
Satu persatu orang yang ada di rumah ibunya, Jamie salami. Daniel agak berbeda, ia memberi tos pada orang-orang yang disalami ayahnya. Meski sudah berusaha melindungi diri, ada saja yang menyerobot ingin menciuminya.
Lena mengerutkan keningnya, menggerutu, "cepat sekali, kamu bosan ya ketemu sama Mama, Jamie?"
"Jamie kerja, Ma," ucap Jamie lalu menghela napasnya.
"Ya sudah, Daniel di sini saja tidak usah pulang, kamu bisa jemput dia nanti," seru Lena yang masih ingin bermain bersama cucunya.
"Tidak bisa. Daniel harus minum obat." Jamie menghela napas panjang untuk kedua kalinya.
"Ckckck, kamu memang gak niat ya, datang ke sini," kesal Lena.
Wanita tua itu lelah beradu mulut, akhirnya Jamie bisa segera pergi dari sana dan segera meluncur pulang ke rumah. Ia melirik ke jok sebelah, Daniel terlihat lemas, kelelahan menghadapi banyak orang yang ingin bermain dengannya.
"Uhuk ... uhukk ...!!!" batuk Daniel.
Spontan Jamie mengulurkan tangannya ke belakang mencari tas kecil berisi sapu tangan bersih. Tanpa melepas pandangannya dari jalan raya.
"Tidak usah, Ayah, Ayah pokus saja menyetir. Dany sudah tidak batuk darah lagi." Daniel menunjukkan telapak tangannya yang masih putih bersih tanpa noda apapun.
Jamie tertegun, setelah dipikir kembali, sejak asma kemarin ia tak pernah melihat Daniel batuk darah lagi. Suatu perkembangan yang bagus, penyembuhan melalui obat-obatan Daniel tidak percuma. Jamie harus mengabarkan berita bagus ini.
"Pasti Melody akan kaget juga mendengarnya, hihi!" Daniel terkekeh-kekeh. Sembari melebarkan senyuman, "benar, kan Ayah?!" sambung Daniel.
Jamie menoleh sebentar pada Daniel, senyumannya sedikit berbeda kali ini. "Ya, kamu benar."
Daniel pun tidak mengerti apa maknanya tapi ia senang dengan senyuman itu.
...****************...
Masih di hari yang sama, Melody memakan makan siang sambil menggerakkan jari kirinya di papan ketik. melalui sentuhannya, hiasan di sampul proposal tetap terlihat formal namun tak membosankan.
Hanya sekedar hiasan di sampul, seluruh isinya sudah sempurna karena itu adalah milik adiknya sendiri. Melody yakin teman-teman seangkatannya akan minder padanya.
"Kamu sendiri yang mau lulus, kenapa tidak duduk manis dan serahkan pada adik-adik kelas mu saja?" sanggah Melody.
"Justru karena ini acara ku," balas singkat Felicia yang berada tepat di sebelahnya, masih mengenakan seragam sekolah.
__ADS_1
Melody merasa janggal. Ia mengambil selembar brosur. Hanya melihat namanya saja, semua orang di kota ini tahu, sekolah swasta yang mengisi iklan di brosur itu tidak bohong soal akreditasi yang mereka tampilkan. Orang-orang kaya membeli pendidikan berkualitas mereka dari sekolah itu.
"Aha! Benar, kamu bisa mendapatkan pacar kaya raya di sini," seru Melody bersemangat.
Felicia menciutkan kelopak matanya, ia bantah pernyataan kakaknya, "pacaran? Aku nggak akan berbaur dengan siapapun, aku akan mengejar nilai."
Makan siang Melody sudah di suapan terakhirnya, ditaruhnya piring kotor itu di atas meja, asal. Kedua kaki jenjangnya naik ke atas meja.
"Kau berniat jadi kutu buku culun di sekolah elit yang ku bayar mahal-mahal?" Melody menoleh pada adiknya sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Karena aku harus, aku tidak seperti Kakak yang jenius dari lahir! Aku harus berusaha lebih keras dari yang lain agar bisa mengejar mereka," jelas Felicia, nadanya sudah tak ramah lagi.
"Kamu terpaksa melakukannya?"tanya Melody, tak sepatah pun kata dia dengar untuk pertanyaannya.
Lembaran-lembaran kertas terakhir keluar dari mesin pencetak, Melody menyusun dan merapikannya. Belum selesai, sang adik merampas susunan kertas itu lalu pergi keluar dari kamarnya.
Melody mengartikan diamnya sang adik sebagai jawaban, "ya".
Acara keluarga bukan berarti bisa libur sesuka hati, Jamie tetap bekerja maka Melody pun sama. Ia segera bersiap untuk menepati janjinya.
