
Di usia Melody yang ke sembilan tahun, dia mendapat peringkat pertama di olimpiade matematika perdananya pada tingkat provinsi. Merasa puas karena telah berhasil mengembangkan otak genius putrinya, ambisi sang ibunda mulai membara.
Karena Amira tak bisa mendapatkan keuntungan yang sama dengan Melody, dia tak mampu bersekolah dan dinikahkan pada anak orang kaya.
Pada kesempatan ini, Amira tak ragu menghabiskan uang membiayai pendidikan yang bagus untuk Melody. Aturan yang dibuat Amira sama ketatnya dengan Emily, menjadi nomor satu adalah prioritas utama.
Memamerkan prestasi anaknya kesana-kemari menjadi kepuasannya, tanpa mempedulikan mental anak yang tanpa dia sadari sudah dia paksa. Yang Amira pikir, dia mendidiknya dengan baik, semua demi kelangsungan hidupnya nanti.
Melody tak tahu cita-citanya sendiri apa, karena Amira bersikeras mewarnai kertas putih hidup Melody menggunakan cat yang sama dengan warna karir ayahnya.
Kematian sang ayah sekaligus kebangkrutan membuat hidup mereka melarat, Amira sudah tak punya modal membayar sekolah mahal. Di tahun ketiga sekolah menengah pertamanya, Melody pindah ke sekolah dengan anggaran yang rendah.
Bukannya redam, Amira semakin ketat menuntut Melody agar bisa masuk ke sekolah negeri nomor satu di kotanya. Terus berlanjut hingga kelulusan sekolah menengah atas.
Melody dengan mudah mendapatkan undangan dari berbagai kampus ternama, dia memilih kampus terbaik diantara yang terbaik atas keputusan Amira. Dia sudah mencoba mengutarakan keinginannya pada sains, tapi Amira tak mengindahkan. Melody tak bisa memilih jurusannya sendiri.
Amira adalah seorang ibu yang baik dan kuat, menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Tapi Melody membenci sosok pemaksa ibunya.
"Ibu, Melody mendapatkan beasiswa di London."
Kata-kata itu terngiang di telinganya saat ini, semakin dia menyendiri, imajinasinya bereksplorasi dengan sendirinya mengarungi masa lalu. Dia pun melupakan tujuan utamanya berada di dapur.
Kedatangan Emily pun tak dia sadari, barulah lamunannya buyar ketika mendarat tamparan keras di pipinya.
"Aku memecat mu!" lontar Emily.
Melody masih merasakan cenat cenut di pipinya, kepalanya terguncang cukup kuat hingga membuat pusing, dia menutupi pipinya yang habis ditampar dengan tangan kanannya.
"Kakak tidak punya hak memecat ku, tak ada sekalipun nama kak Emily tertulis di kertas kontak!" bantah Melody, rambutnya acak-acakan.
"Wanita tak tahu diri, berhenti ikut campur urusan keluarga ini. Pikir mu kau siapa? Kau bukan siapa-siapa! Kau cuma wanita murahan yang tak pernah mendapat pendidikan, kriminal karena tidak pernah dididik oleh orang tua." Emily meninggikan suaranya.
Emily merasa risih dengan wanita dihadapannya, keras kepala dan selalu melawan ucapannya. Emily sedang ingin meluapkan emosi, karena itu dia melampiaskan pada Melody.
Kemudian Rosa yang sedari tadi mengikuti Emily ikut berbicara, "ha! Tentu saja, dia kan yatim piatu. Siapa yang akan mendidiknya."
"Sulit membuat orang percaya kalau aku memenangkan seribu penghargaan olimpiade, aku membakar semua penghargaan itu." Melody mengikat rambutnya dengan tali yang dia jadikan gelang di pergelangan tangannya.
Kemudian melanjutkan perkataannya, desahannya lemah namun menggema di ruangan dapur itu.
"Ratusan piagam."
__ADS_1
"Puluhan trofi."
"Satu ijazah sarjana tanpa melewatkan transkrip nilai tentunya, hihihi," gelak tawa cekikikan keluar dari bibirnya, tak tertahankan.
"Satu beasiswa."
"Kenapa menurutmu?" tanya Melody sebagai penutup.
Memanfaatkan tubuhnya yang lebih tinggi, tatapan Melody begitu mengintimidasi. Jarak mereka yang dekat membuat Emily mendongak jika ingin menatap Melody.
"Aku gagal untuk sekedar melihat reaksinya. Aku menuruti perintahnya selama bertahun-tahun seperti Daniel menuruti perintah bundanya, anak mana yang tahan?" jelas Melody.
Rosa merasa sahabatnya terancam, dia menarik tubuh Melody menghadap padanya. Sekali lagi, satu tangan terangkat menargetkan sisi wajah Melody yang masih berbekas tamparan sebelumnya.
Melody membeku, bukan karena takut ditampar. Jamie sudah berdiri saja di belakang wanita tua itu, dia mencegat tangan Rosa yang nyaris melayang ke wajah Melody.
Masih membeku. "Dia mendengar semuanya," gumam Melody dalam hati.
"Melody tidak perlu dipecat, yang perlu diberhentikan justru Miss Rosa," dingin Jamie.
Rosa membalikkan badannya begitu genggaman Jamie terlepas. Merasa tak terima, Rosa sudah lama mengajar Daniel. Semenjak ada Melody, semuanya menjadi kacau.
"Kenapa, kenapa jadi saya?!" tanyanya.
Lalu ia melanjutkan pada Emily, "jika kamu terus mendatangkan guru lagi untuknya, aku akan meneruskan perceraian."
