
Daniel sudah membeli semua alat tulis yang dibutuhkan. Natasya, Daniel dan Rudy bertiga mereka mondar-mandir di mall mencari makanan, Sementara orang dewasa mengikuti dari belakang.
Suasana hati Daniel tidak pernah se-senang ini sebelumnya. Pemberontakan yang dia lakukan tak sia-sia, malah membuahkan hasil yang diinginkan.
Ayahnya tidak menuntut agar masuk sekolah internasional saat ini juga, Daniel bisa mendaftarkan dirinya nanti setelah lulus sekolah dasar. Yang artinya ia bisa bebas memilih sekolah dasar manapun.
Tak hanya Daniel, Natasya pun dengan senang hati menemaninya membeli perlengkapan sekolah karena sebentar lagi Daniel akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Sebenarnya, Natasya adalah alasan utama Daniel memberontak dan memilih sekolah itu.
Daniel melepas sekolah idamannya, demi keinginannya yang lebih besar. Ia juga berencana melompat kelas jika Natasya lulus lebih cepat darinya. Semua berjalan sesuai rencananya untuk saat ini.
"Kak," panggil Melody.
Jamie spontan menengok padanya, menyahut, "hm?"
"Saya ke sana ya." Jarinya menunjuk pada tempat bertumpuknya bahan makanan pokok, "beli telur."
Pria itu mengiyakan, kemudian Melody berjalan memisahkan diri ke arah lain. Sejak tadi ada yang mengganjal saat Jamie memperhatikan belanjaan Melody yang terlihat sangat minim.
Melody menolak keras dibayari belanjaan oleh Jamie. Bahkan Rudy dikata senang makan, tidak mengambil jajanan sebanyak yang Jamie kira. Kapan Melody menginstruksikan larangan itu?
Gajinya sudah tidak sedikit, terlihat jelas jika Melody menyisihkan banyak sekali uang untuk pendidikan adiknya. Dia mendengarnya sendiri di rumah Melody malam itu.
Ia mendekat ke arah anak-anak yang diasuhnya, lalu memusatkan perhatiannya pada Rudy yang hanya melihat deretan makanan ringan pada rak yang menjulang lebih tinggi darinya. Sedang Natasya dan Daniel asyik memilih dan dengan mudahnya memasukkan makanan yang mereka suka ke troli Jamie.
Jamie membisiki telinga Rudy. Mendengar bisikan itu, Rudy mengawasi sekelilingnya.
Banyak rupanya barang yang Melody taruh di keranjang, tentu semuanya adalah kebutuhan. Dia hanya menebak dari ingatannya, barang apa saja yang perlu dia restock. Karena sudah waktunya, tapi Felicia masih belum memberinya catatan dalam bentuk apapun. Bahkan memasak pun hanya untuk dirinya sendiri dan adik kecil mereka Rudy.
Di meja pembayaran, penjaga kasir memindai habis semua barang di keranjang melody. Dompet Melody sudah terbuka, siap membayar. Tapi wanita penjaga kasir itu menunggu troli di belakang Melody, yang dia kira disatukan. Karena Melody terlihat akrab seperti keluarga bersama mereka.
Melody akhirnya tersadar, "yang ini dipisah, Mbak."
Si wanita penjaga kasir tertunduk memohon maaf, wajahnya merah padam karena malu. Secepat kilat dia menyebutkan nominal pembelian dan mencetak struk belanja setelah menerima uang tunai dari Melody.
"Timezone dulu!" teriak Daniel.
Lelah berdebat, Jamie biarkan anak-anak pergi bermain di zona permainan sementara ia makan dengan Melody. Keamanan dipercayakan kepada anak paling besar, yaitu Rudy. Tak hanya besar di badan, rasa tanggungjawab nya juga besar.
__ADS_1
"Jaga baik-baik, katanya ingin punya adik? Hari ini dua bocah ini adikmu." Melody memegang kedua pundak adik sedarah nya, penuh harap.
Rudy mengangguk patuh, sambil mengingat-ingat di kepalanya, kapan dia pernah bilang seperti itu?
Agar mempersingkat waktu, Jamie dan Melody duduk di salah satu tempat duduk di kedai yang tidak terlalu ramai pengunjung. Menunggu makan siang mereka disajikan.
Yakiniku rice bowl dan satu piring sushi dihidangkan di atas meja, kedai pilihan Jamie adalah tempatnya seseorang yang menginginkan masakan khas Jepang. Kebetulan lidah Melody sama cocoknya seperti Jamie dengan makanan Jepang.
Jamie mengelap area mulutnya menggunakan tisu, ia selesai lebih awal dari Melody. Cara makannya jauh lebih sopan dan tertata di tempat umum, juga tidak berbicara sampai makanannya habis.
"Bagaimana rasanya?" tanya Jamie.
Baru saja Melody menyuapkan nasi dengan daging dalam satu sendok. Mulutnya penuh, tapi ia berusaha menjawab tanpa mengeluarkan cipratan air liur.
