
Ketukan pintu membangunkan Daniel dari rebahan nya di sofa, ia segera berjalan ke arah pintu, membukanya. Berdiri di depannya wanita yang telah dia tunggu lama bersama gadis kecil dari rumah sebelah, Melody dan Natasya. Mereka masuk ke dalam rumah itu.
Melody maju selangkah mendekati anak asuhnya, tapi anak itu malah mundur menjauh sembari memasang tatapan jijik.
"Ugh ... itu eskrim?" ucap Daniel.
Refleks Melody melihat ke bawah. "Ya, kamu bisa melihatnya warnanya dengan jelas kan? Ini eskrim stroberi," balas Melody, menyeringai.
Natasya melirik sekilas ke arah Daniel menatap, di matanya Melody terlihat sedih meratapi kotoran di bajunya yang dia sebabkan. Yang Melody rasakan justru sebaliknya, dia berpikir akan memeluk anak asuhnya dengan baju bernoda eskrim itu.
Natasya memegang celana Melody sambil mendongakkan kepala. "Nanny mau pakai baju mama Nat?" tawarnya.
"Tidak perlu, aku hanya perlu mencucinya sebentar di sini." Melody sungkan memakai baju orang lain yang tidak dikenalnya, tanpa ijinnya pula.
"Cuci pakai mesin cuci punya Natasya?" tawar Natasya sekali lagi.
Sungguh Melody tak membutuhkan dan tak ingin lagi ke rumahnya yang sangat berantakan itu, dia mencoba menolak dengan lembut. Sementara Daniel sebaliknya.
"Ayo kita ke rumah dia, Nat harus bertanggungjawab! Melody, kamu tega sekali menolak niat tang-pertanggungjawaban darinya!" timpal Daniel, tatapannya kali ini penuh harap.
Jika Daniel yang meminta, Melody tak mampu berkutik, terpaksa ia mengiyakan perintah majikannya. Daniel tampak senang. Melody segera pergi ke kamar bunda majikan untuk meminta ijin, bersama Daniel di belakang kakinya.
Pintunya terbuka setelah Melody mengetuk beberapa kali, wajahnya menampilkan senyuman. Lalu ia melihat Daniel bersembunyi, membuatnya penasaran.
"Kenapa Dany?" tanya sang bunda membungkukkan badannya, kakinya sedikit menekuk dengan tangan memegang tumit.
Daniel mencengkram celana yang Melody pakai, Melody hanya menatapnya kemudian. Mengisyaratkan Daniel harus berbicara langsung, jangan mengandalkannya.
"B-boleh tidak ... Da-dany main di ... rumah Natasya, di apartemen sebelah kita," gugup Daniel. Telunjuknya mengarah ke arah rumah Natasya dengan kepala yang menunduk ke bawah.
Emily berpikir sejenak, lalu menjawab "boleh! Tapi harus ingat waktu, ya!" pesannya, senyumannya semakin mekar.
Daniel pun sama, sampai melompat-lompat kegirangan. Ia mendongak dan tersenyum kepada pengasuhnya, dibalas hangat senyuman itu. Daniel segera pergi berlari keluar meninggalkan Melody.
__ADS_1
Ketika Melody hendak menyusulnya, Emily mencegat, "tunggu!" ucapnya.
Melody menoleh.
"Kamu punya handphone kan? Pakai, gak usah ganggu saya ke kamar. Paham?" ketus Emily, wajahnya berubah dingin.
Melody menyembunyikan kekagetannya, dia sempat mengira Emily tulus tersenyum sedari awal. Sepertinya memang dia hanya menjaga citranya, menghindari Daniel mengadu pada Jamie jika dia cuek-cuek pada anaknya, pikir Melody. Ia hanya mengangguk sebagai balasan lalu pergi menyusul Daniel.
Bertiga mereka pergi ke rumah Natasya, dimana orang-orang yang tinggal di sana sedang keluar rumah. Daniel cukup syok, rupanya. Tak heran, Melody sudah memperkirakannya, dia biarkan saja sampai anak itu merasakan sendiri.
Tapi Daniel tak meminta pulang, malah duduk selonjoran di atas sofa. Seperti sangat kelelahan walau hanya berjalan beberapa langkah dari rumahnya.
Melody menyilang kan tangannya, ditarik leher bajunya ke atas hingga baju bernoda itu terlepas dari tubuhnya. Daniel sontak terkejut untuk kedua kalinya.
"Hey! Di kamar mandi dong! Dasar wanita tidak punya malu!" teriak anak itu, sambil menutupi wajahnya yang memerah.
Dengan santainya Melody menyeringai. "Seingat ku, waktu itu kamu dengan sengaja melihatku mandi, kenapa sekarang malu?"
Toh Melody memakai bra sport di dalamnya. Ia ke belakang, menggosok bajunya menggunakan sabun, di kamar mandi. Dia tak butuh mesin cuci untuk noda sekecil itu.
