Anak Genius Kesayangan Nanny

Anak Genius Kesayangan Nanny
Bab 53 Semua Akan Membaik


__ADS_3

Dari mengantar Emily pulang, bukannya ke rumah dan istirahat. Jamie bekerja di kantornya, mengerjakan banyak tugas yang tertumpuk dan menghadiri pertemuan yang tertunda. Tidak ada waktu bersantai.


Meski begitu bosnya, Brian Dondarion dengan santai menyita waktu luang Jamie disaat pertemuan selesai dilakukan. Para klien dan pegawai lain sudah keluar dari ruang pertemuan kecuali mereka berdua.


"Saya baik-baik saja," ujar Jamie, tanpa ada yang bertanya.


"Kabar menyebar sama cepatnya dengan udara. Jika udaranya segar, baik untuk pernapasan mu. Jika jelek, bisa merusaknya," tutur puitis seorang bos yang menyayangi karyawannya.


"Benarkah?" respon Jamie yang tidak bersemangat.


Brian merasa Jamie tak ingin membahasnya di sana saat itu juga, tentu saja ini adalah jam kerja mereka. Profesional macam Jamie bukan tipe orang yang akan memanfaatkan posisi sahabatnya sebagai bos untuk bermalas-malasan.


"Pub biasa jam 7 malam?" Yang biasa mereka datangi, ajak Brian.


"Sore ini aku harus menemui mertuaku," balas Jamie.


Dia menenangkan pikirannya dan meletakkan kepala di sandaran kursi, membayangkan masa lalu. Menceritakan kabar buruk yang dia dengar dari seorang wanita yang sedang mabuk. Percaya tidak percaya, Brian pun tidak asing lagi dengan sifat obsesif keponakannya.


"Tapi, bukankah wanita itu bilang Emily mencintaimu? Karena itu dia mempertahankan pernikahan, tak ada alasan baginya untuk bertahan jika bukan karena cinta. Bukankah ini yang selama ini kau tunggu-tunggu?!"


"Benar, aku selalu berkhayal Emily akan berbalik menarik semua ucapannya dan menyatakan cinta padaku setelah sekian lama aku bersabar. Tapi itu semua sebelum aku menyadari ada Daniel yang lebih membutuhkan perhatianku ketimbang Emily."


"Dia mencintaiku, tapi masih mengabaikan Daniel. Aku gagal memahaminya, itu seperti ... seperti bukan dia yang melahirkannya." Jamie mengangkat kacamata frame yang membuat pegal batang hidungnya.


Brian terdiam, melihat perubahan perasaan pasangan suami istri ini. Jamie menyimpan rasa untuk waktu yang cukup lama, bertahun-tahun. Tapi Emily mencintainya balik tepat saat perasaan Jamie sudah pudar, atau malah tergantikan?


Jamie mengangkat tubuhnya dari kursi, segera bersiap kembali bekerja. Satu langkah lagi dia akan melewati bosnya.


"Omong kosong, bilang saja kau jatuh cinta pada wanita lain!" cibir Brian, sambil cengar-cengir.


"Kau sama sekali tidak mendengarkan ...."

__ADS_1


Seseorang berpakaian seperti serba hitam yang terduduk di atas sofa tamu bangkit melihat kedatangan Jamie, membungkuk dengan canggungnya, tingginya hanya rata-rata, usianya terlihat cukup muda. Namun, keberadaannya sama sekali tidak menarik perhatian Jamie.


"S-se-selamat siang, tuan! Saya Kaiser, Tuan. Anda boleh memanggil saya Kai," seru pemuda beralis tipis yang kemudian berdiri di depan meja kerja Jamie.


"Siapa?" tanya Jamie seraya berjalan menuju meja kerjanya.


Kaiser membatin, "bukankah barusan aku sudah memperkenalkan diriku? Apa dia tidak dengar?"


"Ehh ... Umm ... Saya Kaiser-"


"Saya sudah tahu," timpal Jamie, "oh, sudahlah, sekarang kamu cepat pergi ke apartemen saya. Kamu tahu dimana unitnya?" Jamie tidak perlu meragukannya, dia pasti salah satu dari bodyguard keluarganya.


"Iya," sahut Kaiser.


"Kamu akan menemukan obat yang dikelompokkan dalam satu kantong di rak obat-obatan, bawa itu ke rumah ibu saya," titah pria itu, tak lupa menitipkan pesan untuk putra kesayangannya.


Dahulu, sebelum Jamie menikah seseorang selalu menjaganya. Setelah menikah, orang itu berhenti karena Jamie ingin hidup cukup dengan keluarganya di sebuah apartemen. Dia bermaksud memanggilnya dan memberi perintah itu pada mantan penjaganya, justru orang lain menggantikannya.


Pemuda yang Jamie berikan kepercayaannya segera bergegas begitu diperintahkan, pergerakannya tak lamban. Seperti seorang profesional, meski sedikit kikuk.