"Oke lah!" jawabnya anggun, walau mulut penuh.
Jamie menebak, maksudnya makanannya tidak terlalu enak, kan?
Ia memastikannya, "oke?"
Melody mengunyah dengan cepat, menyelesaikan makanan di dalam mulutnya lebih dahulu sebelum menjawab.
Terukir senyuman tipis di wajah lelaki yang sering memasak untuknya. Tulus gombalan itu keluar dari lubuk hati Melody, ia paling nyaman dengan masakan rumah.
"Semua makanan jenis apapun, seenak apapun, tidak bisa mengalahkan masakan rumahan di lidah seorang Melody," ucapnya, lalu ia membereskan mangkuk yang sudah bersih habis dimakannya.
Jamie mengabaikan ponsel yang digenggamnya sejenak, perhatiannya terpusat pada Melody. Wanita itu seolah serius dengan perkataannya, Jamie mulai menatapnya dengan intens.
"Karena itu, setiap makanan yang Kakak buat, sangat berarti untuk Melody."
Demi mengucapkan kalimat itu Melody mengumpulkan keberaniannya. Reaksi Jamie justru hanya diam seribu bahasa, Melody gemas ingin membaca isi kepala pria itu.
Bagaimana perasaannya?
Ck, dia sudah punya istri, apa yang kau pikirkan Melody?! Tidak!! Apa jangan-jangan aku sudah kelewatan?
Ia berusaha mengubah suasana, "sedihnya, kalau nanti sudah berhenti, Melody tidak bisa menikmati makanan buatan Kakak lagi."
__ADS_1
Pandangan Jamie kembali pada Melody, jawabannya membuat Melody penasaran.
"Ada dua opsi. Pertama, jangan pernah berhenti menjadi pengasuh Daniel. Kedua-"
Melody memangkas ucapan Jamie, "menikah?" Ia menyunggingkan senyuman.
Sudah terlanjur, mending gila sekalian, bukan?
Siapa yang tidak tercengang dengan kata-kata penuh percaya diri seperti itu? Jika orang asing yang mendengarnya mungkin akan terdengar seperti godaan yang manis.
Justru Jamie dengan dingin menangkisnya, "kamu bisa datang ke rumah saya untuk makan kapanpun, saat kamu sekarat karena kelaparan atau keluargamu belum makan selama tiga hari."
Realitas kehidupan memukul keras Melody hingga berdarah-darah. Ia tertunduk begitu suara berat Jamie mengerucut tajam, ternyata Jamie berkomplot dengan realitas untuk menjatuhkan mental Melody.
Tapi sayang sekali, hidupnya sudah hancur sejak bertahun-tahun silam. Silet tajam lidah Jamie tak lebih dari bentuk terkecil penderitaannya.
Tak lama kemudian, tangisan seorang anak dari dalam zona permainan memekakkan telinga para pengunjung di sekitarnya. Termasuk di tempat makan yang bersebelahan dengan zona permainan, dimana Jamie dan Melody bisa mendengar suara tangisan itu.
Spontan tubuh keduanya terangkat berdiri, dengan sigap pergi ke dalam zona bermain untuk mengecek keadaan anak-anak mereka. Di dalam sana, semua mata tertuju pada satu titik.
Di titik itu terdapat Daniel, Natasya dan Rudy. Namun, yang menangis bukan ketiga-tiganya, tapi anak perempuan yang tubuhnya seperti habis terjungkal. Jamie mendekat pada mereka, dengan wajah penuh tanya.
"Hey Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya Jamie pada anak yang terjatuh itu.
Ia mengulurkan tangan, tapi anak itu menepisnya sambil sesenggukan. Badannya terlihat lebih tinggi dari Daniel maupun Natasya, tapi lebih muda dari Rudy.
Sekuriti tiba setelahnya, menenangkan para pemain yang ada di zona itu. Mereka melepaskan pandangan dari pertengkaran anak kecil ini.
Semua yang bersangkutan diamankan diluar zona permainan, karena telah menganggu ketentraman di sana. Anak perempuan itu ditanyai kronologi kejadiannya, akan tetapi dia tak menjelaskan apapun selain memojokkan Daniel dan Natasya. Juga menjelek-jelekkan Rudy.
"Itu salah si gendut! Dia menghabiskan ruang dengan tubuhnya yang boros tempat itu!" teriak si anak dengan rambut keriting.
"Hey, Dik, mana orangtuamu? Kenapa sampai sekarang aku belum melihatnya?" tantang Melody.
"Papaku pemilik mall ini!!!" lantang anak itu.
"Lalu kenapa? Seluruh kawasan di mall ini jadi milikmu juga? Tidak bocah!" bantah Melody, masih menjaga rendah notasi.
__ADS_1
Anak gadis itu semakin menggeram, datanglah seorang pria dengan setelan jas formal dikelilingi para staf penjaga mall. Ketampanannya menyita perhatian publik di sekitarnya. Melody penasaran, apa yang orang-orang lihat sampai mata mereka berbinar-binar seperti itu.