Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 50 Hati Perlu Dijaga


__ADS_3

Sunyi. Itu yang dirasakan Jamie saat memijakkan kakinya di dalam kamar yang seharusnya ditempati oleh Melody. Pria itu sudah berganti pakaian menjadi lebih santai, kaos dan celana berbahan katun.


Tak perlu ambil pusing, tas Melody masih tersimpan di atas nakas bersama segelas susu jahe dingin yang belum berkurang se-mili pun. Dia masih di dalam sini.


Hembusan angin menjelang pagi menyejukkan Jamie di teras puncak gedung itu, dari sana ia bisa melihat pemandangan langit malam berkabut dan lampu-lampu gedung yang menyebar di penjuru kota. Jamie mengecek jam di tangan kirinya, menunjuk pada angka empat.


"Baru saja kamu tertidur," katanya, merujuk pada Melody yang tengah duduk menyesap sebatang rokok di teras rumah.


Tak ada jawaban. Tentu saja, Melody sudah membatu sejak terdengarnya deritan pintu kaca yang terbuka. Apalagi mendengar suara pria yang paling tak ingin dia temui, padahal ia berada tepat di rumah pria itu. Hanya berdua, bintang-bintang pun sudah tak nampak lagi kala itu.


Jamie mengisi kursi kosong tepat di hadapan Melody, wanita itu terlihat memijat sudut keningnya sambil memandang ke bawah.


"Pusing? Kalau kamu pusing saya tidak akan membahasnya," ujar Jamie lagi.


Melody coba memberanikan diri melirik sebentar padanya, tak berlangsung lama! Melody beralih pandang, Wajahnya mengingatkan Melody pada insiden memalukan semalam.


"Ma-ma-maafkan Melody, Kak!" buncah wanita berpakaian super longgar.


"Kak?" timpal Jamie, "sekarang saya sudah jadi kakakmu lagi?"


Mendengar Jamie mencebiknya, Melody hanya bisa mengulum bibir. Selain rasa bersalahnya yang besar, Melody juga kehilangan citranya sebagai pengasuh muda dan cantik yang profesional.


"Iya, kamu boleh membahasnya," lugasnya.


Melody melepas semua beban. Toh, sudah kepalang basah. Pikirnya.


"Berapa banyak yang kamu ingat? tanya Jamie.


Semuanya, Melody bilang. Tentunya Jamie bertanya apakah alasan Melody ikut-ikutan menyembunyikan perbuatan Emily di belakangnya.


Dari awal semua kejadian yang membuat Melody mengetahui perselingkuhan Emily dan Tristan di supermarket, lalu pengakuan Tristan sendiri, Melody membeberkan semuanya tanpa ragu lagi.


Sudah terang-terangan bilang, sampai identitas si lelaki selingkuhan dibongkar tanpa meleset sedikitpun. Mau mengelak bagaimana lagi? Jamie tahu perkataan Melody bukan informasi sembarangan, karena pria itu memiliki kesempatan lebih banyak untuk menyelidiki identitas Tristan.

__ADS_1


"Aku sengaja menyembunyikannya. Aku bahkan tidak pernah ingin membongkarnya. Sok tahu memang, aku berasumsi rumah tangga kalian akan membaik karena sebenarnya kamu dan Emily masih saling mencintai."


"Daniel tidak perlu melihat keluarganya hancur," tambahnya.


"Apa aku terlihat seperti akan memaafkannya? Kamu tidak salah, Emily sudah ku maafkan beberapa tahun yang lalu. Aku harus memaafkannya lagi dan lagi, sampai kapan? Anak kandungnya sendiri dia jadikan alasan untuk pergi dan bercinta dengan pria lain," sanggah Jamie. Melody tak mampu berkutik.


Lalu dia terbangun tepat saat Melody menyalakan api untuk rokok keduanya. Jamie merampas gulungan kertas berisi tembakau yang terbakar itu, menghisapnya untuk dirinya sendiri.


Melody sontak membalas ledekan Jamie dahulu, "heran, orang yang benci menginvestasikan kematiannya pada rokok, malah merokok."


"Bukan berinvestasi, cuma mengotori paru-paru ku sedikit," sangkal pria itu.


Baru saja Jamie mendudukkan pantatnya, Melody bangun dan merebut kembali apa yang menjadi hak miliknya. Meski alasan utamanya adalah ia tak ingin paru-paru bersih Jamie ternodai.


