
"Sudah kak, sudah tidur juga," ucap Melody mendekatkan suaranya pada ponsel yang menempel di telinga.
Sudah larut malam, menelpon dan bilang baru akan pulang. Daniel bahkan sudah makan dan minum obat, sebelumnya Jamie memang sudah memberi pesan akan pulang terlambat.
Melody memberi Daniel masakan buatannya, agar Daniel bisa memantau proses memasaknya. Walaupun rasanya tak sesuai dengan lidah manusia, karena hasil resep dari internet.
"Pulangnya ikut saya saja, sekalian saya ada keperluan di toko kelontong," tutur partner teleponnya, Jamie.
"Oh, oke! Ikut ke toko kelontong juga ya, Melody mau beli sesuatu," setuju Melody.
Jas hujan milik tukang ojek yang Melody rusak belum di ganti, karena tak punya banyak waktu. Kebetulan Jamie akan ke toko, ia akan mencarinya di sana.
Turun seorang pria berkacamata dari mobil pribadinya, menggantung jas di lengannya yang melipat, dan dua kancing atas kemejanya sudah terlepas . Di luasnya parkiran apartemen mewah, ia memilih meletakkan mobil nyaris di pojokan.
Jamie George Gray mencium bau asap rokok di sekitarnya begitu menghirup udara segar diluar mobil, ia menebarkan pandangannya, mendapati wanita yang rambut hingga pakaian serba panjangnya menyatu dengan kegelapan malam. Pria itu meyakini bahwa yang dilihatnya bukan hantu, karena hantu tidak merokok.
Karena mendengar langkah seseorang mendekati dirinya, Melody melirik ke arah datangnya orang itu. Ia dapat melihat sepatu yang mendekat padanya familiar, Melody menghisap batang tembakau nya, lalu mengangkat kepala.
Oh, sepasang mata itu ....
Melody menghela napasnya mendadak, sementara asap yang barusan dia keluarkan masih di area sekitar wajahnya, asap itu menusuk organ penciumannya, pun pernapasannya terganggu sehingga ia terbatuk-batuk. Jamie kembali membuka pintu mobilnya, menggapai botol mineral di atas jok belakang mobil. Disodorkan botol air mineral yang sisa setengah itu pada Melody.
Di ambil kasar botol di genggaman Jamie sambil masih terbatuk-batuk, Melody meneguk air mineral setengah botol itu sampai habis.
"Maaf, bekas saya," risau Jamie.
Melody menarik botolnya, "Fwahh!!" Mengusap mulutnya dengan ujung lengan jaketnya. "Makasih!"
Jamie tersenyum dan masih berdiri, Melody bangkit dengan pertanyaan beruntun, "mau berangkat sekarang kak? biar Melody matikan rokoknya, atau Kakak mau mandi dulu?"
Tentu, badan sudah lengket sehabis bekerja seharian ingin menyentuh air, tapi kemudian bola mata Jamie beralih ke bawah melihat benda berasap yang terselip di jari-jari Melody. Wanita itu diam-diam memperhatikan.
__ADS_1
"Ya, kita berangkat sekarang," titah Jamie, ia bergerak melangkah menuju gedung apartemen.
Di belakang punggung Jamie, Melody tersenyum tipis. Kawasan merokok di gedung itu penuh oleh laki-laki rupanya, keduanya berjalan dan melewati lift tanpa bicara, bukan canggung tapi masing-masing memikirkan masalah internal dalam kepalanya.
Jamie mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi seharian setibanya di apartemen. Ia melangkah menuju kamarnya, lalu menoleh sejenak.
"Tunggu di sini, saya cuma mandi sebentar," titah Jamie.
Entah mengapa tatapannya serasa tajam bagi Melody, ia mengangguk patuh. Jamie masuk ke dalam kamarnya pada saat jarum jam menunjukkan angka delapan, menit ke dua puluh, lalu kembali keluar di menit ke empat puluh. Sudah siap berangkat.
Melody pun hanya perlu menaruh tas di punggungnya, dan mereka pun segera berangkat ke toko kelontong terlebih dulu. Jamie tak banyak menaruh barang di keranjangnya, Melody sudah mendapat jas hujan yang dia butuhkan, ia pun menghampiri Jamie yang juga di depan tempat payung dan jas hujan.
"Kak Jamie beli jas hujan juga, toh?" Ia mengambil benda tebal di keranjang Jamie, "oh kecil, untuk Daniel? Kakak kan punya mobil," ujarnya.
Jamie melihat ke arah lain. "Tadinya saya berniat beli buat kamu, kamu pilih duluan, ya sudah saya bayarkan saja yang itu," lugasnya.
