Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 34 Semakin Ketat


__ADS_3

Natasya sesenggukan menangis, "Hik ... hik ... nggghhhh ...."


Melody terus membasuh pipi gadis kecil itu dengan air, ia duduk di luar bathtub memandikan dua anak yang dia rendam. Walaupun Daniel tak menyentuh kecoa tadi secara langsung, dia merasa ternodai dan ikut mandi bersama Natasya, dengan tetap menjaga jarak.


Melihat Daniel yang terduduk di pojokan bathtub, Melody tak tega, ia melambaikan tangan menyuruh Daniel mendekat. Tetapi Daniel menggelengkan kepalanya.


"Dia tak akan tertular, jangan khawatir," bujuk Melody, ia paham Daniel tak ingin temannya tertular karena mandi bersama dan berdekatan.


Daniel memercayainya, ia mengambang ke arah Natasya. Melody kemudian membasuh Daniel juga, sembari di gosok-gosok. Selama mengasuh bocah itu tak mau dimandikan, selalu mandi dengan sendirinya. Mungkin alasannya sama, tak ingin menularkan penyakitnya.


Melody berasumsi dalam hatinya, "sepertinya, kepergian ibunya yang menciptakan persepsi itu di kepalanya."


Tangan kecil Daniel naik ke atas bahkan lebih tinggi darinya, mengusap puncak kepala Natasya yang masih menangis. Lalu melirik kepada Melody, sambil bertanya.


"Tidak akan tertular, kan?"


Melody menjawab, "tidak." Tandanya Daniel boleh menyentuh temannya tanpa khawatir menularkan penyakit. Entah mengapa jika Melody yang berkata demikian, Daniel mudah percaya.


Sehabis mandi dan memakai baju mereka kembali, Natasya berhenti menangis. Tapi dia terus waspada, menutupi mukanya dengan tangan. Pada akhirnya Daniel pun merengek ingin pulang, entah godaan sebesar apapun untuk bermain ponsel dia tak ingin bertemu serangga menyebalkan itu.


Bersamaan, Melody membuka pintu kamar dan Alan membuka pintu utama, sehingga keduanya tak menyadari suara itu bertumpang tindih. Alan melanjutkan langkahnya, tak melihat siapapun di ruang tengah, ia pergi ke kamarnya untuk mengambil barang dokumen yang tertinggal.


Di saat ia membuka pintu, tampak punggung seorang wanita hanya memakai bra sport, baru akan memakai bajunya yang baru kering. Ayah dari Natasya itu menutup kembali pintunya, sebelum Melody sempat melihat siapa yang membukakan pintu. Tetapi Natasya sudah melihat bahwa itu adalah ayahnya. Natasya langsung menyusul keluar dari ruangan itu, disusul Daniel dan Melody yang sudah memakai baju lengkap.


Melody menundukkan kepalanya ke hadapan pemilik rumah itu, dan meminta maaf.


"Maafkan saya, sebelumnya perkenalkan saya Melody pengasuh Daniel dari rumah sebelah. Saya hanya meminjam pengering rambut di kamar itu, jadi tolong maafkan ketidaksopanan saya."

__ADS_1


Alan menaikkan sudut bibirnya, senyuman ramah itu sedikit menenangkan. Melody amat menyesal karena menganggap rumah itu seperti rumah Daniel.


"Nama saya Alan. Jangan meminta maaf, sama sekali tidak apa-apa. Hanya saja saya pikir siapa," ucap pria berusia 38 itu.


"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Melody, lega setelah mendengar ucapan itu.


Berpakaian seperti itu di rumah orang lain benar-benar memalukan, beruntung pria itu hanya melihat punggungnya. Ia berusaha agar berhenti memikirkannya.


"Papa mau berangkat lagi?" tanya si gadis kecil, karena melihat papanya tak membawa tas dan akan segera keluar.


"Iya, nak. Kamu mau ikut? Kebetulan papa sedang santai di kantor," tawar sang ayah, ia mengkhawatirkan putrinya yang sendirian tanpa ibunya di rumah.


