yang ukurannya mini.
Melody dengan cepat menyelamatkan tas nya dari pemaksaan Daniel, Melody memilihkan satu buku secara acak dan ia masukkan ke dalam tasnya. Daniel tidak berkutik. Mereka siap keluar, sang ayah masih duduk di atas kasur memperhatikan, sembari sesekali tersenyum karena tingkah mereka.
Sudah siap keluar, Daniel dan pengasuhnya berjalan menuju pintu, pun Jamie ikut bangkit dan mengikuti mereka di belakang.
"Terima kasih banyak," lirih Jamie.
Terdengar jelas, suara itu tepat sasaran pada telinga Melody, seperti sebuah ucapan yang lebih bermakna dari biasanya. Daniel berpamitan pada bundanya, ia menjaga jarak sesuai permintaan Emily, atas perhatian itu Emily mengusap puncak kepala Daniel. Hanya sebatas itu saja, Daniel kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Melody heran antusiasme Daniel pada ibunya menghilang, terlihat seperti sebuah perubahan sikap. Melody hendak mengangguk pamit pada Jamie, tetapi Melody melengos pergi secepat mungkin menyadari tatapan tajam dari Emily.
"Kau lihat tatapan menjijikkannya tadi? Anak itu punya perasaan padamu Jamie, mendekati Daniel adalah trik wanita ****** itu untuk mendapatkan ayahnya," nyinyir Emily sambil menatap pintu rumah yang habis tertutup.
"Ya, kamu juga bisa melakukan trik itu untuk menarik ku kembali, aku tak keberatan mempertimbangkannya." Jamie merampas ponsel yang Emily genggam, kemudian duduk di sofa seberang depan.
__ADS_1
"Bukankah kita mau membahas soal permintaan cerai mu? Lancang sekali ka- " belum sempat menyelesaikan ucapannya.
Jamie menimpalinya, "tidak sudi? Berhentilah mengomentari keputusanku."
Emily melipat tangannya, tak terlihat satupun cincin pemberian Jamie. Mereka semua menjamur di kotak perhiasan tanpa pernah dipakai, Jamie sekalipun sudah tak memakai cincinnya semenjak dia menyerah akan perasaannya dahulu. Kecuali di acara-acara keluarga besar barulah mereka memakai cincin pernikahan.
Cincin yang selalu tersemat di jari manis Emily semua pembelian dirinya sendiri, atau mungkin sebenarnya pemberian orang lain? Tidak ada yang tahu.
"Aku sudah membakar surat dari pengadilan, tak akan ada perceraian. Aku akan pulang setelah Daniel sembuh secara total dari penyakitnya. Kita tidak kekurangan uang hanya untuk membayar pengasuh bagus yang terlatih walau harus berbulan-bulan," ujar Emily.
Jamie membuang napasnya kasar, ia beranjak dari sofa. Pekerjaan dia lewatkan hanya untuk percakapan yang sia-sia, sudah berulang kali kata-kata itu dia dengar, yang Jamie inginkan adalah perubahan.
"Kamu, kamu selalu membuatku mengemis padamu, kau tahu aku benci mengemis. Aku tidak ingin meminta belas kasihan darimu. Kamu tak pernah mencoba membalas perasaanku," ujar Emily.
Jamie menghentikan langkah, mencoba mendengar apa yang akan dikatakan wanita berstatus sebagai istrinya itu, walau tanpa menolehkan kepalanya.
Emily meremas rok yang membalut pahanya. "Kamu selalu bersikap dingin, aku mencintaimu Jamie," ujarnya.
Emily mendongakkan wajahnya. "Lalu bagaimana dengan sekarang? Anak selalu membutuhkan aku sampai kapanpun!"
Seringai tercetak di garis bibir Jamie. "Sebagai ibu biologisnya? Ya. Kasih sayang? Tidak. Kamu merawatnya selama ini hanya untuk mencapai ambisi yang tak bisa kau capai, menjadi penerus perusahaan keluargamu."
Emily bangkit. Tamparan keras mendarat di pipi Jamie, berbekas lebam berwarna merah di kulit bersih dan putih Jamie. Emily paling benci membahas perusahaan milik keluarganya, ditambah sebentar lagi adik laki-lakinya akan mewarisi perusahaan milik ayahnya. Emily membenci idealisme papanya yang memandang rendah otak kecil seorang wanita sebagai pemegang perusahaan, dan memilih putranya hanya atas dasar jenis kelamin.
