Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 47 Minuman Beralkohol


__ADS_3

Saking luasnya sekolah, mencari keberadaan satu orang yang selalu memisahkan diri dari teman-temannya, memakan waktu lama sekali. Glenn sudah menghabiskan waktu tiga jam sampai ia akhirnya menemukan punggung wanita yang sudah pasti milik pujaan hatinya.


Namun, apa yang terjadi sampai seorang pria menaruh wajahnya di pundak Melody? Glenn menyimpan pertanyannya, dengan sadar diri menunggu urusan mereka selesai.


Tak memakan waktu lama lagi rupanya, Melody dan pria itu berjalan menuju tempat yang lebih ramai. Glenn mengenal pria itu akhirnya, dia seorang teman lama.


Dengan gesit Glenn mencegat mereka, menarik tangan kanan Melody. Refleks Melody menoleh, matanya terbelalak melihat wujud sang mantan yang memegang tangannya. Begitupun Aditya yang berjalan di samping kiri Melody menghentikan langkahnya, barang sekalipun ia tak pernah melihat Glenn pergi ke acara seperti ini.


"Ada apa? Kalian berdua terlihat serius," ucap Glenn, sinis.


Sikap posesifnya tidak memandang siapa orang itu, bagi Melody atau baginya sekalipun.


"Oi, kau tinggalkan Sasha sendirian di rumah?" Aditya masih santai-santai saja.


Wajahnya cerah dan tak meninggalkan bekas sedikitpun setelah menangis. Sehingga tak ada yang tahu mata indah miliknya telah mengeluarkan air mata kesedihan yang mendalam.


"Anda punya urusan dengan saya?" ketus Melody, tatapannya pada Glenn berbeda, lebih hambar dari sebelumnya.


Hati Glenn tersayat menerima perlakuan dingin dari wanita yang dulu sangat mencintainya. Tak terhitung kenangan indah yang mereka lalui bersama, selama lebih dari sembilan tahun lamanya.


"Ya, kita harus bicara, terserah dimana tempat yang kau inginkan, di kafe atau di warung depan gang perumahan," bujuk Glenn penuh harap.


"Apa kamu debt kolektor? Semua yang pernah kamu berikan padaku, harus ku kembalikan agar kamu diam dan berhenti menggangguku?" sanggah Melody.


Belum ada keinginan menyerah, Glenn memohon dengan sedikit memaksa, "aku," ucapannya terpenggal, "tidak, kita akan memperbaiki ini semua. Ikutlah denganku, kita rencanakan semuanya dari awal lagi." Semakin erat pula cengkeramannya.


Di tengah obrolan Melody dan Glenn, muncul seorang pria lagi. Tristan, hanya Aditya yang dapat melihatnya saat itu. Aditya memotong pembicaraan mereka.


"Dia sudah punya janji, Glenn," ujarnya tanpa melepas pandangannya dari pria yang memiliki janji itu.


"Dengan siapa? dengan kau?" Glenn menaikkan sebelah alisnya.


Tristan datang, menarik tangan yang mencengkeram Melody. Ia perlu mengeluarkan sedikit tenaganya untuk menarik genggaman Glenn begitu kuat.


"Sudah melukai hatinya, sekarang mau menyakiti fisiknya juga?" ujar Tristan.


Ia menarik sudut bibir tipisnya ke atas, tanpa menyembunyikan tatapan sinis nya. Waktu yang pas, di lubuk hatinya Melody lega ada Tristan di sisinya.


Dia meraih tangan Tristan dan menautkan jari-jari miliknya dengan milik Tristan. Sehingga mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Kata-kata paling tajam pun keluar dari bibirnya.


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi."

__ADS_1


Melody melangkahkan kakinya meninggalkan Glenn dan Aditya. Ia berjalan mendahului Tristan, lelaki yang dia genggam. Lelaki itu menurut dengan tenang, mengikuti kemana Melody ingin pergi.


Sementara dua lelaki yang mereka tinggalkan hanya membatu ditempat, memandangi wanita pujaan hati mereka menggenggam pria asing.


Lalu mereka saling menatap, pertemanan mereka berakhir saat itu juga. Karena tak satupun diantara mereka yang menyerah terhadap perasaan yang telah lama bersemayam di hati.


Glenn pergi menjauhi Aditya, sembari mengingat-ingat, "apa aku mengenalnya?" gumamnya tenggelam di tengah keramaian.


Tidak, tapi ia pernah melihat Tristan di suatu tempat. Tidak jarang mereka bersinggungan di beberapa urusan bisnis atau event penting.


Sementara itu Tristan masuk ke dalam mobilnya bersama Melody, menuju sebuah kelab malam.


...****************...


Daniel lelah bermain dengan si kembar Rafa dan Ferry, padahal malam masih belum terlalu larut. Mereka sangat energik, tak seperti Daniel yang energinya terbatas.


Di sofa, Sasha duduk dengan tenang memegang sebuah buku tebal di kedua tangannya. Terbangun ketika melihat Daniel berjalan ke arah tangga, wajahnya berubah khawatir seketika.


Ia menghampiri si makhluk kecil dan lemah itu, menawarkan bantuan, "tante bantu gendong, ya?"


Daniel menoleh, mendongak naik memandangi dari atas sampai bawah perawakan Sasha. Sangat meragukan, perut besar itu saja susah untuk dibawa apalagi ditambah menggendongnya.


Sasha terdiam mendengar ucapan itu, meski keluar dari mulut anak kecil. Wanita ini selalu memikirkan setiap perkataan orang lain.


Menaiki tangga menuju lantai dua tidaklah mudah bagi anak kecil penderita asma dan TBC sepertinya. Ia berhenti melangkah, Daniel menyerah setelah beberapa langkah saja.