Melody tertegun, alisnya naik sebelah. Lalu menyusul Jamie yang hendak ke kasir. Bertanya penuh rasa penasaran, "Kenapa?" tegasnya.
Awalnya Melody terkejut karena Jamie bilang akan membelikannya tanpa rasa gengsi sedikitpun, bahkan mengira Jamie berbeda dari Daniel. Sekarang ia mengerti.
"Harga diri tingkat tinggi!!! jauh melebihi anaknya!" pekik Melody dalam hati.
Tak mampu berkata-kata, Melody tak melawan. Tapi ia tetap membantah tak ingin dibelikan, karena jas itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk mengganti milik orang lain, rasanya sayang jika pemberian orang diberikan lagi ke orang lain.
"Kalau begitu dua? Agar kamu juga dapat PEMBERIAN dari saya?" Jamie menebalkan kata pemberian-nya, dengan wajah yang masih datar.
Melody cukup sebal dengan duplikat Daniel di depannya, dari rambut dan matanya yang nyaris sama, hingga tingkahnya yang menyebalkan hanya gara-gara gengsi.
Tanpa menunggu jawaban darinya, Jamie meminta dibawakan satu jas hujan dengan kualitas lebih bagus pada petugas kasir. Petugas kasir membawakan satu jas hujan lain, saat dimasukan ke dalam pembayaran, harganya jauh lebih tinggi dibanding yang dipilihkan Melody.
Meski kesannya terdengar seperti orang yang sangat melarat, saat menuju parkiran wanita yang menjinjing kresek berisi dua jas hujan itu mengucapkan terima kasih dengan tulus karena ia pun menyadari tulusnya niat Jamie.
__ADS_1
"Bukan masalah," balas Jamie, ia kesulitan membuka pintu mobil karena dua kantong kertas di tangannya.
Melody terkekeh-kekeh menahan tawanya seperti anak kecil, ia mengulurkan tangannya membantu membukakan pintu. Di taruh kantong-kantong kertas di tangan Jamie ke jok belakang mobil itu. Kemudian Melody duduk di kursi penumpang depan.
"Oh ya, Kakak tidak merokok ya?" ujar Melody memecahkan keheningan.
Sebetulnya ia sudah dengar dari Glenn di masa lalu, mantannya itu seringkali membanggakan dirinya sendiri dan kakaknya karena kebiasaan mereka yang tak pernah merokok. Karena didikan orang tua sebenarnya, cukup ketat, namun bermanfaat besar untuk hidup anak-anaknya.
Jamie tak memfilter kata-katanya. "Tidak. Konyol rasanya, melihat orang-orang menginvestasikan kematian."
Jlebb! Melody memegangi dadanya yang bagai ditusuk tombak.
Jamie melangsungkan serangan langsung ke intinya tanpa aba-aba terlebih dahulu. Bukan hanya didikan orang tua, Jamie memang membenci rokok. Melody mengalihkan pandangannya pada jalanan yang masih ramai di malam hari, sambil tersenyum pahit.
Di depan sana ada pedagang-pedagang kaki lima. Sekali lagi Jamie berhenti dan memesan beberapa menu makanan yang ada di salah satu gerobak.
Dia tak masak hari ini, jadi ia membeli makanan untuknya dan Melody di pedagang yang sering didatangi. Makan malam adalah benefit yang Jamie tawarkan ajukan di perjanjian, jadi ia merasa bertanggungjawab dan tidak bisa melewatkannya begitu saja.
"Nanti Kakak makan dengan siapa?" tanya Melody sembari membereskan makanan yang sebegitu banyak di jok belakang.
"Dengan Emily. Kalau dia kebetulan habis tersambar petir dan sudah ada di rumah saat saya tiba," tutur Jamie sembari mengulas senyum paksaan.
"Ohh ..." Melody mengangguk-angguk.
Suasana menjadi suram, Melody malah terlihat lebih murung dari Jamie karena terpikir kembali dengan perselingkuhan, yang istrinya lakukan dibelakang Jamie.
Jamie melirik ke kaca tengah, ia mengalihkan pembicaraan saat itu juga, "cukup tidak untuk keluargamu?"
"Sangat cukup! terima kasih!" Melody kembali riang.
Mobilnya berhenti di depan rumah Melody. Perjalanan berakhir begitu saja, Melody turun dari mobilnya dengan dua kresek di satu tangannya. Ia masih memegangi ujung pintu mobil setelah beberapa detik, padahal Jamie sudah memberi salam. Melody mulai menatapnya dengan serius.
__ADS_1
Jamie heran, ia ingin memastikan, "ada apa?"