
Berserakan buku di lantai, sang pemilik tidur bersama buku-buku itu dengan lelap di bawah selimut. Meski demikian hanya perut yang tertutupi. Perut yang sama bulatnya dengan kaki dan tangannya itu naik turun, konon sama tembam nya dengan mendiang ayahnya sewaktu muda.
Lampu ruang tengah sudah masuk di jam istirahat nya, akan tetapi Melody belum bisa menutup kelopak matanya. Di ujung pintu bagian bawah masih memperlihatkan segaris cahaya, Melody memperhatikan celah pintu itu sambil tiduran meringkuk. Siku dipakai sebagai bantal, rambutnya mengurai tak beraturan di atas kasur busa tipis itu.
Rudy bahkan sudah lama tidur sejak dia membuka lembar pertama di bukunya. Tapi lampu di kamar Felicia masih menyala.
"Berjuang keras sendirian, tak pernah memintaku mengajari lagi. Kamu ingin menjadi mandiri atau ..." gumam Melody terhenti.
Melody sudah memberinya ponsel merek terkenal dengan spek yang lumayan untuk anak sekolahan sepertinya, tapi anak itu masih lebih suka mengejar akademik. Tak ada yang bisa mengalihkan kesukaan itu.
Aku betul-betul sadar kamu tidak merasakan kasih sayang dari ayah maupun ibu, aku sudah berusaha menyayangi mu selama aku ada di sampingmu dua tahun penuh ini. Dan sekarang waktuku di rumah terbatas karena pekerjaan ganda, aku harap kamu bisa mengerti, Felicia ....
Melebur Melody ke dalam alam yang gelap, mimpi-mimpi jarang sekali menghampiri. Kebanyakan hanya kegelapan yang untungnya cukup singkat. Tidurnya bagai melipat waktu.
...****************...
Seorang wanita berambut sebahu, mengenakan busana panjang yang biasa disebut daster, namun kekinian. Terlepas dari dasternya yang kekinian, wajahnya terlihat pucat dan matanya sembab. Ibu hamil bernama Sasha Nick Brown itu mengangkat tubuhnya untuk bangun, ayam sudah berkokok.
Pun lelaki di sebelahnya ikut terbangun. Setelah mengambil beberapa menit untuk menyegarkan mata, Glenn turun dari tempat tidur. Sembari membawa handuk, ia menurunkan kepalanya untuk melihat wajah Sasha, istrinya.
"Kamu tidak lelah menangis terus di malam hari?" lontarnya dengan nada penasaran.
Alih-alih menunggu jawaban, lelaki rambut cepak itu meninggalkannya ke kamar mandi. Menyadarkan si wanita, tak ada secuil pun perasaan romantis untuknya, sedangkan perasaan itu memaksa tumbuh di hatinya yang rapuh.
Tak luput dari perasaan bersalah yang amat besar pada sahabatnya, Sasha menangisi kesalahan yang dia lakukan dalam semalam itu di setiap malam yang dia lewati.
Matahari semakin naik menyoroti jendela-jendela transparan, aroma tanah yang basah oleh air hujan tercium oleh anak-anak yang senang dengan aroma khas itu.
Ferry dan Rafa, dua remaja bersaudara menghirup udara pekarangan rumah yang menyegarkan, lembab jauh lebih baik dari polusi kota panas yang mereka tinggali.
__ADS_1
"Rafa!! Ferry!! Cepat mandi, semua orang di sini sudah mandi, cuma kalian yang masih bau kecut!" teriak sang ibu tiri membuyarkan.
Acara keluarga dilangsungkan secara mendadak, kedatangan Dimas dan keluarganya menjadi penyebab acara ini diadakan. Sangat spesial, memang. Dimas adalah yang paling membanggakan di keluarga Gray di generasinya.
Bagaimana dengan kebanggaan Gray di generasi saat ini? Orang itu baru saja menapakkan kakinya, di lantai rumah bercat abu gelap yang merupakan kediamannya di masa kecil. Sambil menggendong anak kecil imut yang menyimpan sejuta pengetahuan dan wawasan di kepalanya yang masih sebesar batok kelapa.
Keluarga bahkan dunia mengakuinya arsitektur tampan ini adalah aset negara yang harus dipertahankan, banyak bos perusahaan asing yang menginginkan sang genius muda ini ada di genggaman mereka.
Jamie George gray.
