
Hari Senin kembali, terik matahari membuat gadis kecil bernama Natasya menunduk saat berjalan pulang, memakai topi merah berlogo, dua tangannya menggenggam tali tas punggungnya. Di tepi trotoar jalan, Natasya diam seribu bahasa. Bagaimana tidak, tak ada siapapun di sisinya.
Akhirnya dia sampai di salah satu gedung dari banyaknya gedung-gedung tinggi di sekelilingnya. Memasuki gerbang, cara jalannya berubah dari pendiam menjadi periang yang berjalan sambil melompat-lompat.
Iseng Natasya mengambil jalan yang melewati kawasan merokok, siapa tahu dia menemukan ayahnya atau Melody. Suatu keajaiban kalau itu ayahnya, jika keajaiban itu terjadi berarti lima tahun keberuntungannya terpakai habis.
Mendekati area merokok Natasya mulai berlari ancang-ancang, lalu dia menurunkan pinggangnya sedikit dan berpijak pada titik tolak, Natasya melompat dan sampailah di area merokok.
Melody, satu-satunya pengguna area itu tersentak dengan pijakan keras Natasya. Lagi-lagi anak perempuan yang pernah dia temui di tempat yang sama menampakkan dirinya lagi, kali ini berseragam putih dan merah.
"Wah ... Nanny!" seru Natasya dari jauh. Di lubuk hatinya, ia menyesal karena sudah berharap.
Melody mengusap dadanya. "Jangan ngagetin begitu," protesnya.
"Hehe!" riang anak itu.
Melody tak melihat siapapun di sisi gadis kecil itu, mungkin ibunya di belakangnya? pikir Melody. Ia melangkah mendekat padanya, sulit dipercaya Natasya benar-benar sendirian.
Ia memegang kedua sisi pundak Natasya. "Tidak ada yang menjemputmu, Nat?" Wajahnya sedikit khawatir.
"Kalau mama dan papa sibuk, Nat jalan kaki," lugunya.
Jaraknya hanya dekat untuk ukuran orang dewasa, harusnya jangan membiarkan anak kecil berjalan di pinggir jalan kota besar seperti ini. Melody tak pernah membiarkan adik-adiknya berjalan sendirian ketika mereka masih sekolah dasar.
Melody menekan bara di ujung batang rokoknya lalu membuangnya meski masih sisa setengah, ia menggenggam tangan kecil milik Natasya, sebelah tangannya lagi dimasukkan ke dalam saku celana kargo hitamnya. Atasan polos warna putih dan topi hitam yang menutupi sanggulnya, memberi kesan warna remaja tomboy.
"Mama tidak ada di rumah, kan?" tebak Melody sambil membawa Natasya ke arah lain. "Kita beli eskrim, ya? Aku traktir!" ajaknya.
__ADS_1
"Tidak ada, memang Daniel belum selesai les nya?" Natasya percaya dengan Melody, dia bisa dibawa kemanapun tanpa rewel.
"Belum," singkat Melody, ekspresinya berubah kesal.
Rosa semakin betah mengajar karena kehadiran Emily. Pembelajaran berlangsung lebih lama dari biasanya, guru les itu terus menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan majikan sekaligus sahabatnya. Suntuk Melody menunggu lama-lama, ia pergi saja ke luar mengisi tempat merokok yang kebetulan kosong.
Mereka sampai, tidak terlalu ramai malah tak ada pengunjung sama sekali di minimarket itu. Memang minimarket apartemen akan sepi di jam sekarang ini. Natasya langsung tertuju pada kulkas besar eskrim, sementara Melody pergi mengambil beberapa makanan ringan.
Natasya menyusul Melody di kasir pembayaran, ia menyodorkan cone ice cream dengan rasa stroberi. Melody tertegun, teringat pada kejadian kemarin. perasaannya tidak enak melihat pemandangan di depan matanya.
"Nanny!!" suara Natasya, terdengar sangat kecil di telinga Melody.
"Mbak? Eskrim nya mau dibayar atau tidak?" ketus pelayan kasir perempuan yang melayani Melody, membuyarkan lamunannya.
"Mau rasa itu? Natasya tidak suka rasa cokelat atau vanila?" ujar Melody yang baru tersadar.