"Ririn," panggil Sasha pada seorang pelayan yang dia percayai dan selalu ada di sisinya.


Wanita muda dengan bintik-bintik merah di keningnya, memenuhi panggilan sang majikan. Parasnya tidak menarik di mata laki-laki, Daniel bertanya-tanya, dia belum pernah bertemu dengan yang satu ini. Sepengetahuannya, semua pelayan di rumah itu selalu berparas cantik.


"Iya, Nona?" sahut Ririn, menaruh dua tangannya di depan paha sembari menunduk.


Dipanggilnya Ririn untuk diperintahkan membantu menggendong Daniel, karena anak itu terlihat tak menyukai Sasha. Meski penolakan Daniel masuk akal, caranya menolak terlalu kasar bagi mental Sasha yang rapuh.


Daniel pasrah saja digendong menuju kamarnya, di lantai dua. Sementara Sasha menuruni anak tangga kembali ke bawah.


...****************...


Di tempat lain, dalam ramainya berbagai jenis manusia yang berkumpul di satu tempat. Para penari tak berhenti menggoyang pinggul mereka, selama disjoki terus memainkan alunan musik di malam itu.


Beberapa orang melirik ke arah Melody berjalan, pakaiannya cukup menarik perhatian. Terlihat polos dengan gaunnya yang tampak terlalu imut, yang jelas Melody salah gaun!

__ADS_1


Bukan munafik, kelab malam memang seramai tempat sebelumnya, tetapi tidak ada yang akan mengenali Melody atau Tristan kelab malam pinggiran kota itu.


Siapa yang tahu? Di dalamnya menyediakan ruang khusus dan Tristan adalah salah satu pengguna yang kerap kali berlangganan di sana. Bau uang menyengat di hidung Melody, remang-remang cahaya di sana bisa memberatkan matanya kalau saja suara musik tidak menggedor-gedor gendang telinga Melody.


Mereka duduk di salah satu sofa kapasitas 6 orang, yang lagi-lagi dipesankan oleh Tristan, Melody hanya perlu duduk dan mendengarkan keluh kesahnya. Tidak perlu takut pada pria yang sedang dimabuk cinta oleh wanita bersuami, pria itu tidak kekurangan jatah sedikitpun dari sugar mommy-nya.


Melody merogoh tas selempang kecilnya, siapa sangka tas wanita berwajah polos dan bergaun imut floral ala Korean style mengantongi sebungkus rokok. Namun, tak ada yang tertarik untuk mendekati gadis nakal ini, mungkin adanya Tristan di sampingnya menjadi pelindung dari pria-pria brengsek berhidung belang.


Dengan santainya Melody duduk tumpang kaki, menyalakan api kecil dari korek gas-nya, kepulan asap menyeruak dari mulutnya tak lama setelah dia membakar lintingan bakau di sela-sela jarinya.


Tak hanya sekali dua kali dalam seminggu Emily rutin pergi keluar untuk menemui Tristan, meski bukan di malam hari. Melody heran apa yang cowok ini keluhkan, sudah tahu dia bukan prioritasnya, masih menggerutu saja.


"Emily tidak mencampakkan kamu meskipun dia kembali pada keluarganya, kenapa masih memasang wajah menyedihkan seperti itu?" tanya Melody.


"Beberapa hari yang lalu, Emily datang padaku, mencari kehangatan dariku. Akan tetapi, di sela-sela aku mencoba menghangatkannya, Emily malah menangis. Bertanya padaku, bagaimana nasibnya jika berpisah dengan Jamie? Coba pikirkan perasaanku, menurutmu bagaimana hatiku bisa menangkis kata-kata se-menyakitkan itu?"


Melody hanya bisa membuang napas panjangnya bersamaan dengan asap yang baunya menyengat itu, mendengar cowok labil meracau ingin es krim milik orang lain padahal dia mampu membeli es krim lain yang masih dijual di toko.


"Hentikan saja, bocah sepertimu harusnya belajar yang rajin apalagi menjelang semester akhir. Malah sibuk mempertahankan wanita yang mempermainkan perasaanmu," tegas Melody.


"Dia tidak mempermainkan-"


Melody memenggal kata-kata Tristan, memparodikan ucapannya dahulu, "dia masih mencintai pria itu ..." nadanya mengejek.


"Aku sudah sering mencoba dengan wanita lain, bahkan tidur bersama mereka saat waktunya putus dengan Emily, aku menikmatinya. Namun, bukan bercinta jika tidak didasari oleh cinta. Wanita lain hanyalah pemuas nafsuku se-"


Lagi-lagi Melody menimpalinya, "oke, oke, cukup. Aku tidak perlu mendengarkan kehidupan **** mu, Tristan."


"Harusnya kita saling mencintai saja, ya," gumam Melody.


Tristan mampu mendengarnya, tapi keramaian membuatnya ragu apakah yang dia dengar salah atau tidak.


Sehingga ia memilih untuk memastikannya, "what?!"


"Kita mungkin tak cocok, tapi itu tidak akan serumit mencintai orang yang sudah berumah tangga," ucap Melody penuh makna yang tersirat di dalamnya.


Seorang pelayan wanita datang membawakan dua gelas martini dengan cairan bening yang mengisinya. Disajikan khusus untuk meja yang dipesan Tristan.


"Jadi kau mencintainya sekarang?" tanya laki-laki itu bersemangat, sampai mendekatkan wajahnya pada Melody.


Melody tidak mengeluarkan suara apapun dari mulutnya, ia justru menempelkan gelas martini ke bibirnya, mengaliri mulutnya dengan cairan beralkohol yang mengisi gelas itu.

__ADS_1


__ADS_2