Bayangan sepintas kembali menggangu konsentrasi nya. Posisi Melody terbalik menjadi lebih tinggi dan mengharuskannya menunduk, melihat Jamie yang duduk di atas kursi. Lebih terasa seperti menatapnya saat dia di atas pangkuan Jamie. Mengingatkan dirinya akan sensasi bergairah.


Mau sampai kapan Melody menatapnya?


"Kamu ingin mengulanginya?" tawar Jamie tanpa beban.


Jamie membalasnya dengan kecepatan sepersekian detik, "kamu sendiri yang menolaknya."


Walau pemandangan paling indah ada di depan matanya, Melody tidak berani memandanginya lama-lama. Sebagai gantinya dia hanya bisa menghadapkan wajahnya ke pemandangan lain yang lebih luas di luar sana, sembari berdiri. Mungkin itu terakhir kalinya ia merasakan berada di puncak, sejajar dengan awan.


"Tidak apa-apa," kata Jamie.


"Maksudnya?" Melody masih belum berani menatap Jamie.


Perasaannya tidak baik. Bukan takut diberi anugerah, tapi takut anugerah itu akan berdampak buruk bagi keluarga kecil Daniel nantinya.


"Aku selalu mempertanggungjawabkan perbuatan ku," sepenggal kalimat Jamie, "tidak, sebaliknya aku sudah memperhitungkannya dari awal."


Sungguh, Jamie segan menyentuh Melody, wanita yang tidak boleh dinodai oleh siapapun bahkan dirinya sendiri. Jika dia melakukannya, artinya Jamie sudah memiliki gambaran ke depannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau jadi alat balas dendam, malam ini adalah kecelakaan karena aku mabuk." Meski dia sebenarnya merasakan semuanya.


Jamie mengerutkan dahinya.


"Aku yakin kamu menyatakan perasaanmu dengan sepenuh hati malam ini, tidakkah kamu menginginkan sebuah jawaban?"


Melody membalikkan badannya, menatap ke arah Jamie dengan senyuman pahitnya, gelengan kepalanya mengisyaratkan kata 'tidak' pada pria itu.


"Apapun jawabannya, status Melody sebagai pengasuh tidak akan berubah. Selain karena kamu yang memecat ku," kekeuh Melody, tubuhnya kembali berbalik memunggungi Jamie.


"Aku tak lain hanya, mantan kekasih adikmu yang tidak tahu diri," ucapannya tersendat-sendat, "tidak punya harga diri."


"Berhenti merendahkan diri sendiri," timpal Jamie.


Tak dirasa waktu berlalu cukup lama, langit mulai membiru. Sebentar lagi matahari akan menunjukkan diri, Melody harus pulang. Segera ia mematikan dan membuang puntung rokoknya.


"Terimakasih, Kakak sangat baik. Meskipun aku mencintai Kak Jamie, ada seorang anak yang perlu aku jaga hatinya," ujar Melody, menutup topik pembicaraan.


Tanpa mendengar Jamie menjawab sepatah katapun, wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan pria yang dia sadari telah menggantikan posisi Glenn dihatinya.


Daniel sudah menyukainya bahkan lebih dari Emily, Jamie tidak mengerti apa yang dikhawatirkan wanita itu. Meski secara tak langsung ajakannya untuk menikah ditolak, keputusannya dalam menceraikan Emily tidak berubah. Jamie menelepon pengacara pribadinya saat itu juga.


Melody menemukan pakaiannya semalam sudah ada di atas kasur, bersama mantel yang tebal. Ia melebarkan mantel panjang itu, modelnya pria. Melody memakainya. Jika pakaian itu milik Emily, segan Melody menggunakannya.


Tak banyak bicara setelah perdebatan di teras penthouse, di perjalanan pun tak ada bedanya. Di saat seperti ini, perjalanan terasa sangat lama dan berat dilewati.


Sesampainya mereka di depan rumah Melody, Jamie berkata akan meliburkan Melody. Wanita itu hanya mengangguk sebagai balasan, perhatiannya terpusat pada sebuah mobil yang terparkir di depan mobil Jamie. Ia mengenal plat nomor di mobil itu.


"Siapa?" tanya Jamie.


Melody sibuk mengamati area rumahnya, alisnya hampir menyatu melihat sebuah koper tepat di samping mobil itu. Tak terlepas pandangannya dari sana, hendak menarik handel pintu pun Melody meraba-raba.


Akhirnya Melody menoleh ke arah Jamie dan membalas perkataannya, "Kak Jamie pulang saja, terimakasih tumpangan dan hari liburnya." Melody memalsukan senyumannya.

__ADS_1


Ia keluar dari mobil Jamie. "Hati-hati di jalan," tambahnya.


__ADS_2