Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 49 Awal Dari Semuanya


__ADS_3

Dalam gulungan selimut, Melody digendong Jamie hingga lantai teratas apartemen. Tapi, apartemen yang berbeda dengan apartemen tempat keluarga Jamie tinggal. Mereka masuk ke dalam penthouse milik Jamie.


Jamie menaruh wanita itu di atas ranjang, selembut mungkin menjaganya tetap tertidur. Terbuka sedikit celah kelopak mata Melody, hanya lampu tidur yang menjadi sumber cahaya di kamar itu.


Melody mengoceh di dalam selimutnya, "dasar wanita jahat!"


Baru saja Jamie masuk membawakan segelas susu, dengan jahe di dalamnya. Ocehan wanita mabuk menyambutnya, aroma jahe yang menyengat sekalipun tidak sampai di rongga hidung Melody yang tersumbat.


"Siapa," Jamie meladeninya.


"Emily."


Balasan Melody membuat Jamie tertegun, ditaruhnya gelas itu di meja. Omongan orang yang mabuk terkadang tulus dan jujur dari lubuk hati mereka, Jamie duduk di tepi kasur karena tertarik pada pembicaraan ini.


"Mempermainkan perasaan temanku, bahkan melakukan ... di belakang suaminya sendiri. Sepanjang waktu, dalam waktu yang tahun, ah tidak, bulan??" Melody beralih melihat ke arah jendela transparan, mencari langit dan bulannya.


Melody melantur, "bulannya ke mana?"


"Lanjutkan perkataan mu tadi." Jamie menunduk, memijat batang hidungnya.


Sayangnya, Melody sudah melupakan topik pembicaraannya sendiri. Jamie kehilangan kesempatan untuk mendengar pembahasan itu, belum tentu nantinya Melody akan mengingat perkataannya sewaktu mabuk.


Lelah berhadapan dengan wanita mabuk, Jamie bangkit dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Melody sendiri. Menjaga jarak tetap diperlukan, mereka adalah dua orang dewasa yang tidak terikat hubungan pernikahan.


"Kemana?" lirih Melody.


Terdengar suara gesekan antara kasur dan tubuh Melody yang bergeser, Jamie menoleh ke belakang. Wanita itu melepas gulungan selimutnya. Kakinya turun ke lantai, balutan kain di tubuhnya tidak menutup seluruh pahanya.

__ADS_1


"Mau menemui Emily ya? Padahal kamu sudah memaafkan dia sekali. Tapi Emily malah mengulanginya lagi, dan lagi," sambung Melody, "pasti kamu mengira aku berkata omong kosong."


Kacamata memang menyamarkannya, di balik lensa berbingkai itu sorot matanya dingin menatap Melody. Tanpa mendekat sejengkal pun, Jamie hanya berdiam di tempat.


"Bagaimana aku tahu ucapan mu bohong atau tidak," tegas pria itu.


"Tristan Andreas Rodgers, 22 tahun, putra semata wayang founder of Rodgers Entertainment," nadanya mendadak berubah dramatis, "oh, wahai Melody, darimana engkau mengetahui semua itu?"


"Dia pelanggan istimewa ku hihihi," terselip tawa di akhir kalimatnya.


Percaya tak percaya, Jamie tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya. Darimana Melody tahu soal perselingkuhan yang dia sendiri tutup rapat? Bahkan tidak ada satupun media berita yang berani mengekspos rahasia itu.


Siapa Melody? Dia hanya seorang pengangguran yang nyaris tak pernah keluar dari rumah sebelum mendapat pekerjaan.


Pria itu melanjutkan langkahnya menuju pintu kamar yang sudah terbuka sejak tadi. Melody bahkan semakin menjadi-jadi, beranjak dari kasur. Namun, berakhir terjatuh ke lantai karena sempoyongan.


Bukannya keluar dari kamar, Jamie justru menutup pintu dan kembali menghampiri Melody. Ia sudah memegangi lengan Melody untuk dibangunkan, tapi Melody malah mencengkram kuat kerah kemeja laki-laki di depannya, menempel ujung dengan ujung hidung mereka berdua.


"Pilih aku," rayu wanita itu, dari jarak sedekat itu tampak merah padam di wajahnya.


Ya ampun Melody jahat, tolong jangan bertingkah seperti wanita ******, kamu akan menyesal!!


Melody memajukan bibirnya, menakutkannya dengan bibir pria di depannya, Jamie tidak berdiam diri di saat seorang wanita benar-benar mengecup bibirnya. Jamie menekan tengkuk leher Melody menggunakan tangan besarnya, dibalas ciuman itu puas-puas.


Perlahan Melody menggerakkan kakinya, tetapi saat dia bangkit dan berdiri sepenuhnya, tautan bibir mereka terlepas. Ia mengerutkan bibirnya.


Jamie memeluk pinggang Melody, kaki polos dan putih itupun terangkat, Jamie menaruh tubuh ramping Melody di atas ranjang.

__ADS_1


Berlagak malu-malu kucing dengan menyilang kan pahanya. Melody terbaring dengan rambut acak-acakan, riasannya sudah lama luntur karena menangis terlalu banyak.


Meski begitu, Jamie kehilangan kewarasannya. Melihat wanita yang sudah lama mendiami hatinya berbaring di ranjang menunggu-nunggu dirinya beraksi.


Kacamata yang selalu tersemat di wajah tampan Jamie, khusus malam ini Melody dapat dengan puas menikmati pemandangan wajah tampan itu tanpa kacamata. Melody semakin tergila-gila, rambut pria itu turun menutupi kening.


Ia tarik kain panjang yang melilit kerah kemejanya, tidak terduga Jamie mengeluarkan sebungkus ****** dari dalam saku celananya. Melempar benda itu ke ranjang.


"Hm?" Melody mengangkat tubuhnya dan terduduk, melongo melihat keberadaan benda dewasa itu.


"Kenapa? Kamu masih perawan?" tanya Jamie, garis bibirnya membentuk seringai.


Matanya berkilat, sembari tersenyum lebar Melody mengatakan secara langsung, "kamu akan segera tahu, bukan?"


***


Melody mengedipkan matanya berkali-kali, terasa sakit. Baru beberapa menit dia memejamkan mata, cahaya lampu yang amat terang di ruangan itu menggangu tidurnya. Mencoba bangun, walau sambil menyipitkan mata.


Tiupan pendingin ruangan memyerap ke dalam tubuhnya, ia tersadar tengah bertelanjang bulat di dalam perlindungan selimut. Memori-memori malam panas yang barusan dia lalui melintas dengan sangat jelas di dalam kepalanya.


Tak dapat dia temukan pakaian yang dia pakai sebelumnya di seluruh penjuru ruangan, terpaksa ia turun dari kasur tanpa balutan apapun sampai tuhan mempertemukan dirinya dengan handuk.


Melody hendak memandikan tubuhnya, yang terasa tidak kotor sama sekali. Seperti seseorang telah membasuhnya lebih awal. Saat melihat bak mandi, seketika dia teringat betapa rewelnya dirinya saat tubuhnya dibersihkan.


Terlebih yang membantunya membersihkan tubuh adalah majikannya, suami orang, ayah dari anak asuhnya!


Melody membanting keras pintu kamar mandi, tak sanggup memikirkan betapa lancangnya dirinya malam ini.

__ADS_1


"Memalukan, tak tahu diri, penggoda suami orang!! Ya ampun, komplit sekali," amarah yang ditujukan kepada dirinya sendiri.


__ADS_2