...****************...
Di bawah awan mendung, Daniel dan pengasuhnya mondar-mandir tak berarah. Anak itu kembali membahas bukunya, tapi ia tak mengeluarkan buku di tas yang dibawa Melody sama sekali. Kemudian ia teringat dengan Natasya.
"Sekolah Natasya dekat sini, apa Melody tahu tempatnya?" tanya Daniel, kakinya terus bergerak melintasi ban warna-warni yang berjejer di taman.
"Tahu, kenapa? Mau ke sana?" tawar Melody, alisnya naik-turun sambil bibirnya tersenyum lebar.
__ADS_1
Setelah beberapa menit dipertimbangkan, Daniel menggelengkan kepalanya. Dunia luar terlihat menakutkan baginya, apalagi setelah mengenal dunia internet dimana ia bisa bersembunyi saat bermain di jejaring sosial on-line, kewaspadaannya meningkat tinggi jika di dunia luar.
"Yah, tidak seru," lesu Melody.
Daniel pun memonyongkan bibirnya, ia sangat ingin pergi ke sana, tapi memikirkan Melody sudah berjanji pada ayahnya. Jika sesuatu terjadi, kesalahan akan dilimpahkan ke orang dewasa.
"Sekarang dia pasti sedang menjejali perutnya sendiri dengan bekal buatan ibunya yang banyak itu, hahaha!" Daniel tertawa puas kemudian.
Mendengar kata-kata Daniel, Melody tersadar akan tempo hari, rupanya Daniel membantunya menghabiskan bekal. Bekalnya memang sebanyak itu untuk anak kecil sepertinya, dan ibunya tak mengijinkan dia membagi bekalnya dengan anak lain? pikirnya.
Jadi itu alasannya Natasya melarang ku mencuci kotaknya.
Jalanan ramai seperti biasanya, kendaraan pribadi mendominasi jalan raya di jam-jam sekarang ini. Keringat dingin bercucuran, berbekalkan misi bantuan dan mengabaikan larangan dari sang ayah, Jamie. Entah bagaimana Melody membujuknya, mereka tiba-tiba sudah sampai di depan gerbang sekolah negeri tempat Natasya mengenyam pendidikan sekolah dasar nya.
"Kamu benar-benar keras kepala, Melody," geram Daniel.
Tapi wajah tidak bohong, matanya berbinar-binar mengelilingi pemandangan sekolah yang besarnya tidak seberapa itu. Bangunan sekolahnya cukup jelek di mata Daniel, tapi karena tempat itu adalah tempat dimana Natasya berlarian, bermain, dan menghabiskan waktu. Suasana hatinya sangat bagus, membayangkan seperti apa keseharian Natasya di sekolah itu.
Melody mengangkat Daniel ke pangkuannya, ia masuk ke dalam gerbang sekolah lalu menghampiri satpam sekolah itu terlebih dahulu. Satpam berlabel nama "Wisnu" di dada sebelah kanannya menghampiri Melody duluan.
Melody menganggukkan kepala. "Selamat pagi, pak," sapanya.
Dengan ramah, satpam gerbang itu bertanya, "Pagi Mbak, Embaknya ada perlu apa ya?"
"Dany adalah sepupunya Natasya, Dany mau mengunjungi Natasya, Pak Satpam!" ucap Daniel berniat mengakali.
"Ooh? Begitu ya, dik?" Satpam bernama Wisnu itu beralih akrab pada Daniel. "Hanya mengunjungi? Dalam rangka apa, ya?"
Satpam itu kembali mengajukan pertanyaan pada Melody, yang artinya ucapan Daniel tak mempengaruhinya sedikitpun.
"Anak saya ingin bersekolah di sini, Pak, jadi saya sengaja mengajaknya melihat-lihat ke sekolah ini sambil dia mengunjungi kakak sepupunya," terang Melody.
__ADS_1
Hanya mengatasi satpam persoalan yang mudah bagi Melody, mereka bisa masuk atas ijin dari satpam bernama Wisnu. Perkataan Melody pun tak sepenuhnya bohong, ia memang berniat memikat Daniel agar sekolah di tempat yang dia inginkan tanpa ragu. Terlepas dari kualitas dan kelasnya.