Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 27 Makan Malam Sederhana


__ADS_3

Mengabaikan pertanyaan Jamie, wanita itu membanting pintu yang dia pegang, lalu membuka pintu yang satunya. Diraihnya satu kresek berisi seporsi makan malam Jamie.


"Makan di rumahku saja," ujar Melody sembari mengeluarkan badannya yang setengah memasuki mobil.


"H-hey!" lontar Jamie, tak didengar karena Melody keburu menutup pintunya.


Pria itu keluar dari kendaraan pribadinya, tangan besarnya menjegal plastik hitam kecil miliknya yang dibawa Melody. Ia merasa canggung jika harus makan di rumah seorang wanita yang sering mengisi pikirannya.


"Daripada makan bersama hantu, lebih baik makan dengan keluarga ku, bukan?" rayu si wanita.


Alih-alih memastikan apa dia memiliki keperluan lain setelah ini, lebih baik memaksanya langsung. Karena dia akan memakai alasan klise itu untuk menghindar, walau tak benar-benar punya urusan.


"Apa kamu tak sedikitpun menghiraukan mereka?" Jamie menatap kedua mata Melody serius.


Bukan berarti Melody buta, para penghuni lain yang masih berkumpul dan bergosip di depan rumah mereka tak melepas pandangan sedikitpun sejak kedatangan mobil yang satu itu.


"Kalau membayangkan kak Jamie pulang dan makan sendirian di rumah rasanya menyedihkan, sebaiknya kakak parkir kan mobil kakak ke depan sini, akan ada mobil lain yang melewat di jam-jam sekarang ini." Melody menunjuk pada halaman kosong tepat di depan jendela kamar Felicia.


Jamie kembali masuk ke dalam mobilnya dan memarkirkan sesuai dengan perkataan Melody, dengan hati yang kesal karena telah menurut pada wanita itu. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya ke ruang multifungsi di rumah Melody. Sewaktu dibutuhkan ruang itu bisa menjadi ruang tamu, ruang makan, maupun ruang belajar. Letaknya tepat setelah melewati pintu utama.


Seorang anak laki-laki yang kiranya seumuran dengan sepupu-sepupu Jamie menyambutnya di ruang itu, si gembul adik Melody tengah duduk menghadap makan malam yang akan mereka santap.


"Malam, om Jimmy!" sapa Rudy dengan dua bakpao mengembang di pipinya karena senyumannya yang lebar.


"Jamie!" ralat Melody dari dalam kamarnya.


Melody sudah memberitahunya kedatangan bos kerjanya, yang walau dengan sedikit paksaan, akan makan bersama mereka malam ini.


Yang disebut dengan salah itu tak mempermasalahkan. "Selamat malam, siapa namamu, dik?" tanyanya.


"Rudy." Anak ini kembali melempar pertanyaan, "Om kenapa anaknya gak di ajak?"


Melody membawa handuk dan satu set baju bersiap akan mandi, sebelum ke kamar mandi Melody menghampiri Jamie dan adiknya terlebih dahulu.


"Aku mandi dulu, kalian makan saja duluan," ujarnya


Padahal dia sendiri yang mengajak makan bersama, tapi malah pergi mandi, meninggalkan Jamie bersama adiknya. Jadi dia meluangkan waktu hanya untuk makan bersama bocah asing? Pikir Jamie.


"Om!" panggil Rudy yang menunggu jawaban sejak tadi.


"Tidak, anak saya sudah tidur. Lalu kemana kakakmu yang satunya?" balas Jamie.


...****************...


Di sisi lain, Daniel sendirian di rumahnya dalam keadaan terbangun. Tanpa melewatkan sebuah kesempatan langka, ia menyusup ke kamar Jamie tak hanya sekedar memainkan ponsel, tetapi mengakses laptop pribadi milik Jamie juga. Bunyi-bunyi mulai terdengar aneh di telinga kecil Daniel, sekedar bunyi tuk-tuk dari jam dinding pun mulai terasa menakutkan.


