Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 46 Ternyata Bukan Teman


__ADS_3

Di setiap sudut ruangan gemerlap lampu yang dihiasi oleh rumbai-rumbai kaca, walau hanya remang cahaya yang dihasilkan lampu mewah itu. Berbagai jenis jamuan dessert yang disuguhkan di atas meja meja panjang berlapiskan kain yang dijahit seorang penjahit profesional.


Hanya manusia-manusia sosial dari kalangan atas yang berani memijakkan kaki di sana, hanya para pelayan dan pramusaji cantik dan tampan yang boleh menyajikan jamuan makan dan minuman di antara mereka. Sebagian yang mengisi ruangan itu adalah manusia brilian yang mencapai puncak kesuksesan atau keturunan bodoh mereka yang kebetulan mewarisi kejayaannya.


Pemula yang baru memasuki dunia pergaulan sosial, mengira pemeran utama di acara pesta yang bukan main-main ini adalah seorang pengusaha yang prestasinya juga bukan main-main.


Di kalangan para gadis muda pun, banyak yang mengantre demi merasakan pelukan hangat dari sosok Ethan si pewaris muda dengan wajah dan masa depan yang terbilang cukup cerah, terlebih laki-laki ini masih lajang.


Namun, nyaris menjadi rahasia umum di kalangan senior jika pemeran utama yang mengadakan pesta peresmian tahtanya hanyalah salah satu dari keturunan yang bodoh, bukan si brilian yang membangun kesuksesannya.


Idaman setiap wanita di sudut ruangan itu, baru saja tiba. Bukan playboy maupun tukang pembuat skandal seperti Ethan atau Emily si kakak beradik, melainkan seorang pria yang selalu berkilau dengan kegemilangannya, tanpa ada batu yang bisa membuatnya tersandung.


Bersih dan sehat, di mata orang-orang.


Siapapun yang memiliki atensi di atas, akan selalu menjadi sorotan di setiap pertemuan antar golongan sosial. Kata orang-orang, Jamie George terlahir di keluarga yang tepat.


Menjadi salah satu keuntungan bagi Emily, bisa memamerkan berlian yang disematkan di jarinya berpasangan dengan pria itu.


Dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain, Emily bersama suami kebanggaannya melangkah mendekati sang tokoh utama yang merupakan adik kandung Emily sendiri, Ethan.


"Selamat atas tahtanya tuan C-E-O, tolong jaga perusahaan, jangan bersembunyi dibalik rok seorang asisten atau sekretaris ya?" cibir Emily, volumenya kecil tetapi nadanya tinggi.


"Oh, Millie sayang, apa kamu menikmati makanannya? Kalau kamu merasa tidak cocok dengan makanannya, tolong beritahu suamimu agar dia segera mengantarkan mu pulang, bukankah kamu tidak bisa makan makanan keluargamu sendiri?"


Suara lantang Ethan terdengar jelas di kerumunan itu, terang-terangan mengusir kakaknya sendiri dari pesta. Perhatian terpusat pada dua orang yang paling berpengaruh di pesta itu.


Ibu kandung Emily yang tak terima putrinya menerima perlakuan seperti itu di hadapan publik, menarik lengan putranya dan memelototinya.


"Emily sensitif terhadap bakteri, kamu membayar chef murahan di rumahmu sehingga Emily harus mengalami gangguan alergi. Kamu sebagai adiknya tidak mengetahui hal itu?" lantang pula Jamie membalasnya.


Boom.


Pandangan semua orang berubah seketika.


"Jadi dia orang yang seperti itu?"


"Ya ampun, dengan kakaknya saja tidak peduli, apalagi pada pasangannya nanti?"

__ADS_1


"Sudah kubilang Jamie George adalah pria sejati!"


"Idaman sekali! Dia tidak berdiam diri begitu istrinya hampir dijatuhkan!"


Bisikan-bisikan maut yang menentukan setiap inci reputasi, bicara memang mudah, tapi menggiring dan mempertahankan opini para pembisik tetap di zona aman adalah kemampuan yang hanya beberapa persen orang di dunia ini bisa melakukannya.


Siapa bilang Jamie mengatakan sebuah fakta? Semua hanya rekayasa. Tapi orang dengan mudah percaya jika yang mengatakannya adalah Jamie.


...****************...


Malam yang sama, namun tempat dan kelas yang sama sekali berbeda. Melody menikmati pertunjukan musik yang ditayangkan dari dana sekolah, spesial untuk para tamu yang dulunya pernah duduk bangku yang sama.


Yang disuguhkan koktail buah dan jus mangga. Pengunjung alumni dari berbagai usia berkumpul dalam reuni besar-besaran. Selalu sama setiap acaranya, Melody dan Aditya selalu hadir meski tanpa Glenn karena Glenn tak suka mendatangi acara yang menurutnya tidak bermanfaat. Sama persis dengan Sasha.


Gemerlap lampu memeriahkan panggung di hari petang menjelang malam. Banyak orang-orang yang sudah puas dan pulang, banyak pula yang berdatangan dan hendak memulai.


Seperti biasanya, Melody duduk bersama orang asing ketimbang menemui teman lamanya. Dengan sengaja menjauh dari Aditya dan tak ingin mengganggu kebersamaan dia dengan teman-temannya.


