
Di ruangan pesta, Jamie kehilangan fokusnya. Benda canggih yang menempel di pahanya terus bergetar. Pria-pria yang bercengkrama dengannya adalah para petinggi tersohor di negara itu, Jamie ragu jika harus meninggalkan mereka.
Namun, penasaran sepenting apa telepon yang mendadak itu, sungguh di malam yang tidak tepat. Ia menyela pembicaraan untuk pamit sebentar, mengecek siapa yang menelponnya, ditakutkan itu keadaan darurat.
Tak lama setelah merogoh ponsel di sakunya, nama Melody tertera di layar panggilan tak terjawab. Aneh, Dia bukan orang yang berani menelepon Jamie jika bukan keadaan darurat. Mendarat satu foto di dalam kolom obrolan Melody, matanya melotot tak bisa menyembunyikan kegelisahannya kala melihat foto itu.
Jamie tak segan meninggalkan kelompoknya, seraya berjalan menuju pintu sang ibu tak sengaja melihatnya, heran kenapa anaknya terburu-buru seperti itu.
"Jamie?" lontar Lena, "mau pergi kemana kau?" tanyanya.
Si pria mengangkat tangannya yang memegang ponsel, ditunjuk ponsel itu oleh jarinya. Untungnya Lena mengerti isyarat dari Jamie dan ia kembali pada perkumpulan sosialitanya.
Bising keramaian sudah tak terdengar, pintu besar aula pesta kembali ditutup. Ia menempelkan ponsel genggamnya pada telinganya, menunggu saluran telepon tersambung. Bunyi panggilan berdering terdengar, tak lama kemudian keluar suara lelaki mengatakan, "halo."
"Apa mau mu?" tegas Jamie, nadanya sedikit emosi.
"Rileks saja, aku hanya ingin temanku segera di jemput. Karena kalau tidak, mungkin bukan hanya bibirnya," ancam pria di seberang telepon.
"Bar mana?" tanya Jamie.
"Bar? It's night club," ujar pria itu, kemudian membeberkan tempat Melody berada.
Dengan cepat Jamie mengakhiri telepon dan layar pun kembali menampilkan foto yang membuatnya gusar. Bagaimana tidak, seorang pria menyatukan bibir kotornya dengan buah bibir Melody dalam foto yang minim cahaya itu.
Memasuki lift menuju lantai dasar, Jamie bergerak cepat menerjang angin malam menggunakan mobil sport baru yang dia dapatkan dari royaltinya. Warnanya hitam menyatu dengan kegelapan malam.
Di dalam kelab, lantai dansa dipenuhi para pemangsa yang siap menyantap gadis polos dan lugu yang menari-nari dengan gembira, penuh percaya diri. Minuman-minuman yang disodorkan padanya, dia minum tanpa ragu.
"Gaun bercorak bunga-bunga kecil, gaun bercorak bunga-bunga kecil," gumam Jamie dengan pakaiannya yang sangat berkelas saat menapakkan kakinya di kelab malam.
Ia menaiki tangga supaya bisa melihat dari atas, remang-remang cahaya tidak bisa menyembunyikan gaun berwarna cerah yang dipakai Melody. Jamie kembali turun dan membelah kerumunan di lantai dansa, beberapa orang memprotes tindakan kasar Jamie yang memaksa orang lain menyingkir.
"Apa-apaan orang itu?"
"Tenanglah, bung."
__ADS_1
"Kak, ayo berdansa denganku," ucap salah seorang wanita berambut warna warni yang menari sambil mabuk.
Jamie mengabaikan semuanya, fokusnya hanyalah menemukan Melody saat ini. Terlihat wanita berambut hitam panjang yang dia cari, para lelaki tengah mengerumuninya. Jamie menyingkirkan sekumpulan pria-pria brengsek itu dari sisi Melody, dipegang lengan polosnya yang dingin hingga pinggulnya berhenti bergoyang.
Ia memanggil manggil namanya, "Melody!"
Kepala Melody hanya celingak-celinguk ke arah lain sambil kebingungan, wajahnya mulai tampak gelisah. Dua tangan Jamie naik dari lengan ke pipi kenyal Melody, mencoba meluruskan kepala wanita itu.
Melody kini menatap lurus mata seorang pria yang jaraknya tak kurang dari 5 cm. Melody menyipitkan kedua matanya. Sulit mengenali wajah itu, pandangannya buram dan cahaya minim sekali.
Tapi dia menyebutkan nama yang tepat, "Jamie."
Pria itu seketika menarik Melody keluar dari kelab malam, dari kejauhan Tristan menyeringai menyaksikan rencananya yang sukses. Sekarang Tristan hanya bisa berharap rencananya dalam membuat Jamie dan Melody saling mencintai berhasil, agar Jamie menceraikan Emily setelah itu.
Jamie membawa Melody ke mobilnya, untuk memulangkannya. Melody seperti anak kecil yang pertama kali naik mobil, memandangi gedung-gedung pencakar langit menjulang di sepanjang perjalanannya.