Atas keinginannya sendiri, ia berpura-pura tidur. Padahal sudah diberitahu di telepon, ayahnya akan meninggalkan rumah. Anak ini bersikeras ingin tinggal hanya untuk bermain ponsel. Daniel yang tengah duduk sendirian di atas kasur Jamie, mulai memikirkan ruangan-ruangan di rumah itu tak di isi oleh siapapun.

__ADS_1


Memuat laptop yang membutuhkan waktu cukup lama untuk hidup, membuat Daniel memutuskan untuk mengoperasikan rencana B karena ia tak kuasa dengan rasa takutnya.


Rencana B sudah ada digenggamnya, Daniel menekan tombol layar sentuh ponsel itu. Tanpa mengecek dulu, anak itu langsung saja mengirim panggilan video pada teman tetangganya, Natasya.


Akhirnya, saat ia mengalihkan sejenak menggunakan ponsel, benda teknologi yang bisa dilipat itu sudah hidup saat ia kembali beralih padanya. Bersamaan dengan terangkatnya panggilan yang Daniel kirim.


Ponsel itu mengeluarkan suara, "Daniel, kamu sedang apa?"


Partner panggilan videonya bisa melihat Daniel, ponsel Daniel ditaruh di pinggiran laptop yang sedang dia gunakan. Bocah itu sama sekali tak menjawab pertanyaan temannya, sibuk mengoperasikan sesuatu. Saat ia butuh waktu lagi untuk memuat halaman, disitulah Daniel mendekatkan wajahnya pada layar ponsel.


"Dany sedang main komputer, ayah sangat lama pergi mengantar Melody," ujarnya.


Natasya yang sudah menunggu lama membalas kata singkat Daniel dengan penuh antusias, "mungkin ayahmu akan menginap di rumah Nanny?"


Lagi-lagi Daniel terhanyut dalam fokusnya, ia mendengar semua suara-suara sekitarnya, tapi otaknya bekerja untuk satu. Natasya setia menunggu dan menemaninya walau sambil memonyongkan bibirnya.


...****************...


Di perumahan sederhana dan minimalis, Jamie duduk bersila. Lelaki ini mengulurkan tangannya, berniat membuka bungkusan kertas nasi miliknya sendiri. Lalu ia penasaran kenapa anak didepannya masih bengong dan tak segera makan.


"Kenapa belum dimakan? Rudy tidak suka ayam bakar?" tanya Jamie sembari membuka bungkusan.


"Suka! Rudy makan nanti kalau kakak selesai mandi," polos anak itu.


Seketika Jamie merasa berdosa, ia kembali meringkus makanannya dan ditaruh dua tangannya mengepal di atas lutut.


Pintu terbuka, tampak seorang gadis remaja dengan rambut dikepang dua, mata gadis itu bertatapan dengan pria yang menurutnya sudah pantas disebut om-om. Wajah pria itu bertekstur oleh kumis dan janggut tipisnya, keindahan matanya pun tak terlalu mencolok karena kacamata. Belum sempat Jamie melempar senyum, Mata Felicia beralih secepat kilat.


"Kakak itu yang sudah membelikan ini, berterimakasih lah," ujar Melody, memberikan bungkusan makanan di atas piring lengkap dengan sendok nya.


Dengan wajah yang tersipu malu, gadis itu mengatakannya, "Makasih, om!" Lalu kembali masuk setelah mendapat makanan dan menutup pintu.


Mereka tetap kekeuh memanggilnya dengan sebutan om!


Melody mendudukkan tubuhnya di lantai bersama adik dan majikannya, barulah Rudy menyentuh makanannya. Dingin, tapi Rudy menikmatinya karena dimakan bersama keluarga yang paling dicintainya.


Sama halnya dengan pria di hadapan Melody. Meskipun canggung karena harus meletakkan piring di lantai, perjamuan sederhana ternyata tak seburuk itu jika Melody ada di sana.


"Daripada makan malam bersama hantu?" batin Jamie.


Makan malam sederhana selesai, Melody membereskan bekas piring mereka, Jamie dengan cepat menyambar piring-piring di atas tangan Melody.


Tapi Melody tidak menyerahkannya begitu saja.


"Eh, eh, mau apa?"


"Menyimpan dan mencucinya tentu saja, apa lagi?" balas Jamie.