"Halo ketua osis," panggil salah seorang lelaki yang tidak asing.


Melody menoleh, Tristan. Sudah lama ia tak melihatnya wajah manis si perusak rumah tangga orang itu. Panggilan itu memotong pembicaraan antara Melody dengan seorang wanita yang dua tahun berada di bawahnya.


Ia kemudian kembali fokus pada wanita berambut beken di depannya, wanita itu hendak pamit.


"Siapa namamu?" cegat Melody selagi masih sempat.


"Lola." Ia melambai tangannya.


Dibalas lambaian tangan itu, Melody tak melihat nyala rambut wanita itu lagi kemudian. Ia duduk bersama lelaki yang tak pernah menyapanya di pertemuan pertemuan alumni sebelumnya.


"Kenapa? Sedih karena wanita mu kembali ke jalan yang benar?" tanyanya sambil memutar-mutar sedotan plastik hitam di gelas es kopinya.


Tristan cukup aneh malam ini karena biasanya wanita-wanita akan mengerubungi lelaki semanis ini, apalagi dia sering meladeni mereka.


"Entahlah, sebenarnya aku tidak begitu menikmati pesta malam ini. Aku datang ke sini untuk menemui dirimu," ucap lelaki yang merasa dirinya malaikat tanpa dosa yang terluka.


"Tapi tak mungkin juga aku mengatakan semuanya di sini, kita ke bar saja Melody," sambung lelaki itu.

__ADS_1


Perasaan tidak enak muncul begitu ia berniat meninggalkan Aditya, yang sudah membawanya pada pesta itu. Melody bangkit dan hendak mencari Aditya saat itu juga, tapi ketika ia menoleh pria yang akan dicarinya itu ada di belakangnya.


Raut wajahnya senang dan Aditya menghembuskan napasnya lega begitu menemukan Melody. Tanpa aba-aba, Melody menarik Aditya dari kerumunan agar Melody bisa berpamitan dengan benar.


"Lelaki muda itu selera mu?" celetuk Aditya, dengan raut wajah penasaran dan serius.


Melody membantah keras tentunya, "bodoh! Aku tidak tertarik dengan anak-anak labil." Bagaimana dia bisa berpikir ke sana.


Tak berbasa-basi lagi, Melody mengatakan langsung pada intinya, "aku harus pergi, tidak apa-apa jika kamu pulang sendiri?"


Lorong-lorong gedung yang tak diberi penerangan itu cukup membuat takut Melody, sesekali ia penasaran dan melirik lorong gelap itu, dan berakhir merinding sendiri.


Tapi bagi Aditya ada yang lebih penting dari itu, instingnya mengatakan bahwa Melody hendak pergi bersama pemuda playboy itu. Tapi apa yang bisa dia perbuat.


"Oke," hanya ini jawaban yang bisa dia keluarkan.


Tersadar dirinya hanyalah seorang teman bagi Melody, dengan siapa dia akan pergi dan berkencan bukanlah urusannya. Tapi hatinya tetap tidak tenang dan selalu meminta untuk diutarakan saja perasaan yang lama dipendam itu.


Melody baru maju dua langkah meninggalkannya.


"Melody," panggilnya, satu kata itu keluar tanpa permisi.


Wanita itu mampu merasakan suasana di sekelilingnya berubah. Ia menghentikan langkahnya, tapi segan berbalik sebelum pria itu mengatakan apa tujuan memanggilnya lagi.


"Dulu, aku juga menyukaimu, aku bertaruh dengan berada di sisi kalian sepanjang waktu aku bisa merebut mu dalam kurun waktu paling lama tiga tahun. Tapi sekalipun kamu tak pernah melirik padaku setelah banyak upaya dan waktu yang ku habiskan bersama kalian," ungkap Aditya.


"Hatiku lelah dan sakit karena itu aku menyibukkan diri setelah lulus, mencari teman baru di universitas," sambungnya.


Melody memutar badannya, wajah pria itu tampak serius dan hatinya tak sanggup jika teman tersayangnya harus terluka lagi sekarang. Bagaimana bisa Melody tak menyadari niat terselubung temannya sendiri yang sebenarnya di lubuk hatinya tak berniat menjadi teman.


"Sekarang?" tanya Melody memastikan.


"Perasaan itu semakin kuat, apalagi setelah menghadiri pernikahan Glenn. Rasanya seperti tuhan memberikan kesempatan itu langsung untukku mengutarakan perasaan."


Ia mendekatkan dirinya di depan Aditya, tangan kanannya terangkat untuk mengusap lembut pipi lelaki itu. Hati bukan sesuatu yang bisa diberikan begitu saja tanpa ada keinginan kuat, Melody belum punya keinginan sekuat itu untuk memberikan hatinya pada lelaki ini.


Tak keluar sepatah katapun dari mulut wanita yang dia cintai, justru Melody menurunkan wajahnya, setetes air mata mengalir membasahi pipi dan jari-jemari Melody. Jari-jari itu yang mengusap air matanya, tapi tak bisa menghapus perasaan sakit di lubuk hati terdalamnya.

__ADS_1


Aditya tersadar, tak ada kata-kata yang keluar artinya tak ada perasaan sedikitpun untuknya. Pria jangkung berbadan atletis itu menangis di pundak wanita yang tidak pernah bisa digapainya.


__ADS_2