Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 39 Sebutan Baru Lagi


__ADS_3

Jamie tak bisa berlama-lama dengan Melody di kamar Daniel, sedangkan Daniel tertidur. Secara teknis mereka berduaan. Ia bangkit, tapi sebelumnya dia ingin mengatakan sesuatu.


"Apa kamu tidak tertarik menjadi gurunya?" tawar Jamie.


Spontan Daniel melotot mendengarnya, bagaimana bisa orang seperti Melody menjadi gurunya. Melody bisa mengajari anak TK manapun, tapi tidak dengannya. Pikir Daniel.


"Dari dulu aku kepingin kok, tapi sudah ada Miss Rosa." Jari-jari Melody mencolek area kantung matanya. Seperti yang diduga, maskara murahannya luntur.


Melody mengalihkan pandangannya pada Daniel, sembari berkacak pinggang percaya diri. Resah di hatinya sirna, se-marah apapun anak itu nantinya Melody akan menghadapinya.


"Baiklah, mulai sekarang kamu yang menjadi tutor nya. Tidak perlu sekeras Rosa, saya akan membayar dua kali lipat dari yang saya berikan pada Rosa."


Jamie memberitahukan besar nominal gaji yang dia berikan pada mantan guru privat Daniel sebelumnya. Sebagai sesama pengajar les, Melody tahu persis harga pasar les privat berdasarkan kelasnya. Maka Rosa mendapat bayaran yang lebih dari pekerjaannya.


"Jangan salah paham, saya tidak sembarang membayar mahal. Apa yang Rosa ajarkan bukan kelas belajar membaca atau mengeja, tetapi kurikulum yang setara dengan sekolah dasar di tahun akhir."


Meski Melody memutar bola matanya, Jamie tetap datar menerangkannya. Melody masih tidak menyangka Jamie adalah seorang yang seperti itu. Tapi tak ada kata terlambat untuk berubah.


"Apa bayaran dari saya sudah cukup? Atau jangan-jangan terlalu murah? Saya lupa, Rosa tidak sarjana sepertimu, dia terkenal karena pengalamannya."


WANITA TUA ITU BUKAN SARJANA? ~Melody


Apalagi setelah mendengar seluruh prestasinya barusan, sepertinya memang terlalu murah. ~Jamie


Anak itu tersadar, selama ini dia salah menilai Melody. Sementara Daniel memproses pembicaraan mereka, ketiga-tiganya tengah berpikir keras.


"Tidak, tidak, terlalu berlebihan." Melody tak melanjutkan kata-katanya.


Jamie mengalihkan pandangannya mendadak, pada tubuh kecil seorang anak yang meringkuk di atas kasur. Ada yang janggal, ia diam-diam mendekati. Melody hanya mengamati gerak-gerik pria itu, tubuhnya bergidik karena kecurigaan Jamie menular padanya.


Terguncang oleh tarikan Jamie, Daniel tersentak karena tiba-tiba tubuhnya dipaksa berbalik. Jamie sama terkejutnya melihat mata bengkak dan kemerahan putranya yang ternyata sudah terbangun.


Sedangkan Melody yang penglihatannya terhalang oleh lebarnya bahu Jamie, melengkungkan tubuhnya ke samping upaya melihat apa yang terjadi. Daniel menatap ke arahnya.


"Aku benci Melody!" teriak Daniel.

__ADS_1


Lalu ia lepas tangan ayahnya dari bahunya, meringkuk tubuhnya seperti semula.


Melody merasa hatinya gundah, rupanya Melody sempat berharap kalau Daniel akan berbeda. Benar kan, kecil kemungkinan seseorang bisa tahan dengan Melody setelah mengetahui fakta bahwa Melody lebih cerdas dari siapapun dan dalam bidang apapun.


Seolah dia akan selalu memenangkan berbagai kompetisi, yang tercantik, murid terbaik, genius termuda. Semua orang di sekelilingnya menyanjung, tidak termasuk yang terdekat. Yang berada di sisinya setiap waktu, hari dan detik, justru dengki padanya.


Tapi bukan cuma itu yang menggangu pikiran Melody.


"Dia tadi melihat aku memeluk ayahnya, karena itukah?" bisik nya dalam hati.


Melihat orang lain memeluk ayahnya, apalagi yang memeluknya adalah orang yang telah dia percayai. Sudah cukup lama Daniel menaruh kepercayaannya.


Melody membuka pintu lalu keluar melewati pintu itu dengan punggung menciut. Hendak ditahan oleh Jamie tapi tak sempat karena pintu sudah ditutup kembali, laki-laki itu pun duduk di tepi kasur.