__ADS_1


"Tidak usah, Kak Jamie akan trauma jika melihat bak cuci piring di rumahku."


Melody bertanggungjawab atas urusan mencuci piring, sementara yang memasak adiknya, jadi tentu tempat itu tak terlalu terurus oleh si pemalas Melody.


Dengan paksa Jamie mengambilnya tanpa mempedulikan kata-kata Melody, laki-laki itu bangkit berjalan menuju arah dapur. Ia kembali dengan wajah kecut.


"Menjijikkan!" ucapnya, "cepat cuci piringnya!" Jamie pergi keluar menuju mobilnya, jaketnya masih tertanggal di rumah Melody.


Melody mengiyakan sembari menggerutu, "kenapa dia memerintah orang di rumahnya sendiri?"


Ditaruhnya piring yang telah bersih terakhir di tempat pengeringan, Melody mencuci tangannya dari busa sabun. Jamie sudah ada di belakangnya saja, Melody tertegun melihat pria itu memakai masker dan dua tangannya tertutup oleh sarung tangan anti air.


Pria yang sudah siap tempur itu menyuruh Melody menunggu di depan saja. Akan tetapi Melody menolak, dan menunggunya di belakangnya.


Sial, bagaimana dengan little guy? Semoga dia sudah tidur.


"Kamu sering membawa pria, ya?" ujar Jamie, tangannya sibuk membersihkan bak cuci piring.


Membawa pria dan membawa pacar tentu berbeda. Wanita yang belum pernah membawa pria asing di malam hari tak akan sanggup menahan gunjingan tetangga, pikir Jamie.


Melody sudah menunggu-nunggu bahasan ini.


"Ya, para tetangga juga sudah tahu kebiasaan ku, jadi Kakak jangan terlalu memikirkannya."


"Sorot mata dan cara mereka berbisik-bisik terlalu mencolok, apa itu juga sudah biasa?"


Biasanya, orang-orang akan bersikap normal, seperti bukan apa-apa lagi. Namun, kedatangan Jamie ini berbeda dari biasanya.


"Itu karena Kakak lebih tua dari biasanya. Tamu ku tidak ada yang lebih tua dari mahasiswa, bahkan yang seumuran diriku sendiri tidak pernah selain Glenn. Mereka selalu mengira aku melakukan hal seperti menjual tubuhku pada laki-laki setiap malam karena aku tidak bekerja, padahal aku mencari uang dengan cara lain. Walaupun beberapa dari laki-laki itu memang berniat seperti itu ..." keluh kesahnya.


Jamie menegur dengan keras, "Bukan sekali dua kali, tapi beberapa kali? Dan kamu masih menerima pekerjaan yang mendadak itu?"


"Aku mencari uang bukan untuk diriku sendiri, Kak, tapi untuk mereka. Aku juga menjanjikan sekolah elit berkualitas pada adik perempuanku yang gila prestasi, setelah mendapat pekerjaan mengasuh dan janji manis dari Kakak," tutur Melody, pas sekali, gadis yang dibicarakan baru keluar dari kamar mandi.


Ia mendengar dengan jelas perkataan Melody, bukan sebuah kecelakaan karena Melody sengaja menyindirnya. Felicia masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu, membuat Melody dan Jamie sedikit terkejut. Melody menoleh ke arah ruang televisi, tempat adiknya tertidur pulas dan perut kenyang.


"Itu janji betulan, bukan janji manis," sanggah telat pria itu, tersinggung.


...****************...


Daniel telah membereskan kembali laptop yang habis dia pakai ke tempat asalnya, ia menempati kasur milik ayah dan bundanya agar jika ketiduran pun ponsel yang dia pakai ada di tempat ayahnya.


"Ckckck ... apa ayah benar-benar menginap di rumah Melody?" ujarnya pada ponsel yang dia tempatkan di depan wajahnya dengan posisi meringkuk di atas kasur.


"Kenapa? Daniel tidak suka jika ayah Daniel menginap di rumah Nanny?" tanya Natasya yang juga berbaring di kasur.


"Tidak! Tidak suka!" teriak Daniel.

__ADS_1


Kalau mau menginap, harusnya mengajak Daniel juga! Ayah benar-benar curang!


__ADS_2