Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 25 Teman Lama


__ADS_3

"Ohok ... ohok ... ohok ... !!"


Melody dengan lembut menuangkan air ke dalam mulut anak yang terbatuk-batuk itu segera, pria kecil kesayangan sang pengasuh itu melanjutkan kegiatan meminum pil nya, duduk di atas meja makan dengan kaki menggantung.


"Sudah?" tanya si pengasuh.


"Sudah," tegas Daniel.


Angguk Melody, di balas oleh anggukan kepala Daniel, Melody mengangkat tubuh kecil tuannya dan membawanya ke lantai. Anak itu berlari menuju rak sepatu kecil khusus miliknya, sungguh bersemangat. Ketika Melody menghampiri ia telah siap, mereka pergi keluar menuju taman yang masih berada di kawasan apartemen.


Daniel berkata sedang ingin main diluar karena udara sejuk sehabis hujan. Padahal aslinya sedang menunggu seseorang, suatu keberuntungan yang bagus didukung oleh cuaca.


Ayunan taman basah, menggenang air di atasnya. Daniel yang hendak duduk di sana mengurungkan niatnya dan tetap berdiri karena semua tempat duduk di sana basah oleh air hujan. Telapak tangan Melody menghempaskan air-air yang menggenang di atas ayunan, lalu ia duduk di ayunan itu dan bangun beberapa detik kemudian.


Lalu Melody mengangkat tubuh Daniel dan mendudukkannya di atas ayunan kering itu.


Pipinya merah, Daniel bergumam pelan, "makasih."


Melody tak terlalu jelas mendengarnya, tapi ia tahu Daniel berkata apa. "Apa? Aku tak dengar," cibirnya.


Fokus Daniel teralihkan. Mobil berwarna merah masuk ke dalam kawasan apartemen, berjalan pelan, jendela kaca sampingnya turun perlahan. Tampak wajah Natasya dari dalam mobil mewah. Gadis kecil itu melambai lambai pada Daniel, pun sebaliknya.


Sontak Daniel turun saat itu juga, mengajak Melody pergi menghampiri Natasya. Anak itu mengelak dari pertanyaan, Melody memakluminya yang terpenting Daniel sudah mengatakannya walau malu-malu kucing.


"Oh? Dia tak marah lagi?" ujar Melody, mengingat kemarin Natasya pulang dalam kekecewaan.


Natasya masih dengan seragam sekolahnya turun dari mobil, bersama ibunya. Dinar melempar senyum sapa, ia selalu ramah dan hangat pada Melody. Lalu keluar dari sisi kanan pria yang sedikit lebih muda. Seingat Melody, tinggi suaminya standar dan sedikit gemuk.


"Pria ini tinggi dan tubuhnya lumayan, walau masih lebih macho kak Jamie," gumam Melody dari kejauhan, "tunggu, kok seperti familiar ...."

__ADS_1


Orang itu melirik Melody. "Melody!" panggilnya.


"Coki?" tebak Melody.


Benar, tapi namanya Aditya. Coki hanya panggilan akrab dari teman-temannya, termasuk Melody karena mereka bersama-sama dari mulai SMA hingga kuliah meski beda fakultas.


Coki alias Aditya menghampiri Melody dan menyapanya. Rupanya Aditya adalah saudara kembar Dinar, Melody pernah mendengar jika Aditya memiliki kembaran tapi mereka tidak terlalu sering menempel jadi dia tidak menyadari Dinar adalah kembaran temannya. Terlebih Wajah mereka tidak sama.


Di rumah, anak-anak main seperti biasa. Ponsel Natasya sudah di genggaman Daniel, ia terkejut ada ponsel android yang dilengkapi dengan pena yang dirancang khusus untuk layar sentuh.


"Keren!!" ujar Daniel.


Menoleh pada Natasya karena Natasya tak menyahut, terlihat ia sedang memakan bekal dari kotak makannya. Natasya tak berganti baju dan tas sekolahnya dia bawa ke rumah Daniel. Untuk sesaat, segaram sekolah yang dipakai Natasya membuat Daniel tertarik dengan kesederhanaan sekolah negeri, ia pun semakin tertarik untuk sekolah di sana. Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Makan apa, Nat?" tanya Daniel.


"Bekal buatan mama. Aku tidak bisa menghabiskan semuanya di sekolah, terlalu banyak." Natasya mengangkat kotak makan satunya lagi yang masih terisi penuh.