"Jamie ... pas sekali, ayo kita sarapan dulu sambil menunggu yang lain datang," Lena menyambut buah hatinya yang bongsor dengan pelukannya yang erat.
Jamie tak merasa pengap, se-erat apapun jika yang memeluk adalah sang ibu. Selepas memeluk Jamie, Lena menyambar cucunya dengan ciuman-ciuman gemas di pipi kenyal itu. Wanita tua itu lantas menggendong Daniel dan masuk menuju ruang makan.
Satu persatu cabang keluarga tiba, semakin ramai suasana di dalam ruang keluarga bernuansa estetika modern itu. Keramaian yang selalu dirindukan Lena, tak ada hari yang ditunggu-tunggu selain berkumpulnya keluarga besar yang sudah semakin terpecah belah.
"Jenis kelaminnya belum diketahui? Yah ..." desah kecewa salah seorang wanita.
"Mudah-mudahan cewek ya, supaya Dany punya saudara cewek, jangan cowok melulu, hahaha." Lena tertawa.
Di halaman, tempat anak-anak bermain, Daniel merasa hidungnya gatal.
"Atchuuu!"
Sasha, wanita muda berperut bengkak di sana, sudah mulai membaur dan mengobrol dengan beberapa kerabat. Masa canggungnya berhasil dia lewati.
"Lihat, dia sudah bisa bicara." manik mata Dimas bergulir melirik Sasha.
Dari belakang, Dimas membicarakannya pada Jamie, "di awal kedatanganku, istri Glenn sangat pendiam dan tak banyak bicara."
__ADS_1
Jamie ikut melirik dan memperhatikan sejenak, ia terpikir pada seseorang.
Setiap orang ramah dan menghormatinya. Namun, mengobrol tanpa menyinggung hati adalah yang tersulit. Salah seorang kerabat membisiki sang nyonya rumah, mulutnya tak ragu mengeluarkan kata-kata yang tak disukai telinga yang mendengarnya.
Jamie memerhatikan, terbaca jelas olehnya wanita yang berbisik itu membuat suasana hati ibunya jelek.
"Keputusanku demi kebaikan bersama, tidak ada yang berani menyangkal ku, Rumi. Jika mau menyalahkan ku, kenapa kau tak memberiku solusi lain?" sentak Lena.
Sasha kembali menciut mendengar obrolan mereka. Rumi, wanita yang memicu emosi Lena tak mampu berkata-kata lagi karena orang-orang mulai melihat padanya.
"Sasha jauh lebih baik dari perempuan nakal dan pengangguran itu!" ocehan Lena terus keluar.
"Kamu tahu? Kenapa dia pengangguran? Ijasahnya bagus, tapi dia punya catatan kriminal! Tak ada yang mau menerimanya!"
Tak ada kapoknya, siapapun tahu jika menyangkut Melody, Lena akan menjadi cerewet bukan main. Setiap kejelekan Melody yang entah benar atau tidaknya itu akan terus keluar dari mulutnya. Bahkan Sasha sempat terkejut mengetahui fakta itu.
"Ma, sudah," pinta Ryan Hannes sambil menggenggam lembut punggung tangan istrinya yang sudah berkeriput.
Jamie termenung, wajah wanita yang dihujat ibunya terbayang di kepala. Sebenci itu pada seseorang selama bertahun-tahun, kenapa orang itu harus Melody? pikirnya.
Matanya beralih kembali pada Sasha, wajah ceria wanita itu hilang begitu cepatnya. Sebuah tekanan yang luar biasa bagi Sasha, meskipun semua orang sudah berusaha bersikap baik.
Jika dipikir kembali, "Melody perempuan yang kuat," gumam Jamie dalam hati, "berusaha tampil tegar padahal dalam hatinya ..."
Jamie memandang pada dinding kaca, lagi-lagi hijau tanaman mekar di pandangannya.
Masih ada Glenn di hatinya, bukan?
Tanpa dia sadari, Glenn sedari tadi memperhatikannya, setiap perubahan ekspresi yang Jamie tunjukkan, kemana pandangannya beralih, laki-laki itu berusaha membaca pikiran sang kakak.
__ADS_1
Sorot matanya tajam, sampai-sampai Jamie menyadari tatapan lekat itu. Jamie menaikkan alisnya sebelah, ada apa dengan adiknya, menatapnya sampai begitu.
...****************...