"Kenapa berhenti? Kamu mau aku pergi sekolah lagi, hah? Aku sih tidak sudi, kau saja sana yang menimba ilmu kau bahkan tidak mampu cebok sendiri," gerutu Melody.
Mobilnya benar-benar berhenti, diparkiran di depan minimarket. Jamie hanya membuka sabuk pengaman miliknya, sementara Melody masih terikat.
Mulutnya berhenti mengoceh, tapi Melody menjadi seperti seorang idiot yang membiarkan mulutnya terbuka begitu mendengar perkataan itu. Tanpa sadar pria yang dia tatap menghilang dari pandangannya.
Di minimarket, Jamie menaruh sebotol besar air mineral dan dua kaleng susu sapi murni di meja kasir. Ia berdiri tegap tetapi perhatiannya terpusat pada dus super mini yang berbaris di meja kasir, lebih tepatnya di samping barang-barang diskon. Pengaman.
"Ada lagi, Kak?" ujar penjaga kasir pria, tampaknya sudah selesai memindai barang yang di beli Jamie.
"Sudah," balasnya ringkas.
"Yakin?" ujar penjaga kasir cengengesan.
Jamie menarik pintu kaca, membawa sekantong air yang dia beli, menyimpan tangan kanannya di saku celana. Hanya beberapa langkah ia sudah sampai di samping mobilnya. Begitu pintu mobil dibuka, pandangannya mengarah ke arah lain, sekelebat bayangan keluar dari mobilnya. Jamie tak melihat dengan jelas apa itu.
Ia menyebarkan pandangannya, wanita bergaun selutut dan tangan terbuka berlari berlawanan arah dengan mobilnya, bertelanjang kaki di atas trotoar jalan. Sontak Jamie pun ikut berlari mengejarnya.
Larut malam mengheningkan, hentakan kaki keduanya mengisi keheningan itu. Melody semakin keras berlari, kecepatannya berlari lebih kuat dari wanita seusianya, tapi wanita tetaplah wanita. Jamie mampu meraih tangan Melody.
__ADS_1
Tak rela membiarkan dirinya disentuh pria yang asing baginya, Melody memberontak sekuat tenaga dan tak berani menatap pria asing itu. Ia gelagapan, sampai menangis.
Melody menolak keras sambil terisak-isak, "tidak mau! Sampai kapanpun aku tidak mau kembali padamu! Lepas! Berhentilah memaksaku ... Hu ... Hu ..." Lututnya menekuk sekuat tenaga.
"Bukan, saya Jamie," bantahnya, "dengar!" Jamie mengunci pinggang Melody dengan melingkarkan tangan kirinya.
Kaki Melody berhenti mengeras, ritme napasnya tidak setinggi sebelumnya, kerutan di dahinya perlahan menghilang.
"Saya Jamie," ucap Jamie sekali lagi.
Tangan polos Melody terekspos, entah hilang kemana sweater rajut nya. Tapi Melody terlihat tak merasakan apapun meski dinginnya angin malam meniup kaki dan pundaknya. Jamie melepas jas, tersisa kemeja hitam dan dasi yang menempel di tubuhnya. Memakaikan jas itu di tubuh Melody, untungnya ia menurut dengan baik.
Jamie menyentuh punggung dan paha bagian belakang Melody, berniat menggendongnya. Tamparan mendarat di tangan kanan Jamie yang menyentuh paha nya.
"Mau apa?!" nada Melody meninggi.
"Kaki mu tidak beralaskan apapun," ujar Jamie, mulai kesal dengan sikap emosional wanita itu.
"Tidak mau!" bantah si wanita.
Jamie menghela napas panjang, ia tak bisa berdebat lebih lama lagi. Pria itu berjongkok memasangkan sepatu yang sebelumnya dia pakai pada kaki dingin Melody.
"Mungkin kamu tak merasakan apapun, tapi kaki ini dingin menusuk kulit tangan saya, rasa sakitnya naik sampai hati saya," gumam Jamie, tak bisa suaranya didengar dari atas.
Diraihnya tangan Melody, Jamie tuntun hingga tiba di mobil walau pada akhirnya Melody digendong oleh Jamie. Selimut bergambar kartun membungkus sempurna tubuh Melody, selimut itu milik Daniel. Matanya melek sepanjang perjalanan.
"Pak satpam, kamu mau membawaku kemana?" tanya Melody, padahal barusan dia sudah mengenali Jamie, sekarang sudah lupa lagi.
"Pulang," balas Jamie, sebelah tangannya kemudian meraih puncak kepala Melody, mengusap rambut acak-acakan Melody. Pandangannya masih terpaku pada jalan raya.
"Jangaaan ..." desah Melody, "aku tidak mau adik adikku melihatku seperti ini."
"Tidak mau terlihat mabuk? Kamu kan sudah minum sebotol air mineral." Jamie membelokkan arah, menuju rumah Melody. Beberapa kilometer lagi akan terlihat gerbang perumahan tempat Melody tinggal.
"Aku tidak mabuk," sanggah Melody penuh percaya diri, "jangaaan ke sana ...." rengekannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Jamie menghela napas, kali ini sembari mengerutkan dahinya.