Tidak mungkin Melody menolak, dia sudah janji akan mentraktirnya apa yang dia inginkan. Melody mengusap puncak kepala anak itu sembari tersenyum, diambilnya eskrim yang dipilih Natasya untuk segera dimasukkan ke struk pembayaran.
Di taman terbuka mereka duduk bersebelahan di atas kursi panjang besi, Natasya menjilati eskrim yang meleleh di cone nya. Melody mengemil sambil mengecek berkali-kali ponselnya, menunggu pesan dari Emily.
"Bekal makan mu berkurang?" tanya Melody memecahkan keheningan.
"Berkurang! Tadi hanya dua box karena mama sibuk," ujar Natasya, lalu kembali melahap eskrim.
Melody menghabiskan 3 bungkusan camilan hanya dalam lima menit saja, ia kembali mengecek kotak pesannya. Area bibir Natasya sudah penuh oleh tetesan tetesan eskrim, tapi masih belum habis juga.
"Nanny berbohong, ya ... pada Daniel." Wajahnya menoleh pada Melody, sambil menyeringai.
__ADS_1
Melody menaikkan alisnya sebelah, heran.
Kenapa anak ini, tiba-tiba memasang wajah begitu. Seperti aku sudah berbuat jahat saja.
"Pura-pura bodoh padahal aslinya pintar, hihihi," ucap Natasya.
Ulah Aditya. Tempo hari, begitu ia bertemu kembali dengan Melody lalu mengetahui Natasya berada di dekatnya, Aditya, teman lama Melody bersemangat membicarakan pertemanan mereka dahulu kala kepada sepupu kecilnya Natasya.Termasuk prestasi-prestasi Melody sebagai teman kebanggaannya.
"Haa?" Melody melotot, kemudian tersadar akan sesuatu, ia memastikannya, "kata siapa? Om mu si Aditya?"
Gadis kecil itu mengangguk sambil cengengesan, tanpa ia sadari eskrim nya mulai bercucuran tak terkendali. Melody mengambil tisu pack kecil di dalam kresek putih, lalu me lap cemong di wajah gadis kecilnya.
Mulutnya bergerak ketika di lap, "kenapa Nanny berbohong? Bukankah Daniel akan senang jika belajar bersama Nanny."
"Daniel tak akan suka denganku, dia akan menganggapku saingannya." Melody melanjutkannya dalam hati, "kalau aku tahu dia akan luluh semudah itu pada Natasya, aku pasti akan jujur apa adanya dan bisa menggantikan Rosa."
"Aneh! Padahal Natasya mengangumi Nanny sewaktu mendengar cerita dari om Adit," sanggah Natasya.
Melody terdiam, kata-kata yang terlontar dari mulut anak kecil itu mengena di hati. Di umurnya, Natasya hanya mengatakan hal yang sebenar-benarnya tanpa direkayasa. Ketulusan itu sudah lama, entah kapan terakhir kali seseorang berkata begitu tulus. Perasaan kagum yang positif, tanpa atau mungkin belum dibarengi dengan rasa iri yang bagai pedang bermata dua.
"Nanny ... jangan menangis," lembut Natasya.
Melody baru tersadar air mata mengalir di sebelah kiri pipinya, ia lalu menatap sepasang mata Natasya yang ikut berkaca-kaca seperti berlian memandang padanya. Melody memanyunkan bibirnya, ia rentangkan kedua tangan meminta sebuah pelukan.
Dengan cepat Melody melepas pelukannya, firasatnya buruk. Ia menurunkan pandangannya ke atasan polos putihnya, anak itu mengelap mulutnya ke baju Melody. Natasya sontak turun dan kabur, lari terbirit-birit, Melody menyusulnya segera.
Pas sekali Rosa keluar begitu mereka sampai, Melody mampir di rumah Natasya lebih dahulu untuk mengantarnya berganti pakaian. Ia melangkah masuk. Amat berantakan, barang tak dipakai berserakan, makanan yang tak habis tersimpan di atas meja ruang bebas udara. Apalagi saat melewati ruang kerja, pintunya terbuka sedikit celah, bau tembakau menyengat.
__ADS_1
Di sisi rumah sebelah, Daniel selonjoran di sofa ruang tamu menunggu kedatangan pengasuhnya yang lama menghilang. Bukan hanya ingin segera menyampaikan keluh kesahnya di hari Senin, Daniel juga kesal Emily tak peduli dengannya setelah Rosa pulang, ia kembali ke kamarnya.