Kaiser bergidik ngeri menengok ke arah apartemen yang terletak tepat di sebelah rumah Jamie, pintu di sana terbuka dan beberapa orang berpakaian preman berdiri di ambang pintu sana.


"Bulan depan, Minggu depan, besok, semua janjimu itu omong kosong! Bunga utang mu makin besar karena kau selalu pelit mengembalikan uang yang kau pinjam!" teriak salah seorang pria.


Ia berjalan cepat menuju apartemen Jamie, mencari obat yang akan dia antar. Berhasil menemukan obat, Kaiser segera keluar dari apartemen Jamie. Masih mendapati preman-preman itu di sana, kekeuh sekali. Ia terhenti, mendengar perkataan mereka.


"Aku tidak main-main! Kalau ucapan mu ternyata adalah bohong lagi." Nadanya meninggi, "KAMI AKAN MEMBAWA ANAK ITU."


"Huuaaaa ....!!!"


Pecahan tangis seorang anak perempuan terdengar, yang tak lain adalah Natasya. Meremukkan hati Kaiser, saat itu juga dia melanjutkan langkahnya. Meskipun sering menjumpai musuh-musuh keluarga Gray dan terkadang diharuskan membunuh untuk bertahan hidup, "anak-anak tak berdosa seharusnya tidak terlibat dalam urusan orang dewasa," ujarnya dalam hati.

__ADS_1


Kediaman keluarga Gray


Begitu mendengar ayahnya sedang sibuk bekerja dan tidak bisa mengantarkan obat untuknya, Daniel memonyongkan bibirnya. Tapi Kaiser juga membawa kabar baik.


"Tuan muda jangan bersedih, karena Tuan muda akan dijemput malam harinya. Katanya tidak perlu menginap lagi," ujar Kaiser yang berjongkok menyamakan tingginya dengan Daniel.


"Apa maksud kata-katanya itu, memang kenapa kalau cucuku menginap lagi?" ketus Lena.


Tersinggung, Lena memelototi Kaiser. Sebagai pembawa pesan, Kaiser hanya mengangkat kedua bahunya menandakan dia tak tahu apa-apa.


Daniel meneguk air, mengalirkan obatnya bulat-bulat seperti biasa, Lena dan si kembar sempat tercengang. Mereka di meja makan bersama Daniel untuk menemani dan menjaganya.


"Nyonya!" Kepala pelayan menghampiri Lena dengan tergesa-gesa.


Wanita bernama Lidia itu membungkukkan badannya di depan sang nyonya, ia menjelaskan adanya kedatangan seseorang.


"Menantu Nyonya, nona Emily ... Datang sambil marah-marah ... Mencari Nyonya," ucapnya tersendat-sendat.


Daniel tertegun, Rafa dan Ferry saling melirik satu sama lain. Emily benar-benar datang dan alisnya menukik tajam, Daniel melihatnya. Meski menyeramkan, ada rasa senang di hatinya.


Tapi dia tidak ingin terlihat manja, Daniel mencoba menahan kakinya untuk tidak turun dan berlari pada bundanya. Mengetes, apakah Emily akan menghampiri dan memeluknya.


Emily melirik putranya sejenak, tidak terlihat senyuman di wajahnya saat melihat Daniel. Ia mendengus kesal, lalu melepas pandangannya dari Daniel.


Puncak kepala Daniel di usap oleh neneknya, sebelum Lena berpindah tempat untuk berbincang hanya 4 mata bersama Emily. Rafa dan Ferry memerhatikan kedua wanita itu hingga mereka menghilang dari penglihatannya.


"Dingin sekali, mama selalu baik walau sudah bercerai dengan papa, iya kan Ferry?" seru Rafa pada saudaranya.


Panggilan mama tidak pernah hilang dan selalu ada untuk mereka dimana pun ibu kandung mereka berada, sebutan mami diperuntukkan ibu tiri yang menjaga mereka saat ini yaitu Fara, istri baru papa mereka.


"Benar, mami Fara juga tidak jahat walau dia mami tiri, hihihi ..." balas Ferry, mereka berdua cekikikan melihat Daniel yang hampir meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Dasar! Jangan asal bicara begitu, kalian melukai hati Tuan muda kecil kita," ujar kepala pelayan bernama Lidia, sembari menaruh lututnya di lantai, menyapu air mata tuan muda kecilnya yang rapuh.


Benar, hati Daniel sangat rapuh. Seribu kali ia terjatuh dari harapannya yang tinggi pada Emily, berharap senyuman hangat akan menyambut dirinya, berharap pelukan rindu Emily mendekapnya sampai ia tak bisa bernapas, merawat dirinya di kala sakit, bermain dengannya di kala ia sedang sehat, kapan Daniel akan merasakannya?


__ADS_2