Anak itu rela main di rumah Natasya untuk ingin bermain handphone?
Melody memanggil Natasya, "pinjam hairdryer Nat."
Natasya celingak-celinguk tidak paham. Sehingga Melody harus menjelaskannya, "pengering rambut." sembari tangannya bergerak memperagakan seperti mengeringkan rambut.
Gadis kecil itu baru paham, dia pergi ke salah satu ruangan di rumah itu, mengambil yang diminta Melody. Ia berniat membawanya keluar, tapi Melody dibelakangnya. Pengering rambut itu dia pakai di kamar itu, kemungkinan kamar itu adalah milik kedua orang tua Natasya.
Melody tengah anteng mengeringkan bajunya, tiba-tiba Natasya yang sedang duduk menemaninya, mengangkat kakinya ke atas kasur. Melody merasa perasaannya tidak enak melihat gerak gerik Natasya, ia memperhatikan apa yang dilihat Natasya.
Serangga yang paling ditakuti di seluruh dunia, kecoa mendekat ke arahnya berdiri. Melody tersentak kaget dan lompat melewati kecoa itu, ia bertemu dengan pintu keluar. Dibuka pintu itu, dengan tergesa-gesa keluar dari kamar, Daniel terpancing turun dari sofa karena penasaran apa yang terjadi di sana
"Apa yang kamu lakukan?!" lontar Melody pada Natasya yang masih di dalam sana.
__ADS_1
Daniel mendekati Melody. "Ada apa sih?" tanyanya.
Walau bertanya, dengan sendirinya ia melihat langsung ke dalam. Natasya tengah sujud di pinggir kasur, tapi kepalanya melihat pada celah kolong kasur yang hanya beberapa sentimeter. Tak lama kemudian kecoa keluar dari sana.
"Aaaaaagghhgg!" Daniel sontak keluar lagi, pintunya masih terbuka.
Anak itu hendak menutup pintu, ia memegang gagangnya. Melody mencegahnya dan berkata, "hei bocah, kau mau meninggalkan gadis kecil sendirian di sana bersama serangga itu?"
"Cepat ambil mangkuk atau toples di belakang!" titah Melody.
Daniel menurut dan segera berlari ke arah dapur, mencari sebuah kurungan untuk serangga yang paling menjijikkan baginya. Seumur hidup dia tak pernah mendapati kecoa dirumahnya sendiri, selain di area pembuangan sampah.
Ia kembali setelah mendapat satu buah toples, dibuka tutup toples kecil itu sambil dia berjalan. Natasya tampak sudah keluar dari kamar itu dan menutup telapak tangannya. Melody memekik, setelah mendekat Daniel mengetahui tak ada kecoa di dalam tangan Natasya.
Karena saat ini kecoa itu tepat di pipi Natasya, dengan keberanian yang pas-pasan Daniel mengurung serangga itu menggunakan toples yang dia pegang.
"Aww!!!" pekik Natasya, badannya nyaris terjungkal ke belakang.
Melody dengan tegas memerintah, "tahan!"
"Me-me-me-melody! Melody ..." panik Daniel. "Huaaaa ..." Ia bahkan mulai menangis sembari tetap menahan toplesnya agar kecoa itu tak terlepas.
Begitupun Natasya, dia sama menangis, "Nanny ..." Meski berani, jika kecoa merayap di pipinya ia tetap merasa geli dan takut secara bersamaan.
Melody tahu persis apa yang harus dilakukannya, tapi ia tak berani melawan kecoa secara langsung. Melody memilih cara lain, yang tak melibatkan dirinya.
"Tenang, kalian berdua, jangan menangis. Sekarang kalian jalan perlahan menuju pintu itu." Melody menunjuk pintu keluar rumah, dan melanjutkan perkataannya, "aku akan bukakan pintu, kalian harus tetap tenang, paham?"
Daniel menggerutu kesal, tapi dia menurut. Mau tak mau Natasya pun harus mengikuti langkah Daniel, kecoa itu bisa merayap kemana-mana jika toplesnya terbuka.
Perlahan, keduanya melangkah serentak dan semakin lama semakin jauh. Pintu yang dibukakan Melody kian mendekat.
"Ayo sedikit lagi ..." ujar Melody menyemangati.
__ADS_1
Kecoa di dalam toples terus berputar memberontak dan yang paling mencengangkan serangga itu mulai terbang. Natasya memekik keras, merembet pekikan itu pada Daniel, dua-duanya panik. Mereka mulai tak seimbang, Natasya bergerak-gerak sehingga Daniel kelepasan melonggarkan kurungannya. Terbebas, kecoa itu tak merayap ke arah pintu keluar tetapi melewati dinding kembali ke dalam rumah. Meski begitu kecoa itu tak menampakkan dirinya lagi.
Melody mengumpat di hatinya, "persetan! Ini bukan rumahku atau Daniel."