"Aku dilarang jajan di sekolah, jadi mama ku membuatkan bekal sebanyak ini. Kalau aku menolak, nanti mama tidak akan mau membuatkan bekal lagi," terang Natasya, wajahnya merengut.


Masakan yang ditata rapi dan cantik itu menggiurkan, Daniel pun menawarkan diri, "sisa dua? Butuh bantuan tidak?"


Daniel menaikturunkan alisnya. Natasya mengangguk setuju, memberikan sekotak makanannya pada Daniel, ia pun mengambil sendok. Terasa sangat enak, membuat Daniel sedikit kangen dengan masakan bundanya.


Di suatu tempat, masih di lingkungan apartemen, tepatnya kawasan bebas merokok. Melody membagi gulungan tembakaunya pada Aditya.


"Aku terkejut, kamu masih memanggilku Coki, apa itu artinya kamu baik-baik saja?" ujar Aditya.


Coki-Coki adalah panggilan untuk Aditya dan Sasha karena memiliki nama belakang Brown tetapi dari keluarga yang berbeda. Aditya, Sasha, Glenn dan Melody bersama dari mulai sekolah menengah hingga janjian masuk universitas sama pula. Namun, kenyataannya mereka tak sedekat dahulu setelah masuk universitas, memiliki teman perkumpulan masing-masing karena beda jurusan.

__ADS_1


"Mana mungkin?" Melody tersenyum pahit, "mungkin aku hanya berhenti memikirkannya karena fokus mengasuh anak itu."


Dengan cepat Aditya merubah suasana yang nyaris menggelap, "reunian tahun ini? Ikut tidak? Pasangan yang baru menikah pasti akan sibuk, jadi bagaimana kalau kau ikut saja? Jangan khawatir kau tak akan bertemu dengan mereka, SMA kita kan luas sekali dan reunian ini dari angkatan lama sampai angkatan baru-baru ini, jadi akan sangat ramai," seru Aditya, matanya berbinar-binar menatap Melody.


Hampir setiap tahun Melody mengikuti acara reunian karena belum pernah punya pekerjaan tetap. Tanpa berpikir lama, Melody mengiyakan. Tak ada salahnya, ia selalu menikmati acara-acara seperti ini sebagai hiburan baginya.


"Kalau gak bisa sama dia, kenapa tidak dengan kakaknya saja?" celetuk Aditya.


Spontan Melody menyentil jidat laki-laki itu. "Mata mu, dia punya istri," sangkal Melody.


"Istrinya tak pernah pulang lagi sejak anak itu kena TBC, jadi tinggal menunggu waktu sampai suaminya menggugat cerai." Aditya memasang senyum jahat.


Melody terheran-heran. "Tahu darimana?"


"Dinar sering membicarakan keluarga mereka, sejak kamu menjadi pengasuhnya pun ceritanya berganti jadi membicarakan kamu. Kamu harus berhati-hati Melody, telinga mereka tajam sekali," tegur laki-laki itu.


"Aku tahu." Melody menekan api di ujung rokoknya.


Melody kembali ke rumah seusai mengobrol dengan teman lama. Dibukakan pintu rumah, Natasya masih tengkurap, menggambar, ia menoleh saat Melody membuka pintu. Sedang Daniel terlentang di lantai dengan mata tertutup, mulutnya terbuka, dan naik-turun perutnya yang buncit seperti habis makan satu bakul nasi.


"Daniel habis makan sama Natasya?" tanya Melody.


Angguk Natasya.


Diangkat tubuh Daniel, diletakkan di atas sofa oleh Melody. Daniel tak bangun meski sempat terusik. Melody melihat ke bawah, terlihat garis-garis yang digambar Natasya membentuk puncak kepala sampai bahu Daniel. Sketsa kasar yang dibuatnya nyaris akurat, bentuk mata bahkan bulu matanya detail. Melody sedikit tertawa, bukan karena jelek tapi sorot matanya sengaja dibuat menyebalkan, khas Daniel sekali.


"Kotaknya ku cuci ya?" Melody membawa tiga kotak makan di sekitar Natasya.


Natasya menekan kotak itu ke lantai kembali dan menahannya dengan kedua tangannya. "Jangan!" Teriaknya.

__ADS_1


Melody cukup terkejut, pun Daniel ikut terbangun dan mengangkat punggungnya sedikit.


"O-oke," jawab Melody.


__ADS_2