
Ruangan begitu gelap, tapi Melody mampu melihat jarum jam yang menunjuk pada angka dua belas. Cahaya lampu luar rumah menyoroti jendela yang dilapisi oleh gorden tipis, artinya itu adalah malam hari. Penyesalan menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Aku tidur sejak tiba dari mall," gumamnya sembari menutupi matanya menggunakan siku.
Melody bergadang semalaman lalu dijemput paginya, dia tak mengantuk di perjalanan tapi langsung jatuh ke alam mimpi begitu tiba di rumah. Bajunya pun masih sama dengan kemarin.
Melody sudah mandi, mengganti pakaiannya dengan kaos polos dan celana training. Dini hari dilewati dengan mengerjakan tugas-tugas para pemalas yang punya banyak uang di kantong mereka. Pagi-pagi Melody sudah diganggu oleh suara notifikasi dari ponselnya.
Pasti dari Coki, tebaknya.
Benar.
"Jam 2 ya," ujar Aditya dalam pesannya.
Jeda sejenak, Melody membungkus kakinya dengan kaus kaki lalu memasangkannya sepatu berbahan karet. Ia keluar dari rumahnya, disambut angin pagi yang menyentuh kulit. Matahari belum menampakkan dirinya.
"Bukankah jam segini Jamie juga sedang merawat bentuk tubuhnya? Apa aku harus membentuk tubuhku juga?" ucapnya pada diri sendiri.
"Oh? Aku harus bertanya dimana ia pergi gym." Melody berkacak pinggang.
Sisi jahatnya suka melantur sendiri, beruntung masih ada sisi baik Melody yang masih bisa mengontrol. Jika tidak, mungkin sejak dulu Melody sudah menggoda pak suami yang istrinya kabur tak jelas itu.
"Jika keluarganya hancur, Daniel akan benci padaku," ujar sisi baik Melody.
Ia mengencangkan ikatan di rambutnya, melangkahkan kakinya turun menuju jalanan aspal. Jalan kakinya kian mengencang, tangannya turut terangkat. Melody mengatur napasnya, ia sudah berlari melewati satu komplek.
Lari pagi adalah rutinitas sehari-hari, jika bukan karena tidur Melody tak akan melewatkannya. Tak jauh-jauh dari kompleks perumahan, pun Melody mendapat banyak keringat karena luas kawasan perumahan di sana amat besar.
Melody sampai di rumahnya, setelah mengelilingi tiga kompleks. Matahari menyorot di matanya, keringat bercucuran tapi tak tercium bau badan sedikitpun. Ia memasuki ruang tengah, tampak adik perempuannya mengenakan pakaian yang cukup bergaya di kacamata Melody.
Melody refleks bertanya, "pergi kemana?"
Wajah Felicia berubah malas melihat kedatangannya. Harum roti yang dibakar bersama mentega menyebar di seisi rumah.
"Beli roti tawar, susu, skincare, sampo, detergen, pewangi," jawab Felicia di ambang pintu kamarnya, dengan tempo yang cepat, tanpa melihat orang yang bertanya padanya.
Oh, salah sasaran. Semua tebakanku kemarin.
"Kamu tak bilang apapun kema-"
Belum selesai dengan ucapannya, Felicia memotong tanpa ragu.
__ADS_1
"Kakak kan cuma tahu kertas dan tinta, tidak tahu beras, telur atau sayuran," sanggahnya.
Tak usah repot-repot mencari waktu yang tepat, Felicia sendiri yang membuka obrolan mereka. Sejak dulu, Melody dan adik tirinya jarang akur, lebih banyak pertengkaran ketimbang kedamaian diantara mereka.
Mengelak? Tidak, Melody mengakuinya.
"Kamu baru tahu?"
Bukan sekali dua kali Felicia mengatakan hal pedas seperti itu, telinga Melody sudah terbiasa menelan fakta tersebut. Bukan karena bodoh, dia malas dan lebih senang bergantung pada seseorang.
Felicia melangkah sejengkal menuju kamarnya, berniat menutup pembicaraan begitu saja!? Tentu tak semudah itu. Dengan cepat Melody mencurahkan segalanya.
"Aku lelah, aku juga butuh sarapan, aku lelah bekerja dan menunggu sore hari untuk bertemu dengan pengisi perut. Bisakah kamu katakan saja dan akhiri perilaku kekanakan itu?" lugasnya.
Lalu dengan santainya Melody masuk ke dalam kamar adiknya, mencabut dua lembar tisu yang tersimpan di atas nakas, dikemas dalam kotak imut berwarna merah muda. Di usap wajah polosnya menggunakan lembaran tisu.
Oh, ini berbahaya.
Selain iri karena kegeniusan sang kakak, Felicia pun iri dengan wajah sempurnanya yang bersih dan sehat. Membuat dirinya semakin minder dengan jerawat yang mengisi wajahnya. Wajahnya selalu memerah tiap kali terpapar sinar matahari.
"Karena kakak akan membayarkan sekolahku yang mahal itu, aku harus mengurusi hidup kakak? Kalau aku tidak melakukannya, kakak akan berhenti membiayai sekolahku, benar begitu?"
Sungguh Melody hanya bisa menganga lebar mendengar adiknya meracau, tak paham kemana arah pembicaraan ini.