Tak jarang Alan membawa putrinya ke kantor, gadis kecil itu sampai akrab dengan teman-teman kantor ayahnya. Ia mengangguk dengan senang mendengar ajakan dari sang ayah.


Melody pamit setelahnya, "kalau begitu kami pulang ya, Nat, Om Alan."


Saat sampai di rumah, ternyata Rosa masih di sana. Entah dia kembali lagi atau yang Melody lihat tadi adalah hantu, tak ada yang tahu. Lagi-lagi saat Melody datang, Rosa pulang. Saat Rosa sudah keluar, Daniel menggerutu.


"Huh! Dasar guru menyebalkan."


Melody lalu menghiburnya, "tenang, kamu baru akan bertemu lagi dengannya seminggu lagi."


......................


Ia bilang begitu, tapi keesokan harinya pukul sembilan pagi Rosa datang menjinjing tas yang biasa dia pakai untuk mengajar. Daniel tengah membaca buku sejarah romawi kuno bersama Melody di kamarnya. Sama sekali belum mengerjakan tugas yang Rosa beri kemarin.


Emily masuk ke dalam kamarnya dan mengabarkan kedatangan Rosa. Tentu Daniel terkejut dengan les dadakan ini, tak ada aba-aba sebelumnya.

__ADS_1


"Karena sebentar lagi Dany akan tes masuk sekolah internasional, mulai hari ini kamu belajar les setiap Senin sampai Jumat," jelas Emily yang duduk di tepi kasur.


Melody memperhatikan sepasang mata anak asuhnya, lesu dan tidak bersemangat. Tapi tak mengeluarkan perlawanannya sedikitpun, senyuman Emily menekannya. Jika melawan, senyuman itu akan berubah jadi amarah.


Diamnya Daniel Emily artikan sebagai persetujuan, atau tepatnya kepatuhan Daniel. Wanita berbulu mata lentik itu keluar dari kamar anaknya. Melody mengusap lembut jidat lebar Daniel.


"Melody, Dany mau pakai jasa joki lagi, nanti Dany bayar kalau sudah jadi C-E-O," datar anak itu.


Dengan enteng Melody mengiyakan, karena dia sendiri direktur utama perusahaan joki nya. Tanpa sadar Daniel berhasil menemukan celah itu.


"Benar kan? Melody admin nya. Voucher itu bohong, mana ada kode voucher ditaruh di chat," tebak Daniel.


Jelas Melody panik, tak dia sangka bisa terbongkar semudah itu. Tapi Melody tetap berkepala dingin, dia harus memastikan apa dia benar-benar ketahuan.


"Oh? Hanya karena voucher kamu berspekulasi begitu?" sangkal Melody.


Daniel menyeringai. "Tinggal mengaku, apa susahnya. Harusnya kamu bangga Melody, bisa bergabung dengan komunitas yang isinya orang-orang pintar semua, dan harusnya kamu terbawa pintar juga oleh mereka."


"Rupanya begitu," gumam Melody di dalam hatinya.


Untung tidak keburu panik, jika iya semuanya bisa terbongkar saat itu juga. Melody takut menyimpan kebohongan ini terlalu lama, takut jika menyakiti hatinya suatu saat. Daniel sudah menaruh kepercayaan padanya.


Melody mengiyakan, "ya, aku adalah admin." Bukan kebohongan tapi bukan juga kejujuran. Melody menjulurkan tangannya dan melanjutkan, "ayo, bawa bukunya, kita ke ruang belajar."


Daniel mengangguk, ia segera turun dan pergi ke ruang belajar, sembari tangannya terus menggenggam tangan Melody. Di ruangan itu sudah ada Rosa, lama-lama Melody bosan juga dengan wajah judes itu.


Hari ini, Daniel lebih tertekan dari biasanya. Ajaran Rosa semakin ketat, seperti dikejar tenggat waktu padahal hari tes masih beberapa pekan lagi. Daniel pun sudah menguasai standar nilai yang diperlukan agar lulus tes, Rosa seperti terobsesi ingin menjadikan Daniel nomor satu. Tentunya Rosa hanya menjalankan tugasnya, jadi sebetulnya siapa yang terobsesi?

__ADS_1


__ADS_2