Terdiam Rosa saat itu juga, ia gelagapan mencari tasnya lalu segera keluar dari rumah itu saking malunya. Atensinya bisa turun jika Jamie memberinya nilai buruk.
Emily berpaling merayu Jamie, meletakkan dua tangan di lengan besar suaminya dengan wajah melas berjanji tak akan membawa Rosa kembali maupun guru lain.
"Aku tidak memaksa Daniel, kamu tahu sendiri kalau dia menyukainya." Emily memeluk Jamie dan bersandar di dada bidangnya.
Melody melangkahkan kakinya meninggalkan dapur, seisi kepalanya berkecamuk. Ternyata sudah sehancur itu, Melody ragu keluarga pria kecilnya akan bisa diselamatkan atau tidak.
Merasa terganggu, Jamie melepas pelukan itu. Kata cerai baru dipakai sebagai ancaman saja, pada akhirnya Daniel tetap menjadi perekat bagi hubungan rapuh pasangan ini. Meski sebelumnya dia memang sempat membulatkan keputusan.
Lari ke kamar Daniel adalah trik paling ampuh, Emily tak akan mau masuk ke sana. Perlahan dia buka pintu kamar itu. Langsung terlihat, Melody duduk di lantai memandangi Daniel, yang tengah tertidur di tepi kasur menghadap padanya.
Menoleh Melody begitu mendengar suara derik pintu, Melody menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Jamie menangkap sinyal itu dan turut melakukan hal yang sama, sembari menutup pintunya alon-alon.
Dia mendudukkan pantatnya di samping Melody, suara dengkuran halus Daniel mengisi seluruh ruangan. Senyap bicara, bahkan detak jam dinding tak sekeras biasanya.
__ADS_1
Melody menghela napasnya panjang, lalu membuka pembicaraan, "tadi, Kak Jamie dengar semuanya, ya."
"Iya."
Dilihat dari wajahnya, Melody bisa membaca kesedihan mendalam di hati Jamie. Tapi ia tak paham, kesedihan semacam apa yang dirasakan Jamie.
Bagaimana caranya agar kesedihan itu bisa dibagikan padaku juga, aku bisa membantu menghabiskan porsi kesedihan yang besar itu.
"Ada yang mau Kak Jamie tanyakan? Soal ... apapun itu. Misalnya, kenapa aku tidak bilang soal les setiap hari," seru Melody.
Wajahnya terlihat seperti sudah siap menampung kemarahan atau keluhan dari Jamie, bagaimanapun caranya. Perikemanusiaannya memang besar jika menyangkut Daniel, jadi benar merembet pada ayahnya juga?
Jamie tak pernah diberitahu perihal les setiap hari, ia baru mendapatkan informasi tersebut hari ini, dari Daniel. Melody pun sama buta nya, baru tahu jika les itu tanpa ijin dari Jamie. Tak terucap oleh lisan, tapi kemarahan Jamie barusan Melody memahaminya, kemarahan karena dibohongi.
Namun, siapa sangka.
"Apa cara mendidik ku salah?" gumam Jamie di ruangan sunyi itu.
Perlu waktu bagi Melody menalar yang satu ini. Dia tak mau berburuk sangka, memastikan langsung tak ada salahnya.
Jamie bilang, "kamu bebas beropini, dan benar. Sebelum Daniel terkena TBC, saya punya ambisi yang sama dengan Emily. Meskipun saya menghiburnya dengan barang-barang yang dia suka, itu hanya agar ilmunya semakin meluas. Cara mendidik Emily, saya mendukungnya karena harum nama keluarga Gray bisa tersambung kembali oleh Daniel, andaikan dia berhasil."
"Dasar," bentuk umpatan kecilnya untuk Jamie.
Dugaan Melody selama ini, Jamie adalah seorang ayah yang tidak peka. Tak jarang karena dia sudah mengalami hidup dengan ayah kandung dan ayah tiri, keduanya sama-sama tidak peka.
"Untungnya anak Kakak hebat, punya keberanian untuk melawan," ujar Melody, memeluk lututnya.
"Karena ada kamu," celetuk Jamie.
Melody tertegun, spontan menatap Jamie. Sedang pria itu sudah memandanginya sejak tadi. Benar, rasa percaya dirinya turut mendukung argumen Jamie.
"Tidak ada siapapun di belakangmu saat itu. Daniel, dia tak takut, karena kamu akan selalu ada di belakang punggungnya, untuk menangkapnya jika terjatuh," tulus Jamie mengatakannya.
"Ha ... Haha ... Hahaha ..."
Pahitnya tawa Melody, memancing keluar air mata di wajah cantiknya. Jika Melody tidak melewati semua itu, tidak menutup kemungkinan Daniel akan bernasib sama dengannya.
Tubuh Jamie tergerak sendiri untuk merangkul Melody. Anak malang, apa yang membuatmu tetap hidup hingga saat ini?
Suara Daniel bergerak di atas kasurnya, membuat dua orang itu resah dan melepas pelukan mereka. Rupanya si bocah hanya berbalik, belum puas mereka meresapi momen mengharukan ini.
__ADS_1
Tak mengeluarkan suara, tapi Daniel tak bisa bohong dengan wajahnya yang jelek karena menangis. Banjir air matanya pun, menyelam di separuh pembicaraan Melody dan ayahnya yang begitu dalam untuk dipahami. Yang jelas, kalimat terakhir dari ayahnya yang membuatnya banjir. Tapi tak ada yang tahu, anak ini sengaja berbalik hanya untuk menangis karena rasa gengsinya masih sama.