Melody mendudukkan tubuhnya di atas kasur empuk, sementara Felicia berdiri tegap dengan kedua alis yang hampir menyatu.
"Jadi benar Kakak senang menghancurkan hidup seseorang!?"
"Tidak," tegas Melody, "aku hanya ingin kamu tenang dan bebas."
"Tenang dan bebas? Kakak bisa bilang begitu karena Kakak tak pernah merasakan jadi aku! Aku yang tidak sesempurna kakak ini yang mengejar ilmu, aku yang mengejar sekolah favoritku, dan kakak yang dikejar-kejar oleh banyak universitas impian semua orang--dengan sombongnya menolak dan bahkan membakar beasiswa."
Bak sebilah pisau tajam merobek hati hingga titik terdalam, tanpa belas kasihan sama sekali. Melody hanya membeku. Ingin menjerit dan menangis tapi air mata tak mampu keluar, entah apa karena yang mengatakan hal itu adalah orang yang paling dekat dengannya.
"Kakak melakukan itu untuk hanya menghancurkan ibu kandung Kakak sendiri kan?! Sampai dia-"
"Hentikan!" Melody mencengkram kedua telinganya yang mendidih dibuatnya.
Sampai pada titik Melody kehilangan ketenangannya, keringat di badannya mengucur lagi padahal ia tak bergerak sama sekali.
"Kakak senang kan melihat penderitaannya? Karena itu Kakak ingin merasakannya lagi, dengan menghancurkan diriku?" Tajam sekali tatapannya menyorot postur tubuh Melody yang kaku.
__ADS_1
Melody bangkit dan berdiri tepat di hadapan adiknya, temperamennya sudah tak terkendali.
"Keluar!" satu kata yang tidak terlalu keras.
Felicia tersentak, kedua tangannya bergetar. Dengan berlinang air di pipinya, gadis itu menyambar tas yang tergeletak di atas kasur.
"Keluar dari rumah ini!" teriak Melody.
Gebrakan pintu yang keras menggemparkan warga sekitar yang tengah asyik bercengkrama di pekarangan rumah mereka. Meski sebagian dari mereka ada yang niat mendengarkan pertengkaran adik dan kakak di dalam rumah yang sama sekali tidak kedap suara.
Jadi ini yang wanita itu bicarakan saat dia datang dan langsung lari terbirit-birit begitu aku keluar. Dia menginginkan adikku? Dia mengungkit masa lalu untuk menarik dan menjauhkan dia dariku?
Harusnya Felicia tidak akan jauh-jauh dari rumah temannya, Sintia atau Vian. Tidak, dia akan mencari yang lebih jauh. Bagaimana tidak? Kakaknya sendiri yang mengusirnya dari rumah.
"Aku tak usah khawatir, aku punya nomor hape mereka semua," gumamnya.
Walau merasa bersalah dan menyesal. Kini ia merasakan kembali menjadi yang lebih buruk lagi, bagaimana Melody akan menebusnya.
Melody kesulitan menyangkalnya, mungkin yang Felicia katakan adalah separuh kebenaran, bahwa Melody selalu menghancurkan orang lain.
Ia keluar dari kamar itu, khawatir pada Rudy. Bagaimana jika anak malang itu menangis mendengarkan perdebatan mereka, meski Melody belum pernah melihatnya begitu.
Ternyata tidak, raut wajah Rudy tak menampakkan kemalangan sedikitpun saat ia duduk, di atas kursi panjang yang busanya sudah keras. Wajahnya ramah-ramah saja, pipinya masih tembam apalagi dimasuki roti panggang yang sudah dingin.
"Rudy ...." lirih Melody.
Entah apa yang sudah didengarnya, Rudy tak menganggap pertengkaran mereka patut untuk dipikirkan. Semua akan berlalu menurutnya, karena sudah banyak sekali pertengkaran yang dia saksikan. Pada akhirnya mereka selalu berbaikan, itu yang terpenting.
Melody duduk bersimpuh di hadapan adik kecilnya, mengabaikan betapa dinginnya lantai, dengan wajah sama lesunya. Yang satu lesu karena bangun tidur, satunya lagi karena habis dihujat.
"Bolehkah aku mendapatkan pelukan darimu?" Melody membungkuk lemas.
"Ya," singkat Rudy.
"Tapi aku sudah mengusir kakakmu, apa kamu akan memaafkan dan membiarkan aku mendapat pelukan darimu begitu saja?"
"Terus kenapa? Toh, kalian memang saling menjahati satu sama lain. Kak Cia juga akan mendapat pelukan dari teman-temannya di luar sana, kenapa kak Melody tidak?"
Melody menggapai tubuh empuk Rudy, ia jatuhkan kepalanya di bahu sang adik yang juga bagian dari darah dagingnya. Ayah Rudy adalah ayah Felicia, dan ibu yang melahirkan Rudy adalah wanita yang melahirkan Melody juga. Rudy adalah penghubung antara Felicia dan Melody.
Tangan kecilnya mengusap lembut sang kakak. Kehangatan yang bisa Melody rasakan, hanya bisa dia dapatkan dari Rudy. Selamanya Melody tidak ingin berpisah dengannya.
__ADS_1
Melody sontak terbangun dan melepas pelukannya, tersadar akan sesuatu.
"Aku belum memberinya uang sepeserpun," ujarnya.