Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 30 Belum Waktunya


__ADS_3

Setelah pencarian singkat di sekolah dasar itu, Natasya semudah itu ditemukan. Bersama Daniel dan pengasuhnya, Natasya membagi makanannya yang kali ini bertambah porsinya menjadi 4 kotak bekal. Meski satu tambahan bekal itu adalah buah-buahan, ia harus menghabiskannya. Untuk itulah Melody dan Daniel duduk bersamanya, di teras ruangan tak terpakai.


Makanan enak terasa semakin nikmat karena memakannya bersama-sama, kapan terakhir kali Daniel makan bersama keluarganya secara utuh? Kapan pula ia akan merasakannya lagi? Daniel berhenti memikirkan hal itu dan fokus pada makanannya saat ini, bersama orang-orang tersayangnya. Daniel berharap ia bisa makan seperti ini lagi bersama Natasya dan Melody.


"Bukankah kamu tinggal membaginya ke teman-temanmu," ujar Melody sembari menikmati bento dengan lauk pauk bermacam-macam.


Natasya menggelengkan kepalanya. "Nat sudah menawarkan, tidak ada yang mau memakannya."


"Bawa saja ke rumah Dany seperti kemarin, perut Melody unlimited," ucap Daniel yang duduk di atas kardigan Melody sebagai tikar nya.


Melody menimpalinya, "tidak, aku sedang diet."


"Daniel sekolah di sini saja, bantu Nat habiskan makanan ini setiap hari," rayu Natasya.


Daniel terdiam karena ia harus tetap pada pilihan bundanya, sekolah internasional yang menjanjikan dan tentu selevel dengan kegeniusannya.


...****************...


"Bukan itu yang ingin aku dengar," tegas Jamie sekali lagi.


Pertengkaran antara suami dan istri masih belum selesai, Jamie sudah menentukan keputusannya sedari awal, tapi Emily bersikeras ingin meneruskan pernikahan mereka. Hanya satu permintaan Jamie jika Emily ingin pernikahan ini berlanjut.


"Sungguh, perdebatan ini tidak diperlukan. Aku tidak memaksa, kalau kamu masih mengharapkan perceraian dibatalkan maka kamu tahu hal apa yang harus dilakukan." Jamie dan istrinya sudah sampai di dapur saja.


Setelah perdebatan yang panjang, Emily menyerah.


"Fine! Aku tinggal, puas kau?!" Emosi Emily semakin meluap-luap.

__ADS_1


Itu yang Jamie ingin dengar, ia lantas meninggalkan Emily di ruang makan. Gelas-gelas yang tertata rapi dan satu teko kaca di atas meja makan disapu amarah tangan Emily, hingga pecah terbanting keras bertabrakan dengan lantai. Suaranya nyaring di seluruh ruangan.


Emily bergumam penuh amarah, "aku akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku."


Tujuh tahun yang lalu, pernikahan bisnis antara keluarga konglomerat Gray dan pemilik perusahaan ternama dilangsungkan oleh Jamie George Gray dan Emily Smith. Secara terpaksa Emily menikahi pria yang tak dia sukai, meskipun Emily selalu dingin dan kasar, mencemooh Jamie sebagai pria bodoh yang tertolong karena keluarganya kaya.


"Kau tak mengerti apapun, tidak usah mengajariku! Aku tidak butuh diajari oleh manusia tolol sepertimu!" ujar Emily saat ia gagal membangun sebuah perusahaan dan Jamie mencoba memberitahu letak kesalahannya.


Jamie perlahan mencintainya, ia menghormatinya sebagaimana seorang suami kepada istrinya, ia berhenti berucap ketika emosi istrinya meluap, menenangkan, lalu diam-diam mengumpulkan uang untuk memodali istrinya membangun perusahaan kembali dari awal.


Akan tetapi di umur pernikahannya yang ke lima tahun, sikap Emily tetap sama, walau dengan kehadiran Daniel sekalipun. Puncaknya saat Jamie menjemput Emily dari urusan bisnisnya, ia mendapati laki-laki di kamar hotel yang Emily tempati. Di sanalah ia bertemu pria muda yang menjadi simpanan Emily selama ini, Tristan. Hari itu juga Jamie menemui mertuanya, mengajukan perceraian pernikahan karena kerjasama bisnis mereka terhubung melalui pernikahan.