"Kirain Kakak libur," lontarnya, masih memandangi layar ponsel.
Dari dalam kamar, suara Felicia menyahut, "enggak lah, anak orang lain kan jauh lebih penting."
"Anak ini ..." batin Melody.
Ia menjawab dengan nada yang tenang, "kakak akan pulang seperti biasanya, kalau," Melody menajamkan suaranya, " ... perlu apa-apa bilang, jangan diam saja."
Sorotan tajam mata Melody yang mengarah pada pintu kamar Felicia terlihat begitu mengintimidasi di mata Rudy. Jika Rudy, dia tak punya nyali yang cukup besar untuk memulai perang dingin dengan kakaknya.
Melody keluar dari rumahnya, merogoh ponsel di saku roknya. Celana bahan ditimpa rok adalah pilihannya berdasarkan aplikasi cuaca, menurut perkiraan mereka, hujan badai akan menghantam dua jam kemudian.
Ia menatap langit, menyakinkan diri.
"Tak apa, fase itu sudah biasa dialami anak muda. Felicia tidak akan membenciku, dia akan tumbuh dewasa setelah melewatinya. Ya, itu cuma fase," ujarnya sekali lagi.
Perkiraan cuaca meleset jauh, hujan turun saat Melody masih di jalan bersama ojeknya. Sopir ojek itu mengulurkan jas hujan untuk dipakai Melody walau sambil naik motor. Jarak hanya tinggal beberapa kilometer lagi, tanggung jika berhenti untuk sekedar memakai jas hujan.
__ADS_1
Meski hujan dan badai menghantam, pikirannya terbang dimana-mana. Awalnya hanya membayangkan apa yang akan terjadi jika dia berhenti kerja, ternyata begitu pahit, dia tak akan bertemu dengan anak seperti Daniel lagi. Dia berhenti memikirkannya, namun pikiran lain tetap datang.
Bagaimana caranya aku bisa melindungi keluarga kecil Daniel? Aku sudah kelewat percaya diri mengancam Tristan. Bukan berarti aku tidak akan berusaha, hanya saja bagaimana jika aku gagal? Persetan dengan keluarga itu, Aku paling tidak mau melihat anak mereka hancur.
Sialnya Melody menggunakan metode tunai, tas anti airnya jadi sia-sia karena harus dihujani untuk mengambil selembar uang. Ia relakan kembalian uangnya dan segera menanggalkan jas hujan yang dia pinjam.
"Pakai saja, Mbak! Kembalikan kalau pesan ojek lagi!" ujar tukang ojek.
Melody mengangguk, "terima kasih!"
Kakinya berlari sekencang mungkin, tak melihat ke bawah. Kecerobohannya tak bisa terelakkan lagi, Melody baru menapak di anak tangga pertama, kakinya menginjak rok warna hijaunya yang semakin memanjang karena diberatkan oleh air.
BREET!
Melody tertelungkup, wajahnya mencium tanah penuh air keruh. Jas hujan yang dipakainya menyusut, rambutnya basah tersiram air hujan.
Di bawah payung, Jamie dan Daniel di pangkuannya berjalan melewati jasad yang tergeletak di bawah hujan itu. Jamie merasa familiar, tapi ia menyangkal.
"Jasad!" lontar Daniel penasaran.
Sampai akhirnya Daniel yang menghadap berlawanan dengan ayahnya melihat jasad yang tergeletak itu bangun, wajahnya menyerupai, "Melody? Ah, itu Melody!!!" teriak Daniel, mengayunkan kakinya.
Jamie spontan menoleh, terperangah. Jasad tergeletak itu adalah Melody, ia kini tengah duduk, rambutnya menutup nyaris semua wajahnya. Jamie terus menyangkal dan berusaha agar berhenti memikirkannya. Daniel memberat kakinya ke bawah, lalu ia berhasil turun.
Jamie menghadang anaknya yang hendak menerpa hujan, "Dany mau tolong Melody," ucap anak itu memelas.
"Dany di sini saja." Jamie pergi menghampiri Melody.
Payung meneduhkan Melody, wanita itu menatap tangan yang memegang gagang payung. Tatapannya naik menelusuri dada bidang lelaki itu, melewati leher, lalu menetap di sepasang mata yang hitam pekat dan tajam tapi juga lembut.
Jamie menunggu, kalimat apa sebenarnya yang akan keluar dari mulut wanita di depannya, sambil menerka apa maksud dari tatapan itu.
Melody melihat ke bawah, sambil meremas jas hujannya yang koyak.
"Robek ...."
Pria itu menghela napas panjang, ia menyematkan gagang payung di genggaman Melody. Di angkat tubuh ramping dan tinggi itu hingga berdiri, menuntunnya berlindung di bawah atap gedung.
__ADS_1