"Kenapa Dany bilang seperti itu?" lembut sang ayah.


Tubuh kecil itu berbalik dan terlihat masam wajahnya, bukan kecewa atau benci, ia marah karena merasa dibodohi. Daniel menjawab.


"Melody bertingkah seperti orang bodoh dan tak pernah menjawab pertanyaan dari Dany."


Jamie hanya terheran-heran, tak terlalu paham situasi ini. Ia pun baru terpikir sekarang, harusnya sedari awal Melody saja yang mengajar Daniel. Bingung Jamie harus menjawab apa, bagaimana ia harus memahami perasaan Daniel.


Ia membatin, "ternyata aku tidak terlalu memahaminya, Daniel penurut, dan aku tak pernah menanyakan bagaimana perasaannya."


KLAK.


Suara pintu terbuka, tampak seorang gadis kecil dengan seragam putih merahnya. Ia mematung, tak melepaskan tangannya dari pintu, wajah polos itu memerah karena malu bertemu dengan Jamie.


"Masuk saja, Daniel sedikit demam, tak bisa keluar kamar," ujar Jamie.


Perasaan malu itu tertindih oleh risau mendengar temannya jatuh sakit, Natasya menempelkan tubuhnya pada sisi ranjang dan melihat teman kecilnya terbaring lemah lesu.


"Nanny tidak bilang Daniel sakit dan sedang ditemani papa Daniel, jadi Nat masuk."


Jamie bingung saja, yang anak itu maksud Melody bukan? Mengapa malah anak orang lain yang memanggil Melody dengan sebutan pengasuh, sedang Daniel memanggilnya dengan sebutan nama. Jangan-jangan Melody ikut mengasuh dia? Pikir Jamie.

__ADS_1


"Sekarang dia ada dimana?" Yang dimaksud adalah Melody.


"Ada kok di ruang depan," ringkas Natasya. Ia lanjut menanyakan keadaan Daniel, "pusing tidak?"


Daniel mengangguk, hanya itu responsnya. Lalu terdiam kembali, Natasya yang kebingungan menoleh ke arah Jamie dengan alis yang naik sebelah.


"Daniel sedang marahan dengan nanny-nya."


Jamie meniru sebutan Natasya kepada anaknya. Jika semua orang memanggilnya Dany, maka Natasya menyebutnya dengan nama asli. Bukan karena belum merasa begitu akrab, ia ingin menyebut nama Daniel berbeda dari orang lain.


"Apa karena nanny pintar?" celetuk Natasya.


Dua laki-laki di sana melotot, bagaimana bisa menebak seakurat itu.


"Tuh kan, Natasya saja diberitahu! Di depan Dany, dia berbohong," nada Daniel meninggi.


"Kok, Dany marah? Nanny pura-pura karena takut Daniel marah, takut Daniel begini. Tadinya Nat tidak percaya waktu nanny cerita, ternyata Daniel beneran marah."


Emosi Daniel semakin naik, dia bangkit mendudukkan tubuhnya. Dia sama sekali tidak marah hanya karena Melody pintar, Daniel marah karena Melody menyimpannya selama ini.


"Dany bukan marah karena itu, Melody berbohong, Dany dibuat terlihat bodoh oleh Melody. Itu yang Daniel benci."


"Apa Daniel tak bisa memaafkan nanny?" bujuk Natasya dengan wajah imutnya.


"Kalau benci ya benci!" tegas Daniel.


Jamie terpikir akan sesuatu, kilas balik masa lalu terlintas di benaknya. Di masa lalu, Daniel pernah membenci Melody saat sebutannya masih "melly" dan Daniel mengkonfirmasi secara langsung kalau perubahan panggilan itu mengubah cara pandangnya juga. Jamie coba mengajukan saran itu.


"Apa?! Dany harus mengubah panggilannya lagi? Dengan apa? Melow? Medy? Medusa?" Daniel merebahkan kembali tubuhnya, keningnya mulai terasa berputar-putar lagi.


"Nanny!" seru Natasya, sembari melompat-lompat kegirangan. "Daniel harus memanggilnya nanny, kan dia pengasuh Daniel."


"Ugh ..." Daniel memasang wajah pahit.


Panggilan itu terasa lebay baginya, cuma anak kecil yang memanggil pengasuhnya begitu. Karena selama bersama Melody, dia tak merasakan aura Melody sebagai pengasuh, melainkan seorang teman.

__ADS_1


__ADS_2