Diluar dugaannya, Emily sendiri ketar-ketir saat mendengar akan diceraikan. Entah mengapa dia menolak keras untuk diceraikan, padahal kemarin-kemarin dia justru menginginkannya.


Jamie berhasil dibujuk, anak menjadi alasan mereka masih bertahan. Akan tetapi, sejak hari itu Jamie berhenti memakai cincinnya.


Sampai saat ini, Jamie sudah tak merasakan hatinya menggebu-gebu lagi seperti dulu. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah kesembuhan Daniel, jika Emily tidak membantu proses penyembuhan atau bahkan menyakiti Daniel, ia tak segan mendaftarkan perceraian pada pengadilan tanpa mempedulikan hubungan bisnis keluarganya.


Melody dan Daniel kembali ke rumah karena Jamie sudah memberi ijin, beberapa langkah lagi mereka sampai di rumah tetapi terlihat dari kejauhan seorang petugas kebersihan keluar dari rumah Daniel. Bersamaan, Melody dan Daniel saling bertatap sejenak. Melody berpapasan dengan petugas kebersihan itu, kakinya tak sengaja menyentuh plastik hitam yang dijinjing oleh petugas kebersihan itu.


"Ma-maaf Mbak," ujar sang petugas kebersihan, menggaruk tengkuknya.


Melody tersenyum. "beling?" batinnya.


Sampai di rumah, Daniel berlari hendak memeluk ayahnya saat melihatnya berdiri memasak di dapur. Melody melihat terdapat sebiji pecahan beling di lantai yang akan dipijak Daniel, ia berlari menyusul dan mengangkat tubuh Daniel, ia berhasil melompati beling itu. Anak itu tertawa tanpa tahu maksudnya, ia hanya mengira sedang dijahili, dan melanjutkan niatnya untuk memeluk kaki ayahnya.


Jamie menggendongnya, sambil menanyakan menu apa yang ingin dia makan siang ini. Daniel sontak menoleh pada Melody, ia kenyang habis makan sekotak makan siang milik Natasya. Melody melengos pergi tak ikut campur soal itu.

__ADS_1


"Dany tadi beli roti daging di bawah, jadi kehitung sudah makan belum, Yah?" polos Daniel.


"Hanya roti?" tanya Jamie.


Daniel menimpali, "dengan buah!"


Berhasil tanpa celah, Jamie menganggapnya sudah makan. Jika sebelumnya menu makanan yang dimasak hanya satu atau paling banyak dua, kali ini ia menghidangkan makan siang berbagai menu. Emily tak keluar dari kamarnya, Jamie pun tak memanggilnya untuk segera makan siang.


Tak sesuai harapan Daniel, meski sudah kembali satu rumah, mereka makan masing-masing. Daniel menemani ayahnya di meja makan, sambil meminum jus buah yang dibuat Melody.


Daniel tiba-tiba bertanya, "apa bunda tidak akan pergi lagi?"


Jamie menyapu makanan yang tersisa di mulutnya dengan seteguk air, lalu menjawab pertanyaan dari putranya, "tidak, bunda sudah resmi pulang." Ia tersenyum.


Daniel terlihat senang, tapi tak se-senang itu. Jamie memastikannya, "kenapa? Dany tak senang bunda pulang?"


Dengan cepat Daniel menggelengkan kepalanya. "Bukan! Dany senang sekali, tapi Dany juga sedikit sedih ...."


"Apa Melody akan berhenti?" sambungnya.


Jamie menjawab dengan raut wajah sendu, "iya."


Melody sendiri sudah tidak kaget, sewaktu-waktu ini akan terjadi. Adanya Melody di sana untuk menjaga dan merawat Daniel karena tak ada Emily. Jika Emily kembali, sudah waktunya Melody berhenti.


Meski demikian, Daniel tetap tak siap ditinggalkan oleh Melody. Dia adalah pengasuh sekaligus teman baginya, ia juga teringat dengan janji ayahnya waktu itu. Tapi jika mengungkitnya, akan ketahuan oleh Melody, Daniel gengsi jika janji yang ayahnya buat di awal diketahui Melody.


Entah sejak kapan Emily berada di sana, ia menyahut, "tidak Dany, Melody akan tetap mengasuh kamu, itukan yang kamu inginkan?"

__ADS_1


Semuanya yang ada di meja makan menoleh ke arah Emily, wanita itu berdiri sejajar dengan pintu melipat tangannya. Sembari tersenyum.


__ADS_2