Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 51 Kepergian Yang Mendadak


__ADS_3

Sementara Jamie memutarbalikkan mobilnya, Melody masuk ke dalam rumah dan mendapati seorang wanita tua bernama Sania kembali lagi. Tampaknya kali ini dia berhasil membujuk Felicia.


Melody tersentak, "apa?"


Ibu kandung Felicia menarik dua koper besar di kedua tangannya, berjalan keluar melewati Melody. Namun, Melody tak bisa mengabaikan adik kecilnya, Rudy ditarik penuh paksaan oleh Felicia. Melody mencegatnya.


Dicengkeram tangan Felicia. "Kamu tidak bisa seenaknya memaksa adikku," geram Melody menekan suaranya, "pikir mu kau siapa?"


Felicia membentak dengan nada tinggi, "Rudy juga adikku! Dia pantas keluar dari rumah ini, karena kamu hanya bisa menyayangi anak lain yang ada di luar sana!"


"Kak Feli saja yang pergi, aku akan tinggal di sini!!" Rudy berteriak, sembari terisak-isak.


Sania mendengus kesal, ia pergi mendekat ke arah mereka. Tangan ringannya mendorong dada Melody, tubuh Melody yang lemas terhuyung ke belakang.


"Mama!" pekik Felicia.


Sialnya lagi Melody mendarat di atas ember berisi air hujan, ember tua itupun pecah dan membasahi tubuh bagian bawah Melody.


Jamie yang melihat dari kaca spion ikut terkejut melihatnya, dia sudah melewati satu kilometer jauhnya. Dengan cepat Jamie membuka pintu mobilnya dan kembali ke rumah Melody dengan kakinya sendiri.


"Mereka tak akan memakan mie instan lagi, tapi daging yang berkualitas, mereka juga tak akan hidup di tempat kumuh seperti ini, hidup adik-adikmu terjamin. Harusnya kau berterimakasih dasar wanita sial! Tidak tahu diri!" tutur Sania.


Benar, Sania hanya mengatakan kenyataannya. Dirinya tidak mampu membesarkan dua adiknya dengan ekonomi pas-pasan.


Jamie lebih cepat sampai, dia berlari dengan kecepatan tinggi, Jamie menyingkirkan pecahan ember dari Melody. Beruntung mantel yang dipakai Melody cukup tebal untuk melindunginya dari pecahan ember.


Mereka akan hidup lebih baik bersama wanita itu, tapi entah kenapa rasanya ... Kenapa aku begitu egois, mereka layak mendapatkannya, aku hanya tidak ingin berpisah dengan mereka ...


Rudy melepas paksa genggaman Felicia dan berlari mendekati Melody. Anak itu menginjak tanah basah di sekitar Melody, tapi saat dia mencoba menyentuh tangan Melody-


"Jangan mendekat!" titah Melody, wajahnya menunduk ke bawah.

__ADS_1


Aku tidak mau hidup sendirian.


"Pergilah dengan kakakmu. Aku tidak mau tidur bersamamu lagi, kamu selalu berisik saat tidur dan aku tidak pernah bisa tidur karena mu!"


Aku sama sekali tidak punya hak asuh atas mereka.


Sania kembali menarik tangan Rudy, memaksanya masuk ke dalam mobilnya. Tak disangka Felicia ikut meneteskan air matanya, entah untuk siapa. Supir pribadi Sania melajukan mobilnya begitu semua sudah masuk.


Selain mengusap pundak Melody, Jamie tidak punya hak ikut campur ke dalam urusan keluarga Melody. Hatinya pahit mendengar ucapan Melody, yang dia ketahui berbanding terbalik dengan perasaan Melody yang sebenarnya. Dia membangkitkan tubuh Melody secara perlahan.


Para tetangga pun hanya bisa menonton, raut wajah mereka miris melihat perpisahan yang tidak diduga-duga itu. Mulut mereka tidak bergerak sedikitpun, tak ada bisikan-bisikan nyinyir keluar saat kehebohan terjadi.


Jamie menuntun Melody masuk ke dalam rumah. Penghuni sekeliling kompleks memperhatikan. Karena merasa telah mengganggu ketentraman, Jamie berdiri di depan pintu rumah Melody, kemudian membungkukkan badannya.


