
Suasana mencekam di dalam ruangan sempit itu, orang dapat dengan mudah mengintip dari jendela transparan. Sang tamu wanita paruh baya, melipat tangannya di dada juga tak lupa menaikkan dagunya sedikit lebih tinggi.
Wanita bernama Lena itu mendesak Melody untuk mengaku, bahkan menyuruhnya meninggalkan kota ini hanya dengan ucapan saja. Padahal Melody mengharapkan sogokan selembar kertas bernilai milyaran rupiah, pasti dia akan mengepak barang-barang nya hari itu juga.
Melody dengan tegas membantah, "maaf, saya tidak melakukan kontrak kerja dengan anda, tapi Jamie, putra anda. Hal seperti itu tidak tertulis di kesepakatan yang saya tandatangani."
Kecelakaan kemarin bukan kehendaknya sendiri. Inginnya Melody mengundurkan diri dan keluar dari situasi rumit ini. Akan tetapi, Daniel menjadi alasan utamanya bertahan.
Perdebatan antara penuduh dan yang dituduh tidak akan ada habisnya, mulut Melody berhenti bergerak, tak mengeluarkan pembelaan apapun lagi. Lena mengerahkan ancamannya.
"Menyingkirkan kamu yang tidak punya keluarga bukanlah hal yang sulit," Lena bilang.
"Saya akan berhenti, saat Jamie sendiri yang mengakhiri kontrak tersebut."
.
.
.
Sudah menunggu setengah jam, Melody belum juga menampakkan batang hidungnya. Daniel terduduk cukup lama dengan posisi melebarkan kakinya di lantai dan memusatkan beban separuh tubuhnya pada kedua lengan yang bertahan sebagai tiang.
"Melody tidak akan datang, sebentar lagi ayah terlambat. Dany di rumah nenek saja, lagi ya?" bujuk Jamie.
Pria itu duduk, memasangkan sepatu berwarna merah di kaki putranya yang cemberut begitu Jamie memutuskan akan membawanya ke rumah neneknya lagi. Pipinya mengembang, antusiasnya pun sirna.
Diangkatnya tubuh Daniel, Jamie menggendongnya dengan tangan kanan saja sementara tangan kirinya membawa tas kerja. Daniel yang membukakan pintu untuk mereka. Keduanya terkejut melihat Lena ada di depan mereka saat itu juga.
"Mama, kebetulan sekali Jamie butuh bantuan Mama untuk mengurus Daniel, pengasuhnya tidak datang hari ini," ujar Jamie spontan.
"Memang tidak! Karena Mama baru saja memecat gadis licik itu!" lantang Lena.
"Mama ..." ucapan Jamie tersendat, "tahu rumah Melody?"
Sempat mengira ibunya tidak serius, tapi ia mengingat seberapa benci wanita itu pada Melody. Jamie tak mengira Lena akan langsung turun tangan. Seingatnya, ibunya sudah tidak berhubungan lagi dengan ibu kandung Melody sejak keluarga mereka jatuh miskin.
"Jamie yang memperkerjakan Melody, Mama tidak punya hak untuk itu," tegas Jamie, tapi masih merendahkan suaranya.
Di samping itu, Daniel memproses pembicaraan ayahnya dan neneknya sampai ia mendapat kesimpulannya, Melody tidak akan mengasuh dia lagi. Membendung air bening di mata bulatnya, Daniel mulai meraung keras.
"Ke-kenapa Oma ... Oma jahat ... Hiks ...."
Cemas melihatnya, Jamie sebisa mungkin menenangkan putra tersayangnya. Sebaliknya Lena tidak menyesal sama sekali telah melukai hati cucunya, yang menurutnya itu adalah demi kebaikan Daniel sendiri.
__ADS_1
"Mulai sekarang Oma yang akan mengasuh Dany," kata Lena pada cucunya, sembari mencoba menyentuh pipi basah itu.
Tatapannya lalu beralih pada Jamie. "Mulai besok, kamu antar Daniel ke rumah Mama, Jamie!"
Daniel menepisnya, membantah, "tidak! Dany cuma mau Melody dan Natasya! Dany tidak mau ke rumah Oma lagi!!"
Entah siapa nama perempuan yang disebut cucunya, Lena kesal Daniel lebih memilih dua perempuan itu daripada neneknya sendiri.
"Baiklah! Kalau begitu Oma yang akan datang ke sini, mengasuh Dany," bentak Lena.
Sontak membuat Daniel terdiam karena merasa takut akan amarah neneknya. Lena refleks menutup mulutnya, tersadar bahwa Daniel ketakutan mendengar sentakannya barusan.
"Ma ..." Jamie sudah lesu menghadapi masalah-masalah ini.
Lena turut menanyakan hal secara beruntun, "mama tidak boleh? Merawat cucu mama sendiri? Mama sudah rela datang kemari untuk membantu kamu, kenapa kamu tidak bisa menghargai mama barang sedikit saja?!"
Apa daya Jamie mendengar perkataan seperti itu?
...****************...
Di tempat lain, di kamar yang lebih besar dan megah berdiri seorang pemuda bernama Tristan menggenggam telepon di sisi telinganya.
"Sudahlah, berhenti menangisi lelaki itu, kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu. Tinggalkan saja sampah yang berselingkuh. Kamu tahu, kan? Selama ini aku sudah menunggumu."
Lelaki itu terdiam, berpikir sejenak. Malam itu dia mendapat potretan yang jelas, tapi tak ada rekam jejak di ponsel miliknya. Ia bergumam dalam hatinya, "sepertinya tersimpan di handphone Melody, bagaimana aku bisa mendapatkan foto itu? Apa aku bayar peretas saja?"