"Maaf atas keributannya," ujarnya dengan nada sopan.


Kalimat itu membubarkan para penghuni rumah sekitar, kembali pada aktifitas mereka masing-masing. Jamie masuk menyusul Melody, di depan kamar mandi Melody berdiri. Air berceceran dimana-mana, pria itu membukakan mantel berat yang dipakai Melody.


Wajah Melody kusut, yang mengejutkan Jamie wanita itu tidak menangis sama sekali. Ia membersihkan tubuhnya di kamar mandi, mengabaikan keberadaan Jamie.


Melody sudah berpakaian sekarang, pikirannya kembali jernih. Melihat Jamie masih ada di sana, berdiri di dapur, Melody tidak terkejut.


Pria tua satu ini senang membuat seorang wanita salah paham dengan perlakuannya.


"Kamu tidak punya sayuran dan hanya mengandalkan telur sebagai protein. Tak heran mereka meninggalkan mu," ucapan Jamie nyaris tak difilter.


Jamie menyajikan sepiring nasi goreng hangat untuk Melody. Tak sempat memberinya sarapan di penthouse karena terburu-buru.


"Shut up," ketus Melody, ia berdiri di ambang pintu melihat keberadaan mobil Jamie yang amat jauh dan menghalangi jalan mobil lain yang akan melintas nantinya.


TIINNNN! TIINNN!

__ADS_1


Benar saja, suara klakson terdengar memekakkan telinga. Pagi hari adalah jam berangkat kerja atau sekolah semua orang, Melody bisa merasakan kesalnya sopir pengendara mobil yang jalannya dihalangi oleh mobil yang sepuluh kali lebih mahal dari mobilnya.


Pemilik mobil mahal itu justru dengan santainya, "oh, mobilku menghalangi jalur?"


Jamie bersiap pergi, ia membawa mantel miliknya yang basah di lipatan tangannya.


"Simpan saja, aku akan mencucinya." Melody menahan tangan Jamie.


"Tidak apa-apa," bantahnya, ia hendak menurunkan tangan Melody.


Tapi tangannya itu tidak mau melepas Melody, tatapan mereka terkunci beberapa saat. Lalu berakhir begitu Melody mengedipkan matanya dan melihat ke arah lain dengan canggung.


"Mungkin sebenarnya aku sedikit membenci Emily, karena aku punya bekas luka yang disebabkan oleh seorang ibu. Tapi aku tidak pernah menginginkan ibu lain, aku menangis dan nyaris ingin bunuh diri saat mengetahui ibuku meninggal," ujar Melody.


Jamie tersadar, maksud dari perkataan Melody yang amat keras kepala. Menolak dengan halus segala bentuk perhatian dan sinyal darinya. Jamie mengangguk, mengangkat paksa dua ujung garis bibirnya agar tersenyum. Dia berbalik, disambut oleh sorotan matahari yang menusuk mata panda nya, terkejut.


"Mobilnya tidak ada," ucapnya.


Melody tertegun, "mobil siapa?"


"Yang mau melewat tadi," balas Jamie.


"Oh," canggung wanita itu.


Pintu tertutup, begitupun gorden belum ada yang menyibakkan. Tak ada lagi cahaya masuk, atau siapapun. Hanya Melody seorang diri di rumah itu. Akan tetapi, selang beberapa detik Jamie kembali masuk dan menutup rapat pintu.


"Mmmpph!"


Menyambar Melody dengan ciuman yang hampir seperti akan memakan wanita yang menerima ciuman panas itu, tapi Melody justru melingkarkan tangannya di leher Jamie. Jamie membalikkan badannya, mendorong tubuh Melody agar bersandar pada pintu.


Tangan besar dan berurat Jamie menyusup masuk, meraba dengan lembut permukaan perut Melody tanpa melepas tautan bibirnya.

__ADS_1


TOK! TOK! TOK!


Sontak Melody dan Jamie membeku di posisi mereka, dengan kilat Jamie melepas mangsanya dan membiarkannya membereskan pakaian.


__ADS_2