Kesal menunggu, Emily memanggil-manggil nama Tristan. Lelaki itu menyahut. Akan tetapi, seorang pembantu mengetuk pintu kamar dan memanggil namanya juga. Perhatiannya kembali teralihkan, segera Tristan membuka pintu. Mengabaikan sambungan telepon yang terputus.
"M-m-maaf tuan," ucap gadis remaja itu berdiri di depan kamar majikannya. Kedua tangannya menyodorkan sebuah ponsel sambil menunduk ketakutan.
"Saya dengan ceroboh mencuci pakaian anda tanpa mengecek dulu, saya tidak tahu ada handphone di dalamnya, maaf saya berusaha mengeringkannya dengan berbagai cara tapi—"
"Tapi handphone ini terlanjur mati?" timpal Tristan.
Semakin gemetar gadis itu dibuatnya, ia mencoba mengangkat kepalanya. Tak berlangsung lama, gadis itu kembali menunduk saking ketakutannya akan tatapan tajam sang majikan. Karena tak berani mengeluarkan suaranya, ia mengangguk lambat sebagai balasan.
Akhirnya Tristan mengambil ponsel tersebut. "Kamu boleh pergi," suaranya tiba-tiba melembut.
Mau suaranya selembut salju pun gadis itu enggan menarik kepalanya ke atas, ia bangkit setelah membungkuk lebih rendah sejenak lalu berbalik badan. Meski sudah mempercepat langkahnya, dari belakang masih dapat dia dengar bahwa majikannya mengatakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Aku akan menghukum mu nanti," ucapnya sembari memasang seringai jahat di wajahnya.
Tak lama kemudian ia kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu mengumpat.
__ADS_1
"Sial! Aku baru ingat belum mengembalikan hape ini kemarin."
Langit menggelap, malam hari adalah waktu yang Tristan pilih untuk bertamu ke rumah temannya, Melody. Telapak kakinya yang dibalut sepatu khas Eropa menginjak kopling motor berbodi besar-nya.
Nyaris semua tetangga Melody sudah mengunci rumah mereka, tak ada lagi anak kecil yang berkeliaran di luar malam itu. Langkah Tristan mengisi kekosongan di sana.
Tak lama kemudian pintu terbuka setelah beberapa ketukan dari tulang jari Tristan. Melebar mata Melody menatapnya, wanita itu tidak menyambutnya dengan hangat ramah meski Tristan melempar senyum penjerat wanita-nya.
Melody membuang belas kasihan nya sesaat, ia mengeraskan kepalan tangan yang sebegitu halusnya, demi menghantam wajah pria yang berdiri tepat di depan mata. Pria itu terhempas ke samping, berbadan kekar tidak lantas membuatnya mampu bertahan dari tamparan seorang Melody.
"Aku paham," ujar Tristan seraya mengusap darah yang menetes di bibirnya, "untuk apa pukulan ini."
"Mana hape ku?" kata Melody.
Keringat dingin mengucur dari atas dahi Tristan, mendatangkan firasat buruk bagi Melody. Pria itu kemudian mengeluarkan barang milik Melody dari saku celananya.
"Sudah di perbaiki di tempat paling bagus, entah hasilnya bagus atau tidak, cek sendiri. Kalau tidak puas, aku akan membeli model terbaru dari brand itu."
"Apa yang kau bicarakan?" timpal Melody.
Ponsel yang dia genggam berhasil dinyalakan. Namun sesuai dugaan Melody, isinya sama sekali berbeda. Data penting yang tersimpan di memori internal sudah di ***** habis.
"Pembantuku tak sengaja mencucinya," ucap Tristan.
Terdiam dalam kekesalannya, kehadiran sosok lain mengalihkan perhatian Melody. Raut wajah Melody yang awalnya seperti singa akan mengamuk, meredam mendapati sosok itu adalah pria berkacamata yang janggutnya hilang entah kemana.
Tristan yang masih memegangi pipi merahnya, sontak ikut menoleh, penasaran akan sudut yang dipandang Melody. Pandangan pria itu bergeser menatap Tristan, ia menurunkan tangannya dan segera menegakkan badannya.
"Ada yang mau menemui mu, tuh!" ucapnya, "aku pergi, selamat menghabiskan malam kedua kalian." Tristan cengengesan.
"Oh, dan aku tidak akan meminta maaf," Tristan mengecilkan suaranya, "kenapa? Karena suatu hari nanti, kau akan menangis bahagia dan berterimakasih padaku."
"Mimpi naif-mu tidak akan pernah terwujud, bukan seperti ini cara mendapatkan seorang wanita," kalimat terakhir Melody, yang berhasil Tristan tangkap sebelum dia meninggalkan kediaman Melody.
Langkah laki-laki berstatus mahasiswa itu berhenti tepat di samping pria yang usianya berjarak sepuluh tahun lebih tua darinya.
"Tidak bereaksi apapun, huh? Sepertinya kau sudah tahu siapa penyebab kejadian kemarin? Setelah mati-matian mempertahankan, pada akhirnya pernikahan mu akan hancur juga, haha!"
Tak henti-hentinya mengoceh, Melody dan Jamie sama-sama tahu suasana hati pria yang dimabuk cinta ini sedang berada di puncak kesenangannya.
"Coba saja," respon Jamie, suara beratnya tetap kalem dan tidak terbawa emosi.
Kemudian ia melanjutkan ucapannya, "setelah kau hancurkan, apa Emily akan datang padamu, atau justru lari mengejar ku?"
__ADS_1
Tawa dan senyuman licik Tristan sontak memudar. Niatnya untuk memprovokasi Jamie justru berbalik pada dirinya sendiri.